Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tunduk dan Patuh? #173


__ADS_3

Pembicaraan masih berlangsung, bahkan hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Sepanjang pembicaraan yang dilakukan di ruangan milik Garwig. Berlin beserta ketiga rekannya menerima banyak informasi baru, mengenai pekerjaan yang akan mereka jalani. Banyak hal yang disampaikan oleh Garwig, dan semua hal itu adalah hal yang baru bagi Berlin serta rekan-rekannya.


Lima menit kemudian, tepatnya pada pukul sembilan malam. Pembicaraan tersebut menemui titik akhir. Garwig berterima kasih kepada ketiga orang itu, karena telah menyempatkan waktu untuk datang menemui dirinya.


"Jadi ... kapan kami ditugaskan?" tanya Berlin, berjalan berdampingan dengan Garwig melalui aula utama, diikuti oleh ketiga rekannya di belakang.


"Untuk soal itu, aku harus mengatur beberapa hal terlebih dahulu," ucap Garwig menjawab, sebelum kemudian lanjut berbicara, "sebenarnya masih ada tempat yang harus ku tunjukkan kepada kalian, dan tempat itu akan menjadi markas kalian."


"Oh, ya? Bisakah aku melihat bagaimana tempat itu?" sahut Berlin, terlihat cukup antusias dan tertarik.


Garwig menoleh, tersenyum dan berkata, "tentu saja bisa, namun tidak hari ini."


Belum benar-benar selesai melalui aula utama yang sangat luas itu. Garwig menghentikan langkahnya, berhadapan langsung dengan Berlin dan berkata, "sebelum kau pulang, bisakah kita berbincang sebentar? Berbicara empat mata."


Berlin menoleh, menatap ke arah ketiga rekannya dan kemudian berkata, "kalian tunggu aku di luar, ya ...!" pintanya.


Ketiga rekannya mengangguk patuh. Mereka mendahului Berlin, berjalan menuju ke pintu keluar gedung. Sedangkan Berlin sendiri, dirinya mengikuti langkah Garwig yang membawanya menuju ke sebuah lorong, di ujung lorong tersebut terdapat tangga yang akan membawanya menuju ke atap gedung.


"Bukankah anak tangga ini hancur?" cetus Berlin ketika menaiki satu-persatu anak tangga yang sudah diperbaiki itu dengan tongkatnya. Memang tangga tersebut sudah diperbaiki dan sudah dapat dilewati, hanya saja belum sepenuhnya selesai.


"Perbaikan di gedung ini memang sengaja ku tekankan untuk dipercepat, maka dari itu tidak perlu waktu seminggu tangga ini sudah dapat dilewati," jawab Garwig.


Beberapa langkah kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di atap gedung. Atap tersebut adalah salah satu tempat favorit Garwig ketika dirinya hendak menghabiskan waktu sendirian, melepaskan semua penatnya dengan merenung serta menghirup udara segar dari atas gedung itu.

__ADS_1


"Bagaimana soal surat keterangan dari kepolisian? Apakah Prawira membuat masalah saat proses pembuatannya?" cetus Garwig, melangkah mendekati sebuah pagar beton di tepi atap, dan bersandar di pagar tersebut.


Berlin cukup terkejut dengan apa yang dipertanyakan oleh Garwig. Sejak kapan dirinya memberitahu pria itu mengenai surat keterangan tersebut? Tentu itu menjadi pertanyaan yang langsung terlintas dalam kepalanya.


"Dari mana kau mengetahui soal itu?" sahut Berlin, berdiri tepat di sebelah Garwig.


Garwig tertawa kecil, sedikit menunduk, dan tersenyum sinis sembari berkata, "kau pikir siapa diriku, Berlin?"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig, langsung membuat Berlin sedikit tertunduk diam sejenak, dan seketika berpikir sesuatu mengenai catatan kriminal miliknya.


Perlahan, Berlin mengangkat kepalanya, menoleh dengan tatapan tajamnya mengarah kepada Garwig di sebelahnya. "Apakah ... catatan kriminal ku bersih di kepolisian, itu karena ulahmu?" tanya Berlin, datar namun tajam.


Garwig tidak menanggapi tatapan Berlin yang tajam tertuju padanya. Ia memilih untuk memandang ke arah langit malam yang terlihat sangat sepi, tidak terpantau adanya cahaya bulan maupun bintang.


"Prawira tadi pasti bilang padamu soal untuk tetap mengikuti prosedur, 'kan? Jika catatan kriminal milikmu tidak bersih, aku yakin pasti surat keterangan itu tidak kau miliki sampai saat ini," ucap pria itu.


"Ya, begitulah," jawab Garwig, menghela napas.


"Sudah ku duga, tetapi ... terima kasih," ucap Berlin.


"Berlin, mungkin ini akan menjadi hal yang berat bagimu, apalagi bagi Ashgard." Garwig langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Aku tahu kau tidak suka diatur, apalagi sampai tunduk kepada peraturan yang sangat mengikat seperti layaknya anggota polisi," ucap Garwig.


"Namun peraturan akan tetap ada, dan wajib untuk dipatuhi, Berlin. Mau bagaimanapun juga, memang seperti itulah jalannya," lanjut pria itu.

__ADS_1


Berlin tertunduk, dan diam sejenak. Memang cukup sulit baginya, apalagi bagi Ashgard yang dari awal berdiri memiliki prinsip serta pendiriannya sendiri. Prinsip serta pendirian Ashgard adalah tidak akan tunduk terhadap apapun serta siapapun, dan dengan peraturan yang wajib dipatuhi jika mereka menerima pekerjaan tersebut. Tentu itu sangat bertolak belakang dengan prinsip serta pendirian kelompok bernama Ashgard itu.


"Tetapi tenang saja, Berlin. Divisi Khusus milik walikota tidak seperti polisi, meskipun bisa dibilang mereka sama-sama aparat." Garwig menoleh, dan tersenyum kepada Berlin.


"Polisi itu sangat diatur dan dikekang oleh peraturan dan undang-undang, mereka diwajibkan bahkan dipaksakan harus patuh dan tunduk terhadap undang-undang yang berlaku. Kau tahu itu, 'kan?" ujar Garwig, datar, namun serius. Berlin mengangguk paham.


"Sangat berbeda dengan instansi polisi, Ashgard tidak akan begitu dikekang bahkan sampai harus tunduk sepenuhnya terhadap peraturan-peraturan itu. Aku hanya perlu dan ingin kepada kalian untuk sekedar mematuhi dan menghormatinya," lanjut Garwig, menoleh, dan menatap serius Berlin.


"Apakah kandidat sebelum Ashgard juga seperti itu? Atau kau hanya memberikan hak istimewa itu kepada kami?" sahut Berlin, tajam.


Garwig tersenyum, memalingkan kembali pandangannya ke arah langit malam sembari berkata, "meskipun kita satu keluarga, namun tidak ada hak istimewa jika dalam persoalan ini, Berlin."


"Tidak hanya kepada kalian, kandidat sebelum kalian juga sama seperti itu, dan sudah menjadi aturan serta pendirian divisi itu sendiri," lanjut Garwig.


Pria itu memindahkan pandangannya kembali tertuju kepada Berlin dan berkata, "aku tidak meragukan kapabilitas mu sebagai pemimpin Ashgard, Berlin. Maka dari itu, tadi aku dapat membuat keputusan tanpa ragu, karena aku sangat yakin dan percaya padamu."


"Posisi tertinggi tetap akan berada di tangan mu, Berlin. Tidak seperti instansi kepolisian yang posisi tertingginya berada di peraturan dan undang-undang, meskipun mereka juga memiliki petinggi seperti Prawira," lanjut Garwig.


"Lalu bagaimana dengan markas yang sempat kau sebutkan tadi?" cetus Berlin, langsung mengalihkan topik pembicaraan, mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran.


Garwig tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, ditambah melihat ekspresi Berlin yang terlihat cukup antusias dengan hal tersebut. "Itu adalah fasilitas yang memang didirikan untuk Divisi Khusus milik walikota, dan lokasinya berada tak jauh dengan Kediaman Gates," jawab Garwig.


"Aku bisa membawamu ke sana besok atau lusa, dan memang sudah seharusnya kalian harus tahu soal tempat itu," lanjut pria itu.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2