
Pukul 15:15 sore.
Berlin menerima beberapa lampiran arsip yang diberikan serta ditunjukkan oleh rekannya yakni Asep. Tak hanya beberapa lampiran arsip tersebut saja, namun Asep juga membawa sebuah arsip yang ia simpan di dalam sebuah benda kecil yang biasa disebut serta dikenal sebagai flashdisk. Untuk menampilkan isi dari flashdisk tersebut, laki-laki itu sudah menyiapkan sebuah laptop yang ia letakkan tepat di atas meja kaca ruang tengah.
"Sesuai dengan dugaan, pasti Red Rascals di balik ancaman itu," gumam Berlin ketika membaca sebuah lampiran laporan yang berisikan hal mengenai siapa di balik telepon ancaman yang diterima oleh istrinya yakni Nadia. Berdasarkan sebuah data yang berhasil dilacak serta didapatkan oleh rekannya, kini dirinya jadi tahu secara spesifik siapa orang yang ada di balik suara ancaman itu. Sosok yang sangat dikenal dengan nama Calder, seorang laki-laki yang memiliki ikatan kuat dengan sebuah kelompok bernama Red Rascals. Berdasarkan data yang kini berada di tangannya, Calder adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi petinggi dari kelompok tersebut.
"Ya, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk melacak asal-usul dari nomor tersebut. Aku saja bingung mengapa semudah itu untuk ditemukan, dan apakah memang hal tersebut disengaja oleh mereka. Jujur saja aku sempat berspekulasi beberapa hal sebelum tidur." Asep memberikan pendapat mengenai nomor asing yang berhasil ia peroleh profil seseorang di baliknya.
"Calder, nama yang sangat asing di telingaku, dan aku tidak menyangka setelah mengetahui data mengenai dirinya ini," ujar Berlin, menurunkan lampiran yang sedari tadi fokus dibacanya, dan kemudian meletakkannya kembali di atas meja kaca.
"Kau tidak mengetahui nama lengkapnya?" lanjut Berlin bertanya kepada Asep mengenai orang bernama Calder itu.
Asep menggeleng dan menjawab, "negatif, bahkan aku sudah blusukan ke database warga sipil milik pemerintah, dan namanya hanya satu kata, tidak lebih."
"Kemungkinan besar memang dia tidak memiliki nama lengkap, atau jika memang punya ... berarti ada beberapa 'permainan' yang dia gunakan untuk mengelabuhi data pemerintah," lanjut laki-laki itu sembari sibuk menyalakan serta menghubungkan flashdisk tersebut pada laptop miliknya.
Berlin menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Sembari bersandar santai pada sandaran sofanya, ia berbicara kepada rekannya yang duduk bersebrangan dengan dirinya dengan mengatakan, "benar-benar dunia yang rumit dengan banyaknya permainan."
__ADS_1
"Tetapi memang seperti itulah berlakunya dunia ini, bukan?" sahut Asep, sempat melirik kepada Berlin dengan senyuman sinisnya, sebelum kemudian fokusnya kembali tertuju ke arah layar laptop miliknya yang berada di atas meja.
Berlin hanya terkekeh kecil mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya, dan kembali dengan pandangan santai ke arah langit-langit ruangan. Beberapa saat kemudian, dirinya dipanggil kembali oleh Asep yang berkata, "Bos, ini dia hal penting yang ingin ku tunjukkan kepadamu."
Lelaki itu pun segera melihat ke arah layar laptop yang sudah dihadapkan kepada dirinya. Pada layar tersebut ditampilkan sebuah rekaman gambar yang diambil dari sebuah kamera pengawas milik kepolisian. Rekaman itu menampilkan kronologi kejadian sebuah perusakan toko kelontong yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata dengan ciri-ciri mencolok jaket berwarna ungu. Jaket ungu adalah jaket dengan warna yang sangat identik dengan kelompok kriminal bernama Cassano, terlebih Berlin sudah melihat berkali-kali Cassano berkeliaran dengan jaket tersebut sebelum akhirnya kelompok itu menjalani aksi terakhirnya dan berakhir dibubarkan dengan tertangkapnya Kibo Gates Hadi sebagai ketua kelompok.
Namun keanehan terjadi, dan terlihat sangat jelas pada layar kaca laptop yang saat ini sedang dilihat oleh Berlin sendiri. Berlin sempat memastikan tanggal dan waktu yang ada di sudut kiri layar, dan memang benar, tidak ada kesalahan pada tanggal dan waktu ketika kejadian yang terekam terjadi semalam.
"Tidak mungkin itu Cassano, 'kan? Mereka sudah dibubarkan semenjak kekacauan di Balaikota beberapa pekan yang lalu," ucap Asep, mengulang-ulang rekaman yang ditampilkan pada layar laptop miliknya.
Berlin menggeleng dan menjawab, "tetapi tidak menutup kemungkinan itu memang mereka."
"Iya, sih. Aku sependapat denganmu," ujar Asep, melipat kedua lengannya dan dengan pandangan tertunduk berpikir.
"Lalu bagaimana dengan kepolisian? Apakah mereka sudah mengetahui hal ini?" tanya Berlin.
Asep menggeleng dan menjawab, "aku kurang tahu, tetapi sepertinya kasus penyerangan ini tidak begitu nampak." Laki-laki itu kembali mengangkat pandangannya sembari lanjut berkata, "aku sudah menyimak dan memantau beberapa berita, dan aku tidak menemukan berita yang mengangkat soal penyerangan ini."
__ADS_1
"Kebanyakan berita mengenai persidangan yang akan dilakukan di hari esok, dan sepertinya persidangan Tokyo El Claunius menjadi trending topik," lanjut Asep berbicara lagi.
TAP ... TAP ...!!
Suara langkah kaki terdengar lebih dari satu orang, disusul oleh munculnya dua orang pria dan satu orang wanita yang datang dari pintu masuk depan. Carlos terlihat baru muncul di sore hari ini, dan dirinya tak datang sendirian. Terlihat sosok Garwig dan sekretaris setianya yakni Siska juga datang bersamaan dengan laki-laki tersebut.
"Maaf aku terlambat datang, Garwig sempat mengajak berbincang beberapa hal denganku," ucap Carlos, berjalan santai menuju ke ruang tengah bersama dengan Garwig dan Siska.
Berlin beranjak berdiri sesaat untuk menyambut kedatangan tamu terhormat itu, sebelum kemudian duduk kembali bersamaan dengan Garwig yang kini duduk bersebrangan dengan dirinya. Sedangkan Asep, ia berpindah posisi ke sebuah sofa single seat yang berada tepat di samping sofa panjang yang diduduki oleh Berlin.
"Tumben sepi sekali di sini, memangnya pada ke mana?" ujar Garwig bertanya kepada Berlin.
"Mereka sedang bertanding di belakang," jawab singkat Berlin.
"Bertanding?"
.
__ADS_1
Bersambung.