
Tekad dan keputusan yang diambilnya sudah kuat, serta Berlin juga selesai membicarakan hal itu dengan Garwig dan Prawira. Namun itu saja belum cukup, karena masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Sekarang, Berlin tinggal harus membicarakan hal tersebut dengan Nadia. Dirinya harus memberitahu istrinya tanpa ada yang disembunyikan sama sekali.
Karena pembicaraan dengan Garwig dan Prawira cukuplah lama. Maka Berlin harus pulang terlambat, dan benar saja dirinya mendapati Nadia yang tengah tertidur di sofa panjang ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Ya ampun, kamu ini kebiasaan, deh!" ucap Berlin dengan nada bicara yang cukup pelan. Ia berjalan mendekati bumil yang sedang tertidur di sofa ruang tamu itu dengan perlahan.
Berlin tersenyum dengan sendirinya ketika melihat wajah cantik itu tengah tertidur. Ia mengusap kening milik sang istri dengan perlahan dan lembut.
"Berlin?" gumam Nadia membuka sedikit matanya ketika merasakan sentuhan dari tangan laki-laki itu.
"Sayang, ini udah jam berapa?! Terus nggak ada kabar kalau kamu akan pulang terlambat." Nadia langsung beranjak duduk dengan mata yang masih setengah terpejam. Ia berbicara dan sedikit mengomel sembari melingkarkan kedua tangannya pada leher milik lelakinya, sebelum kemudian bersandar pada dada milik Berlin.
"Maafkan aku, sayang." Berlin tidak bisa dan tidak berani untuk membantah omelan itu. Pilihan yang bisa ia ambil adalah jujur menjawab dan menjelaskan keterlambatannya.
"Oh, jadi ... begitu, ya?" gumam Nadia setelah mendengarkan sedikit penjelasan dari Berlin. Matanya terpejam ketika berbicara, dan ia merasa nyaman ketika Berlin sedikit memeluknya serta mendekapnya.
"Pindah ke kamar, yuk!" ajak Berlin kemudian menggandeng tangan milik sang istri menuju ke kamar lantai dua.
Sesampainya di kamar, Nadia langsung merebahkan dirinya ke kasur dan kembali lanjut untuk tidur. Melihat hal itu, sekali lagi Berlin mengurungkan niat awalnya untuk berbicara beberapa hal dengan sang istri. Dirinya tidak ingin mengangguk waktu tidur dan istirahat malam ini.
"Sayang, sini bobok!" Nadia menarik lengan milik Berlin yang masih duduk di tepian ranjang untuk berbaring bersamanya.
"Iya, iya, sayang." Berlin pun menuruti keinginan istrinya.
"Kamu nggak boleh keseringan begadang!" gumam Nadia sembari memeluk tubuh milik Berlin, dan menyandarkan kepalanya tepat di bahu milik lelakinya sembari memejamkan mata.
"Iya," sahut Berlin dengan intonasi yang begitu lembut. "Dah, bobok! Selamat malam," ucapnya kemudian sembari mengecup kening milik wanitanya. Satu hal lagi, tangannya tidak bisa diam ketika sudah mendarat pada perut buncit milik sang istri yang tengah hamil itu. Dirinya asyik mengelus-elus perut milik Nadia sembari merasakan adanya pergerakan-pergerakan kecil dari dalam sana.
"Besok saja, deh. Aku nggak tega jika aku harus cerita padamu sekarang," batin Berlin kemudian ikut memejamkan matanya dan ikut tertidur.
***
Di keesokan harinya, tepatnya di pagi hari setelah selesai sarapan. Berlin berjalan menghampiri istrinya yang tampak sedang menyiram beberapa bunga di halaman belakang. Hari ini adalah akhir pekan, dan hari yang cocok untuk santai dari segala kesibukan pekerjaan.
__ADS_1
"Sudah sini biar aku lanjutin, kamu istirahat saja!" ucap Berlin kepada istrinya sembari mengambil alih alat penyiram tanaman itu dari tangan istrinya.
"Yah, tetapi aku masih mau nyiramin ...!" gerutu Nadia sembari mengerucutkan bibirnya pertanda sedikit kesal.
Berlin tertawa kecil dan tersenyum melihat ekspresi itu, "kamu duduk dahulu saja di sana! Nanti aku ingin berbicara sesuatu denganmu," ucapnya sembari menunjuk sebuah kursi santai di pinggir kolam renang.
"Yaudah, deh." Nadia pun menuruti saja. Dirinya duduk manis di sana dan menunggu sampai Berlin selesai.
Sembari menunggu Berlin yang masih sibuk merawat beberapa tanaman. Nadia beranjak dari kursi santainya menuju ke pinggir kolam.
"Hati-hati, awas licin!" cetus Berlin melirik ke arah istrinya yang sedang berdiri di pinggir kolam.
"Iya, aku hati-hati, kok!" sahut Nadia. Senyuman dan wajah cerianya seolah tidak pernah lepas dari paras cantiknya. Ia menyingsingkan sedikit dress-nya, dan kemudian duduk di tepi kolam dengan kaki berada sedikit di air.
Nadia terlihat asyik sendiri bermain air dengan kedua kakinya yang diayunkan beberapa kali sehingga menimbulkan percikan-percikan kecil.
"Berlin, kita berenang bareng, yuk?" cetus Nadia menoleh ke arah Berlin yang kelihatanya sudah selesai dengan urusannya.
"Lain kali aja, deh. Aku 'kan mau ngobrol sama kamu," jawab Berlin meletakkan alat penyiramnya sebelum kemudian beranjak mendekati bumil yang tengah asyik bermain air itu.
"Soal ... keputusan yang aku ambil akhir-akhir ini," jawab Berlin.
Berlin tidak ingin menunda-nunda lagi keinginannya untuk berbicara mengenai keputusannya untuk pergi ke pulau. Tanpa banyak basa-basi, Berlin langsung berbicara soal keputusan yang akan ia ambil. Tentu dirinya tetap menjelaskannya secara perlahan-lahan agar istrinya tidak terlalu terkejut mendengarnya.
"Berlin, mengapa kamu mengambil keputusan itu? Bukankah pulau itu tempat yang berbahaya? Banyak berita tidak baik berasal dari sana."
"Lalu berapa lama jika kamu akan pergi ke sana?"
Sontak rasa takut dan cemas beserta sedikit gelisah menyelimuti perasaan istrinya. Nadia tidak menyangka bahwa suaminya akan mengambil keputusan itu, yaitu akan pergi ke Pulau La Luna. Terlebih lagi, tidak ada kepastian soal kapan Berlin akan kembali dari sana.
"Aku akan menemui Nicolaus di sana, dan menyelesaikan masalah pribadiku dengannya." Berlin menjawab pertanyaan pertama dari istrinya. Dirinya tidak berani untuk menatap paras dan mata milik wanita itu ketika memberikan jawaban.
"Aku belum menjelaskan alasan yang mendasari diriku untuk mengambil keputusan itu. Maka ... aku akan sedikit menjelaskannya di sini."
__ADS_1
Berlin pun langsung buka mulut serta sedikit menjelaskan soal rekaman kamera pengawas yang menangkap tragedi pembunuhan kedua orang tuanya. Ia menjelaskannya dengan sangat lugas, dan sangat terlihat bahwa sedikit menyimpan rasa dendam dengan pelaku di balik pembunuhan itu.
"Nicolaus adalah dalang di balik terbunuhnya kedua orang tuaku. Jujur saja setelah mengetahuinya, aku tidak ingin tinggal diam. Aku ingin menemuinya." Berlin berbicara sembari mengepalkan salah satu tangannya tanpa ia sadari. Tatapan matanya tajam mengarah ke bawah. Amarahnya hampir selalu menyelimuti hatinya ketika berbicara tentang persoalan itu.
Melihat dan menyadari hal tersebut. Nadia meraih salah satu tangan milik prianya dengan kedua tangan lembutnya, dan menggenggamnya secara perlahan.
"Aku sama sekali tidak tahu-menahu soal masa lalumu, soal permasalahan yang ada di keluargamu, dan soal kedua orang tuamu." Nadia berbicara dengan menatap dalam mata milik lelakinya. Perasaan takut, cemas, dan gelisah bercampur aduk setelah mendengar apa yang dibicarakan oleh Berlin.
"Namun ... yang ku inginkan hanyalah satu, aku ingin ... tidak terjadi ... sesuatu yang buruk padamu, Berlin." Calon ibu muda itu kemudian menundukkan kepalanya dan menyandarkannya tepat pada bahu milik lelakinya. Matanya cukup berkaca-kaca ketika berbicara, namun ia berhasil menyembunyikannya dengan menundukkan kepalanya dan menahan agar air mata itu tidak jatuh.
Berlin memeluk tubuh istrinya sembari berkata, "aku nggak akan pergi sendiri, kok! Dan aku akan kembali lagi setelah semua urusan itu terselesaikan."
"Tetapi kamu tidak mengatakan kapan kamu akan kembali, dan berapa lama kamu akan pergi," ucap Nadia sembari memeluk erat lelakinya seolah dirinya tidak ingin melepaskan Berlin untuk pergi.
"Aku tidak ingin pergi terlalu lama, dan aku akan segera pulang setelah semuanya selesai." Berlin memegang kedua bahu milik istrinya, dan kemudian menatap dalam-dalam kedua mata milik wanita itu.
"Jujur saja ... hatiku sangat berat jika harus jauh-jauh darimu, apalagi ... kondisimu sekarang sedang mengandung calon buah hati pertama kita." Belum selesai Berlin berbicara. Nadia sudah terlebih dahulu menyela dengan melemparkan pertanyaan, "terus mengapa kamu masih mau pergi ke pulau itu?! Apalagi menemui Nicolaus, kamu tahu sendiri dia orang yang berbahaya, 'kan ...?!"
Dua bola mata indah itu sangat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Berlin dapat dengan langsung menatapnya, dan dirinya hanya bisa diam setelah mendengar serta menatap mata milik istrinya dari dekat.
"Kamu jahat, Berlin. Kamu lebih mementingkan egomu dibandingkan keselamatan dirimu. Kamu juga nggak mikirin perasaan ku bakal gimana nantinya jika terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Nadia kembali menundukkan kepalanya dan menyandarkannya tepat dalam dekapan suaminya. Tanpa ia sadari air matanya telah menetes dengan sendirinya, dan secara tidak langsung sedikit membasahi baju milik Berlin.
"Aku sebenarnya sangat tidak ingin kamu pergi ke sana, Berlin. Pulau itu tempat yang berbahaya, perasaanku berkata demikian," ucap Nadia sesaat setelah mengusap pipi dan matanya dengan intonasi yang cukup rendah. Setelah itu ia kembali merangkul dan memeluk erat tubuh pria itu sembari menyandarkan kembali kepalanya di dalam dekapan prianya.
Berlin sulit untuk berbicara lagi, seolah ia terbungkam setelah melihat reaksi dari istrinya yang sudah tahu soal keputusannya. Memang tujuan awalnya adalah memberi tahu Nadia soal keputusannya, dan dirinya pun sudah menebak akan menghadapi reaksi Nadia yang seperti ini. Namun dirinya tidak menyangka hatinya akan menjadi sangat lemah setelah melihat keresahan dan kegelisahan yang cukup mendalam yang dialami istrinya.
"Maaf, sayang. Tetapi aku harus pergi ke sana, dan kemudian bertemu dengan Nicolaus," batin Berlin.
Kedua tangannya terus mendekap wanita itu. Dirinya dapat memahami apa yang sedang dirasakan oleh Nadia, bahkan mungkin juga dirasakan olehnya. Ketakutan, keresahan, kegelisahan. Tiga hal ini juga dirasakan oleh Berlin.
.
__ADS_1
Bersambung.