
"Berlin, aku memanggilmu ke sini untuk membicarakan persoalan yang sedang kau dan Ashgard hadapi."
"Selain itu, aku dan Boni juga ingin membahas soal rencana kami kedepannya, terutama rencana untuk Pulau La Luna itu."
Garwig berbicara kepada Berlin di ruangan itu, dan disaksikan oleh Boni sebagai walikota secara langsung. Namun ketika Garwig selesai berbicara demikian. Berlin langsung menyela pembicaraan itu dengan mengatakan, "bisakah kita berpindah tempat untuk membahas semua itu?"
Tatapannya sangat serius dan tajam. Boni dibuat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. "Apa yang kau katakan? Ruangan ini sangat privasi, tidak akan ada yang menguping pembicaraan kita," ucapnya.
"Itu mungkin anggapan anda saja, pak. Tetapi saya menganggap apa yang anda katakan itu tidak sepenuhnya benar," sahut langsung Berlin dengan tegas. Dirinya tidak peduli sedang berhadapan dengan walikota, dan dirinya sangat serius berbicara seperti itu.
Garwig dapat merasakan ekspresi Berlin yang seperti sedang mencurigai sesuatu. Dirinya pun menengahi keduanya dengan berkata, "baiklah, kita akan berpindah tempat," ucapnya dengan tenang.
Boni pun mengikuti apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Mereka bertiga pergi dari Balaikota itu, berjalan melalui jalan setapak di lereng bukit kecil tepat di seberang Balaikota. Di puncak dari bukit kecil itu terdapat taman kecil. Berlin pun memilih tempat itu untuk berbicara, ditambah cuaca pagi ini masih terasa sangat sejuk di atas bukit itu.
Tidak ada orang yang mencurigakan mengikuti mereka. Bahkan semua pengawal walikota diperintahkan untuk tetap berada di Balaikota dan tidak jauh-jauh dari gedung itu. Hanya ada mereka bertiga di atas sana.
"Apa yang membuatmu tidak nyaman berada di sana tadi, Berlin?" Boni bertanya kepada Berlin sesampainya di taman kecil atas bukit itu.
"Entahlah, aku hanya mencurigai salah seorang pengawalmu. Namun aku tidak yakin kecurigaan ku itu benar atau tidak," jawab Berlin dengan membelakangi kedua orang itu sembari memandangi gedung putih yang tampak indah dari atas bukit kecil itu.
"Kita bisa bahas itu nanti," timpal Garwig.
Berlin pun membalikkan badannya menghadap kedua orang itu, kemudian bertanya, "baiklah, kita mulai dari mana?"
__ADS_1
Garwig pun memulai pembicaraannya. Dirinya membahas soal permasalahan Ashgard terlebih dahulu. "Baik. Aku, Boni, termasuk Prawira sudah berdiskusi dalam waktu singkat setelah pertemuan kita kemarin malam, dan aku membahas persoalan yang sedang kau hadapi."
"Berlin, kau satu-satunya generasi terakhir yang Keluarga Gates punya, dan kau satu-satunya putra dari Axel Gates ... seorang pria hebat yang pernah menjabat sebagai walikota, dan Alison Gates ... seorang wanita hebat yang setia serta selalu menopang lelakinya dalam situasi dan kondisi apapun."
"Kami sepakat akan berusaha memberikan keamanan penuh kepadamu termasuk orang-orangmu, Berlin."
Garwig sangat bersungguh-sungguh ketika mengatakan semua hal itu. Semua yang dikatakannya memanglah benar. Berlin juga menyadarinya bahwa hanya dirinya satu-satunya generasi terakhir Keluarga Gates. Meskipun dia memilik seorang saudara laki-laki yang kini berusia 23 tahun yaitu seorang lelaki bernama Carlos Gates Matrix. Tetapi Carlos tidak terhitung karena dia bukanlah saudara kandungnya.
Berlin merasa itu sangatlah berlebihan, bahkan walikota saja tidak sampai begitunya. "Kurasa itu berlebihan, meskipun aku tidak melarangnya. Tetapi, Garwig. Alangkah lebih baiknya, kau mengerahkan semua kekuatan itu bukan untuk diriku."
"Kita masih memiliki musuh yang harus ditaklukkan. Nicolaus Matrix seorang buronan yang sangat dicari, dan
Clone Nostra beserta antek-anteknya. Aku ingin kau fokus terhadap mereka dibandingkan diriku, Garwig! Dan bukankah membungkam orang-orang seperti mereka sudah menjadi tugasmu?"
Garwig melirik kepada Boni yang bersedekap berdiri di sampingnya. Boni mengangguk pelan dan paham dengan apa yang dikatakan Berlin. "Aku sudah merencanakannya untuk hal itu, Berlin. Lebih tepatnya, kami sudah merencanakannya," ucapnya.
"Baiklah jika begitu keinginanmu, Berlin. Namun Prawira menyuruhku untuk tidak melepasmu begitu saja, jadi aku akan tetap melakukan kesepakatan itu." Garwig bersandar pada sebuah pagar kayu yang berada di belakangnya. Mendengar hal tersebut, Berlin tak lagi menolak dan menyanggahnya. Ia memilih untuk diam.
"Oh iya, soal pulau itu. Bagaimana, Garwig?" timpal Boni mengalihkan pembicaraan menuju ke topik selanjutnya.
"Aku sudah melakukan pantauan udara menggunakan pesawat tanpa awak, dan aku melihat beberapa keanehan yang membuatku curiga pada pulau itu." Garwig menjawab pertanyaan itu dengan sangat serius. Setelah itu, ia melirik kepada Berlin dengan tatapan tajamnya dan berkata, "dari informasi yang ku dapatkan, Nicolaus berada di pulau itu."
Mendengar soal Nicolaus, tentu itu sedikit menyulut api pada hati milik Berlin. Apalagi mengingat kembali tenang semua kekacauan yang pernah disebabkan oleh seseorang bernama Nicolaus itu. Bahkan hampir semua kekacauan itu melukai orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Berlin sedikit menyela pembicaraan dengan tatapan tajam dan wajah datarnya.
Boni yang sedari tadi diam saja dapat merasakan aura yang berbeda dari Berlin. Trauma atas kekacauan yang pernah terjadi di masa lalu, dan betapa emosionalnya Berlin terhadap pria bernama Nicolaus itu. Boni dapat merasakan suasana mengerikan itu.
"Aku akan menyelidiki pulau itu," jawab Garwig. Namun lagi-lagi pembicaraannya langsung disela dengan pertanyaan, "bagaimana penyelidikan yang akan kau lakukan?" dari Berlin.
"Aku akan mengirim orang ke sana, Berlin. Boni dan aku sudah menyiapkan regu khusus untuk hal itu."
***
Pada pukul tiga sore hari. Rumah sakit sepertinya tambah ramai. Nadia akhirnya selesai juga dengan pemeriksaan yang telah ia lakukan. Wajahnya terlihat sangat ceria dan bahagia seperti habis mendapatkan kabar yang amat membahagiakan. Dirinya segera memesan taksi dan pulang, serta menyimpan sebuah kertas berisikan hasil pemeriksaan pada saku jaketnya.
Dari rumah sakit, sepanjang perjalanan, bahkan sesampainya di rumah. Nadia tidak bisa lepas dari senyuman dan wajah bahagianya yang selalu terpajang. Sesampainya di rumah, ia langsung duduk di sofa ruang tamu dan memeriksa kembali hasil pemeriksaannya.
"Ini bukanlah mimpi, 'kan?" Matanya berbinar-binar. Pada tangannya kini terdapat kertas hasil pemeriksaan itu, dan dua buah testpack dengan hasil yang sudah tertera jelas di sana. Dua buah garis dapat terlihat jelas pada dua buah testpack yang ia pegang, yang menandakan bahwa kini dirinya sedang positif mengandung.
Dengan perlahan dan lembut. Ia memegangi perutnya seraya berkali-kali melihat semua hasil pemeriksaan itu. Beberapa kali Nadia tersenyum dengan sendirinya.
"Aku akan memberitahu Berlin nanti saja. Kira-kira bagaimana reaksinya, ya?" gumamnya dengan sendirinya. "Menurutmu bagaimana reaksi ayahmu nanti, ya?" gumamnya lagi seraya mengelus perlahan perutnya yang masih rata itu. Kemudian ia tertawa kecil dengan sendirinya setelah berbicara sendiri. Dirinya tak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaan bahagia yang kini ia rasakan. Perasaan itu juga tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
.
Bersambung.
__ADS_1