
Empat tahun kemudian, sore hari, Pulau La Luna.
Pulau tropis yang sangat indah, tanpa ada peperangan ataupun kericuhan dalam bentuk apapun itu. Sebuah tempat yang sangat luas di atas sebuah bukit kecil, dan di empat tahun yang lalu tempat tersebut menjadi saksi dari sebuah pertempuran hebat antara Ashgard bersama Personel Khusus dengan Clone Nostra yang menyebabkan terbakar serta runtuhnya villa megah milik Clone Nostra. Kebakaran hebat serta kekacauan memenuhi tempat tersebut, bahkan membuat Berlin Gates Axel menjadi salah satu korban dari kekacauan tersebut.
Akan tetapi kini semuanya sudah berubah. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, tempat tersebut kini dipercantik dan lebih baik daripada sebelumnya. Dibangun sebuah vila modern dengan dominasi cat berwarna putih dan hitam. Karena tanahnya yang sangat luas, maka tidak hanya vila saja yang berdiri kokoh di sana, namun juga terdapat beberapa taman bunga, dua taman bermain di halaman depan vila dan lereng bukit kedua samping vila, dan satu kolam berenang privat yang terletak di halaman belakang vila.
Terlihat seorang pria berbaju santai berwarna putih, rambut hitam sama seperti kedua iris matanya, berdiri seorang diri di halaman belakang vila tersebut dengan memandangi indahnya pemandangan alam yang masih asri di pulau tersebut. Angin terasa lembut berhembus di sore hari yang indah ini, menerpa rambut hitamnya dan juga bajunya.
"Terima kasih, Berlin." Suara lembut seorang wanita terdengar dari belakang lelaki itu.
Berpakaian santai dress panjang berwarna putih. Nadia berjalan perlahan mendekati suaminya, dan kemudian memeluk lelaki tersebut dari belakang sembari tersenyum. Dari ekspresi yang selalu terlihat di parasnya yang cantik dan anggun itu, tampak sekali bahwa wanita berambut panjang bergelombang itu menyimpan perasaan senang, bahagia.
"Terima kasih untuk?" tanya Berlin sembari tersenyum, menoleh, memandang paras cantik istri tercintanya yang perlahan berpindah berdiri tepat di sebelahnya.
"Untuk semuanya," jawab singkat wanita berambut hitam itu, menatap kedua iris mata hitam pekat milik Berlin sembari tersenyum lembut.
Berlin menghela napas, tersenyum, dan melemparkan pandangannya kembali ke depan, menikmati pemandangan alam hutan tropis yang terlihat dari halaman belakang vila tersebut. Nadia tampak sangat dekat dengan dirinya, bahkan hampir selalu memeluk lengan kanannya.
"Rasanya aku ingin tinggal di sini lebih lama lagi, tidak hanya untuk liburan," ujar Nadia sembari menyandarkan kepalanya perlahan pada bahu milik lelakinya.
__ADS_1
Dengan santainya Berlin menjawab, "tinggal saja lebih lama, lagipula vila ini milik kita, Nadia."
"Kamu membelinya?!" sahut Nadia, menoleh, menatap suaminya dengan tatapan terkejut setelah mendengar jawaban tersebut.
Berlin menyempatkan diri untuk tertawa kecil terlebih dahulu, sebelum kemudian memberikan penjelasan, "semuanya sudah berubah sekarang, dan lebih baik, serta semakin baik daripada sebelumnya."
"Setelah Garwig dan beberapa pihak terkait sepakat menjadikan Pulau La Luna menjadi satu wilayah yurisdiksi dengan pemerintah pusat kita, maka aku memutuskan untuk membereskan tempat ini dengan cara ... kurang lebih ... membelinya," lanjut Berlin, berbicara dengan pandangan sedikit ke arah langit, memandangi pemandangan langit jingga yang tampak sangat cerah sore ini.
Nadia menatap dan terlihat penasaran, "kamu punya uang sebanyak itu? Tanah seluas ini pastinya mahal, bukan?" tanyanya.
Berlin terlihat tersenyum, melirik wanita yang berada tepat di sisinya dan menjawab, "tabungan pribadi serta setengah dari uang warisan yang ternyata sengaja disimpan oleh orang tuaku untukku."
Di tengah perbincangan antara mereka berdua, terdengar sayup-sayup suara cekikikan dari kedua putri mereka yang sedang bermain di ruang tengah vila, berlarian kecil menuju ke halaman belakang vila. Berlin menoleh ke belakang, begitupula yang dilakukan oleh Nadia yang berada dalam rangkulannya, dan memandangi kedua putrinya yang tampak sedang berlarian dengan riang menghampiri mereka berdua.
"Mama, tolong ...! Kak Akira jadi monster," cetus seorang gadis kecil dengan dress berwarna merah muda, berambut hitam panjang bergelombang sama persis seperti milik Nadia, begitupula dengan kedua iris matanya sama indahnya dengan milik sang ibu yakni Nadia. Anak itu berlari ke arahnya, dan kemudian memeluk kedua kakinya sembari tertawa-tawa kecil.
Akira berlari kecil menghampiri adiknya dengan terus memainkan peran layaknya monster sedang mengamuk, mengangkat dan menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti sedang menunjukkan cakar--meskipun ia tidak memilikinya, dan bersuara layaknya monster yang sedang mengamuk. Ekspresi serta gerakan yang dibuatnya terlihat lucu di kedua mata Berlin dan Nadia, begitupula di mata adiknya yanh justru malah tertawa melihatnya.
Nadia tampak tersenyum lebar, "sudah, sudah, kalian berdua sudah kelihatan capek begitu, lho ...!" ucapnya kepada kedua putri cantiknya, "yuk mama buatkan minum!" lanjutnya.
__ADS_1
"Ayo!" sahut Akira, begitu pula dengan adiknya, "aku mau! Aku mau!" timpal adiknya.
"Akira dan Kiara mau dibuatkan apa?" tanya Nadia tampak tersenyum, kemudian menggandeng kedua putrinya, dan berjalan melewati kolam renang menuju ke dalam vila kembali.
Kiara atau nama lengkapnya adalah Kiara Arunika, gadis kecil berusia tiga tahun, dan dia adalah putri dari Berlin dan Nadia. Berlin masih berdiri di tempat yang sama, dengan pandangan seolah masih tidak menyangka akan melihat pemandangan yang dapat menghangatkan hati ketika melihatnya. Istri dan kedua putrinya terlihat bahagia, mereka tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa, bahkan ketika sudah sampai kembali ke dalam vila.
Pandangan Berlin kemudian terangkat, menatap langit jingga dengan senyuman yang terpampang pada parasnya, "ya Tuhan, aku ingin suasana ini berlangsung selamanya, dan jangan lunturkan perasaanku pada mereka untuk selamanya," ucapnya berbicara sendiri.
"Papa, ayo masuk! Kita akan makan malam bersama, 'kan?" cetus Kiara, berlari kecil kembali menghampiri Berlin, dan kemudian menarik salah satu tangannya dengan tangan kecilnya.
Berlin kembali memandang ke bawah, menatap kedua iris mata indah berwarna hitam milik Kiara yang persis sekali seperti milik ibunya yakni Nadia. Laki-laki itu kemudian mengangkat, menggendong tubuh mungil putrinya sembari berkata, "yuk kita makan malam bersama!"
"Nanti malam kita main di taman bawah, ya! Papa harus temani!" cetus Kiara ketika berada di gendongan papanya, menatap paras tampan papanya dan memohon hal tersebut.
Berlin tampak tersenyum senang, dan langsung memberikan jawabannya, "waktu papa banyak untuk Kiara juga Akira, jadi jangan khawatir! Tetapi kamu harus pakai jaket, oke?!"
"Baik!! Asyik!" seru Kiara, mengangkat kedua tangannya, dan bersorak kegirangan. Gadis kecil itu tampak riang sekali, ia memiliki karakter yang kurang lebih sama dengan ibunya yaitu ceria dan periang, terlebih pada momen-momen seperti ini.
Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam vila, tepat sekali bersamaan dengan perubahan langit dari sore ke petang hari, menjelang malam hari.
__ADS_1