Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pertemuan di Sudut Kota #162


__ADS_3

Tengah malam yang tenang, gelap, dan sunyi, hanya terdengar hembusan angin malam yang tak terlalu kencang namun rasa dinginnya sungguh merasuk ke tulang. Metro adalah kota besar, yang menyimpan banyak sekali seluk beluk di dalamnya. Di salah satu tempat kecil, gelap, kumuh, dan berada di antara gedung-gedung besar perkotaan.


Di tempat tersebut, seorang pria berjas putih tampak menemui dua orang pria berjaket kulit hitam. Di sana, ketiga orang yang tidak diketahui identitasnya terlihat seperti tengah membicarakan sesuatu.


"Bagaimana? Apa kabar dengan ketuamu?" tanya pria berjaket kulit pertama, berpostur tinggi.


"Ya, apakah dia sudah benar-benar diproses oleh hukum?" timpal pria berjaket kulit kedua, postur tubuhnya sedikit lebih pendek.


Mereka berdua terlihat menyimpan sebuah pistol yang bergelantung di masing-masing ikat pinggangnya. Meskipun tahu kedua orang itu adalah orang yang berbahaya. Pria berjas putih itu terlihat sangat tenang, dan kemudian menjawab dua pertanyaan tersebut.


"Dia masih ditahan di Federal, dan statusnya masih menunggu keputusan pengadilan."


"Lalu, apa tujuanmu menemui kami berdua? Kau tidak bilang memiliki rencana untuk melakukan penyerangan ke sana, 'kan?" sahut pria berjaket kulit pertama, dengan lugas dan tegas.


Pria berjas putih itu menggeleng, "tidak, bukan itu yang ku mau."


"Tunggu!" sahut pria berjaket kulit kedua. "Sebelum kau berbicara lebih lagi, aku hanya ingin mengingatkan, bahwa kami tidak butuh semua tawaran darimu, kelompok kami independen dan tidak berpihak kepada siapapun ...!" lanjut pria itu, tegas, mengingatkan.

__ADS_1


"Ya, aku tahu, aku kenal beberapa dari kalian, dan aku juga mengetahui bagaimana kriminalitas kalian yang berjalan di balik pamor sebagai komunitas 'anak motor'," sahut pria berjas putih itu, tenang, dan dengan intonasi yang terkesan dingin.


"Tenang saja, lagipula apa tawaran yang bisa diberikan oleh kelompok yang kini sudah porak-poranda?" celetuk pria pertama kepada rekannya, bersikap sangat merendahkan sosok berjas putih di hadapannya.


"Oh, ya? Tetapi sepertinya aku memiliki apa yang kalian butuhkan," sahut pria berjas putih itu, tatapannya tajam, serius atas apa yang baru saja ia katakan.


"Kami memang sedang porak-poranda, namun tidak dengan beberapa aset penting dan berharga yang masih kami miliki," lanjut pria itu, sikapnya sungguh tenang, meskipun kehadiran dirinya dipandang sebelah mata oleh kedua pria tersebut.


"Aset seperti apa itu? Dan bagaimana kau bisa meyakinkan kami atas kata-katamu, jika memang itu bukan hanya omong kosong?" sahut pria pertama, tajam, tegas.


"Aku tidak bisa menyebut apa saja 'aset' yang ku maksud, tetapi kalian bisa pegang kartu namaku." Pria berjas putih itu mengeluarkan sebuah kartu nama tipis, yang di sana hanya tertuliskan nama singkat atau panggilannya.


"Sebutkan apa maumu, dan apa tujuanmu ...! Biar kami bisa pikirkan untuk keputusannya," ucap pria pertama.


"Ini soal pengadilan yang akan berlangsung tak lama lagi, dan aku yakin berlangsungnya pengadilan itu dijaga sangat ketat. Aku memiliki keinginan untuk sedikit melakukan sesuatu di sana, dengan bantuan kalian tentunya ...!"


Pria berjas putih itu langsung berbicara kepada inti pembicaraan dan tujuannya ke mari, menemui dua orang tersebut. Ia berbicara semuanya dengan lugas, tanpa tersendat, tanpa adanya gerak-gerik yang menandakan apa yang dikatakannya hanyalah "omong kosong".

__ADS_1


***


Hari yang berbeda, Prawira kembali melakukan pemeriksaan atas semua keterangan yang diberikan oleh terdakwa yakni Tokyo El Claunius. Kini tak hanya ada dirinya dan pihaknya, namun juga dihadiri oleh dua orang berjas hitam yang sepertinya mereka adalah perwakilan dari tim kuasa hukum milik Tokyo.


Dalam pendataan yang akan dibutuhkan untuk pengadilan, terdapat beberapa aturan yang berlaku. Sepertinya dengan apa yang dikatakan serta diperingatkan oleh Garwig sebelumnya. Prawira benar-benar mewaspadai kehadiran dua kuasa hukum tersebut. Namun semuanya tidak akan jadi masalah, selama dari pihak kuasa hukum tidak berbincang banyak dengan terdakwa tanpa diawasi.


Pemeriksaan dan pendataan itu berlangsung tiga jam, berisikan pertanyaan-pertanyaan dari pihak Prawira yang diputar-putar dan diulang, bertujuan untuk mengecoh tersangka jika memang tersangka memberikan keterangan palsu.


Keterangan-keterangan yang diberikan oleh Tokyo bukanlah keterangan singkat, melainkan cukup panjang dan memiliki beberapa penjelasan mengenai alasan, niat, tujuan, ambisi, dan hasratnya. Berdasarkan ahli psikologi wanita yang mendampingi Prawira, pria yang duduk di kursi kayu kecil itu memberikan keterangannya secara jujur, seperti dengan apa yang dikatakan oleh ahli psikologi pria kemarin.


Wajah Tokyo tidak kaku, terlihat santai, tenang, bahkan seolah sudah tahu dan siap menghadapi apapun hukumannya. Tatapan matanya juga tidak menunjukkan adanya ketegangan dan ketakutan dalam dirinya, juga tidak menunjukkan adanya kebohongan atas semua keterangan yang ia berikan. Aura pria berbaju putih itu terasa sangat mengerikan, bagaikan seorang pembunuh berantai yang tidak akan segan dengan siapapun, meskipun orang dihadapannya adalah jenderal tertinggi sekalipun.


"Benar-benar pria yang mengerikan, saya tidak melihat adanya gerak-gerik kebohongan atas semua keterangan yang dia katakan," ucap wanita si ahli psikologi tersebut kepada Prawira, setelah selesai dari ruang interogasi.


"Terima kasih telah mendampingi dan kesaksiannya, saya akan mengurusnya selanjutnya," ucap Prawira.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2