Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Siap Sergap #231


__ADS_3

Felix hanya diam di dalam dari sebuah mobil SUV berwarna hitam miliknya yang terparkir di tepian jalan, bersama dengan Clovis dan juga seorang wanita berjaket merah yang menjadi supir dari kendaraan tersebut. Kendaraan beroda empat itu berhenti di salah satu tepian jalan yang ada di sebuah perempatan, dan memantau keramaian serta kekacauan yang tengah terjadi di Distrik Komersial.


"Helikopter media, sepertinya pergerakan dan semua tindakan kita tengah diliput dan disaksikan oleh semua orang di kota ini," cetus wanita yang duduk di kursi kemudinya, sembari menoleh ke arah belakang kepada Felix yang duduk di kursi tengah bersampingan dengan Clovis.


Helikopter yang dimaksudkan itu terus saja mengudara, mengelilingi tempat atau area distrik tersebut. Sangat mencolok sekali kalau transportasi udara itu tengah memantau atau meliput sesuatu, apalagi dengan pergerakannya yang hanya mengelilingi Distrik Komersial.


"Bagus, akan semakin seru jika semua tindakan kita ditayangkan di televisi!" gumam Felix, menyeringai tipis dengan tatapan tajamnya. Laki-laki itu mengambil sebuah radio komunikasi yang tersimpan di saku dan kemudian berbicara, "bergerak, lanjutkan ke tahap selanjutnya!"


Di saat yang bersamaan, seorang laki-laki berjaket tebal putih mengendarai motornya dan berhenti tepat di sebelah mobil SUV milik Felix. Di bawah hujan yang masih deras dan merata itu, ia sama sekali tidak beranjak dari motornya setelah berhenti.


"Clovis, ini saatnya kau dan kelompok mu mengambil peran," ucap Felix, menoleh dan tersenyum licik kepada Clovis.


Clovis hanya diam, memilih untuk tidak banyak berbicara. Ia kemudian membuka pintu mobil itu, melangkah keluar, membiarkan tubuhnya basah kehujanan, dan kemudian berjalan mendekati pengendara motor tersebut sebelum.


***


Pihak kepolisian benar-benar dibuat cukup kesulitan, bahkan mereka terpaksa harus tarik mundur karena para tawanan yang masih berada dalam cengkraman para pelaku. Polisi-polisi itu perlahan mundur, dan bahkan hingga melewati perbatasan distrik hingga keluar. Kini di dalam distrik itu hanya berkuasa orang-orang berjaket merah atas para tawanan yang berhasil tertangkap.

__ADS_1


Namun setelah beberapa menit kemudian, beberapa orang dari mereka yang berjaket merah itu perlahan berjalan, melakukan pergerakan yang tertuju perlahan mendekati cincin perimeter milik aparat guna mengamankan jalannya persidangan. Meskipun hanya beberapa, namun tetap saja jumlah mereka sangatlah banyak, bahkan terdapat sepuluh orang lebih yang bergerak, sedangkan sisanya masih bersikukuh untuk menahan orang-orang tak bersalah itu berlutut dan menunduk di atas tanah yang mulai digenangi air hujan.


Kent yang menyaksikan pergerakan mereka pun mulai melaporkan dan mengirimkannya kepada Berlin, sesuai dengan permintaan serta arahan Berlin sebelumnya, dan kemudian dirinya segera beranjak pergi dari posisinya berada menuju ke lokasi yang sudah diberikan oleh Berlin.


Di belakang dari sebuah bangunan kafe kecil, Berlin menerima laporan dari Kent. Ia segera turun dari mobil, meninggalkan Sasha sembari memberikan perintah untuk wanita itu agar tetap berada di dalam mobil dan siap berpindah tempat lagi.


"Bos, apakah kau benar-benar yakin sendiri? Aku bisa turun dan mendampingi mu," ucap Sasha, menghentikan Berlin yang hendak turun dari mobil tersebut. Tatapan Sasha tertuju kepada salah satu kaki milik Berlin yang sepertinya belum benar-benar pulih, apalagi lelaki itu berjalan masih dibantu dengan tongkat.


Namun Berlin hanya menoleh dan menjawab, "jangan khawatir, akan ku pastikan mereka tidak akan sempat membuat perlawanan kepada ku," ucapnya sembari perlahan turun dari mobil dengan menggunakan satu tongkat bantu jalan miliknya.


"Sasha, aku perlu kau untuk bersiap di dalam mobil, selain itu ... aku juga membutuhkan dirimu untuk tetap memantau setiap pergerakan dari rekan-rekan kita." Berlin kembali ke sisi samping mobil, dan kemudian berbicara kepada Sasha melalui jendela kaca yang terbuka lebar.


"Baik, aku mengerti," sahut Sasha, mengangguk yakin dan serius, "berhati-hatilah, Bos ...!" lanjutnya.


Setelah melihat ekspresi yakin dan serius dari salah satu rekan wanitanya. Berlin pun segera beranjak pergi, melangkah masuk ke dalam sebuah gang kecil yang ada di belakang kafe yang kini sudah tutup seketika itu, dan kemudian berbelok dan berhenti di mulut gang yang berada tepat di tepi jalan utama.


Berlin menghentikan langkahnya, dan bersembunyi di balik sela-sela dinding serta pilar kecil yang ada pada gang tersebut. Tatapannya kemudian tertuju ke arah seberang jalan, di sana terdapat sebuah bangunan yang dijadikan toko baju. Di atap dari bangunan seberang dirinya sudah dapat melihat ada seorang laki-laki dengan mantel hitamnya yang sudah siap di atas sana. Sedangkan pada atap di bangunan sampingnya juga terdapat seorang laki-laki yang juga sudah siap di atas sana. Mereka berdua adalah dua personel dari aparat yang sudah mendapatkan arahan serta perintah dari Berlin untuk mengisi posisi tersebut.

__ADS_1


"Aku akan membuatmu bersinar pada momen ini," celetuk Berlin, berbicara dengan menatap tajam Revolver berwarna perak dengan moncong panjang yang kini berada di genggamannya.


***


Distrik Barat, Area Pelabuhan, dan Area Apartemen. Masing-masing regu atau tim yang sudah terbagi dari pihak Ashgard, kini telah melakukan persiapan dengan mengisi beberapa posisi kursial untuk melakukan serangan kejutan, atau lebih tepatnya adalah sergapan.


Asep dan rekan-rekannya, telah mengisi beberapa titik krusial seperti atap-atap bangunan dan beberapa titik buta yang sulit untuk dijangkau peluru. Dirinya dan juga timnya terlihat sudah sangat siap untuk menghadapi peperangan yang sepertinya tidak akan terhindarkan lagi.


Kimmy dan timnya juga telah mengisi serta menempati beberapa posisi serta titik yang sekiranya akan memiliki dampak besar dalam baku tembak yang akan terjadi. Apalagi wilayah yang Kimmy dan rekan-rekannya kuasai adalah Area Apartemen, yang terdiri dari gedung-gedung serta banyak bangunan dan juga rumah-rumah.


Di sisi lain, Adam dan rekan-rekannya juga telah siap di posisi masing-masing. Beberapa atap bangunan di Area Pelabuhan, dan juga beberapa area kontainer telah dikuasai oleh rekan-rekannya. Meskipun hanya dengan menggunakan pistol, sedangkan lawan banyak membawa senapan serbu. Namun Adam optimis dan yakin, bahwa posisi yang saat ini dimiliki oleh timnya lebih unggul, dan dapat dimanfaatkan untuk membungkam serta melumpuhkan banyak dari mereka.


Ketiga tim atau regu yang berbeda, di tiga wilayah yang berbeda tentunya. Mereka semua telah siap di posisi mereka masing-masing. Beberapa titik buta dan posisi krusial telah berhasil dikuasai, dan kini hanya tinggal melakukan penyergapan sesuai dengan rencana yang sudah Berlin bangun. Sungguh, Ashgard terlihat kompak dan terarahkan dengan sangat baik, bahkan hingga di detik ini semuanya cukup sesuai dengan ekspektasi Berlin. Meskipun ada sedikit perubahan rencana di awal karena pihak kepolisian yang tiba-tiba saja masuk. Namun dengan mundurnya polisi-polisi itu, kini Ashgard memiliki wewenang tertinggi untuk melakukan segala tindakan di setiap areanya, tanpa harus menghiraukan keberadaan polisi-polisi itu.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2