
Kini Berlin telah berdiri di sisi meja yang diletakkan di ruang tengah kantor polisi tersebut. Di atas meja terdapat sebuah peta berukuran besar yang dibentangkan, dan di sinilah Prawira memberitahukan soal posisi serta di mana letak yang akan diisi atau ditempati oleh Ashgard.
"Akan ada empat titik yang akan kalian tempati." Prawira berbicara, sembari menunjuk keempat titik yang ia maksudkan.
Berlin benar-benar memperhatikannya, dan memahami keempat posisi yang akan ditempati oleh Ashgard. Empat posisi tersebut mencakup Distrik Barat, Distrik Komersial, Area Pelabuhan, dan Area Apartemen pusat kota. Melihat serta mengetahui empat posisi yang akan ditempati oleh Ashgard, cukup membuat Berlin merasa sedikit gelisah.
"Baik, aku akan bagi menjadi empat regu," ujar Berlin.
"Persidangan akan dimulai jam sepuluh, namun aku tetap ingin kalian selalu berjaga dan waspada. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan penyerangan yang direncanakan itu akan terjadi," ucap Prawira, berdiri tepat di sebelah Berlin dan berbicara demikian dengan intonasi yang sangat serius.
Pria itu kembali memalingkan pandangannya ke arah peta yang terbentang di atas meja sembari lanjut berkata, "semoga kita selalu siap jika kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi."
Berlin tersenyum optimis mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira, apalagi pria itu berbicara dengan intonasi yang seolah menggambarkan keraguan dalam dirinya. "Tenang saja, jika kemungkinan terburuk itu terjadi, maka aku tidak akan memberikan mereka kemudahan untuk melakukannya," ucapnya.
"Aku harap persidangan itu tidak berlangsung lama," lanjut Berlin, kemudian menghela napas sembari berbalik badan hendak kembali ke halaman belakang.
"Semoga saja, karena tuntutan yang akan dilampirkan sepertinya akan sangat banyak," sahut Prawira.
Keduanya pun melangkah, berjalan kembali ke halaman belakang kantor polisi dan menemui rekan-rekan Ashgard serta regu khusus yang berjumlah delapan orang itu. Kembali di bawah guyuran air hujan yang cukup deras, Prawira berdiri di depan anggota-anggotanya sembari berkata, "peran kalian akan membantu serta melengkapi Ashgard."
"Komando pusat kalian tetap berada di tangan saya, namun selama di lapangan ... saya sebagai komando pusat kalian ... memerintahkan kalian untuk selalu patuh terhadap komando lapangan yang akan dipegang oleh Berlin!" lanjut Prawira, terlihat sangat menegaskan hal ini.
__ADS_1
Terlihat tatapan penuh dengan keraguan dari masing-masing aparat yang berbaris di bawah derasnya guyuran hujan itu. Beberapa kali mereka sempat melirik Berlin yang berdiri tepat di sebelah Prawira. Berlin sendiri menyadari hal tersebut, namun dirinya menaruh serta mengambil keputusan untuk cuek, bahkan mungkin sangat cuek.
"Oke, saya ambil alih kalian mulai dari sini," ucap Berlin, datar dan dengan sikap yang dingin. Ia melangkah dan kemudian berdiri tepat di depan Prawira, namun menghadap serta menatap tajam kedelapan anggota terpilih itu.
"Menurut data kalian adalah personel tangguh yang terpilih, aku percaya itu dan aku tidak meragukan kapabilitas kalian. Namun ada yang lebih penting daripada hanya sekedar data, yakni pembuktian dan fakta di lapangan. Aku lebih butuh itu daripada data-data tentang masing-masing profil dari kalian." Berlin berbicara dengan intonasi yang tidak terlalu tinggi, namun terkesan menyindir dan tajam.
Meskipun saat ini Berlin masih berdiri dibantu oleh tongkat bantu, namun alat atau benda itu tetap tidak dapat meredupkan aura kepemimpinannya. Setelah diam beberapa detik, Berlin kembali berbicara, "kami sangat mengharapkan kerjasama kalian, karena itu adalah salah satu aspek agar semua tugas atau misi di hari ini dapat terlaksana dengan baik, apapun itu rintangannya."
Berlin menoleh sejenak ke arah Prawira yang melirik kepadanya dan kemudian mengangguk pelan sekali. Sesaat kemudian ia kembali memandang ke arah barisan di depannya sembari berkata, "aku yakin detailnya sudah dijelaskan kepada kalian, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi, dan aku melihat semangat serta antusias kalian yang sangat siap untuk menjalani hari ini."
"Baik, kalau begitu kita berangkat sekarang, di dalam perjalanan akan ku bagi kalian menjadi empat regu. Silakan bubarkan barisan, dan siapkan kendaraan kalian!" lanjut Berlin, kemudian melangkah pergi dari sana menuju ke mobilnya. Tentu langkahnya diikuti oleh rekan-rekannya, sedangkan regu dari pihak aparat itu terlihat langsung bersiap dengan masing-masing kendaraan mereka.
Prawira mengejar langkah Berlin, dan membuat laki-laki yang mengenakan mantel hitam itu menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya terparkir.
Berlin tersenyum mendengar kata-kata pengingat di awal kalimat yang hampir mirip dengan seseorang tercintanya yang juga mengingatkan hal yang sama. Ia kemudian menoleh, mengangguk dan menanggapinya dengan berkata, "terima kasih, aku akan selalu mengingatnya."
***
Di sebuah gudang persenjataan yang letak pastinya tidak diketahui. Orang-orang berjaket merah terlihat tengah mengambil serta mempersiapkan persenjataan mereka. Mereka tidak sendiri, karena ada pihak dari Clone Nostra yang sangat identik dengan jas atau baju-baju berwarna putih mereka.
"Ambil senjata kalian!"
__ADS_1
"Awas, jangan sampai kalian meledakkannya!"
Teriak-teriak beberapa orang berjaket merah kepada rekan-rekannya. Sedangkan Felix, ia berdiri di ambang pintu masuk gudang bersama dengan seorang wanita yang dekat dengannya, dan juga sosok Clovis yang juga berdiri di sana.
"Cuaca yang sangat mendukung untuk aksi kita," ujar wanita berjaket merah itu.
"Ya, apalagi jika semakin deras, tentu itu akan mempermudah pergerakan kita," timpal Felix.
Clovis hanya bersedekap dan diam di antara kedua orang yang berbicara itu. Ekspresi dan sikapnya begitu tenang dan dingin, sangat dingin seperti apa yang ia rasakan saat ini di tengah derasnya air hujan yang terus mengguyur tanpa henti. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat dingin dengan cuaca dan Intensitas hujan yang masih tetap sama.
Perhatian Felix tertuju kepada Clovis yang sedari tadi hanya diam, "kau tidak perlu khawatir, serahkan saja para aparat itu kepada kami."
Kata-kata manis itu kembali diucap, dan cukup membuat kedua telinga Clovis merasa panas ketika mendengarnya. Laki-laki itu menyimpan rasa muak di dalam hatinya, terlihat dari iris matanya yang seolah menyimpan dendam. Namun dirinya tetap tenang, dan berhasil mengendalikan serta meredam emosinya.
"Mungkin ... bukan aparat yang akan menjadi ancaman kita, tetapi Ashgard. Mafioso dan Clone Nostra pernah dibuat berantakan hanya dengan empat belas orang mereka," ucap Clovis.
Namun Felix justru berdecak sombong dengan sikap yang terlihat sungguh percaya diri dan sangat angkuh, "Red Rascals tidak akan mungkin seperti Clone Nostra dan Mafioso. Bukan mereka yang akan menjadikan kami sebagai permainan, tetapi kami yang akan menjadikan mereka sebagai permainan," ucapnya.
JGEERRR ...!!!
Suara petir tiba-tiba saja terdengar sesaat setelah Felix berbicara, disusul dengan kilatan yang sangat terlihat seolah membelah langit gelap di pagi ini. Intensitas hujan terpantau semakin deras daripada sebelumnya, dan cukup memangkas serta memperpendek pengelihatan mata karena saking derasnya air yang tumpah ke bumi.
__ADS_1
.
Bersambung.