Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tugas Selesai. #247


__ADS_3

Ashgard telah menyelesaikan tugas serta misi yang diberikan kepada mereka, dan kemudian kembali ke Kantor Polisi Pusat sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Prawira kepada Berlin. Setelah selesai dengan beberapa urusan di Distrik Komersial dan memastikan para pelaku yang tersisa telah dimuat ke dalam mobil-mobil baja milik kepolisian. Ashgard dengan arahan serta perintah dari Berlin, mereka langsung bergerak kembali ke kantor pusat.


Waktu terus berlalu dengan cuaca yang sudah tidak lagi hujan, hanya meninggalkan awan mendung beserta suasana dingin yang masih terasa. Berlin bersama dengan rekan-rekannya sampai di kantor pusat pada pukul enam petang, dan langsung bertemu dengan Prawira di dalam sebuah ruang pertemuan lantai dua.


Berlin hadir dengan pakaian yang sudah berbeda, meninggalkan mantel hitamnya dan berganti dengan jaket berwarna biru muda yang selalu melekat menjadi ciri khasnya. Di dalam ruang pertemuan yang cukup besar dan luas itu, seluruh personel Ashgard hadir, juga dihadiri oleh Prawira dan Garwig serta Netty dan Siska sebagai pendamping serta sekretaris mereka berdua.


Ashgard beserta orang-orang dari pihak Prawira dan Garwig berdiri mengelilingi sebuah meja bundar yang cukup besar dan luas di tengah ruangan tersebut.


"Pertama-tama ku ucapkan selamat untuk kalian karena telah berhasil menyelesaikan tugas pertama kalian. Aku telah menerima banyak laporan mengenai kinerja serta kapabilitas kalian selama di lapangan, dan semuanya cukup memuaskan."


Prawira memulai pembicaraan dengan kata-kata sanjungan yang ia tujukan kepada Ashgard. Namun kata-kata serta apresiasi tersebut sepertinya tidak mendapat ekspresi apapun dari wajah Berlin yang dari awal datar dan dingin, sangat berbeda sekali dengan beberapa rekannya yang tampak cukup senang ketika mendengar pujian-pujian tersebut.


"Kalian mengerjakannya sesuai dengan kontrak, walaupun ada beberapa hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan dalam benak ku sendiri," lanjut Prawira, kemudian menatap serius ke arah Berlin.


"Namun sebelum itu, sepertinya ada beberapa kata yang ingin disampaikan oleh Garwig kepada kalian," ucap Prawira kembali berbicara, kemudian menoleh kepada Garwig yang berdiri di sampingnya.


Garwig pun mengambil alih kesempatan bicara tersebut tanpa berbasa-basi, "dari awal aku memang tidak pernah meragukan kalian, dan pada akhirnya ternyata memang benar, kalian tidak perlu diragukan lagi."


"Jujur saja aku memantau, menyimak, serta menerima segala laporan mengenai seluruh pergerakan serta aksi kalian, terutama pada saat baku tembak di Distrik Komersial pecah. Dan ada beberapa hal yang membuatku cukup terheran serta bertanya-tanya, sama seperti Prawira."

__ADS_1


"Namun lain dari itu, aku mengapresiasi segala tindakan serta keputusan yang kalian ambil ketika di lapangan, dan keuntungan kalian akan diberikan sesuai dengan kontrak tanpa adanya penundaan."


Garwig berbicara beberapa kalimat, dan ketika berbicara beberapa kali ia sempat melirik ke arah Berlin. Setelah berbicara panjang lebar, pria itu kemudian berkata, "selanjutnya ... kami ingin berbicara hanya dengan Berlin, apakah bisa?"


Seisi ruangan sempat terdiam dan hening dalam beberapa detik sampai Berlin berbicara, "kalian dengar, 'kan? Silakan tunggu di luar ruangan sebentar ...!" ucapnya kepada beberapa rekannya yang hadir di ruangan tersebut, termasuk ketiga orang kepercayaannya yang hampir selalu melekat dengan dirinya di manapun ia berada.


Mereka terlihat sangat patuh ketika Berlin yang berbicara, dan perlahan satu-persatu meninggalkan ruangan seperti apa yang Garwig minta. Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada Berlin, bersama dengan Garwig dan Prawira beserta dua sekretaris mereka.


"Berlin, aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu, mengenai pertemuan tak terduga yang sempat kalian alami serta lakukan," ucap Prawira, tenang dan bersikap santai agar tidak terkesan seperti sedang menginterogasi tersangka.


"Oh, pertemuan itu ...? Aku tidak heran jika kalian mengetahuinya," sahut Berlin, juga bersikap santai, bahkan mungkin sangat santai dan tenang seperti biasanya.


"Clone Nostra dan Cassano, jujur saja aku tidak mengharapkan mereka hadir ke dalam keruhnya situasi yang ada. Namun siapa sangka dengan kehadiran mereka, kami jadi cukup terbantu," lanjut Berlin, menjawab pertanyaan tersebut.


"Seharusnya kalian sempat menerima laporan mengenai Clone Nostra dan Cassano yang secara masif menyerang Red Rascals ketika di sana. Jika memang laporan itu ada, maka aku bisa menjawab bahwa laporan itu seratus persen benar, dan yang mereka serang serta targetkan hanyalah Red Rascals."


"Bahkan mereka tidak menghiraukan dan menembaki kami ketika kami bergabung ke dalam baku tembak yang ada."


"Berarti tidak sesuai informasi yang didapat pada buku itu?" tanya Garwig, bersedekap.

__ADS_1


Berlin perlahan ikut bersedekap, dan kemudian meletakkan punggung jari telunjuk salah satu tangannya di dagu sebelum akhirnya menjawab, "ya, kurasa ada sedikit perbedaan yang terjadi di lapangan."


"Bahkan ketika berhadapan langsung dengan mereka, salah satu orang yang sepertinya menjadi pengganti setelah Tokyo pergi dari kelompok itu mengatakan kalau tujuan mereka bukanlah persidangan, melainkan Red Rascals," lanjut Berlin.


"Kesimpulannya Clone Nostra dan Cassano masih terikat kerjasama untuk menyerang Red Rascals ketika di lapangan?" gumam Siska, terlihat juga ikut berpikir dan menerka-nerka.


Berlin mengangguk ketika asumsi serta pertanyaan yang dikatakan oleh Siska terdengar, "ya, kurang lebih seperti itu."


"Jika melihat mereka sejauh ini, terutama Clone Nostra, Cassano, dan Red Rascals, menurutmu sendiri bagaimana, Berlin?" tanya Prawira, menatap serius lelaki berjaket biru muda itu.


"Aku berasumsi ... kalau ... hal ini terjadi karena timbulnya sebuah penghianatan yang dilakukan oleh salah satu dari ketiga kelompok itu, dan si penghianat adalah Red Rascals." Berlin menjawab pertanyaan tersebut disusul dengan alasannya yang menjadi dasar dari asumsinya.


"Mengapa aku berasumsi demikian, karena aku melihat fakta di lapangan, bagaimana cara Clone Nostra dan Cassano menyerang Red Rascals serta menghabisi mereka semua. Dari yang ku lihat, semua itu dilakukan atas dasar dendam dan amarah," lanjut Berlin, memperkuat asumsinya berdasarkan apa yang ia saksikan di Distrik Komersial tadi.


Ruangan kembali hening untuk beberapa saat setelah Berlin selesai berbicara. Prawira dan Garwig terlihat cukup tertarik dan berpikir setelah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan awal mereka terjawab oleh Berlin.


Perbincangan terus berlanjut, membahas berbagai hal soal apa saja yang terjadi di hari ini. Tak hanya Berlin yang membahas semua yang terjadi di Distrik Komersial. Namun Garwig dan Prawira juga sangat terbuka ketika Berlin melayangkan beberapa pertanyaan mengenai persidangan yang selesai dilaksanakan. Pembagian informasi berlangsung sangat lancar dan santai, bahkan kedua orang penting itu tidak terlalu formal sama sekali ketika berbicara, karena memang Berlin tidak terlalu menyukainya.


Setelah perbincangan serta pembahasan mengenai berbagai hal yang terjadi di hari ini. Topik pembicaraan lanjut membahas soal Ashgard kedepannya, apalagi mengingat hari ini menjadi hari yang melelahkan untuk mereka. Beberapa keputusan sempat diusulkan, namun pada akhirnya semuanya satu suara untuk membentuk satu keputusan bersama untuk Ashgard di beberapa hari kedepan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2