Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Ruang Bawah Tanah #84


__ADS_3

Desing peluru tak bertuan terus saja terdengar tanpa ada hentinya, sudah bagaikan berada di tengah-tengah medan peperangan. Gudang persenjataan milik Clone Nostra berhasil diledakkan dan terbakar begitu hebat. Akibatnya itu membuat kepanikan di antara personel mereka.


Kepanikan itulah yang pastinya dimanfaatkan oleh Ashgard untuk menerobos masuk ke ruang bawah tanah melalui pintu darurat yang dimaksud Mavi. Bersama dengan Asep dan yang lain, Mavi menerobos masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui pintu darurat.


Akibat kerusuhan yang terjadi karena kebakaran hebat yang melahap gudang persenjataan mereka. Ashgard jadi dapat dengan mudah menyelinap masuk dengan memanfaatkan situasi yang kacau di antara para personel Clone Nostra.


"Masuk, dan habisi semua penjaga yang ada! Jangan disisakan!" titah tegas oleh Berlin kepada rekan-rekannya ketika mulai perlahan menuruni anak tangga menuju bawah tanah.


Berlin dan rekan-rekannya terus mengangkat bidikan mereka ketika menyusuri lorong anak tangga ke bawah itu. Ketika sampai di bawah, mereka menyambut para penjaga yang ada di bawah sana dengan beberapa tembakan.


DOR ...!!!


Berjumlah enam penjaga dengan pakaian serba putih dapat dihabisi dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari sepuluh detik. Di antara suara tembakan yang dikeluarkan oleh Berlin dan rekan-rekannya. Dirinya dapat mendengar beberapa teriakan terkejut yang berasal dari lorong-lorong yang ada di sana.


"Ini pasti bercanda," gumam Asep ketika mengetahui adanya lebih dari satu jalan yang bercabang, tepatnya ada tiga cabang.


"Lorong paling kiri adalah tangga ke atas, dan nanti akan tembus ke ruangan utama vila. Sedangkan dua lorong sisanya adalah penjara budak."


Berlin dan rekan-rekannya merasa beruntung karena telah membawa Mavi bersama mereka. Tanpa basa-basi Mavi menunjukkan kegunaan masing-masing lorong tersebut.


Mendengar lorong paling kiri adalah jalan menuju ke ruangan utama vila, Berlin merasa tidak ingin membuang waktu lagi untuk segera bertemu dengan Nicolaus. Ia langsung membagi tugas kepada rekan-rekannya.


"Kalian langsung saja bebaskan mereka yang ditahan. Aku akan menuju ruangan utama vila," ucap Berlin kemudian beranjak mengambil langkah sigap menuju lorong itu. Namun di tengah langkahnya, Adam memanggilnya dan membuatnya menghentikan langkahnya.


"Berlin, tunggu kami di sana. Kami akan hadir lebih cepat dari yang direncakan," ucap Adam.


Berlin menoleh dan menjawab, "jika kalian tidak ingin aku terbunuh, maka cepatlah ...!" jawabnya seraya melempar sedikit senyuman tipis sebelum kemudian melanjutkan langkahnya. Sedangkan rekan-rekannya langsung memasuki lorong-lorong itu, dan memeriksa satu persatu sel jeruji besi yang ada di sana.

__ADS_1


Ketika Berlin melalui lorong itu. Ia tiba-tiba saja mengambil radio komunikasi miliknya dari kantong, dan mengganti frekuensi radio tersebut untuk bergabung dengan frekuensi radio lain, sebelum akhirnya ia berbicara di frekuensi baru itu.


...


"Benar-benar tempat yang mengerikan," gumam Adam.


"Meski aku sudah menduga Clone Nostra akan memiliki tempat seperti itu, tetapi aku tidak menyangka akan sekejam ini tempatnya," timpal Asep.


Ketika menyusuri lorong itu. Mavi tiba-tiba berlari ke arah beberapa jeruji besi, dan mendapati cukup banyak orang-orang yang tertahan di dalam sel yang amat gelap dan sumpek itu.


"Mavi? Apakah itu anda?" cetus seorang pria di dalam jeruji itu sembari perlahan mendekati Mavi dalam keadaan lemas.


"Apa yang anda lakukan di sini?" lanjut pria itu.


"Aku akan membebaskan kalian," sahut Mavi.


"Tenang saja, mereka berada di pihak kita." Mavi mencoba untuk menenangkan orang-orangnya yang terlihat cukup ketakutan ketika melihat kehadiran Ashgard di sana.


Tak hanya pria, namun juga banyak sekali wanita dan anak-anak yang berada di tempat mengerikan nan kumuh itu. Mereka diperbudak secara paksa oleh Clone Nostra, dan kembali ditahan di tempat itu setelah selesai diperbudak. Sungguh miris dan mengerikan.


"Bagaimana kondisi di luar?" tanya Adam menggunakan radio komunikasi miliknya.


"Sangat tidak kondusif, mereka mengetahui kita di sini. Akan sangat sulit jika kita berusaha untuk membawa dan membebaskan para budak ini." Rony menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan apa yang ia lihat. Dirinya mendapatkan tugas dari Adam untuk memantau sekaligus menjaga pintu masuk ruang bawah tanah.


Adam benar-benar dibuat harus berpikir, apalagi dirinya memiliki tanggung jawab atas rekan-rekannya dan juga para tawanan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu. Bahkan jumlah tawanannya saja lebih banyak dari pada jumlah personel Ashgard yang saat ini berada di ruang bawah tanah tersebut yang hanya terdiri sembilan orang termasuk Adam sendiri.


"Cek, radio. Apakah ada yang mendengar suara saya?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup asing di telinga Adam dan rekan-rekannya melalui radio komunikasi tersebut. Adam sangat mengenal masing-masing suara rekan-rekannya. Namun suara yang baru saja berbicara sama sekali tidak termasuk suara yang ia kenal.


"Maaf sebelumnya karena telah memasuki frekuensi radio kalian secara tiba-tiba. Kami tahu frekuensi ini dari Berlin, dan ia meminta kepada kami untuk segera bergabung dengan kalian," ucap suara seorang pria pada radio komunikasi itu.


Mendengar logat dan caranya berbicara dengan bahasa yang cukup formal, dan juga menyebut soal Berlin. Adam jadi mengetahui siapa orang yang baru saja bergabung ke dalam frekuensi radionya.


"Baik, diterima. Prime, mohon bantuan dan kerjasamanya. Saat ini posisi kami cukup terdesak," ucap Adam berkomunikasi dengan pria yang ternyata adalah Prime.


"Baik, kami telah mengetahui kondisi dan posisi kalian dari Berlin, dan aku juga memiliki rencana untuk itu." Prime langsung berbicara demikian, dan membuat Adam sedikit terkejut.


Bukankah seharusnya Berlin dapat menghubungi Prime untuk membantu dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk saat pertemuan dengan Nicolaus dilakukan? Tentu pertanyaan itu terlintas di kepala Adam dan beberapa temannya, termasuk Asep yang juga berpendapat hal yang sama.


"Apa yang kau lakukan, Berlin?" batin Adam tidak menyangka akan hal itu.


***


Setelah melalui lorong beserta anak tangga ke atas. Berlin pun sampai di sebuah ruangan utama yang amat luas di vila itu. Benar-benar tempat yang mewah nan megah. Pilar-pilar di sana berlapis perak yang berkilauan, dan lampu-lampu itu berlapis sinar layaknya emas. Anak tangga menuju lantai dua juga didesain dengan amat mewah. Ini tempat yang penuh dengan kemewahan, namun sama sekali tidak membuat Berlin kagum dengan hal-hal seperti itu.


"Wah, wah, wah. Akhirnya datang juga tamu terhormat ku. Lama tak bersua, Berlin." Tiba-tiba saja seorang pria muncul dari lantai dua dan berhenti tepat di atas tangga.


"Kau ...!"


Tak salah lagi. Pria dengan tuksedo hitam dan terdapat luka bakar pada wajah sebelah kanan itu adalah ... Nicolaus Matrix. Pria yang selama ini menjadi buronan, dan sekaligus pria yang telah Berlin cari-cari.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2