Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pria Misterius #89


__ADS_3

Pukul 02:35 dini hari.


Pulau La Luna.


Berlin menghela napas panjang disusul dengan kedua matanya yang perlahan terbuka. "Nadia?" gumam Berlin dengan sendirinya. Ketika pertama kali kedua matanya terbuka, tiba-tiba sosok Nadia terbayang-bayang di depan matanya seolah menantinya untuk tersadar. Namun ternyata itu hanyalah halusinasinya saja.


"Berlin, bagaimana perasaanmu?" cetus Kimmy yang ternyata setia menunggu dirinya hingga siuman.


Rasa sesak yang sebelumnya ia rasakan di dalam dadanya kini sudah tidak ada lagi. Dirinya sudah dapat bernapas secara normal kembali berkat CPAP oksigen yang menutupi bagian hidungnya.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Berlin ketika masih terbaring di atas sebuah brankar dalam tenda medis tersebut.


"Sekitar ... lima menit," jawab Kimmy.


Merasa kondisinya sudah cukup pulih dan membaik. Berlin pun melepas alat pernapasan itu, karena dirinya tidak betah jika harus berlama-lama memakainya. Setelah itu dirinya pun bertanya mengenai kondisi rekan-rekannya yang sempat juga menjadi korban dari ledakan yang disebabkan oleh Nicolaus.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Berlin beranjak duduk di tepi brankar.


"Dari pihak aparat terdapat enam orang, tiga orang luka berat dan tiga orang luka ringan. Sedangkan dari pihak kita terdapat lima orang, tiga orang luka ringan dan dua orang luka berat."


"Siapa saja di pihak kita?"


Kimmy pun menyebutkan nama setelah mendengar pertanyaan itu, "Aryo, Rony, dan Asep mendapat luka ringan. Sedangkan Bobi dan Faris ---" Kimmy menggelengkan kepalanya sembari tertunduk dan tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Bisa jelaskan kondisi Bobi dan Faris?" cetus Berlin.


Beberapa saat kemudian, Berlin pun langsung beranjak menuju ke tenda di mana Faris dan Bobi mendapat perawatan pertolongan pertama. Dirinya ingin tahu separah apa luka yang menimpa kedua rekannya ini.


Ketika sampai di tenda medis kedua. Berlin pun masuk dan langsung mendapati kedua rekannya yang terbaring berjauhan dengan beberapa tenaga medis dari pihak aparat. Ia menghampiri satu persatu brankar milik Bobi dan Faris, sembari melihat seperti apa lukanya.


"Jangan melihatku seperti itu, Bos." Di saat-saat yang genting baginya, namun Bobi tetap saja dapat tersenyum walaupun harus bercampur dengan perihnya luka pada tubuhnya.


"Kami akan baik-baik saja, tenanglah!" ucap Faris.


Setelah mengetahui kondisi kedua rekannya. Berlin menjadi cukup gemetar, lantaran luka yang diterima kedua rekannya adalah luka serius. Bobi mendapat luka tusukan akibat puing-puing bangunan pada lengan kanannya. Sedangkan Faris, terdapat luka bakar di lengan kanannya serta luka tembak yang cukup dalam pada kaki kanannya.

__ADS_1


Keduanya saat ini mungkin masih dapat bertahan dengan kondisi mereka beserta pertolongan medis yang seadanya. Namun rasanya akan sangat sulit jika mereka berdua harus bertahan dalam kondisi tersebut dalam waktu lama.


Merasa tidak kuat lagi melihat kondisi kedua rekannya yang cukup membuat hatinya teriris. Berlin pun memutuskan untuk keluar dari tenda tersebut, dan mencari seseorang yaitu Prime.


"Prime--" sapanya ketika bertemu dengan pria yang ia cari, namun ucapannya terpotong dengan Prime yang tiba-tiba saja bertanya, "bagaimana kondisimu?"


"Aku tidak apa," jawab Berlin sebelum kemudian langsung bertanya, "kapan kita dapat kembali ke kota?"


Prime tampak diam sejenak ketika mendapat pertanyaan itu, seolah dirinya ragu dalam waktu dekat akan datang jemputan untuk dapat kembali ke kota.


"Kita memiliki orang dengan luka berat, mereka harus segera diurus di Rumah Sakit Pusat. Jika tidak maka nyawa mereka yang menjadi taruhan." Berlin berbicara tanpa memberikan jeda untuk dirinya bernapas. Namun Prime masih diam.


"Prime, katakan sesuatu!"


"Pada pukul enam pagi kita baru dapat kembali ke kota," ucap Prime yang tentunya tidak membuat Berlin puas.


"Lalu apakah kau membiarkan yang terluka menunggu selama itu?!" sahut Berlin yang kemudian dijawab kembali oleh Prime dengan berkata, "aku tidak tahu, Berlin."


"Aku sudah menghubungi Garwig, namun sepertinya di kota sedang terjadi sesuatu yang buruk," lanjut Prime.


"Sesuatu yang buruk?" tentu Berlin bertanya-tanya apa sesuatu yang buruk itu, apa yang dimaksudkan.


DEG.


Dalam waktu sekejap, Berlin mematung terkejut mendengar kabar tersebut. Kegelisahan bercampur dengan rasa khawatir soal istrinya yakni Nadia langsung memenuhi pikirannya.


"Berlin? Berlin!"


Panggilan Prime membuat Berlin kembali tersadar, dan kemudian secara tiba-tiba laki-laki itu berkata, "hubungkan aku dengan Garwig! Biarkan aku yang berbicara dengannya!" ucap laki-laki itu kepada Prime.


"Baiklah, ikuti aku ...!" jawab Prime.


***


"Apapun yang terjadi, tetaplah bersembunyi! Aku akan mengatasi mereka," ucap Siska kepada sahabatnya ketika masih berada di dalam rumah.

__ADS_1


Sontak hal tersebut mendapat sedikit penolakan dari Nadia, apalagi mengetahui Siska akan melakukan hal gila. "Apa kau sudah gila? Mereka lebih dari lima orang, sedangkan kau ingin menghadapnya sendiri?!" cetus Nadia.


"Ya, aku akan membuat celah agar kau dapat menyelamatkan diri," sahut Siska.


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Aku tidak bisa meninggalkan mu begitu saja!" sela Nadia.


Sempat terjadi perdebatan di antara kedua wanita itu. Di tengah perdebatan singkat yang sempat terjadi, tiba-tiba saja satu persatu orang-orang berbaju putih yang berada di depan gerbang rumah tergeletak. Siska beserta Nadia dapat menyaksikan hal tersebut, dan dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Lebih tepatnya, siapa yang melakukan hal tersebut? Siapa yang membuat mereka berjatuhan?


DESING ...!!!


"Dari mana?!"


"Tidak tahu!"


"Dari sana--"


"Arggh!!"


Teriakan-teriakan panik dari orang-orang bersenjata itu pun pecah ketika mendapat serangan dadakan dari arah yang tidak mereka ketahui. Satu persatu dari mereka berhasil dilumpuhkan.


"Siapa dia?" bisik Siska ketika kedua matanya menangkap sosok pria berpakaian serba hitam yang perlahan melangkah mendekati satu pria berbaju putih yang tersisa.


"Jangan! Jangan bunuh aku, atau kau akan menyesal!" teriak pria berbaju putih itu sebelum kemudian dirinya dihabisi oleh pria berpakaian serba hitam tersebut.


Setelah semua orang-orang dari Clone Nostra yang berbeda tepat di depan gerbang rumah dihabisi oleh satu orang pria. Siska pun mencoba untuk memberanikan diri untuk keluar dan melihat siapa sosok tersebut.


"Kau tunggu di sini! Aku akan memastikan," ucap Siska kepada sahabatnya yang ia suruh untuk tetap berada di dalam rumah untuk sementara waktu.


"Jangan bergerak! Berbalik dan tunjukkan wajahmu!" titah Siska dengan posisi menodongkan pistolnya ke arah pria tersebut.


Pria itu hendak melarikan diri, namun langkahnya terhenti karena keberadaan Siska di belakangnya. Alhasil mau tidak mau ia harus menuruti apa yang diminta oleh Siska dan bersikap kooperatif.


"Tenanglah! Aku berada di pihak kalian," ucap pria misterius itu sembari membalikkan badannya dan menunjukkan siapa dirinya di hadapan Siska. Tak lupa ia menyimpan kembali senjata apinya dan menunjukkan sikap yang tidak membahayakan kepada Siska di hadapannya.


"Kau ...?!"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2