
Dua hari telah berlalu semenjak kejadian yang disebabkan oleh kelompok merah itu terjadi dan selesai. Namun pihak kepolisian masih menjaga area tersebut. Ditambah lagi masih banyak fasilitas publik yang harus dibenahi karena mengalami kerusakan akibat kekacauan yang sempat terjadi di sana.
Prawira sibuk dengan pengamanan lokasi kejadian serta peningkatan keamanan di seluruh penjuru kota. Bagaimanapun juga kepolisian harus menciptakan keamanan agar masyarakat bisa merasa aman dan nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari mereka.
Di sisi lain, Garwig sepertinya sedang disibukkan dengan pekerjaannya yang bersangkutan dengan pemerintahan. Banyak sekali dokumen-dokumen penting pemerintah yang memerlukan keputusan serta tindakannya. Kebanyakan dokumen itu berisikan tentang keamanan dan pertahanan pemerintah.
Sedangkan Berlin kelihatannya sedang disibukkan dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya. Berkas-berkas tersebut terbagi menjadi dua bagian, dua bagian tersebut terbagi menjadi berkas Ashgard dan berkas khusus untuk semua informasi yang ia dan kelompok dapat.
Berlin mengambil salah satu dari berkas yang berisikan tentang informasi yang didapat. Dalam berkas tersebut terangkum banyak sekali informasi, dan rata-rata berkaitan dengan Clone Nostra. Masih saja belum menemukan titik terang untuk menangani dan menyelesaikan sindikat itu. Ditambah lagi Prawira dan Garwig tampaknya sedang disibukkan oleh berbagai masalah lain. Tanpa mereka berdua yang memiliki peran penting dalam pemerintahan, akan cukup sulit untuk Berlin bergerak.
Sebenarnya Berlin sendiri bisa saja membuat sebuah keputusan untuk segera menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Namun tetap saja dirinya membutuhkan kedua peran mereka. Peran terpenting bagi kekuatan serta pertahanan Kota Metro dan wilayah sekitarnya. Jika tanpa kekuatan itu akan sulit bagi Berlin dan Ashgard untuk menghadapi sebuah sindikat besar seperti Clone Nostra.
Tok ... Tok ...!!
"Masuk!" pinta Berlin kepada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
Pintu tersebut terbuka dan ternyata Kimmy yang mengetuk pintunya. "Bos, mau ku buatkan teh? Atau kau perlu minuman lain?" ucap Kimmy bertanya.
"Oh, um ... teh saja," jawab Berlin menghentikan sejenak membaca berkas-berkas di atas mejanya.
"Baik, tunggu sebentar." Kimmy pun beranjak pergi dari sana dengan kembali menutup pintu ruangan tersebut.
Berlin melihat ke arah jam yang ia pakai di pergelangan tangannya dan kemudian bersandar santai pada kursinya. Beberapa kali ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu banyak duduk dan berdiam diri di dalam ruangan.
Tak lama Kimmy datang kembali dengan membawa secangkir teh sesuai keinginan Berlin. Ia membawa secangkir teh itu masuk ke ruangan, dan meletakkannya tepat di atas meja milik Berlin.
"Terima kasih," ucap Berlin tersenyum.
"Sama-sama, bos." Kimmy sedikit menunduk lalu tersenyum. "Kalau begitu aku akan kembali ke ruang penyimpanan, ada beberapa hal yang perlu dicatat," ucap Kimmy kemudian.
"Silakan, dan bisakah kau panggilkan Adam dan Asep ke mari?" sahut Berlin.
"Baik, bos. Akan segera ku panggilkan."
Kimmy pun beranjak kembali meninggalkan ruangan tersebut, dan segera melaksanakan permintaan Berlin. Ia memanggil kedua rekannya itu untuk segera menghadap Berlin di ruangannya.
Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang membosankan baginya. Berlin hanya akan duduk di kursinya dan menyelesaikan beberapa dokumen yang ada. Pekerjaannya menjadi sangat banyak dan kebanyakan hanya berada di dalam ruangan semenjak dirinya memutuskan Ashgard menjadi bagian dari kepolisian.
__ADS_1
Tak lama kemudian dua rekan yang ia panggil pun datang. Berlin langsung menyambut ramah dan mempersilakan duduk di sofa ruangannya. Ia pun membicarakan soal apa yang harus segera dilakukan Ashgard ke depannya.
Berlin sendiri merasa bingung karena belum ada arahan sama sekali dari Prawira dan Garwig, dirinya berencana untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri bersama Ashgard tentunya. Karena menurutnya akan lama jika harus menunggu, dan tindak kejahatan yang mengakibatkan kekacauan seperti itu bisa saja kembali terjadi kapanpun itu.
"Memangnya apa yang akan kau rencanakan?" tanya Adam kepada Berlin seraya bersandar santai pada sofa tersebut.
"Kita bisa pikirkan soal itu nantinya, rencana akan selalu ada seiring berjalannya waktu." Berlin tampaknya tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
"Tetapi, aku memikirkan satu hal yang mungkin harus dicoba," lanjut Berlin bergumam dengan sendirinya, ia bersandar santai pada kursinya dan menatap ke arah atas.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Asep penasaran.
"Mungkinkah kita harus menyambangi wilayah kekuasaan mereka?" Berlin melirik tajam kepada dua rekannya itu.
***
Pukul 14:00 siang.
"Hei, siapa yang seenaknya memakai wilayah kami?!" teriak seorang pria dengan pakaian jas dan celana panjang berwarna putih menghampiri gerombolan orang berjaket kulit coklat di sebuah gang. Terlihat bekas luka bakar pada wajah bagian kanan pada pria tersebut.
Pria itu tampaknya tidak sendiri, ada banyak orang di belakangnya dan mereka menggunakan atribut yang sama yaitu serba putih. Mereka tampak tidak senang dengan kehadiran sebuah gerombolan orang yang kelihatannya memakai wilayah mereka untuk bersenang-senang.
"Oh, ya? Kalau begitu ... kami akan ambil alih wilayah ini lagi," jawab pria berjas putih itu menatap tajam lalu tersenyum sinis.
"Hah? Mengambil wilayah ini, lagi?" pria berjaket coklat itu tertawa sinis.
"Baiklah kalau begitu, kita buktikan saja siapa yang pantas memiliki wilayah ini." Pria berjas putih tampak memberikan kode kepada rekan-rekannya di belakang dengan sedikit melambaikan tangan sekali.
Melihat gerombolan orang berjas putih itu tampak lebih menyebar daripada sebelumnya. Gerombolan berjaket coklat pun menatap tajam dengan tatapan waspada. Mereka menganggap itu sebagai bagian dari sebuah ancaman. Masing-masing tangan mereka memegang saku dan tampak mengeluarkan benda yang ada di dalamnya.
Kedua kelompok itu saling berhadapan dengan tatapan tajam dan saling beradu pandang. Tangan-tangan mereka terlihat memegang sesuatu dari dalam saku mereka, yang tampaknya itu adalah senjata.
Pria berjas putih menoleh kepada rekan-rekannya di belakangnya, dan kemudian mengatakan, "habisi mereka! Kalian boleh membunuh mereka, tetapi setidaknya sisakan satu orang untuk hidup, dan beritahu kepada satu orang itu siapa kita."
Mendengar perintah tersebut. Sekelompok orang berjas putih mengeluarkan senjata mereka dari dalam saku, dan kemudian langsung maju menghantam kelompok yang menjadi lawannya tanpa ada rasa takut.
Mengetahui hal tersebut, kelompok berjaket coklat itu juga terlihat mengeluarkan masing-masing senjata mereka dari dalam saku, lalu melakukan perlawanan.
__ADS_1
Perkelahian pun terjadi antar dua kelompok yang menginginkan kekuasaan atas wilayah di mana mereka menginjakkan kaki mereka saat ini. Senjata tajam, senjata tumpul, dan bahkan senjata api seperti pistol mereka gunakan untuk melukai bahkan menghabisi lawan mereka.
DOR ...!! BUGHH ...!!! Craatt ...!!!
Suara tembakan, pukulan, dan bahkan suara tusukan benda tajam pun terdengar. Pertumpahan darah tidak dapat terelakkan di jalan kecil atau gang itu, bahkan sempat sedikit meluas sampai ke arah jalanan raya.
Beberapa warga yang melihat dibuat ketakutan dengan perkelahian antar dua kelompok itu. Mereka langsung berlarian menyelamatkan diri dan mencari perlindungan agar tidak menjadi korban salah sasaran. Beberapa dari warga yang melihat pun langsung segera menghubungi polisi atas kericuhan atau perkelahian yang terjadi.
"Kalian seharusnya tahu kami siapa!"
"Dan kalian sudah seharusnya tidak melawan kami!"
Pria berjas putih itu berteriak sembari terus memukul dan menusuk lawannya yang tersungkur. Di tengah perkelahian itu, tiba-tiba suara sirine pun terdengar dan suara itu tidak hanya satu. Ia pun segera bergegas untuk pergi dari lokasi, namun sebelum itu dirinya menghampiri seseorang yang tersisa dari kelompok yang ia serang.
Seorang pria berjaket coklat itu tampak tergeletak tak berdaya dengan luka sayat di bagian perut. Ia menghampiri orang itu lalu mengatakan, "ingatlah kami dan kau seharusnya sudah tahu siapa kami, beritahu rekan-rekan mu yang saat ini tidak berada di konflik ini! Beritahu mereka bahwa Clone Nostra akan mengambil kembali wilayahnya di kota."
Pria itu pun langsung pergi bersama teman-temannya dan menyebar ke segala arah ketika polisi datang. Polisi yang datang hanya mendapati para korban yang tergeletak dari pihak kelompok berjaket coklat. Mereka pun segera dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis karena luka mereka yang sangat parah. Luka akibat sayatan, luka akibat tembakan, dan luka akibat pukulan keras benda tumpul dapat terlihat di masing-masing tubuh para korban.
Lokasi tersebut langsung diamankan oleh kepolisian dari jangkauan orang-orang, dan pihak medis pun berdatangan ke lokasi. Kebanyakan dari korban perkelahian itu tewas akibat luka-luka yang mereka dapat. Namun hanya ada satu korban yang masih selamat. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit akibat luka sayat di bagian perut, dan akan menjadi saksi untuk kepolisian.
***
Pulau La Luna.
"Mereka sudah mulai bergerak, ya?" gumam Tokyo tampak rebahan di atas sebuah kursi di tepi dari sebuah kolam renang yang ada di halaman belakang vilanya. Ia ditemani oleh seorang wanita yang sangat cantik yang duduk di sampingnya. Wanita itu hanya mengenakan dress berwarna putih dan berbahan sangat tipis bahkan cukup tembus pandang.
"Ya, Nico sudah bergerak, saat ini mereka seharusnya sudah dapat merebutkan wilayah kita yang sempat kita tinggalkan." Wanita itu menjawab pertanyaan Tokyo. Ia ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Tokyo lalu memeluk lelaki tersebut.
"Ayolah, jangan menggodaku seperti ini," ucap Tokyo lalu merangkul wanita yang kini rebahan di sampingnya.
"Aku tidak menggodamu, kok. Tetapi aku hanya ... ingin dekat dengan mu, Tokyo." Wanita itu semakin mempererat pelukannya. Tatapannya sangat tajam sebagai seorang wanita dan tidak menunjukkan kelembutan sama sekali pada dirinya.
"Kau ini ... selalu saja," gumam Tokyo menghela napas meskipun dirinya sangat tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh wanitanya.
Namun di sisi lain Tokyo masih dan selalu memikirkan langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kelompok. Langkah pertama sudah selesai, dan kini pada detik ini Nico sedang melaksanakan langkah kedua untuk kelompoknya. Kini Tokyo memikirkan langkah selanjutnya yang akan ia ambil.
.
__ADS_1
Bersambung.