Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tidak Perlu Mengubah, Cukup Menambah #208


__ADS_3

"Rencana penyerangan Pengadilan Negeri Metro Pusat, Red Rascals, Clone Nostra. Yang benar saja?!" cetus Prawira, membaca dengan lugas sebuah kalimat yang tertulis di halaman pertama buku.


Kini isi dari buku catatan kecil tersebut telah diketahui oleh Prawira dan juga pihaknya. Tak hanya beberapa tulisan saja yang tertulis di dalamnya, namun Prawira juga melihat beberapa potret gambar yang semakin memperkuat bukti dan sangat berkaitan dengan rencana yang tercatat.


"Dari mana informan Mafioso mu itu mendapatkan buku ini?" tanya Prawira, menatap Carlos tajam.


Carlos pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama ketika dirinya dilempari pertanyaan yang serupa beberapa waktu sebelumnya oleh Berlin dan juga Garwig. Kalimat yang diucapkannya sama, tidak ada yang berubah ataupun berbeda.


Prawira kembali tertunduk, meletakkan beberapa potret gambar dari dalam buku tersebut di atas meja. Dari gambar-gambar tersebut dirinya bisa melihat kalau Red Rascals dan Clone Nostra masih berhubungan satu sama lain. Mereka terlihat saling bertemu, dan di belakang mereka terdapat kotak-kotak yang ia curiga berisikan senapan-senapan seperti apa yang sudah tertulis pada buku.


"Mereka berencana untuk mengacaukan persidangan, dengan melakukan penyerangan baik dari luar maupun dalam. Bila memang rencana yang tertulis benar, maka mereka telah kebocoran informasi yang sangat-sangat penting," ucap Prawira.


"Dari luar maupun dalam?" sahut James yang berdiri tepat di samping Flix dan Prime.


"Ya, yang berarti kita harus lebih memperketat penjagaan, dan menyaring siapa saja yang akan masuk dan menyaksikan persidangan itu di dalam gedung," jawab Prawira.


"Lakukan juga hal yang sama untuk setiap orang yang hadir di sekitar gedung!" timpal Berlin, serius.


Prawira mengangguk dan terlihat setuju dengan apa yang Berlin katakan. Ia kemudian kembali menoleh dan menatap ke arah Garwig sembari bertanya, "bagaimana menurutmu?"


"Kurasa kita tidak perlu terlalu mengubah rencana awal kita, hanya saja sedikit menambahkannya. Aku cukup setuju dengan ide kalian berdua," jawab Garwig, melipat kedua lengannya di atas dada, dan kemudian mengangguk sembari mengatakan kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Berlin sempat menoleh kepada dua rekan kepercayaannya yakni Kimmy dan Asep yang berdiri tepat di sampingnya. Tidak menggunakan kata-kata, mereka seolah berbicara dengan bahasa tubuh serta gerak-gerik dari tatapan mata.


"Kami dapat mengawal dan memastikan kalau persidangan akan dapat dilaksanakan dengan lancar dan tanpa adanya masalah di dalam," Berlin tiba-tiba saja angkat bicara, memalingkan kembali pandangannya, menatap masing-masing wajah dari orang-orang penting itu, "hanya saja, kami tidak bisa menjamin untuk tidak membuat kekacauan di luar dari persidangan tersebut."


"Tepatnya kekacauan seperti apa yang kau maksud, Berlin?" tanya Garwig.


Berlin menatap tajam dan serius pria berjas hitam itu sembari menjawab, "seharusnya kalian sudah tahu apa maksudku tanpa harus aku menjelaskan secara detail, apalagi mengingat kalian-lah yang memberikan misi ini untuk Ashgard."


Garwig sempat menatap ke arah Prawira, sebelum kemudian kembali menatap ke arah Berlin dan berkata, "aku tahu, namun sebisa mungkin jangan sampai memaksakan diri ...!"


Berlin tersenyum tipis, menggeleng dan berkata, "aku juga tak bisa menjamin hal itu, Garwig. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari itu, dan seperti apa situasinya."


"Namun jangan khawatir, aku dan rekan-rekan ku akan tetap melakukannya dengan hati-hati," lanjut laki-laki berjaket biru itu.


Pukul 18:20 petang, Vila Kediaman Berlin.


Nadia tampak sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam, dibantu oleh putrinya yang terlihat senang sekali ketika membantu dirinya. Akira membawakan beberapa cangkir kosong dari dapur menuju ke meja makan. Karena kedua tangannya yang kecil, dan ukuran diameter dari cangkir yang ingin ia pindahkan mencakup dua sekaligus genggamannya. Maka ia harus memindahkannya secara manual satu-persatu dengan sangat hati-hati.


Sedangkan Nadia yang sibuk memasak sesuatu dengan pancinya, hanya memperhatikan putrinya itu. Cangkir yang dibawa oleh putrinya bukan terbuat dari kaca tetapi plastik. Jadi dirinya tidak begitu menaruh rasa khawatir ketika melihat anak sekecil itu membantu memindahkan cangkir-cangkir tersebut.


"Mama, cangkirnya tiga, apakah Papa akan pulang dan makan malam bareng kita?" tanya Akira, selesai menaruh cangkir terakhir yang ia bawa setelah berbolak-balik dua kali. Ia duduk manis di kursi miliknya, dan menunggu sampai Nadia selesai dengan masakannya.

__ADS_1


"Sepertinya begitu," jawab Nadia, sempat menoleh dan tersenyum kepada putrinya di meja makan belakang. Namun senyuman itu pudar setelah ia kembali memalingkan pandangannya untuk fokus pada masakannya, "namun dia belum memberikan kabar, sih," batinnya. Ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja makan masih sepi, tidak ada pesan masuk dari Berlin yang biasanya memberikan kabar apakah dia akan pulang awal atau terlambat.


Aroma yang begitu harum dan menggiurkan, menggugah selera sehingga membuat perut terasa lapar. Sup ayam yang dimasak oleh Nadia sudah matang, dan siap untuk disajikan. Ia mematikan kompor listriknya, sebelum kemudian memindahkan sup tersebut ke dalam sebuah mangkuk yang berukuran besar, dan membawanya ke atas meja makan.


"Wah!" seru Akira, kemudian dengan tidak sabar ia meraih mangkuk kecilnya yang sudah tersedia di atas meja, "aku mau!" ujarnya sembari menyodorkan mangkuk tersebut kepada Nadia. Wanita itu tersenyum hangat melihat putrinya, menerima mangkuk kecil itu dan kemudian mengisinya dengan sup ayam yang kaya dengan kuah.


Drrttt ... Drrttt ...!!!


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ponsel milik Nadia yang tergeletak di tepi meja itu bergetar. Layar ponsel itu menunjukkan sebuah kontak dan nomor yang menelepon. Namun Nadia tidak mengenal nomor dan kontak siapa yang menghubungi dirinya.


"Halo, selamat malam. Mohon maaf, ini dengan siapa?" ucap Nadia, meraih ponselnya dan segera menekan tombol hijau pada layar.


"Nadia Nayanika, kau tidak perlu tahu siapa yang berbicara denganmu saat ini. Aku hanya ingin menyampaikan pesan untuk suamimu."


"Katakan pada laki-laki itu untuk tidak menghalang-halangi apapun tindakan yang akan kami lakukan, jika memang tidak ingin ada nyawa yang melayang. Aku tidak akan segan untuk mencari, mengincar, melukai, bahkan menghabisi siapapun yang menghalangi."


Tuutt ... Tuutt ...!!


"Mama, ada apa?" tanya Akira, penasaran, apalagi ketika melihat raut wajah tegang dari Nadia ketika menerima telepon tersebut.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2