
Setelah hari yang cukup melelahkan bagi Berlin, karena berkeliling markas yang memiliki luas sama dengan satu kompleks perumahan elit, ditambah dirinya berjalan masih dibantu oleh sebuah tongkat bantu jalan, tentu membuatnya cukup berolahraga. Pada pukul lima lewat lima belas, dirinya baru bertolak pergi dari markas tersebut bersama dengan Adam untuk kembali ke rumah, lebih tepatnya vila. Untuk kembali ke sana, dirinya terpaksa harus melalui rintangan yakni kondisi lalu lintas yang amatlah padat karena jam pulang kerja. Kemacetan di tepi kota pun tidak dapat dihindarkan, ditambah dirinya menaiki kendaraan beroda empat yang dikemudikan oleh Adam, tentu akan sangat sulit untuk menyela kemacetan yang terjadi.
"Soal tugas yang sempat kau sebutkan, kalau aku boleh tahu, seperti apa tugas itu, Berlin?" tanya Adam, memberhentikan mobilnya tepat di belakang antrean panjang mobil-mobil lain.
Berlin yang duduk tepat di samping kursi kemudi, menjawab dengan menggelengkan kepalanya sembari berkata, "entahlah, Garwig belum memberikan kejelasan soal itu, baru besok dia akan memberikan kejelasannya padaku."
"Namun yang jelas, tugas yang akan kita terima akan berkaitan dengan persidangan Tokyo El Claunius yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat," lanjut Berlin.
Adam menghela napas berat, apalagi setelah nama tersebut disebutkan oleh Berlin. Ia menggeleng sembari berucap, "persidangan orang itu, ya? Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk selama persidangan berlangsung."
"Semoga, karena aku sedikit menaruh rasa tidak yakin kalau itu akan berjalan lancar," timpal Berlin, sedikit menyipitkan matanya, dan kemudian menghela napas setelah berbicara. Lelaki itu masih menaruh rasa curiga yang tidak-tidak kepada sosok bernama Tokyo, terlebih Tokyo menyerah di hadapannya secara cuma-cuma dan tanpa perlawanan, dan menurutnya itu adalah hal yang tidak biasa terjadi pada seorang penjahat mengerikan seperti Tokyo El Claunius. Apalagi mengingat Tokyo adalah ketua dari sindikat yang memiliki pamor sangat besar dalam dunia kriminal, Clone Nostra adalah nama yang tidak usah diragukan lagi jika di dalam dunia yang sangat kelam itu, benar-benar nama yang besar. Mafioso yang ingin menyainginya pun cukup dibuat kewalahan.
"Kau mencurigai sesuatu, ya?" cetus Adam, sempat melirik, dan mendapati ekspresi penuh berpikir yang terpampang jelas pada wajah tampan rekannya.
"Hanya ... memikirkan beberapa skenario terburuk, yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat terjadi," jawab Berlin, dengan tatapan yang cukup kosong, melamun menatap ke arah depan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Sepertinya kau memikirkan apa yang ku pikirkan," sahut Adam, memalingkan kembali pandangannya ke depan, memasukkan gigi satu, dan kemudian perlahan menginjak pedal gas karena sudah tercipta ruang kosong di depan. Namun sayangnya itu hanya berjalan beberapa meter saja, dan harus kembali berhenti dalam antrean kemacetan.
Berlin menoleh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya, "mengira-ngira, apakah orang-orang dari Clone Nostra yang lolos dari lokasi kejadian merencanakan sesuatu?" ucapnya, menebak, mencoba untuk memastikan apakah yang sedang ia pikirkan saat ini memang mirip dengan apa yang dipikirkan oleh Adam saat ini juga.
"Ya," jawab Adam, singkat.
__ADS_1
Berlin kembali menatap ke depan, namun pandangannya perlahan tertunduk sembari berkata, "jumlah mereka sangatlah banyak ketika menggempur Balaikota, dan juga banyak sekali dari mereka yang berhasil lolos."
Adam mengangguk dan berkata, "ya, benar. Aku juga mengkhawatirkan hal yang sama, khawatir mereka merencanakan sesuatu untuk bos mereka."
"Karena jika Ashgard yang ada di posisi mereka, dan kau yang berada di posisi Tokyo. Mungkin aku akan mengajak teman-teman untuk merencanakan sesuatu untuk membebaskan mu, tidak peduli mau nyawa menjadi taruhan," lanjut Adam, serius, sembari menoleh dan menatap kepada Berlin di sampingnya.
"Semacam ... merencanakan dan membantu untuk melakukan Prison Break?" sahut Berlin, menebak, dan jawabannya adalah, "ya, semacam itu," jawab Adam.
"Hmm ...!!!" gumam Berlin, menghela napas panjang, bersandar dan berusaha santai pada kursinya. Saat ini pikirannya masih terus memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, sekaligus memikirkan jalan keluarnya jika memang berbagai kemungkinan itu memang terjadi.
Tak hanya Berlin yang menghela napas berat, Adam pun melakukan hal yang sama. Namun bedanya, Adam terlihat cukup kesal, mendengus dan berkata, "ngomong-ngomong, ini macet sampai kapan, ya?! Kita ngobrol bisa sampai satu halaman buku, kurasa macetnya enggak bakal berkurang, nih!" cetusnya, menghela napas kesal.
Pikiran Berlin terpecah, dan dibuat terkekeh saat melihat temannya terpancing emosi jalanan, "tenang saja, bentar lagi juga maju," ucapnya.
Setelah melalui lebih dari empat puluh menit, Berlin akhirnya sampai juga di vila pada pukul enam lebih sedikit. Belum dirinya membuka pintu mobil dan turun, dari arah teras sudah terlihat sosok gadis kecil dan cantik Akira yang berlari girang menghampirinya sembari berteriak, "Papa!!"
"Tuh, disambut," ucap Adam, tersenyum kepada rekannya ketika membuka pintu.
Berlin membalas senyuman itu juga dengan senyuman, "terima kasih, mau mampir?" ucapnya setelah turun dan kemudian memberikan tawaran untuk temannya.
Adam menggeleng, kemudian tersenyum dan menjawab, "tidak, terima kasih. Lebih baik gunakan waktumu untuk keluargamu, Berlin ...!" ucapnya.
__ADS_1
Setelah perbincangan singkat itu, Berlin menutup pintu mobil itu kembali, sebelum akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adam kembali melaju keluar dari pekarangan melalui gerbang dan menghilang di kelokan jalan.
"Akhirnya Papa pulang!" seru Akira riang sekali, mendekat, kepada Berlin, dan memeluk salah satu kaki milik pria itu sembari mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah pria itu.
Tanpa berlama-lama, anak perempuan itu meraih salah satu tangannya, dan kemudian menariknya, mengajaknya untuk segera masuk ke rumah sembari berkata, "ayo, Papa! Mama sudah masakin banyak makanan, aromanya lezat, aku udah enggak sabar!!"
Berlin tertawa kecil melihat tingkah putrinya. Ia hanya berkata, "iya, yuk! Papa juga udah lapar, nih!" ucapnya sembari mengikuti langkah-langkah kecil putrinya. Dari halaman tersebut, dirinya sudah dapat melihat sosok istri cantiknya yang sudah menunggu tepat di ambang pintu masuk teras rumah dengan dress santai yang kini berwana biru muda.
"Aku kira kamu ingkar janji," ucap Nadia, dengan senyuman manis yang terluas ketika menyambut suaminya pulang, sebelum kemudian sempat memberikan pelukan hangat padanya.
"Tentu saja tidak, walaupun sepertinya aku sedikit terlambat, ya?" sahut Berlin, dengan senyuman yang masih tersungging.
"Hanya terlambat tiga menit," jawab Nadia, dengan intonasi bergurau, dan berlagak seolah melihat jam tangan pada pergelangan tangannya yang padahal sama sekali tidak ada jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
"Ayo! Aku udah enggak sabar!! Akira udah lapar, Ma, Pa!" seru Akira, memasang wajah kesal, melihat kedua orang tuanya yang terlihat asyik bermesraan di depan pintu.
Sontak hal itu membuat Berlin dan Nadia terkekeh, apalagi ketika melihat wajah Akira yang sudah merona dengan bibir kecilnya yang sedikit mengerucut, itu menambah keimutannya.
"Iya, sayang. Yuk?" ujar Nadia, tersenyum hangat, sembari mengulurkan tangannya untuk menggandeng putrinya. Akira membalasnya dengan senyuman lebar sampai gigi putihnya terlihat, meraih tangan tersebut. Mereka bertiga pun segera beranjak masuk untuk makan malam bersama, dan tak lupa bagi Berlin untuk menutup pintu tersebut rapat-rapat.
.
__ADS_1
Bersambung.