
Satu pekan telah berlalu, dan selama satu pekan itu tidak ada berita tentang kriminalitas yang terjadi. Satu pekan itu berjalan dengan sangat damai dan tenang. Tetapi hal ini justru membuat Ashgard termasuk Berlin semakin curiga dan waspada.
Meski begitu, di siang hari ini Berlin tidak disibukkan dengan pekerjaannya untuk sementara. Saat ini dirinya sedang ingin menemani istrinya untuk berkunjung ke panti asuhan. Nadia tampak sangat senang ketika akan mengunjungi panti asuhan di mana dirinya berasal.
"Apakah ada yang tertinggal?" tanya Berlin setelah selesai menata beberapa kardus berisikan mainan di dalam mobilnya. Dirinya dan Nadia ingin memberikan mainan-mainan itu untuk anak-anak di panti asuhan.
"Tidak ada, yuk!" jawab Nadia lalu segera masuk ke dalam mobil. Ia terlihat sangat bersemangat sekali untuk hal ini.
"Iya, iya, yuk berangkat!" Berlin pun ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi. Dirinya dapat melihat wajah cantik nan ceria dari istrinya yang duduk di sampingnya. Semangat itu sangat membara dan bahkan Nadia terlihat sudah tidak sabar untuk sampai ke panti asuhan yang akan dikunjunginya.
Berlin pun melajukan mobilnya menuju ke Distrik Timur melalui lalu lintas yang cukup padat di jam-jam kerja siang ini. Dirinya harus bersabar karena harus melalui sedikit kemacetan yang terjadi.
"Kira-kira bagaimana kabar mereka, ya? Sudah lama kita tidak berkunjung ke sana," ucap Nadia bertanya kepada Berlin soal anak-anak di panti asuhan itu.
Berlin tersenyum dan menjawab, "mereka pasti baik-baik saja ... apalagi Akira."
"Akira, ya? Anak itu ... benar-benar mengingatkan diriku ketika masih bocah," gumam Nadia lalu tersenyum dengan sendirinya. Sedangkan Berlin hanya tersenyum diam sembari melirik istrinya itu.
"Ish! Lama banget sih macetnya!" gusar Nadia seraya mengerucutkan bibirnya. Ia tampak tidak sabar sekali untuk bisa melalui kemacetan yang terjadi.
Berlin tertawa melihat sikap tidak sabar itu, "sabar, sayang. Kamu terlalu bersemangat, ya?" ucapnya menoleh kepada Nadia di sampingnya.
Nadia diam dan menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang merona. "Maaf, hehehe," ucapnya lalu sedikit tertawa kecil.
Secara tiba-tiba Berlin memegang dan mengelus mesra kepala milik wanitanya lalu berkata, "tidak apa, aku suka dengan dirimu yang seperti itu, dirimu yang selalu ceria seperti biasanya," ucapnya seraya menatap lembut Nadia.
Apa yang dilakukan Berlin cukup untuk membuat Nadia kikuk dan gugup seketika. "Dasar, ka-kamu ini suka seenaknya, deh!" gerutu Nadia menatap Berlin dengan ekspresi marahnya dan bibirnya yang mengerut, namun dirinya tidak menolak dengan tindakan lelaki terhadapnya.
Berlin justru suka dengan ekspresi yang imut baginya, ia tersenyum dan berkata, "hentikan ekspresi itu, atau aku akan terus menggodamu ...!" pinta lalu memalingkan pandangannya kembali ke jalan karena antrian mobil di depannya sudah mulai melaju.
"Ya, se-sebenarnya ... tidak masalah, sih." Nadia memalingkan wajahnya dari hadapan Berlin dan berbisik-bisik dengan sendirinya.
"Apa?" cetus Berlin mendengar bisikan-bisikan itu.
"Eh, ti-tidak, tidak ada apa-apa, kok!" sahut Nadia gelagapan dan gugup dengan pipi yang sudah merona sedari tadi.
***
Pukul 12:24 siang.
Berlin dan Nadia pun akhirnya sampai di sebuah panti asuhan yang letaknya berada di Distrik Timur. Kondisi panti asuhan saat ini terlihat ramai dengan anak-anak yang sedang bermain di halamannya. Nadia menatap senang anak-anak yang terlihat ceria ketika bermain-main di halaman panti asuhan tersebut.
Melihat sebuah mobil yang berhenti dan parkir di depan halaman, membuat beberapa anak di sana berlari masuk ke dalam panti asuhan dengan sedikit ketakutan, namun beberapa justru mendekat ke pagar halaman dengan ekspresi polos dan tatapan penasaran.
"Wah, mobilnya besar sekali."
"Iya."
__ADS_1
"Keren!"
Anak-anak itu menatap kagum mobil yang berhenti di depan halaman. Mendengar keramaian anak-anak itu, seorang wanita paruh baya berjalan keluar dari panti asuhan untuk melihat siapa yang datang berkunjung.
Nadia turun terlebih dahulu dari mobil, dan langsung menemui wanita paruh baya itu dengan sangat bersemangat. Dirinya sedikit berlari dan langsung memeluk wanita paruh baya itu seraya mengatakan, "sudah lama tidak bertemu ya, Ibu?"
Orang yang ia sebut 'Ibu' itu menyambut hangat kedatangan Nadia. Ia tersenyum ramah dan berkata, "aku kira siapa yang datang berkunjung."
Dia adalah Ibu Helena, orang yang mengurus panti asuhan tersebut dan juga anak-anak yang tinggal.
"Lalu, di mana suamimu? Kamu berkunjung ke sini sendirian?" tanya Ibu Helena.
Nadia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Berlin sedang mengambil beberapa barang di mobil, kami ingin memberikan sesuatu untuk anak-anak di sini."
Di saat yang bersamaan, Berlin datang dengan membawa tiga tumpukan kotak kardus di tangannya. Ibu Helena tersenyum dan terlihat sangat senang. Ia pun segera menjamu tamu yang datang dan mengajaknya masuk ke dalam panti asuhan.
"Ya ampun, kenapa harus repot-repot?" ujar Ibu Helena duduk di ruang tamu bersama Berlin dan Nadia.
"Kebetulan kami punya beberapa mainan yang tidak terpakai dan kondisinya masih sangat bagus, dari pada terbuang sia-sia, maka dari itu kami ingin memberikannya untuk anak-anak di sini." Nadia berbicara kepada Ibu Helena seraya membuka tiga kotak kardus yang terletak samping sofa.
"Terima kasih banyak, lagi-lagi kalian membantu kami," ucap Ibu Helena lalu berjabat tangan dengan Nadia dan Berlin dengan ekspresi sangat senang.
Berlin tersenyum dan berkata, "jika memerlukan hal yang lain, katakan saja pada kami, barangkali kami bisa membantu."
Di tengah perbincangan, tiba-tiba beberapa anak perempuan dan laki-laki datang menghampiri dengan wajah-wajah penasaran mereka. Mereka terlihat sangat ingin tahu isi dari kotak-kotak kardus itu, dan ditambah lagi mereka sempat mendengar kata-kata soal 'mainan'.
"Kak Berlin! Kak Nadia!" seru Akira berlari dengan ekspresi sangat senang dan lalu memeluk mereka berdua.
Di belakang Akira terdapat Alana yang berjalan mengikuti gadis kecil itu. Alana adalah seorang wanita berusia 24 tahun, dan ia adalah putri kandung Ibu Helena. Ia juga memiliki peran yang sangat penting bagi panti asuhan tersebut, dan sangat dekat dengan anak-anak di sana.
"Akira kangen!" cetus Akira ketika duduk dan berada di antara kedua orang itu.
"Selama nggak ketemu, di sini Akira nggak nakal, 'kan?" tanya Nadia seraya mengelus kepala anak perempuan itu dengan perlahan dan lembut.
"Nggak, dong!" sahut Akira lalu tersenyum lebar. "Kak, ini kardus apa?" lanjutnya bertanya ketika melihat tiga kardus yang ada di sana dengan sangat penasaran.
Berlin tersenyum dan menjawab, "ini isinya mainan!" kemudian Ia beranjak dari sofa itu dan membawa kardus-kardus itu menuju ruang tengah. "Yuk, kita buka kardusnya!" ajak Berlin kepada Akira dan anak-anak lainnya.
"Ayo!" sahut Akira.
"Aku mau mainan!"
"Isinya mainan apa, ya?"
Semua anak-anak di sana seketika mengikuti langkah Berlin dan berkumpul di ruang tengah. Di ruang tengah terdapat sebuah karpet yang amat luas, dan di sanalah Berlin membuka kardus-kardusnya serta mengeluarkan semua mainan di dalamnya.
"Aku mau ini!" seru seorang anak perempuan lalu mengambil sebuah boneka dari dalam kardus.
__ADS_1
"Aku juga!" sahut anak perempuan lain yang tampaknya menginginkan mainan yang sama.
"Jangan berebut, ya? Kalian pasti kebagian, kok! Atau kalian juga bisa saling bergantian." Dengan sangat sabar dan telaten Berlin mengatasi anak-anak itu agar tidak bertengkar karena berebut mainan.
"Bergantian?" tanya anak perempuan itu dengan wajah polosnya.
"Ya! Jika sudah selesai, kamu bisa memberikan mainan mu kepada yang lain agar yang lain bisa memainkannya juga!" jawab Berlin dengan sikap yang sangat ramah dan tidak seperti biasanya. Ia juga terlihat sangat sabar sekali ketika menghadapi anak-anak itu.
"Lihat! Di sini ada mobil yang tadi kita lihat di luar juga!" seru seorang anak laki-laki mengambil mobil-mobilan yang hampir mirip dengan mobil yang dikendarai Berlin.
"Wah, iya!" cetus beberapa anak laki-laki lainnya.
"Keren!"
Ibu Helena, Alana, dan juga termasuk Nadia melihat semua itu. Nadia sendiri merasa sangat senang ketika melihat Berlin bisa langsung sangat akrab dengan anak-anak di sana. Dan dirinya juga tidak dapat melihat sikap dingin nan menakutkan yang biasanya selalu Berlin tunjukkan. Seolah semua sikap dingin itu telah mencair dan meleleh seketika.
"Nadia, sepertinya ... Berlin bisa menjadi ayah yang baik nantinya," celetuk Alana seraya duduk tepat di samping Nadia.
"Hahaha," Ibu Helena tertawa kecil dan lalu menambahkan, "kurasa begitu, dia dapat langsung akrab dan tampaknya juga disukai oleh anak-anak di sini."
"Ku harap begitu," batin Nadia tersenyum dengan sendirinya ketika melihat lelakinya sedang asyik bermain dengan anak-anak itu.
"Apalagi Akira," lanjut Ibu Helena dengan pandangan terus melihat ke arah Akira di sana yang terlihat sangat dekat dengan Berlin. Gadis kecil itu terlihat sangat senang dan ceria sekali ketika dekat dengan Berlin. Ia tampak sangat asyik dan senang dapat bermain bersama Berlin di sana.
"Oh ya, bagaimana keadaan panti asuhan? Apakah ada masalah atau kesulitan akhir-akhir ini?" tanya Nadia memandang kepada Ibu Helena yang duduk di hadapannya
"Kami baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, beberapa waktu terakhir juga kami menerima beberapa donasi dari para donatur," jawab Ibu Helena.
"Situasi anak-anak juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin ... kecuali ... Akira," lanjut Ibu Helena dengan pandangan sedikit tertunduk sedih.
"Akira?" tanya Nadia bingung.
"Beberapa anak yang lain mulai menemukan keluarga baru mereka, namun tidak dengan Akira. Dia sempat diadopsi lima kali, namun tiga kali dia dikembalikan, dan dua kali gagal karena kemauannya sendiri." Alana membantu untuk menjawab pertanyaan dan kebingungan Nadia soal itu.
"Kemauannya sendiri?" Nadia terlihat bingung dan juga sedih dengan hal itu. Pandangannya seraya memandang ke arah Akira yang tampak sangat ceria dan senang sedang bermain dengan Berlin di sana.
"Ya, dua kali gagal atas keinginan Akira sendiri yang menolaknya," Alana menjawab pertanyaan itu. Namun semakin membuat Nadia bertanya atas apa alasannya.
"Kenapa dia menginginkan hal tersebut?"
Ibu Helena jadi teringat kembali momen ketika Akira menolak kehadiran orang tua barunya yang akan mengadopsi serta merawatnya.
Kilas Balik: On
.
Bersambung.
__ADS_1