Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Memasuki Awal Permainan #56


__ADS_3

"Jadi ... Berlin sudah mengetahui dan melihat rekaman itu?" tanya Garwig kepada Prawira.


Di siang hari ini, Prawira menemui Garwig yang sedang berada di Gedung Balaikota. Mereka memilih tempat di atas dari bukit kecil yang letaknya ada tepat di seberang gedung putih itu untuk membicarakan soal Berlin.


"Ya, dan seharusnya pagi ini aku bertemu dengannya untuk menjelaskan soal rekaman itu. Namun sepertinya ... Berlin tidak ingin bertemu denganku," jawab Prawira sedikit menundukkan kepalanya.


Garwig menghela napas dan bertanya lagi, "apakah Berlin mengatakan sesuatu ketika bertemu denganmu di Kediaman Gates?"


Prawira mengangguk pelan. Ia pun menjawabnya, dan mengatakan apa yang Berlin katakan padanya semalam sebelum dia beranjak pergi dari sana. Kata-kata yang berisikan fakta dan cukup melukai dirinya.


Garwig kembali menghela napas panjang. "Ya ... apa yang dikatakan Berlin memang benar. Kita-lah yang membuatnya kehilangan ingatan tentang kenangan masa kecilnya."


"Tetapi memang sebaiknya dia harus tau mengenai peristiwa itu. Kita tidak bisa terus menyembunyikannya, Prawira."


***


"Ada apa memanggilku, Bos?" tanya Asep ketika menghadap kepada Berlin di ruangannya. Dirinya datang karena titah dari Berlin yang memanggilnya.


"Aku ingin meminta bantuan kepadamu, apakah bisa?" jawab Berlin tengah duduk di kursi balik meja kerjanya.


"Tentu, aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu," sahut Asep.


Di siang hari ini, Berlin memanggil salah satu rekan kepercayaannya di ruang pribadinya. Pikirannya masih tak bisa lepas dari soal rekaman yang semalam ia lihat, dan pesan dari Prawira yang mengkonfirmasi soal rekaman itu.


Berlin menunjukkan flashdisk kecil yang ia bawa kepada rekannya dan mengatakan, "di dalam benda ini ada sebuah rekaman, dan aku ingin tahu siapa orang-orang yang ada di dalam rekaman ini. Apakah kau bisa membantuku?"


Asep menerima perlahan flashdisk tersebut dan menjawab, "aku ku coba dahulu, aku tidak akan tahu apakah aku bisa atau tidak sebelum aku mencobanya. Apakah tugasku hanya itu?"


"Ya, aku ingin kau mengidentifikasi siapa orang-orang yang ada di dalam ini. Cukup itu saja!" sahut Berlin.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyelidikinya dan mengidentifikasinya secepat mungkin."


Setelah menerima perintah tersebut. Asep pun beranjak keluar dari ruangan milik Berlin menuju ruang kerjanya sendiri. Dengan membawa flashdisk tersebut dalam genggamannya. Rupanya ia tampak tidak sabar untuk segera menjalankan tugas tersebut.


Sedangkan Berlin. Setelah dirinya memberikan perintah itu kepada salah satu rekan kepercayaannya. Ia kembali termenung. Dalam pikirannya masih terbayang-bayang soal tayangan dari rekaman tersebut. Hatinya cukup terbakar ketika melihat orang-orang bersenjata itu menembaki dan membunuh kedua orang tuanya.


***


Pada sore hari menjelang malam. Beberapa kapal pengangkut barang terpantau sedang berlabuh di pelabuhan sebelah Barat Pulau La Luna. Kapal-kapal besar itu tampaknya dijaga sangat ketat oleh orang-orang berpakaian tuksedo putih dengan senjata-senjata api mereka. Mereka semua tidak mengenakkan masker atau topeng untuk menutup identitas mereka.


Di sore hari ini. Pelabuhan itu tampak cukup ramai. Aktivitas di sana didominasi oleh Clone Nostra. Tidak terlihat orang lain atau bahkan turis asing di pelabuhan itu. Hanya ada orang-orang dari Clone Nostra yang dilengkapi dengan senapan-senapan mereka.


Semua aktivitas di pelabuhan itu terpantau oleh kedua mata milik Flix dengan menggunakan sebuah teropong. Dirinya memantau seluruh aktivitas di pelabuhan itu dari jarak yang sangat jauh.


"Clone Nostra tampak sedang mempersiapkan sesuatu pada kapal-kapal yang berlabuh di sana. Mereka semua terpantau bersenjata lengkap."


Flix melaporkan apa yang ia lihat melalui radio komunikasi miliknya yang akan didengar oleh Prime. Semua laporan tersebut sampai ke telinga Prime.


Flix menurunkan teropongnya secara perlahan dan dengan tatapan mata seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Aku tidak dapat menghitungnya, mungkin ... lebih dari ... 50 orang ...."


Jawaban itu sangat tidak ingin Flix ucapkan, namun dirinya harus menjawab dan melaporkan hal tersebut sesuai dengan kenyataan yang ia lihat.


"Baik, kurasa cukup untukmu, kembalilah ke kamp!" titah Prime yang kemudian dituruti oleh Flix yang langsung pergi dari posisinya untuk memantau.


*


"Bagaimana dengan perbatasan? Apakah sudah kau tangani?" tanya Tokyo berjalan di atas dermaga dan berhenti di ujung dermaga. Ia ditemani oleh Karina dan Doma.


"Sudah, orang-orang kita sudah siap di segala posisi krusial." Doma berdiri tepat di sisi Tokyo dan kemudian menambahkan, "urusan perbatasan, dan keamanan oleh aparat di pelabuhan kota. Semuanya sudah ku urus, dan kita dapat dengan leluasa masuk tanpa harus menjalani pemeriksaan."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Nicolaus?" sela Karina bertanya.


"Aku akan berbicara dengannya sehabis ini," jawab Tokyo dan kemudian memberikan perintahnya untuk dua orang ini, "Dom, aku ingin kau dan sebagian orang-orang kita sekarang juga berangkat! Jalankan sesuai dengan rencana kita!" titahnya.


"Baik!" sahut Dom.


Tak lupa, Tokyo juga memberikan perintah untuk Karina. Dirinya ingin Karina untuk sementara waktu tetap di pulau bersamanya. Ia langsung menyuruh Karina untuk kembali ke vila miliknya segera.


Setelah urusannya selesai dengan dua orang itu. Tokyo kini bergegas untuk menemui Nicolaus yang tampak sedang berdiri seorang diri di bibir pantai.


"Kami sudah mulai memasuki awal permainan. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau sudah siap untuk ikut?" tanya Tokyo ketika berjalan menghampiri dan berdiri tepat di sebelah Nico.


"Ya!" Nico menoleh dan menatap tajam rekannya lalu berkata, "aku sudah menunggu lama untuk ini," ucapnya kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah pemandangan laut di depannya.


Tokyo tersenyum tipis mendengar jawaban tersebut. "Aku sudah siapkan personel untukmu, Nico. Kau tidak perlu khawatir," ucapnya.


Di saat yang bersamaan. Kapal-kapal yang sebelumnya berlabuh di pelabuhan, kini perlahan berlayar dan menjauhi pelabuhan. Kapal-kapal itu berlayar menuju perbatasan dan kota.


"Tokyo, apa sebenarnya tujuan mu?" celetuk Nico secara tiba-tiba ketika melihat kapal-kapal itu berlayar menjauhi bibir pantai.


Tokyo sempat terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan tersebut. Sikapnya begitu tenang dan dingin seperti biasa. "Tujuan, ya?"


"Aku ... hanya ingin ... mengukir sejarah baru. Mungkin itulah tujuanku," lanjutnya menjawab pertanyaan tersebut. Ekspresinya begitu enteng ketika memberikan jawaban tersebut.


Nicolaus sempat menoleh dan menatap bingung Tokyo atas jawaban yang ia terima. Namun Nicolaus tampaknya tidak begitu menghiraukan jawaban dari Tokyo mengenai tujuan. Yang terpenting baginya adalah dirinya dapat mencapai tujuannya, yaitu untuk berhadapan atau menghadapi Berlin.


"Tenanglah ...! Aku pastikan kau dapat mencapai tujuan mu untuk membalas dendam, Nico." Tokyo berbicara dengan seolah ia dapat membaca apa yang ada di pikiran Nicolaus. Seolah ia mengetahui apa alasan Nicolaus menanyakan hal tersebut padanya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2