Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Apakah Tidak Ada Pilihan Lain? #66


__ADS_3

Pulau La Luna, malam hari yang tenang.


"Bos, satu orang dalam kita telah tertangkap dengan beberapa bukti penting yang berkaitan kuat dengan kita."


Seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Karina datang membawa kabar buruk tersebut kepada Tokyo. Ia datang menghampiri Tokyo yang tampak sedang duduk santai di ruang kerjanya. Namun pada saat kabar itu disampaikan. Pria itu tidak terkejut ketika mendengar kabarnya, melainkan seolah telah memprediksi kalau hal ini akan terjadi.


"Terima kasih informasinya, kita akan urus dia setelah semua rencana kita selesai," ucap Tokyo kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan melewati Karina keluar ruangan.


"Tetapi bagaimana dengan bukti-bukti yang telah berhasil diamankan pemerintah? Bukankah bukti-bukti kuat itu dapat menghalangi kita untuk bergerak?"


Wanita itu berjalan berdampingan dengan Tokyo, dan menanyakan beberapa hal yang terlintas di kepalanya. Namun reaksi Tokyo hanyalah ketenangan yang sangat-sangat tenang. Sikap yang begitu dingin dan seolah tidak peduli dengan kabar buruk itu.


"Itu bagian dari rencana ku, kau tenang saja ...!" sahut Tokyo dengan sikap dan intonasi berbicara yang sangat tenang.


Karina menghela napas dan berkata, "aku benar-benar tidak tahu apa yang kau rencanakan," ucapnya sembari sedikit menggelengkan kepalanya.


Tokyo tertawa kecil mendengar hal itu. "Jangan pernah beritahu rencanamu sebenarnya ke siapapun atau rencanamu akan dapat digagalkan dengan mudahnya," ucapnya dengan sedikit melirik ke arah Karina yang berjalan tepat di sampingnya.


Mereka berdua berjalan melalui lorong-lorong yang ada di vila mewah itu, dan kemudian sampai di sebuah taman yang amat luas di halaman belakang vila.


"Karina, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk regu dari kepolisian yang menjadi benalu di pulau ini. Bisakah kau melakukannya?" tanya Tokyo ketika bersandar pada sebuah pagar pembatas taman dan menatap ke arah langit malam yang sepi hanya ada bulan tanpa taburan bintang.


"Apapun perintah mu, aku akan melakukannya," jawab Karina berdiri di samping Tokyo.


"Aku akan membentuk regu untukmu yang akan memantau dan berada dekat dengan pelabuhan Utara pulau. Setelah itu perintah regu akan ku berikan kepada Nicolaus."


"Nicolaus? Kau mau merelakanku untuk diperintah oleh mafia gagal itu?!" sahut Karina tampak sedikit tidak terima jika dirinya akan mengikuti segala perintah yang keluar dari mulut Nicolaus.


Tokyo menggelengkan kepalanya dan lalu berkata, "tenang saja, aku akan menarikmu keluar dari regu itu setelah Nicolaus mulai melakukan perintahnya."


"Aku memerlukan peranmu sebagai informan untukku, aku butuh dirimu di sana sebagai orang yang akan melaporkan setiap pergerakan regu kepadaku," lanjut pria dengan tuksedo putih itu.


Karina tampak sedikit lebih lega dan senang. Dirinya pun mengangguk, "baiklah jika begitu."


Tokyo hanya tersenyum tipis mendengar jawaban setuju dari rekan wanitanya. Dirinya berbalik badan dan memandang ke arah langit malam yang benar-benar sunyi tanpa adanya bintang yang bertaburan. Namun bulan di malam hari ini terlihat sangat terang yang menjadi pertanda cuaca pada malam ini sangatlah cerah.


"Semuanya sudah benar-benar siap, hanya tinggal sentuhan terakhir untuk benar-benar memulainya."

__ADS_1


"Clone Nostra ... akan segera mengukir ... sejarah baru."


Tokyo berbicara dengan sendirinya ketika menatap ke arah langit yang begitu cerah di malam ini. Ia berbicara dengan terlihat cukup berambisi untuk segera memulai apa yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari. Ambisi itu terlihat dari tatapan matanya yang tidak bisa berbohong. Tatapan tajam yang seolah terukir api ambisi yang membara di sana.


***


Di hari yang berbeda, Ashgard tampak sedang sibuk untuk mempersiapkan diri pergi ke pulau seusai dengan keputusan Berlin. Tentu saja mereka termasuk Berlin sendiri tahu dengan bahaya apa saja yang kemungkinan besar dapat atau akan terjadi. Namun sepertinya seberapa besar bahaya itu tidak akan dapat menghentikan keputusan Berlin yang sudah sekeras batu.


Di markas milik Ashgard pada siang hari ini, tidak terlihat adanya Berlin di sana. Padahal rekan-rekannya yang lain sedang mempersiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan yang kemungkinan besar akan sangat dibutuhkan. Namun Berlin tidak hadir di sana.


Berlin sendiri masih berada di kediaman pribadinya. Dan benar saja, Nadia terlihat sangat menempel pada Berlin seolah tidak ingin melepaskan pria itu untuk pergi.


"Kita sudah membicarakannya, 'kan?" ucap Berlin sembari mengelus-elus kepala milik istrinya yang sedang berada di dalam dekapannya.


"Lalu kamu pikir aku setuju?!" sahut Nadia sedikit mendongak untuk menatap prianya. Tatapan penuh kekhawatiran dan ketakutan itu terlihat sangat jelas. Kedua bola mata indahnya tidak mampu menyembunyikan lagi perasaannya.


Pada siang hari ini di halaman belakang kediaman ternyaman Berlin. Ia kembali membicarakan hal yang sama dengan hari kemarin.


"Aku sangat menentang keras keputusanmu, Berlin." Nadia kembali menundukkan kepalanya dan kemudian menyembunyikan di antara kedua lengan milik lelakinya. "Tetapi ... aku tahu itu pasti percuma, karena kamu ini orangnya nekat," lanjutnya.


"Kumohon, jangan pergi ...! Di sana berbahaya." Calon ibu muda itu memeluk erat-erat Berlin sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua.


"Aku ingin dia hadir di dunia ini tanpa ada masalah yang berasal dari konflik keluarga besarku. Aku juga ingin segera mengurus dokumen-dokumen penting yang diperlukan untuk adopsi Akira."


"Aku ingin menyelesaikan semua permasalahan ini segera, sebelum aku mengurus segala keperluan kita kedepannya."


"Ya ... tetapi ... kau tidak harus membahayakan dirimu seperti itu, Berlin." Nadia kembali menatap wajah tampan pria itu dengan jarak yang cukup dekat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dirinya harus sedikit mendongak untuk dapat menatapnya.


Berlin menggelengkan kepalanya sekali dan tersenyum, "tidak ada pilihan lain, sayang. Itu sudah menjadi risiko yang ku tanggung sebagai penjahat," ucapnya kemudian.


"Apakah benar tidak ada pilihan lain ...?" tanya Nadia dengan tatapan yang sangat membuat hati Berlin tidak tega untuk menatapnya.


Berlin menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak ada, sayang."


"Jika memilih untuk bertahan atau bersembunyi dengan tujuan mencari aman, maka yang ada keamanan itu tidak akan pernah terwujud," lanjutnya.


Nadia terdiam ketika mendengar suaminya berbicara. Ia kembali menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di dalam dekapan pria itu.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan dijadikan beban pikiran, aku nggak mau kamu sampai jatuh sakit karena kebanyakan pikiran." Berlin menghela napas panjang dan mengelus lembut kepala milik istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia benar-benar menunjukkan ketenangannya ketika di hadapan Nadia.


"Semuanya akan baik-baik saja, yakin dan percayalah!" lanjutnya sembari tersenyum lebar ketika menatap paras cantik istrinya.


"Tetapi tetap saja, aku tidak bisa tenang setelah kamu membicarakan hal ini kepadaku," ucap Nadia dengan intonasi yang sungguh lembut dan masih tak melepaskan pelukannya.


"Kekhawatiran adalah hal yang wajar bagi manusia, tetapi jangan sampai kekhawatiran itu terlalu berlebihan dan membuatmu semakin tertekan." Berlin berbicara dengan spontan dan sikap yang begitu tenang.


Ketenangannya ketika berbicara sepertinya sangat berpengaruh terhadap perasaan Nadia yang saat ini berada di dekapannya. Berkat ketenangan tersebut, bumil itu juga ikut merasa tenang.


"Ingat posisi dan kondisimu sekarang, sayang ...! Sekali lagi aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena kebanyakan pikiran, apalagi saat ini kamu tengah mengandung anak pertama kita," lanjutnya.


"Baik ... aku tahu," sahut Nadia sembari sedikit mengerucutkan bibirnya.


***


"Bagaimana hasil interogasi?" Prawira menghampiri rekan-rekan anggotanya yang telah melakukan interogasi terhadap satu orang yang diduga memiliki koneksi dengan Clone Nostra.


"Sudah, dan hasilnya ... positif, dia memiliki keterkaitan dengan kelompok putih itu, pak."


Mendengar jawaban tersebut, Prawira sedikit merasa senang karena telah berhasil menangkap salah satu dari bagian mereka. Dirinya pun menuju ke ruang interogasi yang ada di bawah tanah kantor polisi pusat untuk menemui orang itu.


Tentu dirinya tidak sendiri. Ia ditemani oleh satu sekertaris setianya yaitu Netty, dan satu aparat taktis yang sama sekali tidak terlihat identitas wajahnya.


"Selamat siang, pak!" sambut dua anggota polisi yang menjaga ruang interogasi itu. Mereka berdua memberikan hormatnya kepada Prawira.


"Apakah dia masih di dalam?" tanya Prawira.


"Iya, pak." Kedua anggota polisi itu pun membawa Prawira untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang terletak bersebelahan dengan ruang interogasi.


Dari dalam ruangan itu dirinya dapat melihat seorang wanita yang sudah valid memiliki keterkaitan dengan Clone Nostra. Melalui ruangan itu ia dapat melihat setiap gerak-gerik terduga tanpa harus dapat dilihat atau diketahui oleh terduga itu sendiri.


"Siapa namanya?" tanya Prawira kepada salah satu dari kedua polisi itu.


Salah satu dari kedua polisi itu pun memberikan sebuah kartu identitas milik sang terduga.


"Hmm ..., marga Claunius, ya ...?" gumam Prawira setelah membaca sebuah nama pada kartu identitas tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2