Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Ramai Anak-anak #158


__ADS_3

Beberapa mobil besar terlihat satu-persatu memasuki halaman, dan terparkir di halaman depan. Bersama dengan rekan-rekannya, tamu-tamu yang ia ajak, dan juga didampingi oleh istrinya yakni Nadia yang menggandeng tangan kecil Akira. Berlin langsung disambut hangat oleh Prawira dan Netty yang langsung menghampiri dirinya.


Sepertinya memang benar, Berlin membawa banyak tamunya yang rata-rata adalah anak-anak dari panti asuhan, bersama dengan Helena dan Alana beserta beberapa pergawainya tentunya. Karena di malam sebelumnya Garwig menyuruh dirinya untuk datang ramai-ramai, dan mengajak orang-orang yang ia kehendaki. Tiba-tiba langsung terlintas dalam benak Berlin untuk mengajak anak-anak itu bersamanya.


"Selamat datang, senang sekali bisa melihatmu, apalagi dengan membawa banyak orang seperti ini." Dengan tatapan antusias dan senyuman lebar. Prawira berjabat tangan dengan Berlin, yang berjalan di depan rekan-rekan Ashgardnya. Jauh di belakang Berlin, terlihat Helena dan Alana tengah sibuk mengatur anak-anak itu ketika turun dari tiga mobil yang dibawa oleh rekan-rekan Berlin. Ekspresi anak-anak itu sangat ceria, bahkan seolah senyuman yang terpampang di wajah mereka tidak dapat pudar.


"Nadia, apa kabar? Sudah berapa bulan? Laki-laki atau perempuan?" Netty terlihat sangat antusias dengan kehadiran Nadia yang juga turut datang. Namun setelah itu, Netty tiba-tiba saja tertarik perhatiannya oleh kehadiran si kecil Akira yang tampak diam-diam saja.


Akira yang biasanya ceria, senang sekali bermain, dan bahkan tidak bisa diam. Kini tiba-tiba anak itu menjadi cukup pemalu, dengan hanya bersembunyi di belakang Nadia dengan kondisi tangan masih menggenggam erat salah satu tangan milik Nadia. Sepertinya itu hal yang wajar bagi beberapa anak.


"Baiklah, tidak usah berlama-lama di sini. Langsung saja, kita ke taman belakang ...!" Prawira bersama dengan Netty bergegas membawa tamu-tamu terhormat yang dibawa oleh Berlin menuju ke taman belakang.


Berlin berjalan dengan dua tongkat bantu jalannya, didampingi oleh Nadia di sampingnya dan diikuti oleh beberapa rekan serta anak-anak itu di belakangnya. Prawira langsung membawa mereka semua menuju taman belakang.


Anak-anak itu terlihat sangat antusias dan semangat, apalagi ketika kaki-kaki kecil mereka menginjak rerumputan lembut taman belakang untuk pertama kalinya. Sifat anak-anak yang sangat suka bermain tidak dapat terbendung lagi. Beberapa dari mereka langsung berlarian di area rerumputan, menghampiri beberapa tanaman bunga yang indah dengan warna-warninya di tepi taman, dan beberapa lagi terlihat antusias melihat gemerlap dekorasi yang terpasang di sekitar gazebo.


"Jangan lari-lari, aduh ...!" Helena terlihat cukup kewalahan jika hanya dirinya yang mengendalikan anak-anak asuhnya. Untung saja dirinya didampingi oleh Alana, dan dua suster yang bertugas untuk menjaga anak-anak itu.


Prawira yang kebetulan berdiri di dekat Nyonya Helena pun tertawa kecil dan berkata, "biarkan saja, biarkan mereka bermain-main," ucapnya, tenang, dan tersenyum senang ketika melihat anak-anak itu berlarian.


"Maaf bila mereka merepotkan," Helena terlihat sungkan, dan sedikit menundukkan kepalanya kepada Prawira.


"Tidak merepotkan sama sekali, jadi mohon angkat kepala anda! Justru ... kehadiran anak-anak itu menambah keramaian dan keseruan di sini, saya sangat senang anda bersama dengan mereka turut datang," sahut Prawira, senyumannya tidak pudar.

__ADS_1


"Kalau begitu, ibu silakan ikut saya ...!" Netty sedikit menyela pembicaraan keduanya, dengan intonasi yang begitu takzim.


Langkah Helena pun dipandu oleh Netty, menuju ke gazebo dan meja kayu yang penuh dengan kue-kue manis serta masih banyak hidangan lain. Tak hanya wanita paruh baya itu. Berlin juga menyuruh rekan-rekannya yang hanya berdiri di belakangnya untuk bisa menikmati acara kecil tersebut.


"Kalian menunggu apa lagi? Sudah sana, nggak perlu sungkan!" Berlin menoleh ke belakang, berbicara kepada rekan-rekannya.


"Langsung, nih? Lalu bagaimana denganmu?" sahut Kimmy yang berdiri tepat di belakangnya, ucapanya mewakili rekan-rekannya.


"Aku ingin berbincang dengan Prawira dahulu, tentu saja nanti aku akan segera bergabung." Berlin menjawab pertanyaan tersebut.


Setelah mendapatkan izin dari Berlin. Kimmy dan rekan-rekannya pun segera bergabung ke meja panjang di sana. Di saat yang bersamaan, Siska dengan langkah antusias menghampiri Nadia yang berdiri di samping Berlin, apalagi melihat adanya sosok Akira yang hanya diam malu-malu.


Perempuan itu menarik tangan Akira, dan mengajak bumil tersebut untuk segera ikut bergabung ke pesta yang akan dimulai. Sebelum ia melangkah pergi. Nadia sempat menoleh kepada Berlin, seolah meminta izin padanya, sampai kemudian pria itu berkata, "duluan aja, nanti aku menyusul ...!" ucapnya, sebelum kemudian mendekat kepada Akira dan berkata, "enggak perlu khawatir, mereka orang-orang baik, kok! Apalagi Tante Siska ini," ucapnya dengan senyuman lebar tersungging.


...


"Aura kepemimpinan mu sepertinya tidak pernah pudar, ya ...?" cetus Prawira, berjalan berdampingan dengan Berlin.


"Aku tidak peduli dengan itu," jawab Berlin, datar. "Di mana Carlos? Apakah dia ada di sini?" tanyanya kemudian.


"To the point sekali," Prawira tertawa kecil. Langkahnya menuju ke bagian belakang gazebo, mengantarkan Berlin untuk bertemu dengan Carlos.


Di belakang gazebo putih yang cukup besar itu, terdapat sebuah kolam ikan kecil, dan bunga-bunga cantik di sekelilingnya. Di tepi kolam tersebut, terlihat sosok pria berjaket hitam berdiri membelakangi kedatangan Berlin dan Prawira. Sosok itu adalah Carlos Gates Matrix.

__ADS_1


"Kau sudah datang, ya ...?" cetus Carlos, beberapa saat kemudian Berlin berdiri tepat di sampingnya, meskipun ia harus terus menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangannya.


Carlos tiba-tiba saja tertunduk, ia enggan untuk menoleh, atau bahkan melirik saudaranya yang kini sudah berada tepat di sampingnya. Tatapannya melihat ke arah ikan-ikan yang berenang kesana-kemari di kolam tersebut, saling kejar, saling berputar.


"Jujur saja ... aku malu untuk bertemu denganmu, Berlin."


"Aku merasa tidak memiliki muka untuk berhadapan denganmu."


Gemericik air kolam terdengar jelas. Suara anak-anak yang berlarian di taman belakangnya juga terdengar lamat-lamat, begitu pula dengan suara berbincang orang-orang yang menghadiri pesta tersebut.


Carlos tidak berbicara lanjut, begitu pula dengan Berlin yang hanya diam mendengar saudaranya berbicara sampai habis. Apalagi Prawira yang hanya berdiri tepat di samping Carlos.


"Sepertinya ... peran ku tidak ada di sini, jadi lebih baik aku pergi dahulu. Nikmati waktu kalian," cetus Prawira, menyela keheningan, dan segera beranjak pergi.


Prawira kini benar-benar meninggalkan kedua laki-laki tersebut. Berlin dan Carlos masih diam, belum ada pembicaraan lagi. Benar-benar hening, dingin, seolah keduanya tengah mengendalikan hati masing-masing sebelum berbicara.


Namun berbeda dengan Berlin yang terlihat begitu tenang, Carlos justru malah sedikit gelisah sampai ia berkata, "aku ... ingin berterima kasih padamu, Berlin."


"Tetapi aku masih bingung. Pertanyaan yang sangat ingin ku tanyakan padamu adalah, mengapa kau mengambil keputusan untuk mengajukan pembebasan bersyarat atas diriku?"


Carlos langsung melemparkan pertanyaan yang selama ini terus berlalu-lalang dalam benaknya. Namun Berlin masih diam, sikapnya begitu dingin, seolah tidak begitu mempedulikan orang di dekatnya. Sunyi. begitu pula dengan Carlos yang langsung kembali diam, dengan pertanyaannya yang masih belum dijawab.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2