Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Jawaban Dari Pertanyaan Sebelumnya #216


__ADS_3

"Jaga, Kent!"


"Oke!"


Kimmy berseru kepada Kent ketika melihat Adam lihai menggiring bola basket memasuki area timnya. Kent bergerak cepat, menghalangi Adam yang melompat serta melemparkan bola tersebut ke arah ring basket, dan kemudian berhasil menangkisnya. Bola tersebut memantul kembali ke tanah, mengarah kepada Kina yang kemudian menerima bola tersebut. Bola telah berada di tangan Kina, rekan tim milik Kimmy. Mengetahui timnya berhasil membawa bola, Kimmy pun memulai komando untuk membangun serangan.


"Kina!" teriak Kimmy, mengangkat kedua tangannya ke atas, memberikan kode untuk mengoper bola.


Di sisi lain terdapat rekan timnya yang lain yakni Bobi dan Aryo yang berada dalam jangkauan pengoperan bolanya. Namun mereka semua dikawal ketat oleh teman-teman dari tim Adam, sehingga sangat sulit untuk menemukan ruang.


"Bobi!"


Bola tersebut dilempar, melayang menuju ke arah Bobi yang kemudian berhasil menangkapnya. Kimmy dengan sigap mencari ruang untuk lebih dekat dengan ring basket milik lawan. Melihat posisi Kimmy, Bobi kemudian dengan cepat mengoper bola tersebut kepada Kimmy. Ketika sampai di tangan Kimmy, Sasha dan Rony yang berada di pihak Adam dengan sigap menghalangi Kimmy untuk melakukan lemparan. Ruang kembali tertutup. Namun tidak menunggu waktu lama, kedua mata milik Kimmy melihat pergerakan Aryo yang berlari sembari melambaikan tangan ke arahnya.


"Aryo, gas!" dengan cepat Kimmy melakukan pergerakan yang tidak diduga oleh dua orang di hadapannya. Ia melangkah cepat ke kiri, dan kemudian dengan cepat melempar bola tersebut ke arah Aryo.


Aryo menangkapnya dan kemudian melompat setinggi-tingginya, serta mengarahkan bola ke arah ring basket. Namun sayangnya apa yang ia lakukan sia-sia, karena Carlos dengan sigap menghalangi arah bola serta tubuh dari Aryo. Bola itu kembali jatuh, dan dengan sigap Carlos mengambilnya, melemparkannya kepada Faris yang sudah berada di belakang para pemain lawan.

__ADS_1


Menyadari perlawanan yang begitu cepat, Kimmy dan timnya dengan sigap berlari kembali ke belakang untuk menghalangi serta menggagalkan serangan yang coba dibangun itu. Melihat reaksi lawan yang begitu cepat, Carlos dan teman-temannya langsung berlari ke depan untuk membantu Faris.


"Sial!" langkah Faris terhenti, karena sudah terdapat Bobi dan Kent yang menghalanginya. Jarak antara dirinya dan ring basket lawan tidak terlalu jauh, namun tidak bisa baginya untuk melakukan lemparan karena sudah dipastikan kedua orang itu menghalangi bola yang ia lempar.


"Oi! Percayakan padaku!" seru Carlos, berdiri di tengah-tengah dan berjarak lebih jauh dari ring basket dari pada Faris.


Faris yang melihat menaruh rasa keraguan, namun ia memutuskan untuk percaya kepada rekannya. Dengan cepat ia melemparkan bola tersebut ke arah Carlos. Laki-laki itu menangkap bola yang dioper kepadanya, dan kemudian langsung melemparkan kembali ke arah ring dengan jarak lebih jauh daripada rekan-rekannya. Keputusan yang sungguh egois, namun tak disangka kalau apa yang ia lakukan berhasil dan berhasil meraih tiga poin untuk timnya.


"Kau benar-benar gila!" cetus Adam, tersenyum, berjalan menghampiri Carlos setelah berhasil menciptakan skor dengan jarak yang jauh.


"Gimana caranya, tuh?" tanya Rony.


...


Berlin hanya duduk di bangku pinggir lapangan, menyaksikan setiap aksi dari pertandingan tersebut. Bersama dengan Garwig yang masih berdiri tepat di sebelah bangkunya bersama dengan sekretaris setianya.


"Kau menginginkan tim, maka aku membuatkan tim. Sekarang kau sedang menyaksikan tim yang akan diterjunkan ke lapangan esok hari," ucap Berlin, melirik dan kemudian tersenyum tipis kepada Garwig.

__ADS_1


Permainan itu masih berlanjut. Semua komunikasi mereka, dan setiap koordinasi dari kedua tim dapat disaksikan oleh Berlin dan Garwig dengan sangat jelas. Dengan menyaksikan bertapa kompaknya kedua tim itu ketika di lapangan, membuat Berlin cukup senang karena berarti dengan ini kekompakan mereka tidak berkurang atau menurun setelah apa yang sempat terjadi beberapa hari yang lalu.


Garwig tiba-tiba saja tertawa kecil, dan tersenyum ketika menyaksikan setiap komunikasi yang terjadi di lapangan. Pria itu mengangguk dan kemudian berkata, "aku sekarang tahu, jawaban dari pertanyaan ku sendiri."


"Berlin, apakah kamu menjanjikan hadiah untuk mereka? Katamu ini pertandingan, bukan hanya sekedar permainan," ucap Siska, menoleh dan bertanya kepada lelaki itu.


Berlin mengangguk dan menjawab, "ya, tentu saja."


"Apa itu hadiahnya?" sahut Garwig, menoleh kepada Berlin.


"Jika kau mau tahu, maka kau harus mengikutinya sampai akhir," jawab Berlin, tenang dan datar.


Garwig melipat kedua lengannya di atas dada, tertawa kecil dan kemudian berucap, "kau penuh misteri sekali hari ini, ya ...?"


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2