Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Permainan Dimulai! #73


__ADS_3

Pada sore hari tepat saat matahari berada di ujung ufuk barat. Suasana kota yang sebelumnya damai berubah menjadi mencekam dan mengerikan. Suara sirine meraung-raung tanpa henti mewarnai suasana sore hari ini. Tidak hanya polisi saja yang terlihat banyak mondar-mandir di jalanan kota, melainkan juga dengan beberapa ambulans yang terlihat melaju kencang menuju rumah sakit dengan membawa pasien. Arah dari ambulans tersebut berasal dari pusat kota, tepatnya berasal dari sebuah gedung bernama "Bank Central Metro".


Gedung atau bangunan dari bank tersebut terlihat sangatlah kacau. Berkali-kali terjadi baku tembak di sana antara kepolisian setempat dengan orang-orang berbaju putih dan bersenjata lengkap. Korban-korban pun juga ikut berjatuhan, tak hanya korban dari kedua belah pihak yang saling bertukar peluru saja, melainkan juga melibatkan cukup banyak warga sipil dan pegawai bank itu.


Beberapa korban dari warga sipil berhasil dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans-ambulans itu. Namun tidak dengan korban dan tawanan yang ada di dalam bank. Mereka terpaksa harus terjebak di sana di antara puluhan orang-orang bersenjata itu.


Pihak kepolisian bergerak cepat ke lokasi terjadinya perampokan, dan langsung mengepung gedung tersebut. Pasukan taktis juga ikut diturunkan, bahkan jumlah personel yang dilibatkan tidak main-main. Satu helikopter mengudara mengitari gedung itu sembari memberikan pantauan udaranya untuk unit darat.


Kepanikan terjadi di masyarakat. Dalam waktu sekejap, area sekitar bank tersebut langsung diamankan oleh pihak berwajib. Masyarakat terutama awak media yang cekatan dalam meliput berita juga diminta untuk tetap menjauh dari lokasi kejadian perkara.


Ketika di luar sedang terjadi kepanikan dan ketegangan. Farres tampak begitu santai dan tenang di dalam bangunan bank itu. Dirinya duduk di sebuah kursi besar yang letaknya tak jauh dengan brankas tempat penyimpanan uang dari bank tersebut. Yang berada di sekitar brankas itu hanya ada dirinya dan beberapa anak buahnya. Sisanya berada di lobi bank, dan menjaga para tawanan yang berjumlah sekitar 30 orang.


"Tempat ini sudah dikepung oleh kepolisian, kita akan sulit bergerak lagi." Seorang pria yang menjadi salah satu anak buahnya datang memberikan laporan tersebut. Namun Farres tampak begitu tenang dan santai saja mendengarnya, seolah itu tidak akan menjadi masalah buatnya dan kelompok Clone Nostra.


"Jangan khawatir, Doma telah menyiapkan sesuatu yang besar juga di luar sana. Di saat yang bersamaan, ketiga wilayah akan kita buat seperti gelas kaca yang jatuh. Semuanya pecah dan berantakan tak karuan dalam sekejap," ucap Farres menyandarkan senapan serbunya di dinding belakang kursi yang ia duduki, dan kemudian mengangkat kedua kakinya di atas meja sembari bersandar santai.


"Lalu, mau kita apakan para tawanan itu?" cetus pria lain padanya.


Farres tampak tersenyum sinis mendengar pertanyaan itu. Dengan lirikan tajam yang penuh dengan pemikiran jahat, ia menjawab, "lakukan sesuka kalian, bersenang-senanglah sepuasnya ...!" ucapnya kemudian mengembankan senyuman tipis yang penuh dengan arti kejahatan.


Farres tampak sangat tidak peduli dengan para tawanan yang ada di dalam bank ini. Dirinya membebaskan para anak buahnya untuk bertindak sesuka hati mereka terhadap para tawanan yang ada, meskipun mungkin nantinya akan menjadikan nyawa sebagai taruhannya.


"Kumohon jangan!"

__ADS_1


"Jangan lakukan itu!"


"TIDAK!!"


Sesaat kemudian setelah Farres memberikan kebebasan kepada anak buahnya terhadap para tawanan itu. Suara-suara teriakan disusul dengan tangisan kesakitan dari para wanita dan pria yang menjadi tawanan pun terdengar. Entah apa yang mereka lakukan terhadap para tawanan ini, Farres benar-benar terlihat tidak peduli.


Farres melihat sebuah jam tangan yang melingkar pada pergelangannya dan kemudian bergumam, "sesaat lagi."


BOOM!!!


Ledakan tiba-tiba saja terjadi di pintu paling depan bank, dan dalam sekejap baku tembak terjadi lagi dengan sangat intens antara aparat dan komplotan pelaku. Aparat benar-benar merangsek masuk dan langsung melindungi para tawanan yang ada di lobi dengan perisai-perisai yang mereka bawa sembari memberikan tembakan perlindungan.


Dalam sekejap, gedung itu menjadi tempat yang berdarah. Banyak korban berjatuhan baik dari pihak aparat, pihak pelaku, dan juga warga sipil yang menjadi tawanan. Namun korban terbanyak berada di pihak komplotan pelaku dan para tawanan.


Beberapa anak buahnya terlihat sedikit panik dengan para aparat yang semakin mendesak mereka. Namun Farres tetap terlihat begitu tenang, seolah ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ini sesuai dengan rencana, kalian jangan khawatir," ucapnya kemudian menyeringai tipis dengan tatapan tajam. "Kalian bawa uang-uang itu jika kalian ingin, kita akan pergi sesaat lagi," lanjutnya.


***


Di waktu yang sama namun di sudut pandang yang berbeda. Prawira dan Garwig yang tengah menangani sebuah kasus atau peristiwa mengerikan yang tiba-tiba saja terjadi di Bank Central Metro. Mereka berdua kembali dikejutkan dengan dua laporan yang sama di kedua wilayah yang berbeda. Tepatnya pada sebuah bank di daerah Shandy Shell, dan juga sebuah bank lagi di area Paletown.


Dalam kurun waktu hanya lima belas menit. Tiga bank yang memiliki posisi krusial di ketiga wilayah tengah mengalami perampokan, dan tiga-tiganya dalam kasus perampokan bersenjata serta penyanderaan.

__ADS_1


BraakK ...!!!


Prawira sempat menggebrak meja kerjanya setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh kelompok bernama Clone Nostra itu. Dirinya bersiap-siap dengan seragamnya dan juga sebuah pistol miliknya, dan kemudian beranjak keluar dari ruang kerjanya di kantor polisi pusat.


Dirinya tidak sendirian, karena selalu ada sekertarisnya yaitu Netty yang menemaninya. Seluruh anggota kepolisian bahkan termasuk unit-unit krusial dalam menangani kasus-kasus ini telah dikerahkan, dan kini hanya ada beberapa aparat saja berjaga di kantor polisi.


Di kala Prawira sedang berjalan menuju halaman parkir dan mobil dinasnya. Tiba-tiba saja Garwig datang ke kantor polisi dan langsung berjalan menghampirinya.


"Mereka sudah benar-benar bergerak, permainan mereka tampaknya sudah dimulai," ucap Garwig langsung berjalan berdampingan dengan Prawira dan Netty.


"Ya, mohon kerjasamanya, Garwig," sahut Prawira kemudian masuk ke dalam sebuah mobil dinas milik petinggi kepolisian.


"Prawira, lakukan sesuai prosedur terlebih dahulu! Aku akan mencoba untuk menanganinya dari baliknya," ucap Garwig kepada Prawira yang sudah berada di kursi pengemudi melalui jendela kaca mobil yang dibuka.


"Baik, dan apakah aku harus menetapkan status kota siaga satu?" tanya Prawira.


Garwig menggelengkan kepalanya dan menjawab, "jangan dahulu, kurasa terlalu cepat dan terlalu mudah terbaca oleh mereka."


"Status siaga saja cukup untuk sementara, dan kita perketat beberapa tempat krusial di kota," lanjut Garwig.


Prawira mengangguk paham dengan tatapan tajam ke arah Garwig, begitu pula dengan Garwig yang ikut mengangguk ke arahnya. Sesaat kemudian, Prawira pun segera melajukan mobilnya dan pergi dari sana menuju ke lokasi pertama kejadian perampokan.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2