Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tak Berdaya #106


__ADS_3

BUGHHH ...!!!


Berlin langsung menyergap dan memukul dua orang pria yang melangkah tepat di dekat persembunyiannya. Meskipun salah satu lengan dan kakinya terluka, namun tampaknya ia tidak ingin menyerah begitu saja.


Baku hantam tidak dapat terelakkan. Tidak terlihat ketakutan sama sekali dalam diri Berlin. Tanpa ragu dirinya menghantam dua orang sekaligus di gang sempit itu. Dirinya memanfaatkan kondisi gang yang amat sempit, dan beberapa kayu serta tumpukan kotak di sekitarnya untuk menghajar orang-orang tersebut.


DOR ...! SET ...!!!!


Salah satu dari ketiga orang yang sedang ia hadapi itu menggunakan senjata apinya untuk menembak Berlin. Namun beruntungnya sebelum timah panas itu melesat mengarah dirinya. Berlin sudah lebih dahulu menendang lengan pria itu ke atas, dan membuat pistol yang digenggamnya tertembak serta terlempar k atas.


GUBRAKK ...!!!


Satu orang berhasil tersungkur tidak sadarkan diri usai menerima pukulan telak dari Berlin yang tepat mengenai di wajahnya, dan di saat itu juga Berlin merampas sebuah pisau kecil yang menempel pada pinggang pria itu.


"RASAKAN INI!!!" salah satu dari dua pria yang tersisa tiba-tiba saja meremas tepat pada luka sayatan di lengan kiri Berlin. Sontak hal tersebut membuat Berlin mengerang kesakitan, dan secara spontan dirinya menusukkan pisau rampasannya pada perut pria tersebut.


Namun meski begitu, satu rekan dari pria yang tertusuk itu menendang tubuhnya hingga terpental ke belakang dan membentur dinding.


"Ugh ...!!!" Berlin mengerang kesakitan sembari memegangi luka pada lengan kirinya yang berdarah cukup banyak. Tak hanya itu, cedera pada kakinya juga membuatnya kesulitan untuk berdiri lagi. Bahkan pandangannya seketika menjadi buram, karena kepalanya juga ikut terbentur dengan cukup keras.


"Cukup! Jangan bunuh dia!" terdengar langkah kaki dan suara seorang pria yang tampaknya pemimpin dari komplotan tersebut.


"Kau---" ucapan Berlin terbungkam setelah sebuah pelatuk pistol berada tepat di bawah dagunya.


"Berlin, jangan macam-macam lagi, karena tidak ada yang menolong dirimu di sini," ucap pria itu setengah berjongkok dan menodongkan pistolnya tepat di bawah dagu milik Berlin.

__ADS_1


Berlin benar-benar dibuat tidak bisa berkutik, dari jumlah pun dirinya sudah dipastikan kalah telak. Apalagi dengan luka yang ia terima dari kecelakaan sebelumnya cukup membuatnya kesulitan bergerak.


"Berdirilah!" titah pria tersebut menarik kasar lengan kanan Berlin untuk berdiri.


Setelah Berlin diberdirikan paksa oleh mereka. Tiba-tiba saja ....


BUGGHHH ...!!!!


Bahu dan tengkuk bagian belakang milik Berlin tiba-tiba dipukul keras menggunakan benda tumpul entah apa itu, dan seketika membuat pria berjubah hitam itu tidak sadarkan diri atau pingsan.


"Tenang saja, kami tidak akan cepat membunuhmu," bisik pria itu mendekatkan mulutnya ketika berbicara tepat di telinga kanan Berlin. Namun apa yang dia bicarakan tidak dapat didengarkan oleh Berlin yang sudah lebih dahulu dibuat pingsan tidak sadarkan diri.


"Tutup kepalanya!" titahnya kemudian beberapa anak buahnya langsung menutup serta mengikat kepala Berlin menggunakan kantong berwarna hitam.


***


"Akira?"


"Mama!" Akira langsung berlari ke arah Nadia yang terduduk di atas ranjangnya, dan kemudian memeluk ibu hamil itu dengan sangat erat menggunakan tangan-tangan mungilnya.


Tak berselang lama, Alana pun mengikuti Akira masuk ke dalam kamar inap milik Nadia dengan senyuman yang terpampang jelas di wajahnya. Hanya ada dirinya tanpa Nyonya Helena, karena wanita paruh baya itu harus mengurus beberapa kepentingan untuk anak-anak asuhnya.


"Syukurlah, syukurlah ...!" kedua mata milik Nadia tiba-tiba saja berkaca-kaca dan bahkan sempat meneteskan air mata. Dirinya begitu lembut membalas pelukan dari anak kecil itu, dan kemudian memberikan kecupan beberapa kali pada kening milik Akira.


"Nadia, kami benar-benar berterima kasih padamu," ucap Alana sembari duduk di sebuah bangku yang terletak tepat di sebelah ranjang yang digunakan oleh Nadia.

__ADS_1


Nadia melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Akira dan menjawab, "seharusnya kamu berterima kasih kepada Berlin."


Ketika menyebutkan nama orang tercintanya, secara spontan dirinya melirik ke arah pintu masuk ruangan dan bertanya, "oh iya, Berlin di mana? Bukankah kalian seharusnya ke sini bersama Berlin dan rekan-rekannya."


Jujur Alana tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, bahkan dirinya sempat bertanya secara personal kepada Kimmy sesaat sebelum Kimmy pergi meninggalkan halaman rumah sakit. Namun Kimmy hanya menjawab, "masih ada urusan yang belum selesai," yang semakin membuatnya bingung.


Namun ketika mendengar pertanyaan dari Nadia. Alana memilih untuk menjawab, "aku tidak tahu, tetapi sepertinya masih ada yang harus ia selesaikan."


"Jangan khawatir, Ashgard ternyata adalah kelompok yang hebat. Apa yang ku alami baru saja adalah pengalaman pertama ku bisa satu rombongan dengan mereka," lanjut Alana sembari menyunggingkan senyuman ceria kepada Nadia.


"He'em! Akira setuju dengan apa yang Kak Alana katakan," timpal Akira dengan kepala yang sedikit mendongak untuk bisa menatap paras cantik milik sosok 'Mama' baginya, "mereka hebat, dan kompak! Aku yakin papa akan baik-baik saja," lanjutnya dengan ekspresi yang cukup ceria dan senyuman yang begitu manis.


"Mama, mama kenapa ada di sini? Apakah mama terluka, sampai harus di rumah sakit?" cetus Akira tiba-tiba bertanya, kedua tangan mungilnya sembari menyentuh dan sedikit mengelus-elus perut besar milik Nadia. Tampaknya anak itu begitu perhatian dengan kondisi mamanya, apalagi tampaknya ia juga mengetahui ada sosok mungil yang berada di dalam perut itu.


Nadia tersenyum, hatinya dibuat tersentuh dengan anak itu yang tampaknya begitu perhatian dengan kondisinya. Dirinya pun menggelengkan kepala dan memberikan jawaban, "tidak, sayang. Mama tidak apa-apa, hanya saja dokter menyuruh mama untuk istirahat di sini," jawabnya sembari mengelus kepala milik anak yang berdiri tepat di tepi ranjang.


Akira terkekeh kecil dan tersenyum ketika mendapat sentuhan lembut itu. Tampaknya dirinya begitu asyik dan senang ketika diperlakukan seperti itu oleh Nadia.


Tawa dan ekspresi ceria yang ditunjukkan oleh Akira, cukup membuat hati Nadia yang sebelumnya gelisah dan merasakan kekhawatiran yang sangat mendalam kini menjadi lebih tenang. Namun tetap saja, kekhawatirannya terhadap keselamatan Berlin masih ada dalam hatinya.


"Mama, jangan takut, ada Akira di sini! Enggak cuma Akira, ada kak Alana juga, kok!" celetuk Akira menggenggam salah satu tangan milik Nadia dengan kedua tangan kecilnya. Lagi dan lagi, gadis kecil itu seolah dapat merasakan apa yang sedang Nadia rasakan. Lagipula, ekspresi wajah dan kedua mata milik Nadia memang terlihat jelas bahwa dirinya masih khawatir terhadap suatu hal.


"Yup! Akira benar!" sahut Alana melempar senyum kepada Akira dan juga Nadia.


"Iya, terima kasih," ucap Nadia sembari mengusap lembut salah satu pipi halus milik Akira, dan kemudian memberikan kecupannya kembali tepat pada kening milik anak itu.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2