Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bersantai Sedikit Lagi #212


__ADS_3

Lima belas menit berlalu, dan Berlin sudah terlihat cukup lelah untuk menemani putrinya bermain bola di halaman belakang. Ia pun kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa panjang yang ada di sana, di saat yang bersamaan Nadia datang dari dapur membawakan sebotol minuman dingin untuk Berlin karena secangkir teh miliknya sudah benar-benar habis.


Berbeda dengan Berlin, Akira terlihat seperti tidak merasa lelah sama sekali untuk bermain karena saking bersemangatnya menemukan mainan baru. Nadia yang melihat anak itu sedari tadi asyik berlarian dan bermain tanpa henti sempat membuat dirinya sendiri khawatir. Wanita itu sempat berdiri di ambang pintu kaca halaman belakang dengan membawa sebuah botol minum dingin untuk putrinya, "Akira, istirahat dahulu! Kamu enggak haus?" serunya kepada Akira yang terlihat masih asyik bermain bola.


"Nanti kalau capek juga dia bakal ke sini, kok. Biarkan saja dahulu dia bermain, sedang asyik-asyiknya juga," ucap Berlin, santai duduk di sofa panjang tepat di belakang Nadia berdiri.


Nadia beranjak kembali ke sofa tersebut, dan kemudian duduk tepat di sebelah suaminya sembari berbicara, "ya sudah, deh ...!" ucapnya sambil menghela napas dan meletakkan botol minum milik Akira di atas meja.


"Kamu katanya akan berangkat kalau tehnya sudah habis, tetapi kok belum berangkat?" lanjut Nadia, duduk bersandar pada sandaran sofa, dan kemudian menoleh ke arah Berlin yang berada tepat di sebelahnya.


Berlin hanya tertawa kecil dengan ekspresi lupa kalau dirinya pernah mengatakan hal itu beberapa waktu sebelumnya, "emang iya, ya?" ucapnya sembari menggaruk tengkuknya dengan tatapan polos.


"Dirinya sendiri yang ngomong, dirinya sendiri yang lupa," ujar bumil itu, menghela napas sembari bersandar santai dan mencari posisi ternyamannya untuk duduk.


Berlin hanya cengar-cengir mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya padanya. Ia kemudian perlahan mendaratkan kepalanya dan berbaring tepat di atas pangkuan milik sang istri sembari berkata, "habis ini deh aku berangkatnya, sementara aku ingin santai dahulu."


"Emangnya nggak apa-apa begitu? Garwig enggak marah padamu?" tanya Nadia, menundukkan pandangan untuk bisa menatap wajah tampan lelakinya yang berada di pangkuannya.


"Garwig tidak akan marah, dan lagipula persiapan Ashgard untuk besok sudah selesai. Jadi hari ini aku ingin membuatnya lebih santai, tak hanya diriku yang santai namun juga teman-teman," jawab Berlin, memejamkan matanya sesaat dan kemudian lanjut berkata, "tidak ada agenda berat di hari ini," ucapnya kemudian perlahan membuka kembali kedua matanya.

__ADS_1


Laki-laki itu hampir selalu tersenyum ketika asyik memandangi paras cantik istrinya, apalagi pada posisi favoritnya saat ini. Salah satu pipi dan telinganya menempel pada perut besar milik sang istri, serta kemudian berbicara, "Papa masih bingung, kira-kira nama apa yang cocok dan cantik untukmu, ya?" ujarnya mengajak bicara sosok kecil yang ada di dalam perut itu. Setiap kali Berlin mengajak calon bayi di dalam sana berbicara, selalu saja ada pergerakan-pergerakan yang dapat dirasakan, dan pergerakannya cukup masif bila dirinya menyentuh atau memberikan kecupan pada perut milik Nadia.


"Di bulan ke delapan saja, baru kita pikirkan nama untuknya. Dan kayaknya kita perlu riset mengenai nama-nama yang memiliki arti baik dan cantik," ujar Nadia, tersenyum hangat dengan salah satu tangan asyik mengusap puncak kepala milik Berlin yang berada di pangkuannya.


"Iya," Berlin perlahan bangkit dari pangkuan istrinya dan kemudian berkata, "kita pikirkan sambil berjalan saja."


"Mama, aku haus! Fiuh!" Akira berlari ke ruang tengah dalam keadaan berkeringat dengan kedua tangan membawa bola basket tersebut.


Nadia memberikan botol minum milik putrinya yang masih dingin dari atas meja, "sudah mainnya? Istirahat, yuk!" ucapnya sembari mengusap kening Akira yang penuh keringat itu menggunakan ujung dress yang dipakainya.


"Iya, Mama." Akira menjawab, meletakkan bola basket itu tepat di sebelah meja kaca, dan kemudian menerima serta meminum botol yang berisikan air dingin miliknya.


"Pelan-pelan, nanti tersedak," ujar Nadia dengan intonasi dan sikap yang sungguh lembut kepada putrinya ketika minum.


"Papa mau berangkat, sayang. Hari ini 'kan bukan hari libur," jawab Berlin, tersenyum kepada putrinya sebelum kemudian mengambil bola basketnya sembari berkata, "bolanya Papa ambil, ya?"


"Kenapa?" sahut Akira, melihat mainan itu diambil oleh Berlin.


Berlin berlutut tepat di hadapan putrinya, tersenyum padanya dan kemudian berbicara, "Papa mau buat acara sama teman-teman Papa menggunakan bola basket ini."

__ADS_1


Anak itu terlihat sedih dan sedikit kecewa, terlihat dari kedua iris matanya yang sedikit berkaca-kaca ketika kontak mata dengan Berlin. Pria itu kemudian meraih salah satu pipi milik putrinya sembari berkata, "sebagai gantinya, nanti Papa bawakan bola baru ketika Papa sudah pulang. Bagaimana?"


"Bola baru? Benarkah?!" Ekspresi sedih dan kecewa itu seketika berubah riang ketika Berlin berbicara demikian.


"Eh, tetapi masa anak cewek main bola, sih? Bagaimana kalau boneka? Nanti saat Papa pulang Papa beli--"


"Enggak! Aku maunya bola!!"


Belum selesai Berlin berbicara dan hendak mengurungkan niatnya, Akira tiba-tiba saja menyambar dengan berteriak kencang dan membuat lelaki itu langsung terdiam. Berlin kemudian kembali tersenyum dan berkata, "oke, baiklah, nanti Papa beliin bola buat Akira."


"Asyik!" seru Akira, dan kemudian memeluk pria itu dengan cukup erat sebelum akhirnya melepaskannya. Nadia hanya diam dan melihat semua itu, bahkan berhasil dibuat senyum dengan apa yang ia saksikan, hubungan antara ayah dan putrinya itu.


"Syukurlah, sejauh ini tidak ada masalah dari Berlin jika harus dihadapkan dengan anak-anak. Ku harap dia bisa menjadi ayah yang baik," batin Nadia, tersenyum hangat dengan tatapan kepada Berlin.


"Ada apa?" cetus Berlin, menoleh dan menyadari bahwa istrinya terus-terusan menatap dirinya.


"Ah, tidak! aku hanya ingin mengingatkan, jangan terlalu membuat janji kepada anak-anak," jawab Nadia.


"Jika aku membuat janji, maka aku akan menepatinya dan enggan untuk mengingkarinya!" sahut Berlin, beranjak berdiri menggunakan tongkatnya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2