Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Kau Tetap Keluargaku #195


__ADS_3

Seorang pria berjas putih, tampak berdiri dikelilingi oleh orang-orang berjaket merah di lahan parkir pelabuhan itu. Mereka terlihat seperti sedang berbicara atau berkomunikasi, namun tidak dapat dipastikan apa yang sedang mereka bicarakan. Namun yang jelas dari apa yang Kimmy lihat, pria berjas putih itu tampak sangat terintimidasi oleh orang-orang berjaket merah itu. Terlihat sekali dari gerak-gerik dan gestur bahasa tubuhnya walaupun dirinya melihat serta memantau semuanya dari jarak yang lumayan jauh.


Seperti dengan apa yang diperintahkan serta diminta oleh Kimmy. Bobi diam-diam memotret setiap aktivitas janggal yang ada di lahan parkir pelabuhan itu dari atap sebuah gudang yang berjarak tidak jauh dari lokasi. Satu-persatu gambar berhasil ia abadikan sebagai barang bukti, dan beruntungnya tidak ada yang mengetahui keberadaannya di posisi tersebut.


Beberapa menit berlalu, dan mereka terlihat masih berbincang satu sama lain. Namun sepertinya tidak lama kemudian perbincangan mereka menemui titik akhir. Pria berjas putih itu dibuat berlutut oleh sosok bernama Felix Alarico, sebelum kemudian pria berjaket merah itu mengikat kedua tangan pria berjas putih ke belakang, dan menggiring langkah pria berjas putih itu menuju ke sebuah mobil besar berwarna hitam yang terparkir di sudut lahan parkir.


"Mereka bersiap untuk pergi dari sana. Kim, apakah kita akan terus mengikuti mereka?" ucap Kina, bertanya kepada Kimmy di sampingnya.


Komplotan jaket merah itu tampak sudah bersiap berada di atas kendaraan mereka masing-masing, sebelum kemudian perlahan jalan keluar dari lahan parkir dan beranjak pergi dari area tersebut.


"Aku akan meminta konfirmasi dari Berlin terlebih dahulu, dan melaporkan beberapa hal ini padanya. Namun tetap, untuk sementara ... kita akan mengikuti mereka diam-diam." Kimmy mengeluarkan ponselnya, dan hendak menghubungi serta memberi kabar Berlin soal semua aktivitas di pelabuhan. Sedangkan Kina, dirinya angkat bicara melalui radio komunikasi dan memberikan arahan untuk rekan-rekannya satu kelompoknya sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Kimmy.


Dengan arahan tersebut, Kimmy dan rekan satu timnya mulai bergerak setelah komplotan jaket merah itu sudah bergerak cukup jauh dari sana, namun masih terlihat. Kimmy dan timnya mengikuti mereka, dengan jarak yang sudah terukur dan terbilang cukup jauh agar tidak disadari dan dicurigai oleh salah satu dari mereka.


***

__ADS_1


"Berlin, kau tidak bercanda soal ini?" cetus Carlos, berbicara dan bertanya untuk memastikan soal beberapa lampiran kontrak yang saat ini berada di tangannya.


Berlin menarik napas panjang, dan kemudian menghembuskannya secara perlahan dan rileks. Cuaca sore hari yang amat cerah di taman belakang pekarangan kediaman kelompoknya. Dirinya berdiri tepat di tepi sebuah kolam ikan kecil yang letaknya berada di sudut taman, dan memilih lokasi tersebut untuk berbicara empat mata dengan saudaranya.


"Aku tidak bercanda, Carlos. Dan aku tidak ingin bercanda soal karir dan masa depan," ucap Berlin, tenang, dan santai ketika menjawabnya.


Berlin menoleh dan menatap wajah saudara laki-lakinya yang berdiri di sampingnya. Dirinya dapat menyaksikan adanya keraguan yang tersimpan di dalam diri Carlos.


"Tetapi, Berlin, aku tidak yakin dengan pekerjaan atau peran yang kau percayakan padaku." Carlos menghela napas berat, dan menggelengkan kepala sembari sedikit tertunduk.


"Namun aku tidak bisa percaya pada diriku sendiri, Berlin!" Carlos langsung membantah perkataan Berlin dengan tegas dan tatapan tajam. Tetapi setelah itu, dirinya kembali memalingkan pandangannya dari wajah Berlin, tertunduk dan kemudian berkata, "aku tidak yakin," nada bicaranya rendah dan bergetar, penuh dengan keraguan.


"Aku ... aku tidak ingin membuatmu kecewa padaku," lanjut Carlos, mengangkat sedikit pandangannya. Berlin diam dan memahami apa maksud dari yang dikatakan oleh laki-laki tersebut.


Keheningan pun tercipta selama beberapa detik setelah Carlos selesai berbicara. Berlin menghela napas sembari mengangguk dan kemudian berkata, "aku paham apa yang kau cemaskan sedari tadi, Carlos."

__ADS_1


Pria itu menoleh dan menatap serius saudaranya, namun meski serius tatapannya lebih terkesan hangat sebelum kemudian lanjut berbicara. "Aku membuat keputusan ini bukan berdasarkan diskusi ku bersama Garwig dan Prawira, namun berdasarkan apa yang aku percayai. Mereka berdua hanya mengikuti dan menyetujui usulan yang ku sampaikan."


"Setelah aku berpikir berhari-hari, aku pun memutuskan untuk menaruh cukup rasa kepercayaan ku padamu, dan aku ingin memberimu sebuah kesempatan untuk kau bisa meninggalkan dirimu yang dahulu."


"Bos! Kimmy mengirim laporan!"


Suara Asep terdengar menyela dan memecah pembicaraan kedua lelaki yang berdiri di tepian sebuah kolam ikan kecil. Berlin menoleh ke belakang dan menjawab, "aku akan segera ke sana!" serunya kepada Asep yang berdiri tepat di depan pintu kaca belakang.


"Carlos, mau bagaimanapun juga kau tetap keluargaku, dan aku tidak bisa melihat salah satu anggota keluargaku menjalani kehidupan yang tidak jelas, dan tak ada jaminan," cetus Berlin dengan tatapan serius namun terkesan hangat kepada Carlos di sampingnya.


Setelah berbicara seperti itu, Berlin melangkah pergi begitu saja dengan ditemani oleh tongkat bantu jalannya yang setia bersamanya dan menuntunnya. Lelaki itu meninggalkan sosok Carlos sendirian di sana dalam keadaan termenung.


Dalam genggaman salah satu tangan Calros terdapat lampiran kontrak yang belum juga ia berikan tanda tangan atau keputusan. Dirinya merasa cemas, gelisah, bimbang, karena Berlin telah memberikan kepercayaan dan amanah yang sangat besar kepada dirinya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2