
Langit masih saja mendung sedari tadi pagi, bahkan hingga siang ini. Di siang yang mendung dan gelap ini, peperangan di Area Balaikota masih saja terjadi. Sebelumnya Clone Nostra terus didesak dan dikepung, bahkan hingga berhasil ditaklukkan oleh personel gabungan yang dibentuk darurat oleh Garwig dan Prawira. Gedung Putih Balaikota itu kini berhasil dikuasai, dengan kondisi yang sangat kacau dan beberapa orang dari Clone Nostra yang berhasil dibekukan, meskipun banyak dari mereka yang memilih untuk mati dengan berbagai cara.
Selain beberapa orang Clone Nostra yang berhasil dibekukan. Para tawanan yang terdiri dari aparatur pemerintah beserta pegawai-pegawai Balaikota telah berhasil diamankan oleh kepolisian dengan dibawa pergi dengan menggunakan sebuah kendaraan baja milik kepolisian.
Namun keberhasilan pihak aparat harus terhenti, dan mereka kembali diuji dengan serangan dadakan yang dilancarkan oleh dua kelompok kriminal yakni Red Rascals dan Cassano. Dua kelompok yang memihak dan beraliansi dengan Tokyo El Claunius, petinggi atau ketua dari sindikat bernama Clone Nostra itu.
Kedua kelompok kriminal itu menyerang dengan sangat frontal, dan berhasil memberikan kerusakan yang fatal serta sangat berdampak pada pihak aparat. Yang sebelumnya pihak aparat berhasil mengepung gedung itu, tetapi posisi berubah yang kini mereka-lah yang terkepung akibat serangan telak yang dilakukan oleh Red Rascals dan Cassano.
Yang sebelumnya mengepung, kini malah terkepung. Itulah yang saat ini sedang dialami oleh pihak aparat milik Garwig dan Prawira. Ditambah dengan banyaknya rekan aparat dari mereka yang terluka, bahkan hingga ada yang tewas menjadi korban. Itu semakin membuat pihak Garwig dan Prawira sangat terdesak dan tersudut.
Karena situasi yang tak terduga, dan sangat jauh di luar rencana yang telah ditentukan. Garwig langsung mengambil tindakan dengan menurunkan regu khusus yang akan menangani situasi ini.
***
"Situasinya telah dijelaskan singkat, dan sesuai dengan apa yang telah dikoordinasikan di markas. Misi yang diberikan pada kita adalah, membasmi dua kelompok yang identik dengan warna ungu dan merah itu, serta mengembalikan situasi."
Seorang aparat berseragam militer hitam, dengan wajah yang tidak terlihat karena tertutup oleh masker yang menutup kepalanya. Ia tampak berbicara kepada rekan-rekannya yang juga mengenakan seragam yang sama di dalam sebuah kendaraan baja. Perlengkapan yang mereka bawa sungguh lengkap, baik dari senapan dan rompi beserta helm anti peluru.
Empat unit kendaraan baja berwarna hitam yang berukuran cukup besar kini dalam perjalanan menuju perbukitan kota. Kendaraan itu benar-benar terlihat sangat gagah, bahkan benda bergerak itu tahan terhadap gempuran timah panas serta ledakan baik itu ledakan berskala besar.
"Tidak perlu segan dengan mereka ...! Habisi saja mereka!" lanjut aparat pria itu dengan intonasi yang terdengar berat nan kejam.
Pergerakan dari pasukan militer yang diterjunkan itu benar-benar senyap tanpa mengeluarkan banyak suara, bahkan suara mesin kendaraan yang mereka pakai tidak begitu bising. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai ke area perbukitan kota.
"Kami telah sampai di titik yang sudah anda tentukan, dari sini pun kami juga dapat melihat kekacauan yang terjadi di tempat anda."
Salah satu dari aparat berseragam hitam itu berbicara melaporkan status letak dirinya beserta rekan-rekannya menggunakan sebuah radio komunikasi.
***
__ADS_1
"Mereka sudah berada di lokasi, sekarang tinggal kita buat perhatian mereka semakin fokus kepada kita," ucap Garwig kepada Prawira sesaat setelah mendengar sebuah laporan dari salah satu anggotanya. Tak lupa ia memberikan sebuah suar genggam berwarna merah kepada Prawira.
"Baik, aku akan menyalakan suarnya!" sahut Prawira, kemudian mengambil sebuah suar genggam yang diberikan oleh Garwig.
Prawira langsung menyalakan suar tersebut dengan cara membenturkannya ke dinding, dan kemudian melemparkannya ke arah halaman depan dari Gedung Balaikota itu. Saat ini posisi dirinya bersama dengan Garwig berada di atap gedung bersama dengan beberapa anggota mereka masing-masing.
Ketika asap dan cahaya berwarna merah itu bersinar begitu terang. Orang-orang dari Cassano dan Red Rascals langsung terfokuskan ke arah yang sama. Mereka pun semakin menyerang gedung itu dengan menembaki serta membombardirnya dengan serempak. Setiap aparat yang mereka lihat, mereka tembak.
"Itu sinyal kita. Ayo lakukan!" ucap salah satu dari pasukan khusus yang diterjunkan.
Empat unit kendaraan yang diisi oleh masing-masing dua belas orang personel dari pasukan khusus yang diturunkan atas perintah Garwig. Mereka bergerak dengan cepat menuruni bukit, dan menyerang dengan menembaki orang-orang berjaket ungu serta merah menggunakan sebuah senjata mesin yang ada di masing-masing atap kendaraan perang itu.
"DARI BELAKANG?!"
"AACCKKK ...!!!"
Fokus dari kedua kelompok kriminal itu kini terpecah, namun lebih memprioritaskan kendaraan perang yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang dari sisi belakang mereka.
***
"Tunggu sebentar, di depan ada sedikit jebakan dan kamera pengawas. Aku harus mengatasinya terlebih dahulu," ucap Asep.
"Hei, kalian berdua! Apakah kalian tahu tentang lorong ini?" cetus Kina bertanya kepada Prime dan Flix.
"Jujur saja ini adalah area terlarang bagi kami, karena memang kami tidak memiliki otoritas untuk berada di sini," jawab Prime, yang kini telah membuka masker kepalanya dan memperlihatkan wajahnya.
Namun jawaban yang diberikan oleh Prime mendapat tatapan sinis dan tajam dari rekan-rekan Berlin yang merasa tidak percaya padanya.
Melihat hal tersebut Flix langsung berkata, "apa yang dikatakan oleh Pak Prime memang benar! Karena selain walikota sendiri dan orang-orang kepercayaannya, tidak ada yang diperbolehkan untuk berjalan di lorong ini."
__ADS_1
"Bahkan lokasi ini hanya diketahui oleh sang walikota beserta tangan kanannya sendiri," lanjut Flix. Mendengar Flix yang berbicara, rekan-rekan Berlin tampak cukup percaya kepadanya dibandingkan kepada Prime.
"Oke, sudah ku urus. Kalian boleh lanjut! Lurus sampai menemukan sebuah dinding baja di ujung lorong," ucap Asep.
Mereka berdelapan pun kembali melanjutkan langkahnya dengan berjalan perlahan menyusuri lorong itu hingga ke ujung. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Asep, mereka akan menemukan dinding baja di ujung lorong. Dan benar saja, lorong itu adalah lorong buntu. Namun di ujung lorong tersebut terdapat sebuah dinding yang teksturnya berbeda sendiri. Benar-benar kuat dan tahan terhadap berbagai benturan.
"Sebelah sini!" ujar Aryo yang berdiri di sudut lorong. Ia menemukan tombol-tombol kecil yang tampaknya adalah tempat untuk mengisikan sandi.
"Ini bukan hanya sandi, tetapi membutuhkan verifikasi iris mata, wajah, dan suara. Kita tidak bisa melakukannya," cetus Prime setelah melihat perangkat tersebut.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Prime tidak sengaja didengar oleh Asep melalui radio komunikasi yang digenggam oleh Kimmy.
"Eh, itu siapa yang berbicara?! sok tau banget, sih! Mending tuh orang suruh diam saja!" cetus Asep dengan intonasi sedikit meninggi, dirinya tidak tahu suara siapa yang barusan ia dengar yang sebenarnya adalah suara milik Prime.
"Hei, orang sok tahu! Lihat apa yang terjadi sesaat lagi! Aku bisa membukanya dengan mudah, tunggu saja!!" lanjut Asep kedengarannya emosinya sedikit tersulut setelah tersindir oleh Prime yang terdengar meremehkan dirinya.
"Pastikan kalian mundur dari dinding baja itu!" lanjut Asep tak lupa memperingatkan teman-temannya.
Berlin dan rekan-rekannya yang baru saja mendengar Asep marah-marah karena merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh Prime, mereka hanya tertawa-tawa kecil saja dan membiarkan Asep bekerja melalui bidang yang dia kuasai.
Tiiittt ...!!!
GREEK ...!!!!
Tiba-tiba saja sebuah pintu terbuka, dan beberapa anak tangga yang terbuat dari baja pun muncul turun ke bawah tanah. Tempat itu begitu gelap, tidak terlihat seberapa dalam anak tangga itu akan mengantarkan mereka.
"Apakah kita akan turun ke sana?" tanya Kina.
"Kenapa kesannya ... horor, ya ...?" cetus Sasha.
__ADS_1
.
Bersambung.