Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tiga Ledakan #128


__ADS_3

"Dasar, tidak berguna!" gusar Karina mendorong keras salah satu anak buah prianya hingga tersungkur. Ia merampas senapan serbu yang dibawa oleh anak buahnya itu, dan kemudian berlari maju sembari terus menembaki Berlin yang masih bersembunyi di balik pilar.


Wanita berjas putih itu maju begitu saja, sembari beberapa kali menembak ketika Berlin dan Flix hendak muncul dari persembunyian untuk melakukan perlawanan.


Karina benar-benar berada di depan dari seluruh anak buahnya. Terlihat dari matanya bahwa dirinya cukup berambisi dan berhasrat tinggi untuk menghabisi pria bernama Berlin itu. Apalagi dirinya juga mengetahui bahwa kondisi kesehatan Berlin tidaklah stabil, dengan satu kaki yang cedera sudah jelas akan membuat Berlin tidak dapat mundur dan kabur.


"Dia memang wanita yang gila," celetuk Flix.


Flix dan Berlin dibuat tidak dapat bergerak sedikitpun, bahkan untuk melakukan perlawanan saja sangatlah sulit. Karina terus menembaki mereka berdua, bahkan beberapa peluru hampir mengenai tubuh mereka.


"Jika kau ingin mundur, kau bisa tinggalkan aku di sini, Flix." Berlin berbicara demikian secara tiba-tiba kepada Flix.


Flix langsung menyanggah, "sepertinya mundur adalah pilihan untuk bunuh diri."


Berlin terkekeh kecil dan berkata, "ya, kurasa kau benar." Dirinya kembali mengintip dan melihat keberadaan Karina dan anak-anak buahnya berada.


"Berlin, kurasa dia masuk ke dalam rencanamu," cetus Flix.


Posisi atau keberadaan Karina kini cukuplah dekat dengan pilar-pilar yang digunakan oleh Flix dan Berlin untuk berlindung. Tak hanya Karina seorang, namun juga hampir seluruh dari komplotannya yang kini terfokus dengan keberadaan Berlin. Mereka tampaknya benar-benar ingin membunuh atau menghabisi Berlin.


Berlin menekan tombol bicaranya, mendekatkan radio komunikasi tersebut pada mulutnya dan kemudian berbicara, "mereka terpancing oleh ku, ambil kesempatan kalian dan lakukanlah sekarang! Habisi mereka dari belakang!"


BOOMM ...!!!


Beberapa saat setelah Berlin berbicara kepada rekan-rekannya. Ashgard kini keluar dari persembunyian mereka dan memberikan perlawanan telak terhadap komplotan milik Karina dari arah belakang.


"JANGAN LUPAKAN KAMI, BODOH!!!"


"KAMI MASIH DI SINI!!!"


Celetuk beberapa rekan dari Adam dan Kimmy, mereka berlari ke arah komplotan orang itu dari belakang dan kemudian menyergap mereka. Baku hantam dan baku tembak pun terjadi, tanpa adanya tempat perlindungan. Ashgard terlihat tidak takut, mereka menggunakan beberapa badan milik lawannya untuk digunakan sebagai perlindungan dari beberapa peluru yang melayang.


"ACKK ...!!!"

__ADS_1


Craaatt ...!!


"Sial!"


Sebuah pisau melayang dan berhasil melukai lengan kiri milik Galang, beruntungnya ada beberapa rekannya yang langsung membantu untuk menghajar orang yang menghajarnya.


"Kau tidak apa?!" tanya Adam.


"Tidak masalah, fokus saja dahulu!" sahut Galang memegangi lengan kirinya yang berdarah-darah.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja muncul regu milik militer yang berdatangan dari arah belakang Berlin, lebih tepatnya pintu belakang gedung. Mereka datang dan langsung memberikan tembakan perlindungan untuk Adam dan rekan-rekannya, serta menghajar seluruh orang dari Clone Nostra yang ada di sana.


Mengetahui pihaknya benar-benar tidak diuntungkan. Karina hendak langsung melarikan diri dari pertempuran yang terjadi di aula tersebut. Namun langkahnya tiba-tiba saja dihentikan oleh sosok wanita berjaket hitam dari Ashgard.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?!" cetus sosok wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kimmy.


Kimmy berdiri menghalangi jalur Karina untuk melarikan diri ke arah bagian depan Gedung Balaikota, entah untuk memanggil bala bantuan dari Clone Nostra atau apapun itu. Tetapi Kimmy tidak ingin membiarkan langkah Karina untuk melarikan diri.


Tatapan tajam Karina menatap kedua mata milik Kimmy. Ia mengambil dan menggenggam sebuah pisau kecil dari dalam kantongnya. Sedangkan Kimmy hanya bermodalkan tangan kosong.


"HYAAATT ...!!!"


***


Di sisi gedung bagian timur, Prawira dan timnya menemukan sebuah lobang pada dinding yang tampaknya habis diledakkan oleh sesuatu. Reruntuhan dinding tersebut tembus ke dalam ruangan yang digunakan untuk mengurung Berlin. Dirinya menemukan sebuah ikatan tambang yang terputus di ruangan tersebut.


"Pak, para tawanan berhasil kami amankan, mereka berada di halaman belakang gedung."


Prawira tiba-tiba mendapatkan laporan dari salah satu aparatnya, "apakah kalian dapat membawa dan mengamankan mereka menuju ke Barakuda?" tanyanya.


"Bisa, pak! Beberapa aparat militer juga bersedia membantu," ucap aparat polisi berpakaian taktis serba hitam itu kepada Prawira.


"Lakukan segera!"

__ADS_1


Regu berjumlah lima belas orang itupun terbagi menjadi dua, sepuluh orang memiliki misi atau tugas untuk mengamankan para tawanan sesuai dengan perintah Prawira. Sedangkan lima lainnya akan tetap berada dekat dan terus mengikuti Prawira.


"Kalian berlima ikut saya!" tunjuk Prawira kepada lima anggotanya, sesaat setelah regu berjumlahkan sepuluh orang itu pergi menuju halaman belakang melalui pinggiran gedung.


Prawira membuka pintu ruangan, dan keluar dari ruangan tersebut yang tampaknya berada di ujung lobi Gedung Balaikota. Bersama dengan lima anggotanya, dirinya bersembunyi di balik beberapa rak buku yang berukurang sangat besar. Suasana lobi gedung tersebut sangatlah sepi dan sunyi, tidak terlihat adanya orang-orang dari Clone Nostra. Tampaknya Clone Nostra lebih fokus di bagian luar gedung.


DORR ...!!! DOR ...!!!


"Pak, sepertinya ada keributan di area tengah," cetus salah satu anggotanya dengan berbisik.


Prawira dan timnya dapat mendengar dengan jelas adanya suara keributan dan baku tembak yang bersumber dari aula utama gedung. Dirinya mendapatkan informasi, dan mengetahui kalau Ashgard ada di dalam gedung ini. Ketika ia mendengar suara keributan yang berasal dari aula utama gedung, dalam benaknya langsung berasumsi bahwa Ashgard terlibat di sana.


"Kita bergerak ke aula utama, persiapkan senjata kalian! Dan ingat! Jangan tembak orang-orang berjaket hitam," ucap Prawira kepada kelima rekannya.


"Baik!"


"Diterima!"


***


Beberapa hutan yang ada di perbukitan perbatasan antara Kota Metro dan Shandy Shell kini dipenuhi oleh orang-orang berbaju merah dan ungu. Mereka melakukan pergerakan pelan dan senyap di antara pepohonan itu. Tujuan mereka adalah Gedung Balaikota.


"Meskipun aku sudah menduganya, tetapi tetap saja aku sangat tidak mengharapkannya," gumam seorang pria bermantel hitam. Pria tersebut adalah Carlos Gates Matrix.


Carlos kini berada di antara pepohonan yang ada di salah satu titik perbukitan kota. Dirinya tampak menunggu sesuatu di antara pepohonan dan semak belukar itu. Sebuah pistol berwarna perak terlihat mengkilap menggelantung pada sarung pistol yang ada di pinggangnya.


Carlos menghela napas, bersandar santai di salah satu pohon dan kemudian memejamkan mata sesaat. Cuaca hujan kini sudah reda, namun suasana awan mendung dan gelap masih tetap tinggal. Angin berhembus cukup kencang dan terasa dingin. Suara baku tembak peperangan yang terjadi di Gedung Balaikota dapat terdengar meskipun jaraknya berada sangat jauh dari bangunan pemerintah itu.


BOOMM ...!!! BOOOMMM ...!!!! BOOMMM ...!!!!!


Tiga ledakan tiba-tiba saja terjadi di tengah hutan perbukitan kota. Suara ledakan-ledakan tersebut membuat Carlos kembali membuka matanya, dan kemudian bergumam, "sepertinya mereka telah menginjak perbatasan yang ku buat."


"Tiga ledakan, ya? Baiklah, berarti jumlah mereka sangatlah banyak," lanjut Carlos berdiri tegap, dan mengambil serta menggenggam pistol berwarna perak miliknya. Tatapannya tajam mengarah ke arah Utara, arah di mana perbatasan antara Perbukitan Kota Metro dan Shandy Shell berada.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2