Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Menemanimu, dan Selalu Bersamamu #96


__ADS_3

Pukul 04:55 pagi, Rumah Sakit Pusat.


"Ini beneran dirimu, 'kan ...?!" dengan sedikit isak tangis karena bahagia melihat kehadiran Berlin di hadapannya. Nadia memeluk erat pria itu seolah tidak ingin melepaskannya.


"Kalau bukan aku, siapa lagi?" sahut Berlin kemudian mencium lembut kening milik sang istri, serta kemudian menyeka air mata yang membasahi pipi milik wanitanya.


"Habisnya, kamu seolah menghilang tanpa kabar ...!" Nadia semakin mengeratkan pelukannya.


Berlin terkekeh kecil mendengar hal tersebut, dan kemudian berkata, "maafkan aku, aku lupa kalau ternyata tidak ada sinyal sama sekali di pulau itu."


Nadia menghela napas setelah mendengar penjelasan singkat itu, sebelum kemudian ia menatap dalam-dalam paras tampan serta kedua mata milik lelakinya dengan penuh arti. Hatinya benar-benar merasa sangat lega dan senang sekali dengan kedatangan Berlin kembali.


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya perempuan itu dengan intonasi yang terdengar sungguh lembut. Salah satu tangannya meraih pipi milik Berlin dengan tatapan yang tak bisa lepas dari kedua mata milik pria itu. Dirinya dapat melihat adanya sedikit luka gores pada salah satu pipi milik lelakinya.


Berlin tersenyum dan menjawab, "seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu." Ia meraih tangan lembut milik istrinya, dan kemudian menggenggam jemarinya.


Jarak antara mereka berdua benar-benar sangat dekat, bahkan secara perlahan terkikis ketika Nadia hendak berbicara, "aku sangat mencemaskan keadaanmu."


"Sepertinya aku sering membuatmu cemas, ya?" gumam Berlin sembari memejamkan matanya ketika kedua kening milik keduanya bertemu.


"Sekarang giliran ku untuk bertanya. Selama jauh dariku, dirimu baik-baik saja, 'kan? Aku sudah mendengar situasinya dan apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Berlin kembali membuat jarak antara keduanya.


Dengan senyuman manis yang terpampang pada paras cantiknya, Nadia menjawab, "kamu jangan khawatir, aku hanya perlu istirahat."


"Bagaimana dengan ...?" tatapan Berlin tertuju ke arah perut besar milik istrinya, sebelum kemudian meraih perut itu dan membelainya dengan salah satu tangannya.


"Sepertinya dia anak yang kuat, Berlin. Tadi dokter kandungan sempat memeriksanya, dan syukurlah hasilnya sangat baik. Tidak ada yang perlu dicemaskan," jawab Nadia kembali dengan perlahan menggenggam tangan pria itu yang keliatannya sedang asyik mengelus-elus perutnya.


Berlin menghela napas lega, dan hatinya merasa jauh lebih baik ketika sudah melihat bahwa istrinya dan calon anaknya baik-baik saja.


"Oh iya, bukankah kamu bersama dengan Siska? Lalu di mana dia sekarang?" tanya Berlin. Memang ketika ia sampai ke ruangan itu, dirinya tidak melihat orang lain selain istrinya yang terduduk di atas brankar.


"Setelah membawaku dan sempat menemaniku sebentar di sini, dia mendapat panggilan dari Prawira. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan dan di mana keberadaannya sekarang," jawab Nadia.


Berlin berpindah posisi dari yang sebelumnya hanya berdiri di samping brankar, kini duduk tepat tepi brankar agar bisa lebih dekat lagi dengan Nadia.


"Apakah kamu bertemu dengan Carlos?" tanya Berlin ketika duduk dan berada sangat dekat dengan wanita itu.

__ADS_1


Nadia mengangguk dan menjawab, "ya, dan dia sempat menunjukkan surat resmi seperti yang pernah kamu katakan sebelumnya."


"Dia tidak berbuat macam-macam padamu, 'kan?" sahut Berlin yang tampaknya cukup mencemaskan hal tersebut.


Nadia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak, tidak sama sekali."


"Bahkan ketika dia melihatku, dia seperti langsung menjauhiku begitu saja," lanjutnya.


Nadia menoleh dan sedikit mendongak untuk dapat menatap kedua mata milik suaminya sebelum kemudian berbicara, "kurasa dia mulai berubah, sayang."


"Tetapi dari sikapnya berbicara padaku, seolah dia masih tidak dapat melupakan kejadian-kejadian yang sudah berlalu," lanjut Nadia sedikit tertunduk sebelum kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu milik pria di sampingnya.


"Syukurlah kalau begitu, yang terpenting bagiku adalah kondisimu," gumam Berlin menggenggam jemari lembut milik sang istri, dan kemudian mencium kembali kening miliknya.


Meski hanya satu hari mereka berdua saling berjauhan. Namun dengan semua dan apa yang terjadi, itu cukup membuat keduanya saling menaruh rasa rindu yang bercampur cemas di hati masing-masing.


"Berlin, aku ingin pulang ke rumah," gumam Nadia sembari memeluk lengan milik lelakinya dengan mata yang perlahan terpejam karena rasa kantuk yang cukup mendalam.


"Iya, tentu nanti kita akan pulang," jawab Berlin.


Berlin menghela napas panjang sembari merangkul wanitanya dengan penuh kelembutan. Dirinya tentu menginginkan hal yang sama dengan istrinya, namun ia tidak yakin keinginan serta harapan itu dapat terkabul dengan cepat.


Ketika Nadia berbaring miring ke arah Berlin, tatapannya yang ngantuk itu masih tidak dapat lepas dari paras lelaki itu. Dirinya dapat menyaksikan betapa lelahnya pria itu, terlihat dari kedua matanya yang tidak dapat menyembunyikan kebohongan.


"Kamu juga harus istirahat ...!" pinta lembut Nadia dengan kondisi tangan menggenggam jemari kuat milik sang suami.


"Iya, tentu saja," jawab Berlin lalu mengecup manis kening milik istrinya untuk sekali lagi, dan kemudian membenarkan selimut yang dipakainya.


Berlin kemudian duduk di sisi brankar sambil menemani istrinya yang tampak mengantuk itu hingga tertidur, namun Nadia belum juga tidur.


"Berlin, aku jadi kepikiran bagaimana kondisi Akira dan yang lainnya. Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang mereka? Aku tadi sempat menghubungi Alana dan Nyonya Helena, namun tidak ada jawaban sama sekali." Nadia berbicara dengan penuh rasa cemas yang terlihat di matanya, apalagi ketika menyebutkan nama Akira.


Berlin jadi teringat apa yang dikatakan oleh Carlos ketika menjelaskan situasi kota pada saat pertemuannya di kediamannya beberapa waktu sebelumnya. Carlos menjelaskan tentang wilayah mana saja yang saat ini telah jatuh di tangan Clone Nostra, dan dia menyebutkan bahwa wilayah timur kota juga ikut jatuh di tangan sindikat itu.


Mengingat letak panti asuhan milik Nyonya Helena dan Alana serta tempat di mana Akira tinggal berada di Distrik Timur. Tentu Berlin jadi kepikiran soal kondisi keselamatan mereka.


"Aku tidak tahu, tetapi yang jelas kita berdoa supaya mereka baik-baik saja," ucap Berlin sembari menggenggam erat jemari milik wanitanya itu.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu dahulu ...! Lebih baik kamu istirahat untuk sementara waktu, kedua matamu juga sudah mengantuk gitu, loh!" lanjut Berlin memperingati istrinya supaya istirahat dan tidak terlalu kepikiran soal itu. Tentu dirinya tidak mau Nadia jatuh sakit akibat terlalu banyak pikiran dan kurangnya istirahat. Apalagi kondisi sang ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi calon buah hati yang berada di dalam kandungannya.


"Semoga mereka baik-baik saja, dan sudah berada di tempat yang aman, ya." Nadia terlihat sangat berharap dengan apa yang ia ucap, sebelum kemudian memejamkan matanya dan tertidur.


"Iya, semoga," gumam Berlin mengulas senyumannya ketika melihat wajah tidur milik istrinya, wajah yang sangat ia rindukan untuk ia liat selama berada jauh di pulau.


Genggaman tangan Nadia begitu kuat menggenggam jemari milik Berlin meskipun ia sedang tertidur, seolah dirinya tak mau lepas dari lelaki itu. Berlin tersenyum ketika tangannya terus digenggam oleh wanita yang sangat ia cintai, "jika begini, rasanya aku tidak ingin pergi-pergi lagi," batinnya.


Kemudian lelaki itu mendekatkan bibirnya ke arah salah satu telinga milik sang istri dan kemudian berbisik, "iya, aku akan tetap di sini, menemanimu dan selalu bersamamu."


Tiba-tiba genggaman yang sebelumnya sangat erat itu perlahan melemah dan membuat ruang untuk Berlin dapat menggerakkan tangannya. Nadia membuka sedikit matanya dan mengatakan, "berjanjilah ...!" bisiknya.


Berlin tersenyum dan mengangguk berkata, "aku berjanji ... tidak akan pergi lagi tanpa izin darimu."


Terlihat puas dengan apa yang baru saja ia dengar, Nadia kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya dengan senyuman tipis yang terlihat pada bibir manisnya.


***


"Tokyo, masih terpantau ada beberapa orang yang tampaknya terlambat mengungsikan diri ke zona aman. Apa yang harus kita perbuat terhadap mereka?" tanya seorang pria yang tampaknya anak buah Tokyo. Ia terlihat sangat tunduk ketika berhadapan dengan pria bernama Tokyo itu.


"Di wilayah mana?" sahut Tokyo bertanya.


"Distrik Timur."


"Jadikan saja mereka sebagai tawanan!" titah Tokyo.


"Bagaimana dengan anak-anak yang kami temui?" tanya anak buahnya untuk sekali lagi.


Tokyo terkekeh mendengar keraguan tersebut, "bukankah perintahku sebelumnya sudah jelas?" ucapnya dengan intonasi bicara yang rendah namun terkesan tajam dan mengerikan.


"Ba-baik!"


Pria yang tunduk padanya itu pun segera beranjak pergi dan melaksanakan titah Tokyo. Sesaat kemudian, seorang wanita yakni Karina datang menghampirinya dan menyampaikan sebuah kabar, "Sayang, orang yang ingin kamu temui sudah tiba di Balaikota."


Tokyo menyeringai tipis mendengar kabar tersebut, "baik, aku akan segera ke sana," ucapnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2