
Distrik Barat, Area Apartemen, Area Pelabuhan, dan Distrik Komersial. Secara tiba-tiba dan dalam kurun waktu kurang dari lima menit, tepatnya pada pukul sebelas siang, dengan cuaca yang masih saja hujan deras. Keempat wilayah yang menjadi garda paling depan cincin perimeter itu, secara langsung mendapatkan serangan mendadak. Sekelompok orang bersenjata, memasuki keempat wilayah dengan waktu bersamaan, dan membuat kekacauan di sana. Masyarakat atau warga sipil yang melihat kejadian tersebut seketika berlarian, berhamburan dan mencari tempat untuk berlindung ataupun bersembunyi. Meskipun orang-orang bersenjata itu belum menembak atau melesatkan satu peluru, tetapi tidak akan pernah ada yang tahu kapan mereka akan menembak, dan ditujukan ke mana atau kepada siapa tembakan tersebut.
Ya, sebuah kelompok yang menjadi dalang di balik penyerangan tersebut adalah Red Rascals, sangat identik dengan jaket-jaket merah yang mereka kenakan. Mereka datang, memasuki setiap toko yang ada, menghadang setiap warga sipil yang mereka lihat, dan kemudian merampas semua harta benda yang dapat mereka rampas. Mereka juga terlihat tidak segan dengan siapapun, laki-laki ataupun perempuan, tua ataupun muda, semuanya tetap bisa menjadi target kejahatan mereka. Bahkan mereka juga tidak terlihat segan untuk melukai siapapun yang menghalanginya, bahkan mereka juga tidak akan segan untuk membunuh siapapun yang menghalangi.
Berlin telah menerima laporan mengenai serangan yang terjadi di keempat wilayah secara bersamaan, tak hanya menerima atau mendengar, namun dirinya juga telah melihat secara langsung bagaimana orang-orang bersenjata itu menimbulkan kekacauan serta ketakutan bagi masyarakat sekitar. Semua dapat ia saksikan melalui atap dari sebuah gedung parkiran yang letaknya cukup jauh dari pusat distrik.
"Apa yang harus kita perbuat? Apa arahan mu, Bos ...?!" tanya Sasha, berdiri tepat di belakang Berlin.
Di bawah guyuran intensitas hujan yang masih tetap sama derasnya. Berlin mengambil radio komunikasi miliknya dari dalam saku mantel hitam yang ia kenakan, dan kemudian berbicara, "kita akan sedikit mundur dan berikan jarak, jangan ada yang memberikan perlawanan sebelum ada perintah untuk melakukannya ...!"
Ashgard, mereka yang mendengar perintah dari Berlin langsung menaatinya dan menurutinya. Namun berbeda dengan regu khusus titipan dari pihak kepolisian. Personel-personel terpilih itu justru terlihat bingung dengan arahan yang mereka dengar. Namun tetap mereka menurutinya, dan mengikuti rekan-rekan Ashgard mereka untuk sedikit mundur.
Tatapan Berlin tajam, melihat Distrik Komersial di depan sana yang saat ini tengah kacau. Toko-toko yang sempat ia lalui beberapa waktu sebelumnya, saat ini telah menjadi target jarahan orang-orang berjaket merah itu. Tak hanya toko, namun warga-warga sipil yang tidak tahu apa-apa juga menjadi target perampokan mereka.
"Hanya itu?" cetus Sasha, mengerutkan dahinya, menatap laki-laki yang berdiri membelakanginya dengan tatapan bingung atas perintah serta arahan yang Berlin berikan.
"Kemarilah, dan lihat apa yang ku lihat ...!" pinta Berlin dengan intonasi datar, bahkan tanpa menoleh sedikitpun kepada Sasha yang dari tadi berdiri di belakangnya.
Sasha pun melangkah ke depan, dan kemudian berhenti saat sudah bersebelahan langsung dengan Berlin. Pandangannya kemudian menuju ke arah yang sama dengan Berlin, menyaksikan kacaunya Distrik Komersial yang ada di depan sana.
__ADS_1
"Kau lihat pola mereka?" tanya Berlin dengan sedikit melirik ke arah rekan wanitanya yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
"Pola?" sahut Sasha, bingung, dengan tatapan masih menyaksikan kericuhan itu.
Berlin kembali memandangi kekacauan yang ada di depan sana sembari berkata, "mereka tidak--atau lebih tepatnya belum menembak sama sekali."
"Orang-orang berjaket merah itu hanya fokus merampas, mengambil apa yang bisa mereka ambil, dan merampok beberapa toko dengan bermodalkan gertakan serta ancaman. Namun tetap tidak menembak," lanjut Berlin, berbicara dengan sikap dan intonasi yang sungguh tenang.
"Apa maksudnya? Mereka tidak menyerang persidangan sesuai dengan rencana yang tertulis di buku itu?" tanya Sasha, sempat menoleh kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Berlin menggeleng dan menjawab, "tidak, mereka tidak ingin menyerang secara langsung, dan kemungkinan mereka ingin memanfaatkan waktu ... atau mencari waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan."
"Kalian benar-benar licik, ku akui itu, Felix." Berlin tiba-tiba saja bergumam sesaat setelah tertawa. Kemudian ia menoleh kepada Sasha dan berkata, "suruh Kent dan dua personel itu ke sini ...! Ada yang ingin ku bahas."
"Baik, segera datang ...!" sahut Sasha, kemudian beranjak menjauh dan menghubungi rekannya menggunakan ponsel genggam.
"Ingat, kalian belum boleh menyerang, jadi tolong kendalikan nafsu serta emosi kalian!" ujar Berlin kembali mengunakan radio komunikasi dengan intonasi datar namun terkesan sangat tegas. Peringatan tersebut didengar oleh seluruh personel atau anggota Ashgard.
"Ketiga orang itu sudah dihubungi, dan sedang berjalan menuju ke sini," ujar Sasha, selesai menghubungi Kent dan kedua personel dari pihak aparat.
__ADS_1
"Baik," sahut Berlin, kemudian meraih ponsel genggam miliknya untuk mengirimkan kabar ke seseorang.
***
"Pak, kami mendapat kabar kalau sedang terjadi serangan di luar cincin perimeter," bisik Prawira, kembali memasuki ruang sidang dan berbisik kepada Garwig yang masih di posisi sama seperti sebelumnya.
Mendengar hal tersebut, Garwig yang sebelumnya asyik menyaksikan jalannya persidangan pun segera beranjak pergi dari ruang sidang tersebut, dan keluar dari gedung pengadilan.
"Bagaimana dengan Ashgard? Apa kabar mereka?" tanya Garwig, melangkah dan berdiri di tengah halaman utama gedung, di bawah derasnya guyuran hujan yang masih sama.
"Mereka memposisikan diri dengan sedikit mundur, serta memantau keadaan. Karena Red Rascals terlihat tidak benar-benar menyerang, melainkan terlihat sengaja menciptakan kekacauan." Prawira menjawab pertanyaan tersebut, sembari mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dan menunjukkan potret sebuah gambar yang dikirim oleh seseorang.
Garwig melihat potret gambar tersebut yang menampilkan apa yang dikatakan oleh Prawira, "siapa yang mengirim foto ini?"
"Berlin."
.
Bersambung.
__ADS_1