Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Rekaman Tragedi Pembunuhan? #55


__ADS_3

Setelah bekerja atau bertugas seharian. Akhirnya tiba waktu untuk Prawira beristirahat. Di malam hari ini. Dirinya memutuskan untuk mengunjungi Kediaman Gates sebelum pulang ke rumahnya sendiri.


Situasi sepanjang perjalanan di tengah kota tidak terlalu ramai, karena memang hari sudah mulai menjelang malam. Waktu setempat menunjukkan tepat pukul sepuluh malam.


Sesampainya di Kediaman Gates. Prawira turun dari mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah, dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah yang amat luas itu.


"Tidak dikunci?" gumam Prawira bingung dan bertanya-tanya ketika menarik gagang pintu masuk rumah itu. Dirinya selalu mengunci kediaman ini, dan kunci kediaman hanya dimiliki oleh orang-orang yang ia pilih, terutama oleh anggota keluarga Gates.


Ketika berjalan melalui ruang tamu menuju ke ruang keluarga yang amat luas. Prawira merasa kalau ada seseorang yang memasuki kediaman ini tepat sebelum dirinya.


KleeKk ...!!


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang bersumber dari kamar utama. Prawira yang mendengar hal itu pun spontan mengambil sebuah pistol yang bergelantung pada sarung pistol di ikat pinggangnya. Dengan langkah perlahan-lahan, ia melewati lorong gelap yang terdiri beberapa kamar.


"Siapa?! Angkat tanganmu!" bentak Prawira tegas ketika mendapati seorang pria tengah berdiri membelakanginya di depan kamar utama. Situasinya cukup gelap sehingga jarak pandang yang dimiliki Prawira cukup minim dan tidak dapat mengenali pria di hadapannya.


Pria itu berbalik badan ketika mendengar suara Prawira dan berkata, "um ... ini aku, Prawira," ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya.


Prawira menurunkan todongan senjata apinya, dan sedikit bergeser ke dinding lalu menyalakan lampu melalui saklar di sana.


"Astaga, maaf, aku tidak dapat melihatmu," ucap Prawira menyarungkan kembali pistolnya ketika mendapati pria tersebut ternyata adalah Berlin.


Berlin tertawa dan berkata, "tenanglah! Aku tidak mungkin merampok rumah keluargaku sendiri, kok." Dirinya menurunkan kembali kedua tangannya.


"Sedang apa kau di sini? Apa yang membuatmu datang malam-malam begini?" tanya Prawira dengan lirikan mata sempat melihat ke arah pintu kamar utama yang terbuka tepat di belakang Berlin berdiri.


"Tadi sore aku sempat ke makam orang tuaku, dan entah mengapa ... rasanya aku ingin mengunjungi kamar ini," jawab Berlin sempat menoleh dan melihat ke dalam kamar utama yang cukup luas itu. Matanya sempat berkaca-kaca ketika melihat kamar itu, dan itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali.


Prawira hanya tersenyum tipis mendengar jawaban tersebut. Baginya wajar saja jika Berlin ingin mengunjungi kamar tersebut. Karena memang kamar itu adalah kamar milik kedua orang tua Berlin, sekaligus kamar milik Berlin sendiri di kala dia masih bayi.


"Prawira, ada yang ingin ku tanyakan padamu," ucap Berlin menatap tajam pria di depannya.


"Tanya soal apa?" sahut Prawira.

__ADS_1


Berlin kembali berjalan memasuki kamar tersebut, diikuti oleh Prawira di belakangnya. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan dari sebuah meja kecil di samping ranjang. Tanpa basa-basi, Berlin langsung membuka laci meja tersebut dan mengambil sebuah buku berwarna coklat yang tersimpan di dalam sana.


Ketika Berlin membuka buku tersebut. Ia menemukan sebuah flashdisk kecil yang tersimpan di dalamnya. "Bisakah kau jelaskan apa isi dari benda ini?" tanya Berlin mengambil flashdisk tersebut.


Namun Prawira seketika terdiam dan sulit untuk berbicara apapun mengenai benda itu. Ia tampak kebingungan harus menjawab pertanyaan yang terlontar.


"Kumohon beritahu aku, Paman!" Berlin bersikeras ingin tahu. Ditambah lagi sebelum Prawira datang, dirinya sempat membaca isi dari buku tersebut. Buku itu berisikan tentang catatan kronologi mengenai tragedi pembunuhan yang terjadi di kamar ini. Tragedi di mana kedua orang tuanya terbunuh secara tragis di dalam kamar ini.


Prawira tercekat ketika mendengar panggilan yang digunakan oleh Berlin untuknya. Secara tidak langsung, dirinya tiba-tiba mengingat beberapa kenangan 19 tahun yang lalu di saat Berlin masih berusia empat tahun. Dirinya sering sekali mendengar panggilan tersebut keluar dari mulut Berlin ketika masih anak-anak.


"Apakah selama ini ada sesuatu yang disembunyikan tentang tragedi itu dariku?" Berlin menghela napas berat, sebelum kemudian berjalan keluar kamar dengan membawa flashdisk tersebut dalam genggamannya.


Prawira hanya berdiri mematung di sana. Dirinya sama sekali tidak tega jika sampai Berlin tahu mengenai isi data dari flashdisk tersebut.


"Kalian, Gates. Bukankah kalian sudah puas menghilangkan segala ingatan mengenai kenangan masa kecilku di keluarga ini? Kalian membiarkanku terbangun di usia 17 tahun dalam keadaan bingung, tidak tahu dari mana asal usul diriku sendiri, dan pada saat itupun aku tidak tahu ... apakah aku memiliki orang tua, bahkan kala itu aku juga bingung di mana keluargaku."


Berlin sempat menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu kamar utama itu, dan kemudian berbicara beberapa kalimat sebelum akhirnya pergi.


***


Sesampainya di kediaman pribadinya. Berlin langsung bergegas secara perlahan menuju ke kamar kedua di lantai atas. Dirinya benar-benar memperhatikan setiap langkah kakinya, karena tidak ingin sampai membangunkan Nadia yang tampaknya sudah tertidur di kamar pertama.


Kamar itu tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Kamar tersebut terletak tepat di sebelah kamar yang biasa digunakan oleh Berlin dan istrinya. Berhubung kamar ini tidak terlalu terpakai untuk saat ini. Berlin menggunakan kamar ini sebagai tempat ia menyimpan beberapa benda elektronik seperti ponsel dan laptop.


Berlin langsung menggunakan sebuah laptop yang terletak di atas sebuah meja kerja di kamar tersebut. Tampaknya Berlin sangat begitu ingin tahu apa data yang tersimpan di dalam flashdisk yang ia bawa dari Kediaman Gates.


Ketika membuka isi file yang tersimpan pada flashdisk tersebut melalui laptopnya. Ia hanya menemukan sebuah data yang merupakan rekaman video. Dirinya sama sekali tidak menemukan data lain dalam file tersebut. Hanya rekaman itu yang ia temukan.


Karena penasaran dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Berlin membuka dan menonton rekaman yang tersimpan. Rupanya rekaman itu berupa potongan rekaman yang diambil dari kamera pengawas yang terpasang di sudut ruang keluarga dari Kediaman Gates.


"Apa yang ... terjadi?" gumam Berlin bingung dengan isi rekaman video yang ia lihat. Lantaran rekaman tersebut menampilkan sejumlah orang berpakaian serba hitam yang berlarian melewati kamera pengawas yang terpasang. Orang-orang yang ditampilkan melalui rekaman video itu juga tampaknya bersenjata api.


Kedua mata milik Berlin sama sekali tidak berkedip. Apalagi ketika ia melihat orang-orang itu menembak secara membabi buta di dalam kediaman itu. Ditambah dirinya menangkap sosok seorang pria yang membuat hatinya resah. Dirinya sama sekali tidak tahu siapa pria itu, karena memang dalam rekaman video itu tidak terlalu jelas dan gelap. Tetapi ia merasa kalau hatinya mengenal pria tersebut.

__ADS_1


Pria di dalam rekaman itu diseret paksa oleh seorang pria lain dengan pakaian serba hitam keluar dari kamar utama. Dia juga tampak melakukan perlawanan ketika orang-orang bersenjata itu hendak merangsek masuk ke dalam kamar itu. Namun di tengah perlawanannya yang hanya dengan menggunakan tangan kosong. Senapan atau senjata-senjata api yang dibawa oleh orang-orang itu langsung menembak pria tersebut, dan kemudian merangsek masuk ke dalam kamar utama.


Setelah semua kejadian singkat itu. Rekaman video yang Berlin saksikan langsung terhenti, karena memang durasi rekaman itu sangat-sangat singkat.


Berlin langsung terdiam dengan mata yang tiba-tiba saja berkaca-kaca. Hatinya benar-benar dibuat resah dan hancur setelah melihat cuplikan rekaman kamera pengawas itu. Dadanya merasa sedikit sesak secara tiba-tiba.


KleeKk ...!!


"Sayang, apakah kamu baik-baik saja? Kamu ... kenapa menangis?" Nadia tiba-tiba membuka pintu kamar tersebut dan melihat mata Berlin yang berkaca-kaca.


Spontan Berlin langsung menutup laptopnya dan mengusap matanya, "siapa yang menangis? Kebetulan ... mataku tiba-tiba perih, mungkin karena aku sudah sangat mengantuk."


Berlin langsung tersenyum dan terlihat cukup memaksakan senyuman tersebut. Ia kemudian beranjak dari kursinya, dan mengajak istrinya untuk kembali ke kamar. Ekspresi palsu itu tetap ia pertahankan, sampai Nadia kembali tertidur ketika sudah berada di kamarnya.


Ketika Nadia sudah kembali tertidur. Berlin masih tetap terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, dan di saat itu juga dirinya menerima pesan melalui ponselnya dari Prawira. Pesan itu berisikan, "aku tahu kau pasti sudah melihat isi dari flashdisk itu, dan mungkin kau menduga-duga apakah rekaman di dalamnya adalah rekaman yang merekam kejadian atau tragedi yang menimpa kedua orang tuamu."


"Dan jika kau mencari atau menanyakan jawabannya, maka jawabannya adalah ... iya. Aku bisa dan siap menjelaskannya di pertemuan kita selanjutnya, Berlin."


Setelah membaca pesan tersebut. Berlin tiba-tiba merasa lemas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil tepat di samping ranjang, dan kemudian merebahkan tubuhnya tepat di sisi Nadia yang tengah tertidur pulas.


"Entah mengapa, parasmu hampir selalu berhasil mengobati suasana hatiku," gumam Berlin dengan sendirinya. Ia menatap wajah cantik sang istri yang tengah tertidur nyenyak dan tersenyum padanya. Bahkan ia sempat mengusap-usap pipi milik wanita tersebut.


"Hmm? Kok ... kamu belum tidur, sih?" gumam Nadia yang tiba-tiba sedikit terbangun akibat sentuhan yang diberikan oleh Berlin.


"Ini baru mau tidur, sayang." Berlin tersenyum menjawabnya. Dirinya dengan perlahan memeluk tubuh Nadia di balik selimut dengan begitu lembut dan tulus. Ditambah lagi salah satu tangannya tidak bisa diam ketika berada di atas perut milik sang istri. Dirinya dapat merasakan sedikit pergerakan yang berasal dari dalam perut sang istri yang tengah hamil.


"Sayang, kalau kita sedang tidur, apakah baby kita juga ikut tidur?" celetuk Berlin dengan satu tangan masih mengelus-elus perut wanitanya.


"Berlin, pertanyaanmu konyol, deh." Nadia menjawabnya dengan nada yang sungguh pelan nan lembut, sebelum akhirnya kembali tidur lagi. Sedangkan Berlin hanya tertawa kecil setelah mendengar jawaban dari sang istri.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2