Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Red Rascals #28


__ADS_3

Pukul 12:00 siang.


Kediaman Gates.


Suara tembakan terdengar beberapa kali dan berasal dari halaman belakang kediaman itu. Netty, Siska, dan Nadia terlihat sedang sangat asyik melatih bidikan mereka di sana. Terdapat sebuah lapangan tembak yang sangat luas dan cocok dijadikan tempat untuk berlatih.


Teriknya matahari sangat terasa membakar kulit, dan membuat Nadia bercucuran keringat. Netty pun mengusulkan untuk istirahat sejenak dan makan siang. Siska dan Nadia pun mengikuti usulan tersebut. Mereka bertiga pun kembali dan berjalan menghampiri sebuah taman yang sangat indah nan sejuk yang letaknya hanya bersebelahan dengan lapangan tembak itu.


Di sanalah Netty mempersiapkan segala sesuatunya untuk makan siang dan berisitirahat, tentunya dibantu oleh Siska dan Nadia. Nadia terlihat sangat senang dengan kegiatan seperti ini. Ditambah lagi ia ditemani oleh dua rekan yang dahulu sempat bertugas bersama ketika dirinya masih menjadi bagian dari kepolisian.


"Mengingat masa lalu?" cetus Netty ketika duduk bersebelahan dengan Nadia di bangku taman tepat di bawah sebuah pohon yang rindang. Sedangkan Siska terlihat asyik memandangi bunga-bunga yang bermekaran di taman sekitar itu.


Nadia tersenyum mendengarnya. Memang benar ia mengingat semua soal akademi dan soal dirinya ketika masih menjadi anggota kepolisian beberapa tahun yang lalu. Namun itu semua hanyalah kepingan kenangan dan tak bisa lagi ia ulangi.


"Iya, kita pernah melakukan kegiatan yang sama sewaktu pelatihan, aku sangat mengingatnya," ucap Nadia seraya mengulas senyumnya dan tertunduk.


"Itu sudah lama sekali, sudah lima tahun tetapi kau masih mengingatnya saja," sela Siska berjalan menghampiri mereka berdua dan mengambil sebotol minuman dari tas yang ada di dekat Netty.


"Tentu aku tidak akan melupakan masa-masa itu," sahut Nadia.


"Oh iya, Netty, kau sudah menikah dengan Prawira cukup lama, jadi kapan kau akan memiliki momongan?" celetuk Siska tiba-tiba kepada Netty.


"Baru berjalan hampir satu tahun, ngapain juga buru-buru amat," sahut Netty.


Siska mengangguk-angguk. Kemudian ia tiba-tiba melemparkan pertanyaan yang sama kepada Nadia. "lalu ... bagaimana dengan dirimu, Nadia? Kalau ku lihat-lihat, kau ini mesra banget sama Berlin," cetus Siska dengan nada bicaranya yang seperti sangat ingin tahu.


"Eh? A-aku?!" Nadia terkejut dengan pertanyaan dan apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Dirinya terdiam dengan wajah yang tiba-tiba tersipu ketika mendengarnya.


Netty tertawa melihat wajah cantik yang mulai merona merah itu. "Sudahlah, Siska! Kendalikan rasa kepomu itu, dong! Lihat, wajah Nadia sampai merah kau buat, tuh!" ucapnya lalu terkekeh.


"Netty! Kamu sebenarnya membelaku atau membela Siska, sih?" pekik Nadia, ia merasa malu dengan hubungan percintaannya yang tiba-tiba menjadi topik pembahasan kedua rekannya. Siska juga ikut tertawa melihat Nadia yang malu-malu itu.


"Hehehe, iya, iya. Siska, jangan begitu!" ucap Netty lalu tersenyum kepada kedua rekannya.


Nadia merasa sangat senang di hari ini, karena dapat berkumpul dan bercanda ria dengan kedua sahabat baiknya. Mereka berdua telah ia kenal sejak akademi kepolisian enam tahun yang lalu. Terutama Netty yang pada saat itu memiliki peran sebagai mentornya dan juga Siska. Dia satu-satunya yang tertua di antara dirinya dan Siska.


DEG!


Di tengah canda gurau itu, tiba-tiba Nadia memegangi perutnya dan merasakan mual yang luar biasa. Netty menyadari hal tersebut langsung menghentikan semua candaanya dengan Siska.

__ADS_1


"Nadia, ada apa?" tanya Netty bingung.


"Se-sepertinya ... aku harus ... ke toilet sebentar." Nadia langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan kedua sahabatnya dengan buru-buru.


Siska yang menyaksikan itu juga ikut merasa bingung dengan apa yang terjadi kepada rekannya. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Siska merasa khawatir.


"Kurasa tidak," Netty menjawab dan langsung beranjak pergi menyusul Nadia ke toilet. Dirinya takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak kepada salah satu sahabatnya itu. Siska pun mengikuti dirinya dari belakang.


Ketika berada di kamar mandi, Nadia mual-mual dan memuntahkan semua yang ia telan sebelumnya. Namun tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya, hanya saja rasa mual itu cukup luar biasa. Kepalanya juga terasa pusing dan cukup sakit.


"Nadia, apa kau di dalam baik-baik saja?"


Suara Netty terdengar memanggilnya tepat di depan pintu kamar mandi. Ia tampaknya sangat mengkhawatirkannya kondisinya.


Beberapa saat kemudian, Nadia pun keluar dari kamar mandi dengan sedikit sempoyongan, dan langsung bertemu dengan kedua sahabatnya. Ia merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya, meskipun kepalanya masih terasa pusing dan dirinya merasa sangat lelah.


"Hei, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Siska menatap cemas wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.


"Apa kau sedang sakit?" tanya Netty memegang pundak milik Nadia dan lalu menuntunnya untuk berjalan.


Mereka pun berjalan kembali ke tempat awal mereka berisitirahat. Di sana Nadia didudukkan di bangku oleh Netty dan diberikan air mineral oleh Siska. Kedua sahabatnya tampak sangat perhatian dengan dirinya.


Netty menghela napas berat, "ya ampun, kau benar-benar membuat kami khawatir, Nadia," ucapnya seraya merangkul Nadia dan duduk di sisinya.


"Tetapi beneran baik-baik saja, 'kan? Nanti kalau Berlin tahu bagaimana? Apa dia akan marah pada kita?" cetus Siska tampaknya sangat menakutkan hal tersebut.


"Berlin tidak akan marah pada kalian, kalian tenang saja," sahut Nadia dengan nada yang masih lemas.


"Tenanglah, Siska," ujar Netty masih merangkul temannya itu. Dirinya pun mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan seperti mengirmkan kabar ke seseorang.


***


Pukul 13:00 siang.


Rumah Sakit Kota.


Akhirnya Kent tersadar setelah dipindahkan dari ruang operasi menuju ruang rawat inap. Berlin pun menjenguk temannya itu, dan ingin melihat kondisinya. Ketika dirinya menghampiri Kent yang terbaring di atas ranjang. Kent tiba-tiba berkata, "bos, kita ... memiliki tiga musuh," ucapnya sembari melirik kepada Berlin.


Tiga musuh? Tentu itu menjadi pertanyaan Berlin di dalam kepalanya. Namun dirinya tidak ingin begitu menghujani rekannya yang masih lemah itu dengan pertanyaan-pertanyaan.

__ADS_1


Kimmy dan Adam yang kebetulan bersamanya juga dibuat bingung. Mereka memikirkan dan menyimpan pertanyaan yang sama dengan Berlin.


"Dari dahulu Ashgard memang memiliki banyak musuh, Kent. Itu sudah menjadi hal yang wajar," ucap Berlin duduk di sebuah kursi tepat di sisi ranjang.


"Haha, iya juga," Kent tertawa kecil namun dengan nada yang masih lemah.


"Aku ingin tahu apa yang terjad di sana, bisakah kau memberitahuku?" tanya Berlin menatap dalam-dalam rekannya yang masih terbaring lemah itu. "Namun jika kau masih kesulitan dan tidak ingin menjawab sekarang juga tidak apa, yang terpenting saat ini adalah kondisimu," lanjutnya.


Tanpa berbasa-basi, Kent langsung menjawab pertanyaan itu. Meskipun keadaannya masih lemah dan nada bicaranya juga begitu lemas setelah operasi. Namun dirinya ingin menceritakan dan memberitahu semua yang ia tahu ketika kejadian. Berlin menyimak dengan saksama kronologi yang diceritakan oleh rekannya itu.


"Mereka bersenjata, mengejarku dan menembaki ku. Setelah aku terjatuh, salah satu dari mereka sempat berkata, bahwa Ashgard sedang berurusan dengan kelompok yang salah, dan orang itu menyuruh kita untuk bersiap menghadapi tiga kelompok sekaligus."


"Dia juga sempat berkata, bahwa hidup kita tidak akan tenang, kita ... bahkan orang-orang terdekat yang kita miliki ... akan dihantui terus-menerus oleh mereka, hingga kita menyerah dan mengakui kekuasaan Clone Nostra, atau ... hingga kita benar-benar meninggal."


"Apa kau mengingat wajah orang itu? Atau ciri-cirinya?" Berlin bertanya setelah mendengar semua hal itu. Dirinya terlihat sangat tenang, meskipun ancaman-ancaman itu telah ia dengar.


Kent menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak, mereka semua menggunakan masker hitam, ciri-cirinya mereka yang paling mencolok adalah jaket merah yang mereka pakai."


"Ciri-ciri itu sudah valid Red Rascals, tidak ada kelompok kejahatan lain selain mereka yang menggunakan atribut seperti itu," ucap Adam yang dari tadi berdiri tepat di samping Berlin.


"Hmm, tiga kelompok, ya?" gumam Berlin tampak berpikir. Dirinya sudah tahu dua kelompok yang sedang bermasalah dengan Ashgard. Clone Nostra, dan Red Rascals. Namun satu kelompok lagi masih menjadi pertanyaan.


"Berlin, sepertinya situasi kita benar-benar gawat, teman-teman harus tahu hal ini agar bisa lebih berhati-hati," ucap Kimmy yang juga sedari tadi berdiri di sisi Berlin.


"Ya, aku tahu itu," sahut Berlin namun terlihat begitu tenang. "Kim, kumpulkan teman-teman di markas segera! Aku ingin membicarakan persoalan ini," pintanya kemudian.


"Baik, bos." Kimmy pun beranjak keluar dari ruang rawat inap itu, dan kemudian melaksanakan perintah tersebut.


Kent melirik dan menatap serius Berlin, lalu berkata, "bos, berhati-hatilah! Sepertinya mereka juga sangat mencarimu."


Berlin tersenyum tipis dan menjawab, "tenang saja, aku selalu berhati-hati sejak masuk ke dunia kelam ini."


Setelah selesai menjenguk rekannya. Berlin pun segera pergi dari rumah sakit dan berkumpul dengan rekan-rekannya di markas. Ketika dirinya berada di mobil dan hendak pergi. Berlin melihat isi ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk baru yang belum ia baca.


"Sudah selesai latihannya? Tetapi kenapa Netty yang mengabariku?" gumam Berlin bertanya-tanya ketika membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Netty padanya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2