
Garwig di kantornya, lebih tepatnya di Gedung Balaikota, tampak cukup disibukkan oleh banyak dokumen yang menunggu keputusannya di atas meja. Di sisi luar gedung, masih ada banyak wartawan yang tampak tengah mencari informasi mengenai para tersangka. Tak hanya itu, beberapa dari mereka sempat menyebut serta mempertanyakan kelompok atau pihak ketiga yang membantu pihak aparat ketika menangani konflik beberapa hari yang lalu.
Kelompok atau pihak ketiga yang dimaksud adalah Ashgard, yang memang sejak konflik selesai, semua pihak dari Garwig dan Prawira menutup mulut jika diwawancarai soal mereka. Itu dilakukan atas permintaan Berlin sendiri, yang memang dirinya tidak ingin dipublikasikan, dan Garwig serta Prawira menghormati permintaan tersebut.
Baru lewat beberapa hari sejak dirinya menduduki kursi walikota. Garwig langsung menemui betapa hancurnya fondasi pemerintahan kota tersebut. Beberapa kali Garwig dibuat menggeleng kepala, menghela napas berat, dan merasa cukup pusing. Sepertinya dirinya harus membuat suatu perubahan berskala besar pada internalnya untuk memperbaiki semua kehancuran tersebut, yang di mana tentu itu akan membutuhkan banyak waktu.
Tok ... Tok ... Tok ...!
"Masuk!"
Sosok Siska memasuki ruang kerja milik Garwig, membawa sebuah catatan pada salah satu tangannya. Ia datang untuk melaporkan beberapa hal, salah satunya adalah mengenai proses pendataan ulang yang dilakukan oleh Prawira terhadap Tokyo El Claunius.
"Kira-kira kapan pengadilan tersebut akan berlangsung?" cetus Garwig bertanya.
"Sesuai dengan rencana yang telah dibuat, pengadilan tersebut dapat dilaksanakan secepat mungkin, paling cepat pekan depan, Pak. Namun rencana tersebut belum tentu dilaksanakan, karena anda belum memberikan izin serta keputusan untuk itu," ucap Siska, dengan intonasi dan sikap yang formal.
"Baik, laksanakan pekan depan untuk Tokyo, Farres, dan Kibo! Sedangkan untuk Boni, tahan dahulu!" ujar Garwig, tegas, dan meminta.
Siska mencatat permintaan tersebut, menundukkan kepalanya, mengucap, "siap, akan segera diatur ...!"
Selesai dengan tugasnya, Siska hendak melangkah keluar dari ruang kerja milik Garwig. Namun langkahnya terhenti dengan suara Garwig yang berucap, "tunggu ...!"
"Bisakah aku melihat data laporan mengenai kerusakan yang telah diperbaiki?" lanjut Garwig.
__ADS_1
Siska berbalik badan, menjawab, "oh, sebentar, mungkin saya bisa ambilkan terlebih dahulu data tersebut?"
"Silakan ...!"
Siska segera beranjak pergi untuk mengambil data tersebut. Tanpa menunggu atau membuang waktu lama, perempuan itu kembali lagi dengan sebuah lampiran catatan di tangannya. Ia pun menyerahkan catatan tersebut di atas meja milik Garwig.
"Sesuai dengan arahan anda, pemulihan berjalan dengan baik, terutama pada beberapa fasilitas pendidikan kita yang rusak," ucap Siska.
Berdasarkan catatan laporan yang ditunjukkan oleh Siska. Beberapa fasilitas publik perlahan mulai memasuki fase pemulihan hampir seratus persen, terutama pada fasilitas pendidikan salah satunya adalah sebuah perpustakaan kota yang juga terkena dampaknya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Tenang saja, semuanya berjalan dengan baik," lanjut Siska.
Garwig selesai membaca catatan tersebut, kembali meletakkannya di atas meja, kemudian menatap kepada Siska yang berdiri tepat di depan mejanya. "Sepertinya aku memang membutuhkan peranmu, Siska. Terima kasih," ucap Garwig, tersenyum. Sangat terlihat raut wajah lelah, dan senyuman yang cukup dipaksakan.
Garwig tertawa kecil mendengar hal tersebut, "ya, kau benar."
"Baiklah, saya izin keluar ruangan. Jika anda memerlukan saya, cukup panggil saja ...!" ucap Siska, sempat menundukkan sedikit kepalanya, sebelum kemudian berjalan keluar ruangan meninggalkan catatan tersebut.
Beberapa saat setelah Siska pergi dari ruangannya. Ruang kerja yang dingin itu kembali sepi, sunyi, tak ada orang lain selain Garwig sendiri di ruangan tersebut. Pria itu beranjak dari kursi kerjanya, melangkah menjauhi meja kerjanya, mendekat ke arah sebuah jendela besar yang ada di ruangan tersebut.
Tirai berwarna putih yang menutupi jendela besar itu, perlahan dilipat oleh Garwig, membuat cahaya matahari di siang hari merangsek masuk ke dalam ruangan. Cuaca di siang hari ini sangatlah cerah. Melalui jendela tersebut, dirinya dapat langsung melihat pemandangan dari halaman belakang Gedung Balaikota.
Gedung Balaikota yang mengalami kerusakan hampir lima puluh persennya, saat ini sedang menjalani pemulihannya. Banyak renovasi dan perbaikan yang dilakukan, bahkan beberapa sistem keamanan tengah mengalami pergantian dan pembaruan yang dilakukan atas perintah Garwig sendiri.
__ADS_1
Garwig Gates, kini secara resmi serta diakui oleh masyarakat sebagai walikota terbaru, menggantikan si penghianat Boni Jackson. Beban berat yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar itu kini berpindah, dan dipikul oleh Garwig. Sejak pertama kali pria itu menduduki kursi jabatan tersebut. Dirinya telah memberhentikan lebih dari sepuluh aparatur negara, yang ternyata terbukti memiliki peran sebagai antek-antek yang membantu penghianatan Boni Jackson berjalan.
"Axel, aku tidak yakin bisa memimpin seperti masa kepemimpinan mu," gumam Garwig, memandang tenang pemandangan rerumputan hijau di halaman belakang gedung. Sosok Axel Gates, yakni adalah ayah dari Berlin, tiba-tiba saja terlintas dalam kepalanya.
Pandangan pria paruh baya berjas hitam itu tiba-tiba saja tertuju ke bawah, dengan ekspresi yang terlihat sedikit murung. "Axel, aku rindu Gates yang dahulu, ramai sekali, sangat berbeda dibanding dengan yang sekarang, hanya tersisa beberapa, bahkan tak lebih dari sepuluh orang," gumamnya.
"Biarpun tak seramai dahulu, tetapi suasana kekeluargaannya ketika berkumpul semakin erat. Bagiku itu tidak menjadi masalah." Suara seorang pria tiba-tiba saja terdengar dari belakang Garwig. Ketika Garwig berbalik badan, menoleh. Sosok Prawira terlihat berdiri satu langkah setelah melewati pintu ruangan yang terbuka.
"Sejak kapan kau di sana?" sahut Garwig, terheran-heran karena kehadiran Prawira sangatlah tiba-tiba, bagaikan hantu yang muncul begitu saja.
Prawira melangkah ke dalam ruangan, menuju ke sebuah sofa panjang merah yang ada di sudut ruangan, menjawab, "baru saja sampai, sih."
"Apakah kau sudah menerima laporan yang ku kirim?" lanjut Prawira.
Garwig berjalan ke depan meja, dan kemudian bersandar pada meja tersebut, "sudah, aku sudah membacanya," jawabnya.
"Apakah yang kau laporkan benar-benar terjadi? Maksudku ... bukannya aku tidak percaya atas laporan darimu, namun laporan mu mengenai ekspresi Tokyo ketika memberikan keterangannya cukup menarik perhatianku," lanjut Garwig.
Prawira yang sebelumnya memasang ekspresi cukup ceria, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat serius. Ia melipat kedua lengannya di atas dada, dan bersandar santai pada sofa panjang tersebut sembari menjawab, "ya, itu benar. Ekspresinya sudah seperti seorang pembunuh berantai yang melakukan pembunuhan atas dasar kesenangan atau kepuasan semata. Pria itu, sungguh mengerikan."
"Dia orang yang sangat berbahaya," lanjut Prawira, tatapannya tajam dan serius kepada Garwig yang berdiri bersandar di depan meja kerjanya.
.
__ADS_1
Bersambung.