Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Undangan Minum Teh? #29


__ADS_3

Berlin memutuskan untuk menjemput Nadia terlebih dahulu sebelum dirinya berkumpul dengan teman-temannya. Dirinya juga memberi kabar kepada Kimmy atas keterlambatannya. Sesampainya Berlin di Kediaman Gates. Dirinya langsung disambut oleh Netty, Siska, dan istrinya di teras rumah itu.


Berlin cukup terkejut ketika mendapati kondisi Nadia yang terlihat kurang sehat. Dirinya langsung menghampiri istrinya itu dan menanyakan kondisinya. "ya ampun, kamu kenapa?"


"Hanya kelelahan, kok. Ehe," jawab Nadia lalu tertawa kecil melihat suaminya yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Di saat itu juga Netty yang berdiri di belakang Nadia pun menjelaskan apa yang sempat terjadi kepada Nadia kepada Berlin. Begitu pula dengan Siska yang terlihat sedikit takut kepada Berlin.


"Apakah itu benar?" tanya Berlin setelah mendengar semua penjelasan singkat soal apa yang terjadi kepada Nadia dari Netty. Nadia menjawab dengan hanya mengangguk pelan dan tatapan yang sedikit nanar.


Berlin pun menuntun istrinya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Sebelum dirinya beranjak pergi dari tempat itu, tak lupa dirinya berterimakasih kepada Siska dan Netty.


"Netty, Siska, terima kasih sudah menjaganya, maaf bila apa yang terjadi kepada Nadia merepotkan kalian," ucapnya seraya mengulas senyum kepada kedua orang itu.


Netty tertawa kecil dan berkata, "tidak masalah, aku sangat senang bila harus membantu Nadia."


Setelah itu Berlin pun beranjak pergi dari sana dengan mengemudikan mobilnya. Siska yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba menghela napas lega. "Untungnya Berlin tidak marah kepada kita," gumamnya seraya mengusap keringat pada dahinya.


"Hahaha," Netty tertawa terbahak-bahak mendengar hal tersebut. "Memangnya apa yang kau pikirkan, sih?" tanyanya menatap Siska seraya mengernyitkan dahinya.


Siska tertawa kecil dan berkata, "aku kira Berlin akan mencurigai kita," ucapnya seraya menggaruk kepala dan tertawa-tawa.


"Dia sudah benar-benar berubah, tak seperti Berlin yang dahulu lagi," gumam Siska seraya mengulas senyumnya.


Netty juga ikut tersenyum mendengar hal tersebut, "semenjak dengan Nadia, Berlin memang sudah sangat berubah, menurutku Nadia berhasil membawa perubahan itu menjadi lebih baik lagi," ucapnya.


Netty dan Siska mengenal Berlin sudah sangat lama sejak akademi kepolisian lima tahun yang lalu. Karena pada saat itu Prawira membawa Berlin dan sempat membuatnya menggantikan posisi Netty sebagai mentor yang harus membina siswa-siswi akademi.


"Sudahlah, berhubung kita masih diizinkan untuk memiliki waktu luang. Bagaimana kalau kita duel menembak sasaran?" Siska tiba-tiba menantang Netty untuk berduel siapa poin paling banyak dalam menembak sasaran.


Netty melirik tajam Siska di sampingnya, dan kemudian menjawab tantangan tersebut. "Kau yakin dengan tantangan itu?" jawabnya dengan nada bicara cukup dingin.


"Kapan lagi aku bisa menantang atasanku," sahut Siska lalu berjalan pergi dari teras rumah itu kembali menuju halaman belakang, diikuti oleh Netty yang menjawab dan menuruti tantangannya.


***


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Berlin tak bisa melepaskan perhatiannya dari istrinya yang tertidur di bangku sampingnya. Nadia benar-benar terlihat sangat kelelahan dan akhirnya tertidur di perjalanan. Ketika di dalam perjalanan, Berlin sempat mengirimkan kabar kepada Kimmy soal keterlambatannya.


Sesampainya di rumah, Nadia pun terbangun dengan sendirinya dan sadar kalau dirinya ketiduran sepanjang perjalanan. "Maaf, aku ketiduran," ucapnya kepada Berlin yang hendak turun dari mobil.

__ADS_1


Berlin tertawa kecil dan tersenyum mendengar permintaan maaf itu. "Ngapain minta maaf?" tanyanya lalu beranjak membukakan pintu untuk istrinya dan membantunya untuk turun dari mobil.


"Mending kamu lanjut istirahat di dalam saja," ucap Berlin seraya sedikit membantu wanitanya untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


Berlin langsung mengantar istrinya ke kamar agar bisa beristirahat dengan nyaman. Dirinya juga ingin berbicara sesuatu dengannya.


"Kamu pasti sedang ada masalah, ya?" celetuk Nadia ketika duduk bersebelahan dengan suaminya di tepi ranjang. Ia dapat melihat wajah yang sedikit murung dan memikirkan banyak hal dari lelaki itu.


Berlin tersenyum dan berkata, "kamu ini selalu peka dengan hal seperti itu."


"Mata dan ekspresi mu tidak dapat menyembunyikan hal itu dariku," ucap Nadia sembari menatap dalam-dalam pria itu lalu tersenyum manis kepadanya.


Berlin tiba-tiba terdiam dan menghela napas sejenak ketika mendengar Nadia berkata seperti itu. Setelah itu dirinya pun mulai berbicara, "iya, persoalan masih berhubungan dengan Clone Nostra, dan sore ini aku akan berkumpul dengan teman-teman untuk membahas persoalan ini."


"Tepat tadi pagi, aku mendapatkan kabar soal Kent yang tertimpa masalah dengan suatu kelompok kejahatan di kota, sehingga membuatnya dilarikan ke rumah sakit."


Nadia sedikit terkejut dengan kabar soal Kent yang dibahas oleh suaminya. "Lalu bagaimana dengan keadaannya?" tanyanya sedikit menyela pria itu berbicara.


"Beruntung dia masih selamat, meskipun harus menjalani rawat inap," jawab Berlin.


Berlin hanya bercerita soal apa yang terjadi kepada Kent, dan sedikit menyebutkan bahwa Clone Nostra memiliki hubungannya dengan persoalan itu. Dirinya tak memberitahu wanita itu soal Red Rascals, dan soal tiga kelompok yang sedang Ashgard hadapi. Dirinya hanya tak ingin membuat istrinya berpikir berlebihan yang mungkin akan membuat kondisinya lebih drop.


Setelah 15 menit berlalu Berlin bercerita. Nadia yang menyimak semuanya langsung mempercayai semua cerita yang ia dengar dari mulut suaminya. Meski tak semua Berlin menceritakannya, tetapi raut wajah cemas dan resah sudah terukir pada wajah cantik istrinya.


Nadia hanya terdiam setelah mendengar semua itu. Ia tertunduk dan meremas erat dress tidur yang dipakainya. Dirinya sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya, karena dirinya juga mengetahui bahwa Clone Nostra adalah kelompok yang sangat berbahaya.


Mengetahui hal tersebut. Berlin merangkul istrinya di sampingnya, dan memeluknya dengan lembut penuh kasih sayang seraya berkata, "tenang saja, aku sudah terbiasa menghadapi permasalahan yang seperti ini. Jadi jangan terlalu dipikirkan, ya? Nanti kamu malah sakit karena terlalu berlebihan memikirkannya," ucapnya seraya mengelus perlahan pipi mulus milik wanitanya.


"Meski begitu, tetap saja aku tak bisa lepas memikirkannya," sahut Nadia bersandar pada bahu milik lelakinya. Dirinya membiarkan pria itu mengelus dan mencium kepalanya.


"Oh iya, aku juga ingin berbicara kepadamu soal ...." Berlin merogoh saku dan mengambil sebuah surat resmi yang sebelumnya ia dapatkan dari James. Dirinya ingin menunjukan surat itu kepada Nadia.


"Berlin, ini ...." Nadia dibuat cukup terkejut sekaligus kagum ketika melihat surat resmi yang ditunjukkan oleh suaminya. "Bukankah ini surat resmi pemerintahan?!" cetusnya ketika melihat stempel pemerintah pada surat itu.


"I-iya, kau benar," jawab Berlin sedikit tak menyangka dengan reaksi Nadia yang tampak sangat terkagum dengan surat itu.


"Bagaimana bisa kamu mendapatkannya?! Hanya orang-orang resmi dan penting saja yang menerima surat seperti ini!" Kedua mata milik Nadia membulat ketika melihat surat itu. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan melihat surat resmi itu, dan surat itu ada di tangan Berlin.

__ADS_1


"Um ... anu, tadi James memberikan ini kepadaku, dan surat ini dikirimkan oleh Garwig." Berlin sedikit terkejut dengan reaksi istrinya.


Nadia menatap kedua mata suaminya dengan sangat bersemangat dan bertanya, "apa isi suratnya?"


"Garwig mengundangku untuk menghadiri acara minum teh yang akan dilaksanakan malam ini, dan di sana juga akan dihadiri oleh walikota."


Berlin menjawab pertanyaan tersebut. Mendengar soal walikota, semakin membuat Nadia kagum, namun juga dibuat bingung karena ekspresi suaminya yang malah murung.


"Mengapa kamu malah murung, sih? Harusnya senang, dong!" Nadia menelengkan kepalanya, mengerutkan keningnya dan menatap bingung pria di sampingnya.


Berlin menunjukan tulisan di akhir surat dan berkata, "Garwig memperbolehkan ku untuk mengajak seseorang yang dapat menemani atau mendampingi ku. Tadinya aku berencana ingin mengajakmu, tetapi setelah melihat kondisimu seperti tadi, tidak mungkin bagiku jika harus memaksakanmu."


"Oh, ternyata itu yang membuatmu murung, ya?" Nadia tersenyum mendengar hal tersebut. Dirinya pun menyandarkan kembali kepalanya pada bahu milik suaminya, dan berkata, "sayang, aku yakin Garwig dan walikota ingin membicarakan sesuatu padamu, dan tidak akan ada ruang untukku di sana."


"Jadi lebih baik ... memang keputusan yang tepat untuk tidak membawaku ke acara minum teh itu."


Nadia sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya, dan lalu tersenyum kepadanya. Berlin pun ikut tersenyum, dan kemudian mencium kening milik istrinya dengan penuh kasih sayang.


***


Pukul 16:00 sore.


Setelah cukup lama berbincang dengan istrinya. Berlin pun berpamitan kepada Nadia, dan segera pergi menuju markasnya karena teman-temannya sudah menunggunya di sana.


Sesampainya di Markas Ashgard. Benar saja semua rekannya sudah menunggu dan siap untuk membahas permasalahan yang sedang terjadi. Kelihatan sekali wajah-wajah sedih bercampur tidak terima mengingat apa yang terjadi kepada Kent.


"Bos, bagaimana?" tanya Aryo ketika mengetahui kedatangan Berlin.


"Apakah kita harus mencari mereka yang melukai Kent, dan membalaskannya?" timpal Bobi.


Mereka semua sangat marah besar kepada orang-orang yang telah melukai salah satu rekannya. Berlin dapat memahami hal itu, bahkan hal-hal seperti ini sudah terjadi berkali-kali sepanjang Ashgard berdiri.


"Tenanglah, kalian! Kita akan memikirkannya bersama untuk bagaimananya," ucap Berlin dengan tenang seraya terus berjalan ke ruang utama dan berdiri di hadapan seluruh rekannya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2