Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Ikan #149


__ADS_3

Semua permasalahan, semua dendam, dan semua konflik yang terjadi kini telah selesai. Ashgard, termasuk Berlin, tidak lagi memiliki permasalahan dengan kelompok lain. Permasalahan terakhir mereka adalah berurusan dengan Clone Nostra, yang di hari sebelumnya telah diselesaikan.


Dua hari kemudian pasca konflik yang disebabkan oleh Clone Nostra mereda. Konferensi pers segera diselenggarakan oleh pihak pemerintah, Garwig bersama dengan Prawira mengangkat bicara di depan mata publik dan media. Mereka telah menyatakan sindikat bernama Clone Nostra secara resmi dibubarkan dan dibersihkan, begitu pula dengan Cassano(kelompok yang beraliansi dengan Clone Nostra). Dengan tertangkapnya dua ketua dari dua kelompok, itu menjadi simbolis bahwa kedua kelompok tersebut telah resmi bubar.


Di depan para wartawan dan awak media, Garwig juga menyampaikan persoalan penghianatan yang dilakukan oleh Boni Jackson, beserta antek-anteknya yang selama ini bersarang di balik nama baik pemerintah. Tidak ada yang ditutupi, tidak ada yang dihilangkan, tidak ada yang direkayasa, dan tidak ada yang disembunyikan. Semuanya Garwig sampaikan secara jujur, lugas, dan berdasarkan kenyataan. Tak lupa dirinya juga menyampaikan pengambilan tahta atau kursi jabatan sebagai Walikota, dan sekaligus meminta suara dari masyarakat mengenai persetujuan sekaligus dukungan atas naiknya dirinya sebagai walikota.


Dua hari telah berlalu, dan di pagi ini Berlin berada di vila keluarga besar miliknya bersama dengan sang istri yakni Nadia, dan calon putri angkatnya yakni Akira. Ia duduk di ruang keluarga lantai satu, dan menyaksikan semua pemberitaan tersebut. Semua yang dikatakan oleh Garwig, dan apa yang dikatakan oleh Prawira yang berdiri di samping Garwig. Berlin sudah lebih dahulu mengetahuinya, dan semua yang dikatakan oleh mereka di depan awak media adalah benar atau fakta.


"Garwig jadi walikota?" gumam Nadia berjalan dari dapur dengan membawa dua buah cangkir teh hangat. Ekspresinya menunjukkan rasa kaget dan tidak menyangka.


"Iya, kamu belum tahu, ya?" sahut Berlin tersenyum.


"Belum, malah aku cukup kaget setelah mendengarnya barusan," jawab Nadia, duduk di samping Berlin pada sofa tersebut, dan kemudian meletakkan dua cangkir teh di atas meja.


Berlin sendiri tidak terlalu terkejut dengan ungkapan Garwig yang ditujukan kepada awak media, dan dapat disaksikan oleh semua orang di seluruh penjuru wilayah. Dirinya sudah lebih dahulu mengetahui persoalan itu, ketika dirinya berbicara dengan Garwig di kantin rumah sakit dua hari sebelumnya.


Selain membahas soal pekerjaan. Dalam pembicaraan yang dilakukan oleh Berlin dengan Garwig di kantin waktu itu, juga sempat membahas tentang keputusan apa yang akan diambil pihak pengadilan atas penghianatan yang dilakukan oleh Boni Jackson beserta antek-anteknya. Tak hanya itu, Garwig juga berbicara mengenai dirinya yang harus mengambil alih posisi tersebut.

__ADS_1


Maka dari itu, sebuah pekerjaan yang memiliki peran sangat penting ditawarkan kepada Berlin. Berharap, Berlin menerima tawaran tersebut dan mau bergabung dengan Garwig. Sebuah pekerjaan atau peran yang sangat penting bagi keamanan, terutama keamanan Walikota.


Sampai detik ini, dan sampai di pagi hari ini. Berlin belum membuat sebuah keputusan mengenai jawaban yang akan ia ambil atas tawaran yang diberikan oleh Garwig. Meskipun dirinya tahu, bahwa tawaran ini bersifat darurat dan sangat dibutuhkan. Bisa saja Garwig mencari orang lain untuk mengisi peran atau pekerja tersebut, namun tidak akan semudah itu, dan pasti akan membutuhkan waktu lebih dari berbulan-bulan, atau bahkan sampai bertahun-tahun. Karena memang tidak sembarang orang yang dapat mengisi peran atau pekerjaan yang ditawarkannya. Hanya orang-orang pilihan, dan orang-orang kepercayaan. Dan Berlin benar-benar tidak menyangka, kalau Garwig mempercayai dirinya bersama dengan Ashgard untuk mengisi peran penting itu.


"Papa!" sosok gadis kecil berlari dari halaman belakang menghampiri Berlin yang sedang duduk santai bersama dengan istrinya. "Papa, ikan di kolam belakang sepertinya kelaparan. Bagaimana kalau kita kasih makan? Papa ikut, yuk?" ucap Akira, menggenggam tangan besar milik Berlin, dan berusaha mengajaknya.


"Iya juga, hari ini Papa belum kasih makan mereka," sahut Berlin, meraih sebuah tongkat alat bantu berjalan yang bersandar di tepi sofa, dan kemudian menggenggam tangan mungil milik Akira. "Yuk!" serunya.


Akira terlihat sangat gembira sekali, dan beberapa kali mencoba untuk menarik Berlin agar bisa lebih cepat. Namun kaki Berlin yang masih dalam masa pemulihan tidak dapat mendukung untuk itu.


"Sabar, sayang. Papamu belum bisa secepat itu," cetus Nadia berdiri di samping Berlin, dan menatap lembut ke arah Akira.


Nadia mengambil pakan ikan yang disimpan di sebuah gudang kecil di sudut halaman belakang. Sedangkan Berlin, ia mengikuti langkah kecil Akira, meskipun langkahnya sendiri cukup susah karena masih berjalan dengan alat bantu tongkat.


Akira sudah berdiri di tepi dari sebuah kolam ikan yang berukuran cukup besar yang ada di antara taman halaman belakang. Di dalam kolam itu terdapat banyak sekali ikan koi yang berenang-renang. Warna dari ikan-ikan itu juga sangat cantik dan berwarna warni, ada yang merah, ada yang putih, ada yang berwarna kekuning-kuningan, ada yang jingga, bahkan ada juga satu ikan koi yang berwarna hitam. Tak hanya warna, namun ukuran mereka juga bermacam-macam, ada yang besar, ada juga yang kecil-kecil.


Ketika Akira berdiri di tepi kolam, ikan-ikan di sana tampak menyambut kehadirannya. Mereka cenderung berenang di permukaan, mengagut-agut, dan berputar-putar tepat di depan Akira berdiri. Melihat ikan-ikan itu, wajah riang dan gembira Akira tidak dapat disembunyikan lagi.

__ADS_1


"Papa, aku boleh pegang, nggak?" cetus Akira, sempat menoleh kepada Berlin yang berdiri dengan bantuan tongkat di sebelahnya, sebelum kemudian perhatiannya teralih kembali ke arah ikan-ikan di kolam itu.


Karena kolam itu tidak terlalu dalam, dan tidak terlalu jauh untuk bisa meraih permukaan air. Berlin mengangguk dengan berkata, "boleh, tetapi hati-hati! Nanti kamu kecebur, loh ...!"


Akira seperti terkejut mendengar apa yang diucap oleh Berlin. Lantas ia mundur satu langkah, dan mendekat ke kaki Berlin sembari berkata, "nggak jadi pegang, ah! Akira nggak bisa berenang," ucapnya dengan intonasi dan sikap berbicara yang sungguh polos. Sontak apa yang dikatakan tersebut mengundang gelak tawa Berlin yang mendengarnya. Di saat itu juga, Nadia membawa satu toples kecil yang berisikan makanan ikan.


"Kalian ngomongin apa, nih? Mama boleh gabung, nggak?" cetus Nadia, senyuman manisnya tersungging dan seolah tidak pudar. Bumil itu mendekati Akira, dan membuka toples yang berisikan makanan ikan sembari berkata, "yuk, kita tebar?"


Akira mengangguk dan berseru, "ayo!!" bersemangatnya anak kecil itu. Berlin hanya melihat saja, sedang Akira dan istrinya tengah menebarkan pakan ikan di kolam tersebut. Seketika tempias air kolam akibat banyak ikan yang langsung menyerbu pakan yang ditebar beberapa kali mengenai tangan dan juga baju biru muda milik Akira yang dekat sekali dengan kolam.


Berlin tersenyum bahagia sepersekian detik, sebelum kemudian senyum itu menghilang. Ekspresi datar seolah dalam benaknya sedang tidak tenang dapat terlihat. Dengan kedua tongkat bantu jalannya, ia melangkah menjauh dari kedua orang tersayangnya, menuju ke sebuah bangku taman yang terletak di ujung.


Nadia menyadari pergerakan Berlin yang perlahan menjauhi dirinya dan juga Akira yang masih asyik bermain dengan ikan-ikan itu. Untuk sejenak, dirinya membiarkan Berlin, sampai aktivitasnya memberi makan ikan bersama Akira selesai.


Sesampainya di bangku taman, Berlin duduk di sana. Pemandangan bangku tersebut langsung menuju ke arah gedung-gedung perkotaan yang terlihat sangat jauh di sana. Berhubung letak dari vila miliknya ini berada di puncak salah satu perbukitan kota. Maka dari tempatnya berada saat ini, dirinya dapat melihat pemandangan indah itu, meskipun langit cenderung mendung di pagi ini.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2