
Carlos berlari di antara pepohonan perbukitan kota dengan sebuah pistol berwarna perak pada salah satu genggamannya. Dalam beberapa langkah, ia tiba-tiba mengambil posisi membidik menggunakan pistolnya dan kemudian menarik pelatuk tersebut.
"ACCKK ...!!"
Seorang pria berjaket ungu langsung dibuat tergeletak tak berdaya di antara semak belukar tepat di depannya. Carlos menghampiri tubuh pria yang sudah tidak bernyawa itu, dan kemudian merampas beberapa amunisinya.
"Kontak senjata!"
"Kami melihat satu orang menghalangi!!!"
Terdengar suara teriakan dari kejauhan, yang tampaknya adalah rekan dari pria yang baru saja ia habisi nyawanya. Mengetahui mereka mendekat, dengan langkah sigap Carlos langsung berlari dan menuju ke atas salah satu dari sekian banyaknya pohon di sana.
"Di mana orang yang kau maksud?"
Beberapa orang berjaket ungu tampak menghampiri mayat rekan mereka. Carlos dapat menyaksikan semua pergerakan mereka dari atas salah satu pohon beringin yang cukup besar.
"Seharusnya dia berada di dekat sini."
"Ciri-cirinya mengenakan pakaian atau mantel berwarna hitam."
Mereka tampak mencari-cari keberadaan Carlos berada. Tentu mereka terlihat sangat tidak terima karena salah satu rekan mereka telah tewas akibat Carlos.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk mengurusnya, lebih baik kita tetap waspada terhadap orang misterius yang kau maksud itu." Terdengar ucapan dari salah satu mereka, sebelum kemudian mereka bergerak kembali tanpa menghiraukan mayat rekannya yang tergeletak di antara semak belukar itu.
Sesaat setelah lima orang berjaket ungu itu pergi dari sana mengarah ke area Gedung Balaikota. Carlos kembali harus dibuat diam membisu, dan sebisa mungkin harus tetap senyap. Karena secara tiba-tiba dirinya menyaksikan banyak sekali orang berbaju ungu yang berlari melewati tepat di bawah pohon beringin yang digunakannya untuk bersembunyi. Jumlah mereka tidak dapat terhitung oleh jari, mungkin terdapat lebih dari dua puluh orang atau bahkan lebih banyak dari itu.
"Sial, ini sangat merepotkan," gumam Carlos berbisik dengan intonasi yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Kedua mata Carlos tajam menyaksikan setiap pergerakan yang terjadi di bawah pohon miliknya. Berdasarkan warna jaket yang mereka pakai, Carlos langsung dapat mengetahui siapa identitas kelompok tersebut.
"Cassano, sesuai dugaanku" gumam Carlos menyaksikan kelompok Cassano melakukan pergerakan di dalam hutan perbukitan kota itu.
DEG.
Carlos dibuat terkejut ketika menyaksikan adanya banyak orang juga yang melintas tepat di bawahnya, namun mereka mengenakan baju berwarna merah.
"Red Rascals? Mereka di sini?!" batin Carlos terlihat sangat terkejut dengan kehadiran kelompok kriminal itu.
"Mereka semua aliansi Clone Nostra? Tidak, tidak mungkin! Tidak, tidak!"
Carlos terlihat cukup ketakutan dan gemetaran setelah menyaksikan kedua kelompok kriminal itu baru saja melakukan pergerakan tepat di sekitarnya. Apalagi menyaksikan betapa banyaknya jumlah mereka. Tak hanya jumlah, namun Carlos juga dapat menyaksikan beberapa senapan yang dibawa mereka.
Berdasarkan jumlah personel dan persenjataan yang Cassano dan Red Rascals miliki. Mereka sudah tampak seperti sebuah pasukan yang siap untuk bertempur. Menyaksikan hal tersebut cukup membuat Carlos terbisu dan terdiam.
"Mereka akan mendapatkan peluang menyerang titik buta pihak aparat yang ada di depan gedung. Dengan begitu posisi personel gabungan akan terjepit jika mereka tidak segera merubah strategi, atau tidak mengetahui hal ini," gumam Carlos dengan sendirinya.
Melihat jumlah mereka yang tidak mungkin ditahan oleh dirinya seorang. Carlos memutuskan untuk melepas, dan lebih memilih untuk bersembunyi serta bersikap pasif.
"Kalau saja jumlah mereka hanya sepuluh, mungkin aku masih bisa menghalanginya," gumam Carlos menghela napas panjang, dan duduk bersandar di atas ranting besar pohon beringin tersebut.
"Berlin, ku harap kau sudah pergi dari konflik gila itu," lanjut Carlos berbicara di dalam hatinya, sebelum kemudian dirinya memutuskan untuk keluar dari persembunyian setelah semuanya aman.
***
Garwig melakukan pergerakan mundur bersama dengan rekan-rekan militernya. Dirinya telah menerima laporan dari Asep yang menjadi sosok pengendali di balik drone yang sampai saat ini masih terbang di atas area Balaikota. Asep memberikan sebuah laporan mengenai pergerakan secara masif dari arah perbukitan perbatasan Kota Metro dan Shandy Shell.
__ADS_1
Tak lupa dirinya juga mengirimkan kabar untuk pihak aparat kepolisian termasuk Prawira. Namun Prawira sendiri tampaknya sedang sibuk dengan urusannya di dalam gedung.
Personel gabungan milik Garwig dan Prawira kini sedikit melakukan perubahan strategi. Aparat-aparat yang sebelumnya berada tepat di depan Gedung Balaikota, kini mereka sedikit mundur dan memutar ke sisi Timur dan Barat gedung.
"Persiapkan perimeter dekat dengan area gedung, dan kita akan secepat mungkin menyelesaikan urusan yang ada di dalam gedung!"
Titah dari Garwig didengar oleh seluruh personel gabungan. Dirinya bersama dengan regu militer miliknya segera melakukan invasi ke dalam gedung, dan berencana untuk membersihkan seluruh pihak Clone Nostra yang ada.
Dengan sigap dan cepat, seluruh personel yang terlibat langsung melakukan perintah serta semua arahan yang diberikan oleh Garwig, dan dalam waktu yang sangat singkat mereka telah bersiap untuk merangsek masuk ke dalam gedung melalui sisi-sisi gedung tersebut.
***
BUGGHH ..!! BUGGHH ..!!!
"ACCKK ...!!"
Pisau milik Karina langsung terlempar setelah sebuah tendangan keras menghantam tangannya. Kimmy terlihat cukup babak belur akibat baku hantam yang terjadi antara dirinya dan wanita itu. Namun kelihatannya Karina lebih babak belur, bahkan mengalami cedera yang cukup serius pada salah satu kaki dan tangannya.
Melihat lawannya sudah sangat sulit untuk melakukan perlawanan. Kimmy memanfaatkan hal tersebut untuk membuat Karina berlutut dan tertunduk di hadapannya.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu di sini," ucap Kimmy dengan tatapan tajamnya ke arah Karina yang kini berlutut dan tunduk di hadapannya.
Di saat yang bersamaan, secara tiba-tiba beberapa aparat taktis kepolisian menghampiri Kimmy dari belakangnya. Kimmy sangat dibuat terkejut dengan kehadiran mereka yang sangat tiba-tiba. Salah satu dari apara berseragam taktis hitam itu ternyata adalah Prawira.
"Aku tak bermaksud mengejutkanmu, Kimmy." Prawira langsung berbicara kepada Kimmy, sedangkan dua rekan anggotanya mengamankan Karina yang sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan.
"Kalian sangat membantu, namun dari sini kami akan ambil alih," ucap Prawira. Dirinya menunjuk satu rekan aparatnya yang ahli dalam bidang medis untuk membantu serta mengobati luka-luka yang diterima oleh Kimmy. Sebelum kemudian dirinya kembali bergerak bersama dengan dua rekan sisanya menuju ke aula, sumber dari keributan yang terjadi di dalam gedung ini.
__ADS_1
.
Bersambung.