Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pantauan Kamera Pengawas Tengah Malam #210


__ADS_3

Pukul 23:00 malam, Kediaman Ashgard.


Asep terlihat sedang duduk bersantai di ruang kerjanya, di depan layar komputer miliknya yang terus menyala. Laki-laki itu terlihat sedang bersantai, ditemani dengan satu cangkir kopi hangat yang ada di atas mejanya, dan sebuah permainan daring yang ada pada ponsel pintarnya. Kegiatannya santai itu berjalan mulus, sampai di mana dirinya mendapatkan sebuah panggilan suara dari Berlin lima belas menit kemudian.


"Ada apa, Bos?" tanya Asep pada panggilan suara tersebut.


"Nadia mendapatkan panggilan ancaman yang ditujukan kepadaku, dan aku mau kau mencaritahu siapa orang di balik nomor kontak asing yang akan ku kirimkan kepadamu. Apakah bisa?" jawab Berlin.


"Tentu saja, bagikan kontak itu, dan serahkan saja padaku kalau soal yang seperti ini!" sahut Asep, bersemangat.


"Baik, terima kasih, Sep!" ujar Berlin, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan suara tersebut.


Panggilan suara yang begitu singkat. Sesaat setelah panggilan itu berakhir, Asep pun menerima kontak yang dibagikan oleh Berlin melalui ponselnya. Dirinya pun segera mengerjakan perintah dari Berlin, dan segera untuk beraksi.


"Akhirnya ada tugas mencaritahu tentang seseorang," gumam Asep, terlihat sungguh antusias ketika jemarinya mulai lihai memainkan papan ketik dan tetikus miliknya.


Laki-laki itu terlihat fokus sekali dengan layar utama komputer miliknya. Beberapa data penduduk milik pemerintah ia periksa, sekaligus mencari setiap nomor kontak milik masing-masing warga yang berjumlah lebih dari ribuan orang. Beruntung komputer yang digunakannya adalah fasilitas pemerintah, maka dirinya tidak begitu kerepotan untuk membuka data-data tertutup dan rahasia itu.


"Sibuk banget, apakah Berlin menyuruhmu melakukan sesuatu?" tanya Kimmy yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu masuk ruangan.


"Ya, dia menyuruhku untuk mencaritahu siapa orang dibalik telepon ancaman yang terjadi pada Nadia," jawab Asep, fokusnya tidak teralih dari layar utama.


"Telepon ancaman? Lalu Nadia yang mendapat ancaman itu?!" sahut Kimmy, mengerutkan dahinya.


"Begitulah," jawab santai Asep, sembari mengetik sesuatu menggunakan papan ketiknya.

__ADS_1


"Berani-beraninya! Siapa orangnya?!" sahut Kimmy mendengus kesal dengan kedua lengan terlipat di atas dada.


"Ini sedang aku cari tahu siapa orangnya," jawab Asep, kemudian menyeruput kopi hangat miliknya.


Sembari mengetik sesuatu, Asep bertanya kepada Kimmy, "yang lain sudah pada istirahat? Tumben sepi banget jam segini."


Kimmy bersandar pada pintu ruangan, tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya dan kemudian menjawab, "enggak mungkin banget teman-teman jam segini sudah pada tidur," ucapnya kemudian melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh malam.


"Mereka ada di asrama belakang, sedang asyik main kartu tuh di sana," lanjut wanita itu.


Suasana di bangunan utama malam menuju ke tengah malam ini memang sangatlah sepi, sunyi, bahkan gelap, kecuali ruang kerja milik Asep yang begitu terang. Teman-temannya sudah berpindah menuju ke asrama, dan menghabiskan waktu mereka sambil beristirahat di bangunan tersebut.


"Tadinya aku ke sini mau mengajakmu untuk bergabung, tetapi sepertinya kau sedang sibuk, jadi aku mengurungkan niatku," ucap Kimmy dengan senyuman hangat yang terpampang melihat rekan laki-lakinya itu.


"Haha!" Asep sempat tertawa kecil, menghentikan sejenak aktivitasnya yang sedari tadi mengetik serta memeriksa setiap tabel yang ada pada layar monitornya, dan kemudian menoleh ke arah Kimmy yang berdiri di belakangnya.


"Lagipula aku jauh lebih menyukai pekerjaanku daripada memainkan kartu-kartu itu, karena dengan berada di sini aku bisa selalu dekat dengan mesin-mesin ini," lanjut Asep, bersandar santai pada kursinya, dan memandangi setiap layar yang menempel di dinding hadapannya, serta beberapa komputer yang ada di ruangannya, "dari dahulu aku selalu memimpikan untuk dapat memiliki ruang kerja yang seperti ini," gumamnya dengan intonasi yang terdengar sungguh rendah.


Kimmy hanya mengangguk, tersenyum lembut dan kemudian berkata, "baiklah, tetapi jangan lupa untuk istirahat! Kau tahu kalau Berlin pasti akan marah bila kau sampai lupa waktu, 'kan?"


"Tenang saja!" sahut Asep berseru, dan kemudian kembali fokus kepada layar utama miliknya kembali.


"Kalau begitu aku pergi dahulu, jika kau membutuhkanku tinggal kirimkan pesan!" ucap Kimmy, hendak beranjak pergi dari ruangan tersebut.


"Oke!" sahut singkat Asep seraya mengacungkan satu jempolnya, namun tanpa menoleh dan melihat ke arah wanita itu.

__ADS_1


Kimmy hanya melempar senyumannya melihat betapa antusias dan semangatnya laki-laki itu, apalagi ketika dipercaya oleh Berlin untuk mengerjakan sesuatu. Perempuan itu pun kemudian beranjak pergi dari sana, tidak ingin terlalu mengganggu segala aktivitas yang dikerjakan oleh Asep.


"Nice!" seru Asep tiba-tiba. Pada layar utama miliknya kemudian muncul sebuah profil dari seseorang di balik kontak tidak dikenal yang dikirim oleh Berlin. Dirinya telah berhasil, dan kemudian mengirimkan kabar tersebut kepada Berlin melalui pesan singkat.


Pesan singkat yang ia kirim pun segera dibalas oleh Berlin, dan pria itu meminta kepada dirinya untuk membuat arsip lampiran mengenai profil seseorang tersebut. Tentu hal itu langsung dikerjakan oleh Asep tanpa berpikir panjang dan menunggu lama.


Di tengah pengerjaannya membuat arsip lampiran profil orang itu. Pandangan Asep tiba-tiba saja tertarik dan tertuju ke layar monitor dua yang ada di sudut kiri atas. Layar tersebut adalah layar yang menampilkan setiap gambar atau rekaman yang ditangkap oleh beberapa kamera pengawas milik kepolisian yang terpasang di beberapa sudut kota.


"Bukankah mereka ...?!" gumam Asep, menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap tajam dan fokus pada layar tersebut yang memperlihatkan adanya pergerakan sekelompok orang berjaket ungu di sebuah toko kelontong kecil yang ada di dalam sebuah gang.


Orang-orang itu bersenjata api, mereka tampak masuk ke toko kelontong yang sudah tutup itu dengan paksa, bahkan melancarkan tembakan dan menyebabkan kaca-kaca pada toko tersebut pecah.


"Tidak, ini tidak mungkin! Seharusnya Cassano sudah dibubarkan, tetapi mengapa mereka malah merampok sebuah toko?!" Asep meninggalkan pekerjaannya sejenak, berpindah menggunakan kursornya, dan kemudian segera menyimpan rekaman tersebut serta mengarsipkannya.


"Tidak, mereka bukan sedang merampok," cetus suara seorang laki-laki dengan intonasi datar yang berasal dari belakang Asep. Sontak suara mengejutkan Asep, dan membuat dirinya langsung menoleh ke belakang. Ketika menoleh, dirinya mendapati bahwa yang berbicara di belakangnya secara tiba-tiba adalah Kent.


"Astaga, kau mengejutkan saja!" dengus Asep sembari menghela napas dan sedikit menunduk dengan mata terpejam sejenak.


"Maaf, aku tiba-tiba datang karena penasaran melihat pintu ruanganmu dibiarkan terbuka dan terlihat paling terang di antara kegelapan," jawab Kent, tenang, berdiri dengan satu kaleng minuman dingin di salah satu genggaman tangannya.


"Tidak apa," sahut Asep kemudian bertanya, "lalu apa maksudmu kalau mereka bukan sedang merampok?"


"Lihat saja, apakah mereka terlihat sedang mengincar serta mengambil sesuatu dari toko itu?" jawab Kent dengan pandangan tertuju ke arah layar monitor tersebut, kemudian meminum menimuman kalengnya setelah selesai berbicara.


"Kurasa kau benar, mereka ... hanya ... merusaknya," ujar Asep, bergumam dengan intonasi rendah dan tatapan yang tertuju pada salah satu layar monitor itu.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2