Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Api #86


__ADS_3

Nicolaus mengulas senyuman sinisnya ketika sebuah benda kecil di dalam kantongnya berhasil ia raih. Ia tetap menaruh tangannya di dalam kantong celananya, dan bersiap menekan sebuah tombol kecil pada benda tersebut di dalam sana.


Amarah yang ditahan oleh Berlin dari sebelum-sebelumnya sudah cukup membeludak. Ia tidak dapat menahan amarah yang sudah menumpuk itu, dan seolah tidak sabar lagi untuk menghabisi orang yang kini berada di hadapannya.


"Untuk kali ini akan ku pastikan kau tidak lolos, tidak seperti waktu kekacauan Mafioso saat itu," batin Berlin dengan tatapan tajam yang tidak dapat beralih dari sosok yang paling ia benci bernama Nicolaus itu.


SET!!


Kliikk ...!!


Berlin dengan cepat meraih pistol yang bergelantung di pinggangnya, namun sayangnya tindakan tersebut dihentikan paksa. Seketika badannya beserta kepalanya disoroti oleh banyak laser berwarna merah yang berasal dari lantai dua belakang Nicolaus. Kini dirinya menjadi satu-satunya target dari sekian banyaknya senapan yang telah mengarah ke arahnya. Ketika senapan-senapan itu ditarik pelatuknya, maka mungkin saja akan banyak peluru yang bersarang di dalam tubuh serta kepalanya.


"Haha!" Nicolaus terkekeh ketika melihat Berlin seketika terpaku dan terdiam.


"Si-sial ...!"


"Jika kau bergerak sedikitpun, maka akan ada lebih dari sepuluh peluru melesat dalam waktu yang bersamaan," Nicolaus terlihat senang sekali ketika melihat pria yang berdiri di hadapannya tidak dapat berkutik.


"Meski begitu namun tetap saja, mereka akan menembak sesuai dengan kehendak ku," timpal Nico menatap tajam dan kemudian menyunggingkan senyuman liciknya.


Untuk sementara waktu, Berlin hanya bisa diam dan tidak bergerak sama sekali. Dirinya tidak ingin terlalu gegabah dalam melakukan sebuah pergerakan ataupun tindakan dalam situasi ini. Ia harus menahan amarahnya untuk sementara, dan membiarkan Nicolaus terlihat sangat puas terhadap dirinya yang tidak dapat melakukan apa-apa.


"Sosok Berlin yang ku kenal menjadi tak berkutik seperti ini, membuatku ingin tertawa melihatnya." Nicolaus berbicara dengan sendirinya sembari terbahak-bahak.


Pria itu kemudian menghela napas panjang dan berkata, "aku tidak suka menunda-nunda, lebih baik kita selesaikan ini sekarang juga. Selamat tinggal, Berlin," ucapnya


"Akhirnya, aku akan melihat Berlin kecil itu mati di sini!" celetuknya sembari mengangkat satu tangannya dan kemudian menjentikkan jarinya.


DUARR!!!


DESING ...!!


Sebuah ledakan tiba-tiba saja terjadi berasal dari pintu utama belakang Berlin, disusul kemudian dengan tembakan dari arah ledakan itu. Seketika Berlin langsung mengambil langkah sigap untuk menghindar dan sedikit menepi dari tengah ruangan itu sembari mengambil perlindungan.


"Apa?! Apa yang---?!"


Betapa terkejutnya Nicolaus ketika ekspetasinya dihancurkan oleh realita. Yang seharusnya Berlin tewas akibat tembakan yang dilakukan oleh para anak buahnya yang bersiap di atas. Namun justru malah mereka yang dibuat tergeletak tak bernyawa akibat tembakan yang tiba-tiba saja terjadi tepat ledakan itu terjadi.

__ADS_1


"Kami datang, Bos!!" terdengar teriakan salah satu rekan Berlin yang menerobos masuk melalui pintu utama vila.


Ashgard mendesak masuk melalui pintu depan vila, yang artinya seluruh personel Clone Nostra telah berhasil di atasi. Karena jika tidak mereka tidak akan bisa masuk melalui pintu tersebut secara terang-terangan.


"Habisi mereka, kecuali Nicolaus!" pinta seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Asep menggunakan radio komunikasinya.


"Berlin, apa kau baik-baik saja?" cetus Kina dan Sasha ketika menghampirinya yang sedang berlindung di balik sebuah lemari.


"Hampir saja kalian membiarkanku mati di sini," sahut Berlin menghela napas lega.


"Tidak, tidak! Tentu kami tidak ingin itu terjadi!" sela Adam menggelengkan kepalanya menghampiri mereka bertiga.


"Jangan bergerak! Atau kami akan mencincang dirimu, Nicolaus Matrix."


Suara dari rekan-rekannya yang tengah mengepung Nicolaus di tengah ruangan itu terdengar sangat lantang. Mereka menodong Nicolaus dengan pistol dan beberapa senapan hasil rampasan. Kini tidak ada lagi yang anak buah Nicolaus yang terlihat, karena hampir seluruhnya telah berhasil dihabisi. Tak hanya pihak Ashgard saja yang berada di sana, namun juga terdapat pihak dari aparat atau regu yang dipimpin oleh Prime.


Bukannya tunduk dan menyerahkan diri, Nicolaus malah menjadi-jadi. Dengan tenangnya ia berkata, "yah ... aku sudah menduga ini akan terjadi."


"Namun kalian jangan sampai lupa di mana saat ini kalian berada," lanjut Nicolaus.


Seketika setelah mendengar Nicolaus berkata demikian. Seluruh rekan-rekan Berlin memasang sikap waspada terhadap lingkungan sekitar ruangan utama itu.


"Hati-hati terhadap setiap gerak-geriknya! Aku yakin orang itu tak hanya memiliki satu rencana, melainkan banyak rencana jahat." Berlin berbicara kepada Adam dan juga didengar oleh kedua rekan wanitanya yaitu Sasha dan Kina.


"Namun jika kita langsung habisi dia, maka tidak akan terjadi sesuatu yang buruk--"


"Tidak! Justru di situlah sesuatu yang buruk dapat terjadi," sahut Berlin menyanggah pendapat Adam.


"Lalu, bagaimana?" tanya Sasha.


"Adam, bisakah aku mengandalkan kemampuan menembakmu?" cetus Berlin.


"Apa yang ingin kau lakukan?" sahut Adam.


"Aku ingin menghabisinya," jawab Berlin.


"HAHAHA!!"

__ADS_1


Sesaat setelah Berlin berbicara. Tiba-tiba Nicolaus tertawa terbahak-bahak dan berkata, "sepertinya tidak ada pilihan lagi. Sayang sekali, ya?" ucapnya kemudian meraih sebuah benda di balik jas berwarna hitamnya.


Melihat hal tersebut, tentu Berlin tidak tinggal diam. Meski ia tidak tahu apa yang akan Nicolaus lakukan, namun yang jelas itu pasti suatu hal yang sangat buruk.


"Menjauh dari sana!!!" teriak Berlin berlari mengarah rekan-rekannya ketika melihat gerak-gerik itu untuk kedua kalinya.


"Tak akan ku biarkan," gumam Nicolaus.


BOOMM ...!!!


DOR ...!!!


Sebuah ledakan berskala lebih besar yang bersumber dari bawah tangga tepat di belakang Nicolaus terjadi secara tiba-tiba. Ketika ledakan itu terjadi, suara tembakan juga terdengar satu kali yang berasal dari pelatuk yang dipegang oleh Asep mengarah Nico.


"Arrgghh!!"


Rekan-rekannya seketika terhempas dari sana akibat ledakan itu, bahkan Berlin pun juga ikut jauh ke belakang hingga membentur dinding dengan sangat keras.


Sesaat setelah ledakan terjadi, api pun berkobar begitu besar membakar ruang utama vila itu. Dari ledakan yang baru saja terjadi juga mengakibatkan puing-puing atas bangunan runtuh.


"Bobi!" suara Kina terdengar begitu keras.


"Semuanya keluar!" pinta Adam kepada seluruh rekannya setelah melihat bangunan vila itu akan runtuh. Ia juga bersama dengan beberapa rekannya yang tidak terluka berusaha menyelamatkan beberapa rekannya yang terluka.


"Berlin di mana?! Adam, apakah kau melihatnya?!" Asep berlari ke arah Adam yang sedang berada di teras vila setelah mengevakuasi beberapa rekannya yang terluka.


"Berlin? Aku tidak melihatnya," Adam tersadar kalau Berlin menghilang dari pandangannya setelah ledakan itu terjadi.


"Kita tidak bisa pergi tanpanya, aku akan kembali masuk!" cetus Asep, namun langkahnya dihentikan sesaat oleh Adam dengan berkata, "aku ikut!"


"Sasha, aku serahkan yang ada di sini kepadamu. Aku akan kembali masuk untuk mencari dan membawa Berlin keluar," lanjut Adam memberikan tanggung jawabnya kepada Sasha untuk mengarahkan rekan-rekannya yang selamat.


Sasha sempat menggenggam salah satu tangan milik Adam sebelum ia kembali pergi ke dalam vila yang sudah hampir runtuh oleh api yang membakarnya, "berhati-hatilah, dan bawalah Berlin keluar bersamamu dengan selamat!" ucapnya ketika menggenggam tangan milik laki-laki itu.


Adam hanya mengulas senyuman tipisnya dan mengangguk mendengar apa yang diucap oleh Sasha, dan kemudian mengambil langkah sigap untuk menerobos melewati si jago merah itu.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2