Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Distrik Komersial #51


__ADS_3

Dua hari kemudian, pagi hari pukul sepuluh. Hiruk pikuk kesibukan orang-orang di akhir pekan memang lebih padat dibandingkan hari-hari biasa. Pada siang hari di hari Minggu yang cerah ini. Sesuai dengan apa yang sudah ia janjikan. Berlin pergi bersama istrinya mengunjungi pusat perbelanjaan kota yang letaknya berada di Distrik Komersial.


Pada Distrik Komersial, tak hanya satu toko atau swalayan saja yang ada di sana, melainkan terdiri dari berbagai toko dan swalayan dalam satu wilayah. Bahkan tak hanya pertokoan dan swalayan saja, melainkan juga terdapat beberapa kantor dan gedung-gedung tinggi di sana.


Tempat itu terletak berada di jantung atau pusat kota, dan hampir tidak ada waktu bagi tempat itu untuk beristirahat dari banyaknya manusia yang beraktivitas di sana, apalagi ketika akhir pekan menjelang.


"Berlin, beli makan dahulu, yuk? Aku ... lapar, hehe," ucap Nadia ketika berjalan berdampingan dengan Berlin.


Berlin seketika menoleh dan mengelus perut milik istrinya yang sudah sedikit tidak datar lagi dengan bertanya, "kamu mau makan apa, sayang?"


Perlakuan itu sontak membuat Nadia cukup malu dan merona, apalagi saat ini posisinya berada di tempat umum. "Berlin! Kita ... lagi di tempat umum, banyak orang bisa lihat!" ucap Nadia sedikit tertunduk guna menyembunyikan wajahnya yang sedikit merona.


"Hehe, maaf, aku lupa." Berlin tertawa kecil dan kemudian beralih menggenggam jari jemari milik wanitanya.


Berlin terus menggandeng istrinya dan berjalan menyusuri pertokoan di wilayah tersebut. Seperti biasa ketika akhir pekan, kondisi di tempat ini sangatlah ramai. Banyak sekali orang yang sedang berbelanja berbagai barang di wilayah tersebut.


Genggaman tangan Berlin cukup erat, seolah dirinya tidak ingin sampai terpisah dari Nadia di antara hiruk pikuk orang-orang. Nadia sepertinya langsung memahami hal tersebut. Yang dia lakukan adalah menggenggam tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya, dan kemudian sedikit menyandarkan kepalanya pada lengan milik Berlin sembari terus melangkah.


"Banyak orang yang bisa lihat, loh!" cetus Berlin mengungkit apa yang sempat dikatakan oleh Nadia sebelumnya sembari tersenyum-senyum.


"Biarin aja, deh! Lagipula mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing," sahut Nadia meskipun dengan wajah dan pipi yang sedikit merona ketika melakukan hal tersebut. Dari dahulu Nadia memang paling tidak bisa melakukan hal-hal yang romantis jika sedang tidak hanya berdua.


Berlin hanya tersenyum dan membiarkan istrinya menggenggam atau bahkan sedikit memeluk salah satu lengannya ketika mereka berjalan.


"Tadi katanya lapar? Lalu kamu mau makan apa?" tanya Berlin menoleh dan sedikit menunduk ketika bertanya kepada Nadia.


"Um ...." Nadia bergumam dan diam sejenak ketika mendapat pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya dirinya menjawab, "rasanya ... aku ingin makan ... nasi goreng, hehehe," jawabnya disertai dengan sedikit tertawa kecil.


"Favorit banget emang, ya?" sahut Berlin dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Emang, dan sekarang aku lagi pengen makan itu, Berlin! Lagipula udah seminggu ini aku belum makan nasi goreng lagi," sahut Nadia dengan sedikit cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


Ekspresi lucu dari wanitanya itu sontak membuat Berlin luluh dan membuatnya mengabulkan permintaan tersebut. "Iya, iya, sayang. Baiklah, kalau begitu kita pergi makan dahulu sebelum membeli bajunya, ya?" ucapnya sembari tersenyum ketika melihat perubahan ekspresi Nadia yang kembali ceria.


Langkah-langkah mereka berdua terus melalui banyaknya pertokoan di sana, juga dengan banyaknya orang-orang yang sibuk berbelanja. Wilayah pertokoan atau pusat perbelanjaan ini cukuplah luas, sehingga akan cukup lelah jika terus berjalan tanpa henti.


Beberapa saat kemudian, Berlin bersama istrinya pun akhirnya sampai di salah satu restoran yang cukup besar di distrik tersebut. Ketika sampai dirinya langsung mencarikan tempat atau meja yang kosong di antara ramainya pengunjung, agar Nadia dapat duduk terlebih dahulu.


Berlin memilih satu meja yang sedikit jauh dari keramaian, dan menempati meja tersebut bersama Nadia yang tampaknya sudah sedikit lelah karena terus berjalan.


Di saat yang bersamaan, seorang pelayan laki-laki datang menghampiri. Berlin pun memesankan menu yang Nadia inginkan, dan juga menu untuknya sendiri kepada pelayan tersebut.


"Tetap mau nasi goreng? Nggak mau beralih ke menu lain?" tanya Berlin kepada sang istri yang duduk tepat bersebelahan dengannya.


"Nggak!" jawab Nadia dengan yakin seraya menggelengkan kepalanya.


Setelah mencatat beberapa menu makanan dan minuman. Pelayan itu dengan ramahnya beranjak pergi dari sana guna memproses menu-menu yang dipesan.

__ADS_1


"Ramai banget, ya? Aku nggak mengira akan seramai ini di akhir pekan." Nadia melihat ke arah sekitar yang hampir dipenuhi oleh banyaknya pengunjung.


"Sudah wajar kalau di sini, apalagi akhir pekan atau tanggal merah, 'kan?" sahut Berlin.


"He'em," gumam Nadia yang kemudian secara tiba-tiba menyandarkan kepalanya perlahan pada bahu milik sang suami. Berlin tentu tidak menolak akan hal ini.


"Kamu capek, ya?" tanya Berlin dengan intonasi rendah dan menggenggam jemari milik Nadia.


"Lumayan," jawab Nadia menganggukkan kepalanya namun masih dalam posisi bersandar.


"Baiklah, sekalian saja istirahat dahulu di sini." Berlin berbicara sembari satu tanganya bergerak asyik mengelus perut milik wanitanya yang sudah tidak lagi ramping itu. "Nggak terasa sudah empat bulan aja, ya," gumamnya dengan intonasi yang sangat rendah seolah tidak ingin terdengar oleh orang lain.


***


Pukul 11:00 siang.


Distrik Komersial.


Setelah kurang lebih satu jam di restoran tersebut. Berlin bersama Nadia pun melanjutkan tujuan utama mereka untuk membeli sesuatu. Mereka berjalan langsung ke area pertokoan yang hanya menjual pakaian, dan menuju ke sebuah toko baju yang menyediakan baju khusus ibu hamil. Di antara toko-toko yang lain, hanya toko ini yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Hanya beberapa pengunjung saja, dan itupun hampir semua pengunjungnya adalah pasutri.


"Sayang, bagus yang mana? Yang putih, atau yang biru muda?" Di kedua tangan Nadia kini terdapat dua baju panjang khusus untuk ibu hamil dengan dua warna yang berbeda. Ia tampak bingung untuk memilih, dan meminta saran kepada sang suami. Terlebih lagi dirinya sangat menyukai model dan warna dari kedua baju yang kini berada di kedua tangannya.


"Dua-duanya cocok untuk dirimu, sih. Tergantung kamu mau pilih yang mana?" jawab Berlin.


Namun Nadia justru terdiam dengan bingung untuk memilih. Beberapa kali ia melihat secara berulang-ulang dua baju yang dibawanya.


"Gimana kalau dicoba dahulu? Cocok dan pas atau tidak nanti bisa dilihat, 'kan?" ucap Berlin menyela keseriusan istrinya untuk berpikir dan memilih.


Beberapa menit kemudian.


"Bagaimana?" Nadia membuka pintu ruang ganti itu, dan menunjukkan penampilannya yang kini menggunakan baju yang berwarna putih itu kepada Berlin yang menunggu tepat di depan pintu ruangan.


"Cantik! Jujur saja aku suka." Berlin memberikan tanggapannya dengan sangat jujur menurut pandangan matanya. Warna putih emang sangatlah cocok untuk Nadia.


Beberapa menit kemudian.


"Kalau yang ini?" tanya Nadia ketika selesai berganti lagi dengan baju yang satunya. "Jarang-jarang aku punya warna biru muda seperti ini," gumamnya seraya sedikit memutar tubuhnya dan menunjukkan penampilannya kepada Berlin lagi.


"Kalau yang ini, kamu tampak lucu dengan warna biru muda itu. Aku juga suka dengan yang ini," jawab Berlin tersenyum.


"Jadi yang mana? Aku malah tambah bingung," cetus Nadia yang justru tambah bingung, apalagi mendengar semua tanggapan positif itu dari sang suami.


"Kamu suka dua-duanya? Ya sudah, ambil saja keduanya! Jadi nggak bingung, 'kan?" celetuk Berlin yang sepertinya cukup membuat mata wanita itu berbinar.


"Te-tetapi, harganya cukup mahal, loh! Ka-kamu ... yakin?" tanya Nadia dengan sedikit tersipu dan tidak enak hati, meskipun tentu saja dirinya mau.


Berlin tersenyum dan sempat sedikit tertawa kecil, sebelum kemudian berkata, "kamu bakal senang ketika aku beliin baju ini, 'kan? Selama begitu, aku sama sekali tidak keberatan, sayang."

__ADS_1


"Beneran?!" sahut Nadia tampak kegirangan, sebelum kemudian dirinya menyempatkan diri untuk memeluk laki-laki itu sembari berkata, "makasih ...!"


"Yuk! Bawa ke kasir!" ajak Berlin kemudian berjalan menuju kasir dengan dua baju yang dipilih oleh Nadia.


Setelah pembayaran selesai, pasangan suami istri muda itu berjalan meninggalkan toko. Akhirnya di hari ini, Nadia dapat memiliki baju khusus untuk dirinya sepanjang masa kehamilan. Di sisi lain, saat ini hatinya pun merasa sangat senang dan bahagia. Sepanjang ia berjalan melalui keramaian orang yang ada di wilayah tersebut. Ia sama sekali tidak melepaskan jemarinya dari genggaman erat Berlin.


...


Di tengah asyik berjalan berdua, dan tanpa memedulikan orang-orang di sekitar yang dapat dengan mudahnya melihat keromantisan tersebut. Tiba-tiba saja Berlin berpapasan dengan sosok pria bertopi putih dan jaket putih, serta sebuah masker berwarna putih yang menutup identitas wajahnya.


DEG.


"Berlin, ada apa?" Nadia dibuat bingung ketika secara tiba-tiba Berlin menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Ketika Berlin menoleh, sosok pria yang berpapasan itu tidak lagi tertangkap oleh kedua matanya. Pria yang barusan beralasan dengannya itu seolah hilang di antara keramaian orang.


"Eng-enggak, nggak ada apa-apa," jawab Berlin kemudian lanjut berjalan menuju halaman parkir yang sebentar lagi akan sampai. Perasaannya tiba-tiba bercampur aduk. Dari yang awalnya bahagia dan senang karena dapat menghabiskan waktu berdua dengan sang istri. Tiba-tiba saja berkecamuk dengan keresahan setelah berpapasan dengan pria tadi.


Sesampainya di mobil. Berlin hanya diam dan tidak berbicara sama sekali. Pikirannya hanya memikirkan soal perasaannya yang tiba-tiba saja merasa tidak enak. Dan sepertinya sikapnya yang tiba-tiba jadi pendiam ini mencuri perhatian Nadia.


"Sayang, kamu nggak enak badan? Atau kelelahan?" cetus Nadia bertanya dan tiba-tiba mendaratkan telapak tangannya yang lembut itu pada kening milik lelakinya.


Sentuhan hangat dan lembut itu sepertinya mampu sedikit meredakan keresahan yang tiba-tiba saja datang. Berlin tersenyum, menoleh kepada Nadia dan berkata, "enggak, aku nggak sakit, kok! Aku baik-baik saja."


"Sudahlah, lebih baik kita segera pulang," lanjutnya lalu menancap gas dan bergegas cepat pergi dari wilayah perbelanjaan itu.


***


Pukul 11:59 siang.


Pulau La Luna.


Tokyo tampak cukup antusias dengan sesuatu yang sesaat lagi akan ia lakukan. Di dalam sebuah ruangan pribadinya yang begitu dingin. Hanya ada Tokyo seorang diri di dalam ruangan tersebut. Dirinya tampak sedang menunggu sesuatu dengan sebuah alat komunikasi radio di atas meja kerjanya.


Tik ... Tok ... Tik ... Tok ...!


Saking sunyinya ruangan tersebut, sampai-sampai setiap detik pergerakan jarum jam terdengar jelas. Tokyo menghela napas berat sembari menunggu.


Perlahan ia mengambil radio komunikasi miliknya yang ada di atas meja, dan di saat yang bersamaan seorang wanita yang selalu dekat dengannya datang membuka pintu ruangan seraya berkata, "semuanya sudah siap."


Tatapan Tokyo tajam ketika mendengar hal tersebut. Matanya melirik ke arah jam dinding, dan menunggu pergerakan jarum panjang pada jam tersebut.


Tik ... Tok ...!


Ketika waktu menunjukkan pukul 12:00 siang hari. Tokyo mengangkat serta mendekatkan radio yang ada di tangannya ke mulutnya, sebelum akhirnya memberikan sebuah perintah melalui radio komunikasi tersebut.


"Lakukan!" perintah tersebut terdengar dengan intonasi yang begitu dingin.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2