Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Memanfaatkan Kesan Buruk yang Sudah Ada #139


__ADS_3

Carlos berlari kembali menuju ke aula utama di mana dirinya sempat bertemu dengan Prawira sebelumnya. Ketika sampai di sana, betapa terkejutnya dirinya yang langsung melihat kehadiran Berlin bersama dengan Tokyo dan Farres yang dalam keadaan terborgol oleh Prime dan Flix.


"Sudah ku duga kau akan mengambil tindakan ini!" cetus Carlos yang langsung menghampiri Berlin yang masih dipapah oleh Kimmy. Tampaknya saudaranya itu tidak dapat berdiri atau berjalan sendiri dengan sempurna, dengan cedera pada pergelangan kaki kanan yang cukup parah.


"Mengapa kau di sini?" sahut Berlin.


"Aku hanya ingin memastikan saja, karena kau pasti melakukan atau memutuskan hal yang tak terduga!" jawab Carlos tegas.


Kehadiran Tokyo dan Farres dalam keadaan tertunduk serta terborgol tampaknya sangat menarik perhatian seluruh personel Clone Nostra yang tertangkap dan dikumpulkan di tengah-tengah aula tersebut. Dengan tatapan tajam bercampur rasa tak percaya, mereka menatap ke arah Tokyo dan Berlin. Namun kebanyakan tatapan mereka tajam mengarah ke arah Berlin dengan hasrat seolah ingin membunuhnya.


"Tidak mungkin ...!"


"Berlin sialan ..!!"


"Aku akan membunuhnya jika tidak terborgol seperti ini!"


Celotehan dan dengusan marah mereka ditujukan kepada Berlin yang saat ini berdiri di depan aula tersebut bersama dengan rekan-rekannya dan juga Tokyo. Beruntung orang-orang itu dalam keadaan terborgol, dan dijaga oleh banyak aparat kepolisian di sekeliling aula. Karena jika tidak, mungkin riwayat Berlin akan habis di tempat ini oleh mereka semua.


"Keadaan di luar bagaimana?" tanya Berlin yang sepertinya hendak memeriksa sendiri apa yang terjadi di luar sana. Kedua telinganya masih mendengar adanya baku tembak dan beberapa ledakan yang terjadi dari luar sana.


"Red Rascals dan Cassano sepertinya sulit untuk dikendalikan," jawab Kina.


"Kita bawa Tokyo dan Farres sejenak ke luar, dan jika memang mereka tidak berhenti. Kita akan tembak mati saja mereka berdua ...!" titah Berlin dengan intonasi yang terdengar begitu enteng, dan titah tersebut juga dapat didengar oleh anak-anak buah Tokyo yang tersisa.


Prime dan Flix seketika terkejut dengan titah atau perintah yang diberikan oleh Berlin untuk rekan-rekannya. Karena titah tersebut jauh melenceng dari rencana awal yang katanya hanya meringkus Tokyo dan Farres, tidak sampai membunuh mereka. Apalagi melihat mereka berdua yang saat ini sudah menyerahkan diri dan menyerah begitu saja.


"Ba-baiklah ...!" sahut rekan-rekannya terlihat cukup ragu, namun tetap mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Berlin.


"Hei, keparat! Aku akan benar-benar menghabisimu, Berlin sialan!" teriak salah satu dari beberapa orang Clone Nostra yang tersisa. Pria itu sempat berdiri dan hendak berlari ke arah Berlin. Namun tindakan tersebut berhasil dihentikan oleh dua aparat berseragam polisi yang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


Berlin tersenyum sinis dan licik melihat reaksi dari para anak buah Tokyo. Ekspresinya benar-benar sulit untuk ditebak, bahkan rekan-rekannya sendiri pun bingung dengan perintah yang baru saja ia berikan. Namun kebingungan itu tidak dialami oleh Carlos, yang sepertinya tahu rencana Berlin yang sepertinya sedikit licik.


***


"Tokyo El Claunius telah tertangkap ...!" ucap seorang wanita berjaket merah yang tiba-tiba saja menghampiri Felix ketika bersandar di sebuah pohon pada bukit seberang Gedung Balaikota.


Mendengar laporan serta informasi yang baginya sangat penting itu. Felix mengerutkan dahinya, sebelum kemudian memberikan sebuah perintah untuk anak-anak buahnya, "sepertinya kita harus mempercepat rencananya," gumamnya.


"Tarik mundur semua personel! Kita akan raih tujuan awal kita lebih cepat daripada rencana yang sudah dibuat," lanjut Felix kemudian memberikan perintah.


"Bagaimana dengan yang terluka?" sahut wanita berambut pirang bergelombang itu.


"Yang masih dapat berlari dan melarikan diri dari tengah pertempuran itu, maka tandanya mereka masih bisa hidup. Namun jika ada yang sudah tidak dapat berlari, maka tinggalkan saja mereka!" jawab Felix tanpa adanya rasa belas kasih di dalam hatinya terhadap para bawahannya.


"Baiklah ...!" wanita itu menundukkan kepalanya, dan kemudian beranjak pergi untuk menarik mundur semua personel milik Red Rascals.


Sesaat setelah rekan wanitanya itu pergi dari tempatnya berdiri. Felix tiba-tiba saja dikejutkan oleh dua buah pesawat tanpa awak milik kemiliteran yang terbang rendah, sebelum kemudian meluncurkan beberapa rudal ke arah Cassano dan Red Rascals yang melakukan penyerangan.


"Yah, kalau begini ... memang sudah seharusnya pergi dari tempat ini," gumam Felix setelah menyaksikan dua rudal yang menghantam orang-orang berjaket ungu di depan Gedung Balaikota, sebelum kemudian dirinya beranjak pergi dari sana.


***


"WOOHOOO ...!!!!" seru Asep tampak keasyikan ketika menggunakan fitur tempur yang ada pada drone yang dikendalikannya.


"Aku tidak menyangka kalau drone ini dapat melakukan hal yang seru seperti ini!" celetuk Asep kembali, dirinya tampak fokus sekali memainkan tuas dan beberapa tombol di atas mejanya sedangkan kedua matanya fokus ke arah layar monitor di depannya.


"Seru, ya ...? Sebenarnya ini ... mengerikan, sih. Alat ini bisa digunakan untuk melakukan pembantaian massal," sahut aparat pria yang duduk di kursi sampingnya, yang justru berbanding terbalik dengan Asep.


"Jangan khawatir! Orang-orang yang kita sedang adalah musuh negara, jadi tidak usah dipikirkan!" cetus Asep sempat melirik ke arah pria berseragam itu.

__ADS_1


***


"Siapa yang memberikan perintah untuk menggunakan pesawat itu bertempur?!" cetus Garwig berlari melalui aula menuju ke luar. Dirinya benar-benar dibuat terkejut dan tidak menduga kalau pesawat tanpa awak itu digunakan untuk bertempur.


Namun ketika berlari menuju ke halaman depan gedung. Garwig lebih dikejutkan lagi dengan adanya Tokyo dan Farres yang sudah berlutut di tengah-tengah halaman tersebut. Di sana juga terdapat Berlin yang masih dipapah oleh Kimmy, dan juga dua aparat dari pihak kepolisian yakni Prime dan Flix.


"Apa yang sebenarnya terjadi ...?" gumam Garwig lebih tak menyangka atas apa yang dilakukan oleh Berlin.


"Maaf, aku yang mengambil alih tugas kalian di sini. Namun sepertinya ada yang harus kau lakukan, Garwig." Berlin tiba-tiba saja berbicara kepada Garwig yang berdiri di belakangnya. Ia menoleh dan menunjuk ke arah Boni yang berlutut di pinggir halaman dan dijaga ketat oleh rekan-rekannya serta Prawira di sana, "lebih baik kau urus penghianat itu!" pintanya menunjuk ke arah Boni.


Apa yang sempat diduga dan diasumsikan oleh Berlin ternyata benar. Dengan menghadirkan Tokyo El Claunius yang saat ini dalam keadaan berlutut dan terborgol di depan dua kelompok aliansi milik Clone Nostra, maka akan menghentikan segala baku tembak atau peperangan yang sedari tadi terjadi tanpa henti.


"Otak atau dalang kalian saat ini telah tunduk dan berlutut di hadapanku, dan dengan begitu ... jika kalian melakukan perlawanan dan berani menembakkan peluru lagi ke arah sini. Maka ... aku tidak akan segan memberikan perintah kepada setiap aparat yang ada untuk mengatasi kalian semua ...!"


Berlin berbicara dengan intonasi yang tidak terlalu tinggi untuk berteriak, namun tetap terdengar kejam dan dingin. Tampaknya hanya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Berlin, itu cukup membuat mereka semua ketar-ketir.


"Berlin itu orang gila!"


"Ya, lebih baik kita pergi saja!"


"Aku tidak mau keluargaku mati di tangan orang gila itu!!!"


Terdengar percakapan di antara orang-orang berjaket ungu yang ada di depan gedung, sebelum kemudian mereka semua berlari kocar-kacir dari lokasi tersebut.


Carlos hanya melihat dan memandangi semua yang terjadi di tempat itu dari tepi halaman, dan pandangannya berakhir ke arah sosok Berlin Gates Axel yang berdiri di tengah-tengah halaman tersebut.


"Berlin, ternyata kau bisa licik juga, ya ...? Kau memang sudah terkenal di kalangan para kriminal, dan kau terkenal dengan caramu yang sangat kejam ketika memperlakukan musuh-musuhmu. Tetapi aku tak habis pikir, kau akan menggunakan kesan buruk terhadap dirimu itu untuk mengelabui mereka. Dan aku benar-benar tidak percaya kalau rencanamu itu bekerja," batin Carlos menatap tajam bercampur kagum ke arah Berlin yang berdiri dengan berani di sana. Yah, meskipun dia masih dibantu oleh rekan wanitanya yakni Kimmy untuk berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya.


Carlos menghela napas panjang, memejamkan matanya sembari berkata, "dasar para penjahat bodoh ...!" celetuknya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2