
Pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian, telah berakhir. Berlin akhirnya memiliki surat tersebut. Tak hanya itu, ia juga menjumpai sebuah titik terang setelah berbincang panjang dan cukup lama dengan Prawira mengenai saudara laki-lakinya yakni Carlos.
Berlin menyimpan surat keterangan itu di dalam sebuah amplop berwarna cokelat, dan menyimpannya di dalam dashboard mobil. Tepat pada pukul empat sore, pria bersama dengan istrinya baru selesai dari kantor polisi. Mereka beranjak dari sana lima belas menit kemudian.
Sembari menyetir, menyusuri keramaian lalu lintas, apalagi di saat-saat jam pulang kerja. Nadia tiba-tiba saja berucap, "kira-kira Akira bosan nggak, ya? Kita meninggalkannya lumayan lama," gumam bumil itu, terlihat cukup cemas dengan keadaan calon putri angkatnya, apakah bosan, ataukah sedang cemas menunggu kedua calon orang tuanya yang lumayan lama tak kunjung datang.
Berlin tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya, terdengar sekali dari intonasinya ketika berbicara. "Jangan khawatir, anak itu punya banyak teman di sana, lagipula ada Nyonya Helena dan Alana," ucap lelaki itu, tenang, sembari menepuk dan kemudian mengusap lembut salah satu bahu milik sang istri.
Nadia menghela napas, bersandar, santai di saat mobil yang ia kendarai menjumpai lampu lalu lintas yang berwarna merah. Berlin menoleh, menatap lembut istri cantiknya itu, meraih serta menggenggam salah satu tangannya dan berkata, "maaf, ya? Aku membuatmu menyetir seharian."
Nadia tersenyum, tertawa kecil, dan menyanggah apa yang diucap oleh Berlin dengan berkata, "aku melakukannya untukmu, jadi tidak perlu meminta maaf!"
"Apa jangan-jangan kamu lupa ingatan? Aku ini istrimu, Sayang. Dan aku akan melakukan apapun untuk membantumu, menemanimu, dan mendampingi dirimu selamanya, mau di manapun kamu berada!" lanjut Nadia, menyandarkan kepalanya pada bahu milik sang suami dengan senyuman yang seakan tidak pernah pudar.
Berlin terkekeh kecil mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri, "aku masih sehat, kok! Tentu saja aku nggak lupa, apalagi sama kamu yang paling aku sayang," cetus lelaki itu, sembari merangkul, dan membelai lembut rambut milik Nadia yang terurai sampai punggung.
"Kebiasaan!" dengus Nadia setelah mendengar rayuan yang dilontarkan oleh lelakinya. Namun senyumannya masih sulit untuk pudar, apalagi setelah mendengar apa yang baru saja Berlin katakan.
"Kebiasaan, tetapi kamu suka, 'kan? Aku bisa melihatnya dari ekspresi mu, loh! Apalagi kedua matamu yang indah itu tidak dapat mengelabui ku," ucap Berlin, tersenyum tipis, dan melakukan kontak mata langsung dengan jarak yang sangat dekat dengan sang istri.
Nadia seketika terdiam, membisu, dengan wajah yang perlahan merona. Jantungnya berdebar-debar begitu kencang, tak karuan, dan hatinya seolah tidak ingin menolak apa yang dilakukan oleh Berlin. Ditambah jarak antara wajahnya dengan wajah milik sang suami sangat dekat, bahkan mungkin terkikis secara perlahan-lahan. Tatapan Berlin yang tadinya serius, seketika berubah nanar, dan sangat dalam menatap kedua bola mata indah milik wanita itu, sebelum akhirnya tatapan tersebut perlahan turun menuju ke arah bibir tipis berwarna merah muda milik Nadia.
__ADS_1
BIM ... BIM ...!!!
Pasangan suami istri itu terkejut, mendengar suara klakson mobil yang antre di belakang. Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, dan waktu hitung mundur sudah berjalan lebih dari dua puluh detik. Dengan sigap, bumil itu segera fokus kembali atas kemudinya, dan segera menginjak pedal gas.
Berlin menghela napas, tersenyum-senyum sendiri, dengan lirikan yang seolah masih belum puas memandangi paras cantik yang merona itu.
"Sayang banget, padahal sedikit lagi ...! Nanti kita lanjut di rumah saja, ya?" celetuk Berlin.
"Hmphh!!" Nadia mendengus kesal. Namun Berlin hanya menanggapinya dengan tertawa kecil, merasa cukup puas menggoda istri cantiknya.
"Untung aja enggak ada orang yang tiba-tiba mengetok jendela, loh! Kalau sampai ada, 'kan aku malu!" cetus Nadia, pipiny masih merona, dan dengan nada yang terdengar cukup kesal, karena Berlin melakukan tindakan itu secara tiba-tiba, apalagi di saat menunggu lampu merah.
"Hehehe!! Maaf, abisnya wajah kamu imut banget di mataku pas aku gituin," sahut Berlin, menoleh, tertawa kecil dengan ekspresi seolah tidak berdosa.
"Berarti kalau di rumah boleh, ya?" sahut Berlin, bertanya dengan intonasi lugu.
"Y-ya, bo-bole--maksudku, terserah kamu ...!" jawab Nadia, dengan nada bicara mengecil, dan terlihat sangat gugup ketika berbicara.
***
"Papa!!" Akira berlari ke halaman, menyambut kedatangan Berlin dan Nadia yang akhirnya sampai juga di panti asuhan, setelah melalui kepadatan lalu lintas yang cukup menguji kesabaran.
__ADS_1
Anak itu berlari, menghampiri Berlin, dan langsung memeluk kakinya. Wajahnya riang sekali, sangat ceria. Tatapannya berbinar-binar, mendongak ke atas untuk dapat melihat wajah pria tersebut.
"Papa sama Mama lama banget," ucap Akira, menatap kepada Berlin, kemudian menoleh kepada Nadia yang kini sudah berada tepat di sampingnya.
"Maaf ya, sayang. Tadi ada sedikit urusan," ucap Nadia, sedikit berjongkok agar dapat lebih dekat untuk bertatapan dengan Akira.
Di belakang Akira, Nyonya Helena melangkah keluar, menuju rerumputan halaman, dan berhenti tepat di hadapan pasutri tersebut.
"Saya sudah selesai mempersiapkan suratnya," ucap Berlin, memberikan sebuah lampiran dokumen yang sedari tadi ia bawa. Helena tersenyum, menerima dokumen yang berisikan surat keterangan dari kepolisian itu.
"Lalu apa lagi yang harus saya persiapkan?" lanjut Berlin, bertanya.
"Hanya tinggal beberapa surat keterangan dan pernyataan yang nantinya bisa dibuat, tentu akan saya dampingi untuk membantu," jawab Helena, tersenyum, ramah. Namun belum selesai berbicara, Helena menambahkan, "tetapi itu akan memakan waktu lebih lagi, jadi saya menyarankan untuk besok agar kita bisa lanjutkan kembali. Bagaimana? Atau jika sekarang pun bisa saja, hanya saja mungkin sekitar jam tujuh sampai setengah delapan malam baru selesai."
Nadia menoleh kepada Berlin, menunggu keputusan lelakinya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Helena, tentu membuat Berlin diam sejenak untuk berpikir, karena di malam ini juga dirinya telah membuat janji pertemuan dengan Garwig.
"Besok saja, bagaimana?" ucap Berlin, kepada istrinya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Aku mengikuti keputusanmu," jawab Nadia, mengangkat kedua bahunya, tersenyum, patuh sekali. Salah satu tangannya terlihat terus menggenggam erat salah satu tangan milik Akira. Gadis kecil itu hanya berdiri di dekat Nadia, diam, dan menyimak pembicaraan ketiga orang dewasa dengan wajah polosnya. Anak itu tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu. Dirinya hanya diam, menunggu sampai kedua calon orang tuanya selesai atas pembicaraan mereka dengan wanita paruh baya bernama Nyonya Helena, atau lebih akrab di kepalanya dengan panggilan Bunda.
Berlin pun membuat keputusan dengan Helena, untuk menyelesaikan sisanya di keesokan hari.
__ADS_1
.
Bersambung.