Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Perampokan?! #52


__ADS_3

Pukul 12:05 siang.


Distrik Komersial.


Sekelompok orang dengan pakaian jaket putih dan masker berawarna putih menerobos masuk ke sebuah bank yang ada di tengah Distrik Komersial. Mereka semua bersenjata, dan langsung menembak ke arah langit-langit beberapa kali secara brutal.


"Semua jangan bergerak, dan jangan ada yang berani memberikan perlawanan! Atau akan kami tembak mati kalian di tempat!" pekik salah satu pria dari sekelompok orang bersenjata itu. Sontak aksi dari sekelompok bersenjata yang sangat tiba-tiba dan tidak terduga itu membuat seluruh orang yang ada di dalam bank langsung ketakutan. Para pengunjung dan pekerja bank tersebut langsung tiarap ketakutan sembari melindungi kepala mereka. Kini orang-orang tidak berdosa itu telah diselimuti oleh ketakutan yang mendalam.


"Hei, bawa satpam dan satu aparat itu ke belakang! Dan kalian, tahan para teller bank itu!" pria tersebut memberikan arahan untuk rekan-rekannya yang berjumlah lebih dari lima orang itu.


Satu satpam pria bersama aparat yang sedang bertugas sebagai penjaga bank itu, keduanya diseret secara paksa menuju ke ruangan bagian belakang dari meja teller.


"Katakan letak brankasnya ada di mana!" pria tersebut mengancam kedua petugas keamanan dengan sebuah senapan serbu yang ia todongkan tepat di kepala mereka berdua.


"Saya akan menunjukan lokasinya, tetapi tolong bebaskan mereka yang tidak bersalah terlebih dahulu!" aparat angkat bicara untuk menjawab.


Apa yang dikatakan oleh aparat itu justru membuat sekelompok orang bersenjata tertawa mendengarnya. "Haha! Tidak akan ada yang kami bebaskan dari sini!" ucap pria itu dengan tatapan tajam nan dinginnya. Ia berjongkok dan mendekatkan wajahnya untuk menatap aparat tersebut seraya mendekatkan pelatuk senjata api nya ke bawah leher milik si aparat.


"Cepat tunjukkan saja brankasnya! Atau ... kepala dan otak anda akan berceceran memenuhi lantai ini," ancam pria tersebut. Ujung dari senapan serbu yang dibawanya kini tepat di bawa dagu milik aparat itu, dan hanya tinggal menarik sedikit pelatuknya untuk mewujudkan apa yang baru saja ia ucap.


"Atau ... kita coba pilihan lain? Jika kau tidak mau menunjukkan di mana brankasnya, maka akan kami bantai semua orang yang ada di sini. Bagaimana? Tawaran yang menarik, bukan?"


Mendengar apa yang diucapkan oleh pria berjaket putih dengan identitas tertutup masker putih itu. Aparat dan satpam yang kini berlutut di hadapan mereka tidak punya pilihan lagi selain memberitahukannya.


Di kala sekelompok orang itu hendak berjalan menuju ke sebuah tangga yang menurun atau basement di mana brankas tersebut berada. Alarm dari bank tersebut telah aktif tanpa diketahui oleh sekelompok bersenjata itu, karena memang tidak memiliki bunyi yang nyaring.


***


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Kantor Polisi Pusat.


BraakK ...!!


"Perampokan?!" Prawira terkejut mendapatkan berita mendadak itu dari Netty yang memasuki ruangannya secara tiba-tiba. Ia langsung berdiri dari kursinya dan bahkan sempat menggebrak meja.


"Benar, pak!" sahut Netty masih berdiri di depan pintu.


"Kirimkan unit-unit yang dekat di sekitar lokasi kejadian selama divisi khusus belum datang ke sana, dan regu helikopter suruh mengudara sekarang!" Prawira berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju ke sebuah ruangan di mana Siska bekerja


"Baik!" sahut Netty kemudian beranjak pergi setelah menerima titah tersebut.


"Pak, perampokan baru saja terjadi di bank cabang Distrik Komersial, dan ada banyak sekali warga sipil di sekitar lokasi." Siska melaporkan hal tersebut ketika menyadari Prawira memasuki ruangnya.


Di atas meja kerja Siska terdapat sebuah layar monitor yang amat besar. Layar tersebut menunjukkan peta di mana lokasi kejadian perkara itu terjadi, yaitu pada bank cabang Distrik Komersial. Tak hanya itu, beberapa GPS milik setiap anggota juga dapat terpantau berwarna biru yang kini sudah berada di lokasi.


"Sejak kapan alarm bank itu telah aktif?" tanya Prawira kepada Siska.

__ADS_1


"Sensor alarm tersebut baru saja terpicu alias baru beberapa detik yang lalu aktif." Siska menjawab sembari menampilkan catatan laporan mengenai terpicunya alarm pada bank tersebut yang ditampilkan melalui layar monitornya.


"Baik, terima kasih." Prawira kemudian segera beranjak pergi dari sana dan hendak ikut terjun menuju ke lokasi kejadian perampokan bersama anggota-anggotanya.


***


Sirine kini meraung-raung di sekitar Distrik Komersial, dan wilayah tersebut langsung ditutup untuk umum oleh para aparat sampai perampokan telah berhasil teratasi. Helikopter milik kepolisian kini terlihat terbang mengelilingi lokasi tersebut, serta juga memantau bank yang jadi sasaran perampok itu melalui udara. Dan sepertinya tak hanya helikopter milik kepolisian saja yang kini mengudara, tetapi juga terdapat satu helikopter dari pihak reporter yang meliput berita kejadian perampokan itu secara langsung.


Tak menunggu waktu lama, empat buah mobil baja milik kepolisian datang dan langsung merapat ke arah bank tersebut. Dua buah mobil baja itu berhenti tepat di depan pintu masuk bank, sedangkan dua lagi berhenti di dalam gang tepat di belakang bank tersebut.


Negosiasi pun dilakukan, apalagi ketika melihat ternyata cukup banyak warga sipil yang menjadi tawanan di dalam bank. Hal itu membuat pihak kepolisian cukup putar otak agar tidak jatuh korban dari pihak tawanan, dan membebaskan para tawanan itu dengan selamat.


"Bagus, mereka benar-benar sangat menarik perhatian," gumam seorang pria dengan tuksedo putih yang ternyata adalah Doma.


Pria tersebut atau Doma kini berdiri tepat di atas dari sebuah gedung yang tinggi di antara gedung-gedung perkotaan. Dari rooftop gedung itu, ia dapat melihat dengan jelas keramaian yang terjadi akibat perampokan bank itu. Banyak polisi yang sudah berada di sana untuk menangani kasus perampokan. Doma dapat melihat semua itu dari atas gedung tersebut, meskipun lokasinya cukup jauh dari lokasi kejadian, tetapi tetap saja masih dapat terlihat.


"Hei, sepertinya perampokan itu sudah cukup mengecoh banyak orang," celetuk Dom mengambil radio komunikasi miliknya dan berbicara melalui radio.


"Hahaha! Bagus! Setidaknya di masa yang damai ini ada sedikit tontonan dari aksi yang menarik," sahut seseorang melalui radio. Suara pria yang tidak lain adalah Tokyo.


"Dom, lakukan langkah selanjutnya! Temui orang dalam kita!" titah Tokyo melalui radio tersebut kepada Dom.


"Baik!"


Dom segera beranjak pergi dari sana, dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Tokyo. Dirinya akan menemui "orang dalam" yang dimaksud oleh Tokyo itu. Entah orang seperti apa yang akan ia temui.


***


Beberapa sandera akhirnya telah dibebaskan oleh para perampok setelah menjalani negosiasi yang cukup memakan waktu. Namun setelah para tawanan yang menjadi nasabah bank tersebut telah dibebaskan, perampok masih tidak ingin membebaskan para pekerja bank.


"Mereka tetap tidak membebaskannya," lapor seorang petugas kepada Prawira yang berdiri tepat di belakang dari sebuah mobil van berwarna hitam milik kepolisian.


Tepat di samping Prawira terdapat seorang aparat dengan pakaian dan perlengkapan taktisnya, bahkan sampai identitas wajah pun tidak terlihat.


"Apakah lebih baik kita akan mendesak mereka dengan diam-diam?" tanya aparat taktis itu kepada Prawira.


Namun Prawira mengkhawatirkan hal yang buruk terjadi jika hal tersebut dilakukan. "Bukankah itu terlalu beresiko untuk para sandera?" sahutnya.


"Lalu, apa permintaan komplotan itu?" lanjut Prawira bertanya kepada anggota yang baru saja melapor.


"Mereka meminta tidak ada penyergapan dan segala tindakan ofensif dari polisi, dan minta mobil-mobil baja kita menjauh dari lokasi."


Prawira sempat diam dan berpikir sejenak sebelum akhirnya berbicara, "kurasa aku punya rencana," ucapnya lalu melirik ke arah aparat dengan perlengkapan taktis yang lengkap beserta senapan serbu itu.


Beberapa detik kemudian.

__ADS_1


Dua mobil baja milik kepolisian yang sebelumnya berhenti tepat di depan pintu masuk bank, kini berpindah dan menjauh. Hal ini membuat pintu masuk bank jadi sangat terbuka, bahkan para aparat polisi yang berjaga di depan bank dapat dengan langsung melihat para perampok itu. Mereka para aparat itu mungkin saja bisa langsung membuka tembakan, namun hal itu tidak terjadi karena mengingat masih ada nyawa warga tidak bersalah di tangan perampok.


"Oh, apakah kalian tidak ingin menurunkan dan meletakkan bidikan kalian? Yah, itu jika memang kalian para aparat sayang dan memikirkan nyawa orang-orang ini."


Seorang pria berjaket putih dan bermasker putih mendadak berjalan keluar secara perlahan. Tak lupa dengan liciknya ia menyeret sandera seorang wanita yang tampaknya adalah pekerja atau teller bank tersebut. Wanita itu diseret secara paksa dengan senapan serbu yang terus mengarah ke kepalanya.


Pergerakan pria itu diikuti oleh rekan-rekannya kriminalnya yang juga tak lupa menyeret serta memaksa para sandera untuk tetap ikut, dan bahkan menjadikan para tawanan itu sebagai tameng di antara mereka dan para aparat kepolisian. Tentu hal tersebut membuat para polisi menurunkan senjata api dan senapan mereka.


"Sepertinya polisi akan selalu lemah jika harus melibatkan nyawa yang tidak bersalah. Itu memang dan akan selalu menjadi kelemahan kalian," celetuk pria itu dengan nada bicara dan sikap yang sangat dingin. Ia tampaknya tidak takut di posisi tersudut atau terpojok oleh banyaknya anggota polisi yang sudah mengepung tempat itu. Justru pria itu malah mencoba untuk semakin memanas-manasi para aparat itu dengan perkataan-perkataan yang ia lontarkan.


"Tetap tenang dan jangan terpicu oleh emosi dan perkataan mereka! Biarkan para pelaku itu untuk sementara waktu berjalan entah ke mana mereka inginkan, sebelum akhirnya kita sikat mereka." Prawira yang berada di dalam mobil van tersebut memberikan arahannya kepada para aparatnya secara pelan dan melalui radio komunikasi. Suaranya benar-benar pelan, dan tidak ingin sampai didengar oleh para pelaku.


"Regu taktis tetap bersiap di tempat! Lakukan tugas kalian setelah mendapatkan waktunya!" bisik Prawira melalui radio komunikasi.


Regu taktis yang dimaksud itu bersembunyi di dalam gang-gang yang terletak di samping bank dan beberapa bangunan di dekatnya. Mereka menggunakan pakaian yang sangat gelap, sehingga tidak begitu terlihat jika berada di dalam gang-gang yang sempit dan sulit mendapatkan cahaya matahari di siang ini.


Mobil-mobil baja yang sebelumnya berada di dekat bank kini sudah menjauh dalam radius yang tidak dapat dilihat lagi oleh para perampok.


Sekarang hanyalah menunggu waktu yang tepat bagi aparat untuk menyergap dan meringkus para pelaku tanpa harus mengorbankan nyawa para tawanan.


***


"Jadi apa yang ingin kalian lakukan?" suara seorang pria bertanya demikian melalui sebuah radio komunikasi yang ia genggam. Pria tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Berlin. Kini ia sudah berada di kediamannya, dan beberapa saat yang lalu mendapatkan kabar mengenai perampokan yang terjadi di Distrik Komersial melalui rekan-rekannya.


"Yah, mungkin kami akan sedikit melihat keseruan yang ada di lokasi kejadian." Suara seseorang pria terdengar melalui radio tersebut menjawab pertanyaan Berlin.


"Baik, tetapi kalian jangan sampai membuat kegaduhan atau masalah apapun itu!" cetus Berlin tegas.


Beberapa menit kemudian.


Setelah selesai berbincang sedikit bersama dengan rekan-rekannya. Berlin pun beranjak keluar dari kamarnya. Ketika ia baru menginjakkan kaki keluar dari pintu kamar. Nadia yang duduk di ruang keluarga sembari melihat televisi tiba-tiba memanggilnya, "Berlin, lihatlah ini ...!"


Rupanya wanita itu sedang melihat berita siaran langsung mengenai peristiwa perampokan yang saat ini sedang terjadi di Distrik Komersial.


"Baru saja kita dari sana," gumam Nadia dengan nada bicara cukup bergetar, dan tatapan sedikit menyimpan ketakutan ketika melihat siaran berita itu. Pada siaran itu menampilkan sekelompok orang bersenjata yang tengah menggiring para tawanan menuju ke lapangan parkir yang ada di sana.


Berlin duduk di sofa tepat di samping istrinya dan meraih remote televisi yang terletak sofa tersebut. "Aku matiin televisinya, ya? Atau mau ganti channel aja?" ucap Berlin ketika melihat mata istrinya yang berkaca-kaca dan cukup menyimpan ketakutan ketika melihat kabar berita tersebut.


"Jangan! Aku ... penasaran sama kelanjutan beritanya," sahut Nadia lalu menatap kasihan para tawanan yang dapat dilihat melalui berita tayangan langsung. Kemudian wanita itu menyandarkan kepalanya sembari memeluk erat salah satu lengan milik Berlin.


Ketika melihat berita atau menerima kabar mengenai perampokan yang terjadi di Distrik Komersial itu. Berlin tidak begitu kaget atau terkejut, karena ternyata perasaan atau firasat yang sempat ia rasakan sebelumnya ternyata benar.


"Berarti ... pria itu adalah salah satu pelaku dari perampokan ini? Pasti tidak salah lagi, Clone Nostra adalah dalang di balik perampokan ini!" batin Berlin dengan pikiran yang mulai berspekulasi, dan mengingat kembali seorang pria berjaket putih yang sempat berpapasan dengannya ketika masih berada di Distrik Komersial tersebut.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2