
Menjelang sore hari, dengan mengendarai mobil SUV nya, Prawira sedang dalam perjalanan menuju ke Kediaman Gates. Sepanjang perjalanannya melalui lalu lintas kota yang cukup padat karena jam pulang kerja. Ia tampak cukup menikmati suasana jalanan yang ramai itu, apalagi didukung oleh cuaca yang sangat cerah.
Pada pukul dua lebih lima puluh menit, Prawira akhirnya sampai di kediaman ternyaman milik Keluarga Besar Gates. Di halaman depan rumah tersebut, terlihat cukup padat dengan mobil yang terparkir. Sepertinya sudah hadir banyak orang di sana.
Mobil yang dikendarai pun berhenti, terparkir rapi di antara dua mobil SUV hitam di sana. Prawira segera turun dari mobil, dan bergegas menuju ke pekarangan belakang rumah melalui jalan bebatuan di samping rumah.
Ketika berjalan melalui rerumputan dan banyak tanaman bunga, Prawira dapat mendengar lamat-lamat banyak suara perbincangan yang bersumber dari halaman belakang sana.
"Loh, sendirian? Bagaimana dengan Garwig?" seorang pria yang melihat kedatangannya, langsung menyambut, berjabat tangan, dan menanyakan soal keberadaan Garwig. Pria tersebut adalah Prime.
"Kelihatannya dia masih sibuk di kantornya, tetapi akan segera datang," jawab Prawira.
Prime tersenyum, "ya sudah kalau begitu, lebih baik kau segera bergabung dengan kami!"
Prawira mengikuti langkah Prime berjalan, hingga sampai di pekarangan belakang. Di depan gazebo yang ada di taman yang cukup luas itu, terlihat dihadiri oleh beberapa anggota keluarga Gates hadir di sana. Netty, Siska, Flix, James, dan yang terakhir adalah Carlos. Mereka hadir di sana, terlihat tengah mempersiapkan beberapa hidangan di atas sebuah meja kayu yang cukup panjang. Beberapa dekorasi lampu, dan hiasan-hiasan indah terpasang di sekitar taman, termasuk di gazebo bercat putih bersih itu.
"Jarang sekali kita bisa berkumpul seperti ini, ide mu cukup bagus dengan membuat pesta kecil-kecilan seperti ini, Prawira." Prime terlihat sangat senang, sembari berjalan terus di samping Prawira menghampiri rekan-rekannya.
Prawira tertawa kecil menjawab, "lebih tepatnya, ini adalah wacana dari Garwig."
"Selamat datang, Pak!" sambut Siska, berjabat tangan dengan Prawira.
"Jangan menggunakan bahasa yang formal, kita tidak sedang bertugas dan berseragam!" sahut Prawira, tersenyum. Siska hanya tertawa mendengar tanggapan tersebut.
"Semuanya sudah siap, tinggal menyalakan lampu-lampu itu saja," cetus Flix, menoleh ke arah James yang berdiri di dekat pintu kaca belakang rumah, dan berteriak, "James, coba nyalakan sakelarnya!"
"Oke!" sahut James, kemudian menarik sebuah sakelar kecil yang tertempel di dinding samping pintu kaca.
__ADS_1
Lampu-lampu hias yang terpasang di tiang-tiang kayu di sekitar taman langsung menyala dengan warna-warninya yang indah. Ditambah dengan didukungnya lampu-lampu taman yang juga turut dinyalakan. Itu menambah keindahan dan kehangatan suasana di sana.
"Awas, awas, masih panas ...!" Netty melangkah ke arah meja, dengan kedua tangan membawa semangkuk besar sup yang tampaknya masih panas, kedua tangannya sampai harus menggunakan sarung tangan tebal agar tidak kepanasan.
"Prawira, anda sudah datang? Sejak kapan?" Setelah meletakkan mangkuk besar itu di atas meja. Kedua mata Netty melihat dengan tatapan sedikit terkejut melihat kehadiran suaminya di sana.
Prawira terkekeh kecil menjawab, "baru saja datang, sih," ucapnya sebelum kemudian menambahkan, "ngomong-ngomong, jangan terlalu formal, ya ...!?" pintanya dengan intonasi lembut.
"Di mana Garwig? Dia tidak bersamamu?" tanya Netty, celingukan ke belakang Prawira. Bukankah seharusnya orang yang mengadakan pesta lebih dahulu ada di lokasi pesta?
"Dia masih mengurus beberapa dokumen di kantornya, dan tak ingin diganggu. Namun dia tidak lupa dengan pesta yang dia adakan, tenang saja ...!" jawab Prawira, melangkah menuju meja yang sudah disiapkan cukup banyak sekali makanan seperti kue-kue manis, sampai buah-buahan segar.
"Bagaimana dengan Berlin? Dia datang, 'kan?" cetus Flix.
"Tentu saja, dan sepertinya dia akan membawa banyak tamu yang akan ikut meramaikan pesta kecil ini," jawab Prawira, mengambil secangkir teh hangat. Lirikannya kemudian tertuju kepada Carlos yang hanya duduk di depan gazebo, sendirian. Ia pun segera melangkah, mendekati laki-laki yang sedang menyendiri itu.
Carlos tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan oleh Prawira, karena apa yang dikatakan itu memang benar. Dirinya masih mengingat seperti apa Berlin di masa kecilnya. Anak itu suka menyendiri ketika lelah berinteraksi dengan banyak orang, meskipun orang-orang itu adalah keluarganya sendiri. Namun meski begitu, Berlin kecil sungguh ramah dan dapat akrab dengan orang-orang baru, walaupun harus kenal sedikit lama terlebih dahulu.
"Dia akan hadir di sini?" cetus Carlos, menanyakan soal kehadiran Berlin dalam pesat kecil itu.
Prawira duduk di samping Carlos, di atas sebuah anak tangga gazebo. "Ya, sebentar lagi dia akan datang, dan sepertinya dia akan mengajak banyak orang," jawabnya.
Carlos tersenyum, pandangannya sedikit tertunduk, "sepertinya akan seru, semakin ramai semakin seru," ucapnya.
"Ku harap kau dapat menikmatinya," ujar Prawira, sebelum kemudian sedikit menyeruput secangkir teh hangat yang ia bawa.
"Sungguh, sebenarnya aku sangat senang dengan semua ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kehadiran ku akan diterima, kembali." Carlos tiba-tiba saja berbicara dengan intonasi yang terdengar antusias, bercampur kesenangan yang tidak dapat disembunyikan.
__ADS_1
"Aku kira ... aku akan diasingkan, namun ternyata tidak." Tatapan Carlos tertuju ke arah Flix, James, Siska, Prime, dan Netty yang tengah asyik bercanda tawa di sekitar meja makan. "Mereka terlihat begitu ramah padaku sejak awal kedatanganku ke sini, bahkan beberapa kali mengajak ku berbicara," lanjutnya.
"Berbeda dengan Matrix," gumam Carlos tiba-tiba menyebut marga keluarga yang dahulu sempat menjadi rival atau musuh besar Gates. Tatapannya tertunduk sayu ketika menyebutkan nama keluarga itu.
"Di sana hanya ada ambisi dan keegoisan yang tinggi, tidak ada minuman hangat, kue-kue manis, lilin-lilin pesta, lampu-lampu hias, dan suasana damai seperti ini."
"Jujur saja, setelah mendekam satu tahun lebih di penjara, aku merasa menyesal."
Prawira diam, menyimak ketika Carlos tengah berbicara dengan sendirinya, mencurahkan isi hatinya. Ia meletakkan cangkirnya di samping, sebelum kemudian merangkul laki-laki itu sembari berkata, "masa lalu biarkanlah menjadi sejarah, mau seperti apapun masa lalu itu. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu, untuk membenahi semua kesalahan kita, agar kita tidak menyesal di masa sekarang."
"Namun yang dapat kita lakukan adalah, mensyukuri masa sekarang, dan harus segera siap untuk mengejar masa depan."
"Kurasa ... apa yang kau katakan ada benarnya," sahut Carlos, tertawa kecil, tersenyum tipis sebelum kemudian menimpali, "walaupun ... kata-kata bijakmu barusan cukup kacau, sih."
"Hahaha!" Prawira langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar tanggapan Carlos mengenai kata-katanya.
Di tengah perbincangan hangat mereka berdua. Netty datang menghampiri sembari berkata, "Prawira, kelihatanya ... Berlin baru saja sampai di depan."
"Oh, ya?" sahut Prawira, berdiri. "Kau mau langsung menyambutnya, atau menunggu di sini dahulu?" tanya Prawira, melirik ke arah Carlos yang juga berdiri di sampingnya.
"Sepertinya ... aku menunggu di sini dahulu, deh. Aku belum siap mental dan kosa kata untuk berbicara dengannya, biarkan aku bersiap-siap dahulu," jawab Carlos. Ia terlihat cukup gugup, seolah sebentar lagi akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting dan sangat disegani.
Prawira sepertinya dapat memahami hal tersebut. Ia tersenyum dan berkata, "baiklah, tenang saja," ucapnya, sebelum kemudian beranjak menuju ke halaman depan untuk menyambut kedatangan Berlin beserta rekan-rekan Ashgard dan orang-orang yang diajaknya.
.
Bersambung.
__ADS_1