Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bisnis Gelap #22


__ADS_3

Pukul 22:00 malam.


Kediaman Berlin.


Berlin merasa sudah sangat lelah, ditambah lagi dengan semua yang terjadi hari ini yang membuatnya banyak berpikir. Selesai dari apa yang terjadi tadi, dirinya mendapat banyak hal yang membuatnya berpikir.


Sesampainya di rumah, Berlin merasa sangat ingin sekali segera menemui Nadia dan beristirahat dengannya. Ketika dirinya membuka pintu rumah dan hendak berkata, "aku pulang." Tiba-tiba saja Nadia berlari ke arahnya dan memeluk erat dirinya dengan perasaan cemas.


Berlin cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Namun di saat itu juga pandangan tertuju pada sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita tentang baku tembak yang melibatkan kelompoknya. Hal itu langsung membuat dirinya paham.


"Kamu tidak terluka, 'kan?" tanya Nadia sedikit mendongak dan menatap Berlin dengan tatapan cukup berkaca-kaca.


Berlin tersenyum dan menjawab, "aku baik-baik saja, sayang."


"Syukurlah," Nadia menghela napas lega dan kembali melekatkan dirinya pada dekapan pria itu. Dirinya merasa tenang ketika bersandar dalam dekapan itu dan dapat merasakan detak jantung lelakinya.


"Aku membuatmu khawatir lagi ya? Maafkan aku," ucap Berlin seraya mendekap dan membelai lembut rambut hitam wanitanya yang tergerai indah sampai ke punggung.


"Aku jadi khawatir karena tadi aku menelepon mu, tetapi ponsel mu tidak dapat dihubungi," ujar Nadia mendongak dan menatap Berlin.


Berlin kelihatan terkejut dan langsung mengambil ponsel di kantongnya. Dirinya pun tertawa kecil ketika melihat panggilan terakhir yang masuk ke ponselnya, "maaf, tadi aku terlalu fokus dengan situasi di sana, dan aku sama sekali tidak dapat melihat ponsel."


Nadia menghela napas dan kembali menyandarkan kepalanya dalam dekapan lelakinya. "Iya, aku maafkan, yang penting kamu tidak apa-apa," ucapnya sambil terus memeluk Berlin yang hanya diam tersenyum seraya terus memeluk dirinya.


***


"Bagaimana? Langkahmu terhentikan?" tanya Tokyo dengan nada menyindir kepada Nico yang berdiri di belakangnya.


Di tengah malam yang sangat cerah dan bulan terlihat sangat leluasa dapat bersinar tanpa terhalang oleh awan. Namun bulan di malam ini hanya dapat bersinar sendiri tanpa adanya cahaya bintang di sekitarnya.


Nico kembali ke pulau dengan perasaan yang sangat kurang puas. Dirinya kembali menemui rekannya Tokyo yang tampak sedang menyendiri di taman belakang vila.


Nico hanya diam mendengar pertanyaan itu. Namun Tokyo justru sedikit tertawa dan berkata, "Ashgard memang sangat sulit untuk ditaklukkan, aku saja sangat berhati-hati dalam melangkah karena mereka." Tatapannya menuju ke arah bulan yang bersinar terang di malam itu.


Di tengah Nico menyimak pembicaraan tersebut. Tiba-tiba seorang wanita cantik berjalan menghampiri dan memeluk rekannya itu. "Aku kesepian di dalam vila, kau nggak mau menemaniku?" tanya wanita itu berbisik kepada lelaki yang sedang ia peluk.


"Aku akan ke sana sebentar lagi, ya? Aku ingin berbicara sebentar di sini," jawab Tokyo dengan nada ramah seraya mengusap tangan wanita yang memeluknya.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu," wanita itu pun beranjak pergi dari sana kembali masuk ke dalam vila.


Tokyo membalikkan badannya dan menghadap kepada Nico lalu berbicara, "kau akan sulit mengatasi Ashgard ... terutama Berlin, jika kau masih menggunakan cara bermain yang seperti itu."


Tatapan Tokyo sangat tajam dan serius ketika berbicara. Sikap ramahnya seperti ketika ia berbicara kepada wanita tadi tiba-tiba saja hilang dalam sekejap. Dinginnya angin malam bertiup cukup kencang dan menerpa mereka berdua.


"Jika kau mau, aku akan menggunakan cara bermain kami, Clone Nostra. Mungkin saja itu bisa membantumu, terutama untuk membalaskan dendam mu," ucap Tokyo.


Nico mencerna perlahan semua kata-kata yang diucapkan oleh rekannya itu. Dirinya hanya mengetahui sedikit tentang cara bermain Clone Nostra yang hampir mirip dengan cara bermain Mafioso. Namun dirinya tidak mengetahui cara bermain yang mana yang dimaksud oleh Tokyo.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Nico menatap tajam rekannya.


Tokyo terlihat tersenyum sinis lalu menjawab, "kalau begitu, ikuti saja dahulu alur yang akan ku buat, nanti kau juga tahu."


TAP ... TAP ... TAP ...!!


Seorang pria dengan jas putih dan celana panjang putih berjalan menghampiri mereka berdua. Lagi-lagi pembicaraan mereka harus terpotong.


Pria tersebut tampak menundukkan kepalanya kepada Tokyo lalu mengatakan, "ada beberapa hal yang memerlukan tanggapan serta persetujuan anda, bos."


Pria itu pun mengangkat kepalanya dan lalu kembali beranjak pergi dari sana. Tokyo juga hendak pergi dari sana untuk menangani kesibukan tersebut. Namun ketika ia hendak melangkah, tiba-tiba terlintas suatu pemikiran di kepalanya.


"Nico, kemarilah jika kau ingin tahu soal bisnis kami!" ajaknya sambil menoleh ke arah Nico.


Nico pun mengikuti rekannya melangkah. Dirinya mulai kembali dan masuk kembali ke dalam vila yang berwarna perak nan sangat mewah itu.


Tokyo berjalan melalui lorong-lorong yang ada di sana, dan sampailah ke ruang utama yang sangat luas bagaikan ruang utama di istana-istana. Di sana terdapat beberapa pria yang juga mengenakan jas dengan warna yang sama yaitu putih. Tokyo menghampiri orang-orang itu, dan lalu menerima sebuah lampiran dari orang-orang yang tampaknya adalah anak buahnya.


Tokyo melihat lampiran yang berisikan semua catatan bisnisnya. Dirinya merasa sangat senang karena semuanya lancar tanpa ada masalah. Namun menurutnya mungkin hanya satu yang akan menjadi masalah.


"Aku mau barang-barang ini dikirimkan besok sesuai dengan pesanan sang pemesan! Dan sebisa mungkin jangan sampai diketahui oleh pihak keamanan!" pintanya kepada anak buahnya.


"Baik!" sahut anak buahnya dengan menundukkan kepalanya.


Setelah itu dirinya pun pergi dari sana dan menuju ke sebuah gudang melalui lorong yang ada di samping vila. Di gudang tersebut terdapat beberapa kesibukan yang tengah dikerjakan oleh banyak sekali anak buahnya. Orang-orang itu terlihat sedang memindahkan serta menghitung kotak-kotak kayu yang berisikan benda penting tentunya. Kotak-kotak kayu itu tampaknya akan dikirimkan ke suatu tempat menggunakan sebuah mobil van berwarna putih yang cukup besar di sana.


Setelah melihat gudang tersebut, Tokyo pun berpindah ke sebuah tempat yang berada tepat di samping vila. Tempat tersebut juga diberlakukan layaknya sebuah gudang penyimpanan. Banyak sekali serbuk-serbuk aneh berwarna putih, dan beberapa obat-obatan yang dikemas di sana oleh para pekerjanya.

__ADS_1


Merasa tidak ada masalah di tempat itu, Tokyo pun kembali berpindah dan kini tempat yang akan ia tuju letaknya berada di bawah tanah. Vila yang sangat mewah itu ternyata juga memiliki ruang bawah tanah. Terdapat sebuah tempat yang bisa dibilang sebagai seperti penjara di ruang bawah tanah itu. Di tempat itu juga dijaga sangat ketat oleh orang-orangnya yang dipersenjatai lengkap olehnya. Masing-masing jeruji besi dijaga ketat ole mereka, dan tampak seperti apa yang ada di dalamnya sangatlah penting.


Nico sedari tadi terus mengikuti langkah Tokyo ke manapun ia pergi. Ia ikut berkeliling karena juga diajak langsung oleh rekannya. Pada saat di tiba di penjara bawah tanah tersebut, dirinya dapat melihat beberapa tahanan di sana. Namun dirinya dibuat sangat terkejut ketika mendapati bahwa tahanan di sana kebanyakan adalah kaum hawa. Tahanan pria tetap ada, namun bisa dihitung dengan jari.


"Asal kau tahu, ini adalah salah satu tempat kesukaanku," gumam Tokyo ketika berjalan dan menuju ke sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong penjara tersebut.


Ketika sampai di depan pintu besi ruangan itu, Tokyo langsung membukanya tanpa basa-basi. Nico lagi-lagi dibuat sangat terkejut karena dirinya dapat melihat seorang wanita muda yang kondisinya sangat memprihatinkan.


Wanita itu tampak diborgol di kedua tangan, kedua kaki, dan leher, dan dengan pakaiannya yang sudah terkoyak sehingga memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang cukup sensitif. Di ruangan tersebut juga terdapat seorang pria dengan seragam serba putih, dan ia tampak akan melakukan sesuatu terhadap wanita yang tak bisa melakukan apa-apa itu.


"Ini juga salah satu dari sekian bisnis kami, Nico. Seperti biasa kami akan menguji atau lebih tepatnya 'mencicipi' wanita yang akan segera berpindah tangan ke tuan yang baru, agar dia dapat melayani tuannya dengan baik," ujar Tokyo dengan tatapan dan sikapnya yang datar seolah tidak melihat seseuatu yang keji di depan matanya.


Wanita yang ada di sana tampaknya mengetahui kehadiran Nico. Ia tampak menatap Nico dengan matanya yang sembab seolah meminta pertolongan.


"Ku ... mohon, lepaskan ... aku, aku ... ingin pulang ...!" pinta wanita itu dengan sangat lirih seolah sudah tidak memiliki harapan dan pasrah. Tatapannya dipenuhi dengan air mata keputusasaan, dan tubuhnya yang lemah sudah tidak dapat bergerak lagi ditambah dengan besi-besi yang membelenggunya.


"Hei, jika kau ingin bermain dengannya, maka jangan terlalu kasar terhadap aset kita!" tegas Tokyo kepada bawahannya yaitu seorang pria yang ada di sana.


Pria itu tampak sangat senang, ia tertawa lalu menjawab, "tenang saja, bos. Aku akan bermain lembut padanya."


"Ya sudah, ayo kita kembali, Nico!"


Tokyo pun beranjak pergi dari sana diikuti oleh Nico tentunya. Bagi Nico pemandangan yang baru saja ia lihat adalah biasa baginya, dan itu sudah menjadi hal yang wajar untuk dirinya. Sebagai orang yang pernah berada di posisi Tokyo dan terjun ke dalam dunia kelam untuk melakukan bisnis gelap seperti itu. Pemandangan yang seperti itu tadi sudah menjadi makanannya setiap malam dan juga hampir di setiap ia bekerja.


"Rasanya aku tidak ingin membiarkanmu menguasai pasar ini," gumam Nico dengan nada menyindir ketika berjalan menaiki anak tangga keluar dari ruang bawah tanah itu.


"Satu-satunya saingan terberat Clone Nostra di pasar hanyalah Mafioso, namun Mafioso-mu itu sudah tidak ada. Jadi ya mau bagaimana lagi?" sahut Tokyo seraya mengulas canda tawanya.


"Sudahlah, aku ingin melupakan Mafioso dan fokus pada balas dendam ku!" sahut Nico dengan aura balas dendam terasa sangat menyelimuti hati dan dirinya.


"Tenang dan sabarlah, semua ada waktunya untuk bersinar, dan ketika waktu itu tiba ... maka ambillah peranmu!" ucap Tokyo tersenyum sinis seolah dia memiliki suatu rencana.


Ya, memang dari sebelumnya Tokyo sudah merencanakan berbagai macam hal. Terutama rencana dalam pembalasan dendam yang akan dilakukan oleh rekannya yaitu Nico. Namun di lain sisi, dirinya juga memiliki rencana atas dasar keinginannya sendiri yang tentunya tidak sama dengan Nico. Dan hal itu sengaja ia rahasiakan dari sepengatahuan Nico.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2