Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Sedikit ... Masalah #200


__ADS_3

Berlin menghentikan laju mobilnya, berhenti di belakang antrean panjang kemacetan lalu lintas pusat kota. Seperti biasa, dan tidak akan pernah lepas. Jalanan di pusat kota selalu saja begitu. Macet, baik di pagi, siang, sore. Lebih tepatnya ketika di jam-jam sibuk.


Pria itu terlihat menghela napas, karena harus kembali bersabar menghadapi kemacetan yang terjadi. Ia melirik ke samping, dan kemudian mendaratkan salah satu tangannya di atas perut milik sang istri, serta kemudian mengusapnya sembari bergumam, "macet terus, seperti biasa," keluhnya.


"Namanya juga di kota," sahut Nadia, tertawa kecil melihat lelakinya yang mengeluh.


"Mama, kenapa banyak mobil sama motor, sih? Memangnya lagi ada acara apa? Rame banget," cetus Akira, bertanya dengan tatapan polosnya yang memandangi setiap kendaraan yang berhenti di sekitar mobilnya.


"Pembagian sembako, sayang." Berlin berceletuk sembarangan menjawab pertanyaan tersebut dengan gurauan.


"Hus!!!" Nadia segera menyikut sedikit suaminya karena telah menjawab sembarangan pertanyaan yang terdengar serius dengan penuh penasaran itu. Berlin hanya terkekeh geli sembari memegangi salah satu lengannya yang sengaja disikut oleh Nadia.


"Mereka sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, dan menggunakan jalan yang sama dengan kita. Jadinya macet deh, menumpuk seperti ini." Nadia kemudian menoleh ke belakang, menatap Akira yang juga menatap dirinya, dan memberikan jawabannya.


"Oh," gumam Akira, kembali memalingkan wajahnya menuju ke arah jendela mobil setelah mendapatkan jawaban yang dirasa tepat. Pemandangan di luar jendela saat ini hanyalah mobil dan motor yang mengantre di kemacetan. Jauh berbeda ketika perjalanan di perbukitan kota. Lebih indah karena bisa melihat pemandangan kota dari atas sana.


"Pemandangan di kota membosankan," keluh anak perempuan itu, dengan intonasi yang sungguh rendah, perlahan menyandarkan kepalanya pada jendela mobil dengan tatapan bosan.


Berlin hanya bersandar, menoleh dan saling bertatapan dengan istrinya setelah mendengar keluh putrinya. Keduanya tersenyum tipis dan sama-sama mengerti apa yang dikeluhkan putri mereka, karena itu juga yang mereka rasakan saat ini.


Di tengah keheningan menunggu antrean panjang. Ponsel milik Berlin tiba-tiba saja berbunyi di dalam sakunya, menandakan kalau seseorang sedang menghubungi dirinya melalui panggilan suara. Tanpa basa-basi, setelah membaca siapa kontak yang meneleponnya. Berlin langsung menerima panggilan suara itu.


"Akhirnya aku bisa menghubungi mu, bos!"


"Ada apa? Maaf, aku baru menyalakan ponsel," sahut Berlin.


"Sepertinya akan cukup panjang jika harus dijelaskan melalui telepon. Tetapi singkatnya, kau harus berhati-hati karena Ashgard telah dicurigai."

__ADS_1


"Jika kau mengenakan atribut Ashgard, maka lepaslah dan jangan pakai itu di tempat umum!"


"Tunggu, memangnya sebahaya itukah?" tanya Berlin.


"Bisa dibilang iya, tetapi juga bisa dibilang tidak. Karena untuk sementara ini kami juga belum bisa memastikannya."


"Yang jelas, Red Rascals dan antek-antek sisa dari Clone Nostra sedang mencurigai kita, dan ada kemungkinan kalau mereka sedang mencari salah satu dari kita di saat sendiri atau terpisah."


"Oke, baik, terima kasih informasinya," ujar Berlin, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan suara tersebut dan kembali menyimpan ponselnya.


"Siapa?" tanya Nadia, setelah melihat Berlin benar-benar selesai dengan teleponnya.


"Adam," jawab singkat Berlin, kembali menginjak pedal gas perlahan karena antrean di depan sudah mulai lengang.


Mendengar serta melihat Berlin hanya menjawab singkat dengan sikap yang tiba-tiba saja berubah tenang dengan kesan yang terasa dingin. Nadia menatap penasaran suaminya dan kemudian bertanya, "apakah ada masalah? Atau terjadi masalah?"


Berlin menghela napas, sempat menoleh untuk tersenyum dan menjawab, "sepertinya begitu, ada sedikit masalah."


"Tidak, sayang." Berlin kembali menghentikan laju mobilnya di saat antrean mobil di depan juga ikut berhenti. Ia menoleh, meraih salah satu tangan milik Nadia dan kemudian menggenggamnya sembari berkata, "tenang saja, masalahnya bukan di situ."


"Saat ini Ashgard sedang melakukan penyelidikan terkait dua kelompok yang terlibat dalam kekacauan pekan lalu, dan aku mendapat kabar kalau ada sedikit permasalahan di sana," lanjut Berlin sedikit menjelaskan.


Untuk sejenak sangat sulit bagi Berlin berpaling dari paras cantik milik istrinya. Ia terus menggenggam bahkan beberapa kali sedikit mengusap salah satu punggung tangan lembut itu sembari berbicara, "setelah aku bicara seperti itu tadi, kamu tidak boleh pusing untuk memikirkannya ...! Dan tidak perlu merasa bersalah, karena memang permasalahan itu tidak ada hubungannya dengan dirimu, paham, ya?"


Nadia mengangguk pelan, "aku kira ...," gumamnya.


Berlin tertawa kecil dan tersenyum melihat ekspresi yang sebelumnya murung karena rasa bersalah, kini sudah berubah menjadi lebih ceria seperti biasanya. Dirinya segera kembali fokus pada kemudinya, setelah kemacetan di depan mulai perlahan kembali lengang untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Berlin, lihat ...!" cetus Nadia sembari menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan Akira, karena anak itu sedari tadi hanya diam saja dan tidak bersuara.


Ternyata gadis kecil itu tengah asyik terlelap dengan bersandar pada pintu dan jendela mobil. Sepertinya karena rasa bosan yang melanda di tengah kemacetan, membuatnya merasa ngantuk dan akhirnya tertidur. Berlin juga melihatnya melalui spion tengah, dan tersenyum melihat putrinya yang ternyata sudah terlelap.


"Pintunya sudah kamu kunci, 'kan?" tanya Nadia.


"Sudah," jawab Berlin, masih dengan senyumannya.


"Kasihan dia, pasti karena bosan," gumam Nadia, tersenyum hangat melihat betapa manisnya anak itu ketika tertidur.


***


"Carlos, bagaimana bisa mereka mencurigai kita kalau bukan karena kau bertemu dengan informan Mafioso mu itu?!" pekik Galang, berhadapan dengan Carlos dan cukup marah dengan laki-laki itu.


Situasi di ruang utama Kediaman Ashgard sepertinya terasa cukup panas. Terjadi sedikit perselisihan di sana, namun semuanya masih terkendali dengan adanya Adam, Kimmy, dan Asep yang berusaha untuk melerai mereka.


"Kau memang sulit untuk dipercayai, bahkan tidak bisa dipercaya!" tegas Aryo, tajam kepada Carlos yang hanya diam berdiri di hadapan rekan-rekannya.


"Sudah, cukup!" tegas Adam, berdiri di antara mereka.


"Belum tentu Carlos yang membuat kita dicurigai oleh mereka, 'kan? Semua itu masih asumsi dan dugaan kalian," timpal Kimmy.


"Ya, dan karena Carlos juga kita bisa mengetahui kalau posisi kita sedang dicurigai. Jadi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dia, karena dia juga ... kita bisa tahu posisi berbahaya itu," lanjut Asep, berdiri tepat di sebelah Carlos.


Carlos tampak sangat tenang, meskipun ada beberapa dari rekannya yang terlihat cukup tidak suka dengan dirinya. Mereka langsung menuduh dirinya atas dasar dugaan, dan belum tentu dugaan-dugaan mereka atas dirinya itu benar. Laki-laki itu bahkan tidak menundukkan pandangan atau kepalanya, dan berani melakukan kontak mata dengan beberapa rekannya yang menuduh dirinya. Maka dari itu emosi mereka cukup terpancing hanya karena kontak mata yang ditunjukkan oleh Carlos.


"Sebaiknya kesampingkan amarah dan emosi kita terlebih dahulu, agar kita bisa bahas bersama. Semuanya bisa tenang, 'kan? Jika masih belum bisa, silakan keluar terlebih dahulu!" ucap Adam, berdiri di depan rekan-rekannya dan berbicara dengan lugas.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2