
Di hari yang berbeda, tepatnya di pagi hari yang kali ini cuacanya cukup cerah. Nadia terbangun dari tidurnya, ia terkesiap mendengar beberapa deru mesin yang berasal dari luar vila, atau tepatnya di halaman depan vila. Rambutnya masih acak-acakan, piyamanya bahkan sempat sedikit merosot dari pundak. Bumil itu masih mengumpulkan nyawanya untuk sepenuhnya terbangun.
Tepat di sampingnya terlihat sosok Akira yang masih tertidur nyenyak dengan sebagian tubuh tertutup selimut tebal. Hanya Akira saja yang ada di sana, dirinya tidak menemukan sosok Berlin berada. Sepertinya anak itu tidak terbangun setelah mendengar beberapa deru mesin yang cukup menggelegar di halaman vila, entah apa yang sedang terjadi di sana.
Karena penasaran dan rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Nadia beranjak turun dari ranjangnya, setelah sepenuhnya kedua matanya terbuka, dan sedikit membenarkan piyama berwarna merah muda yang dipakainya.
Wanita itu melangkah keluar kamar, menghampiri sebuah jendela besar di ruang keluarga depan kamar, dan melihat apa yang sedang terjadi di halaman vila. Dari atas ketinggian tiga lantai itu, Nadia dapat melihat banyak mobil-mobil sport koleksi milik Berlin yang diparkir rapih di depan halaman vila. Di sana juga terlihat sosok Berlin, yang tampak tengah berbincang serius dengan rekannya yakni Adam, Kimmy, dan Asep.
Dengan rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Nadia pun perlahan menuju tangga, menuruni anak-anak tangga itu perlahan-lahan, sampai ke lantai dua vila, dan terus menuju ke tangga untuk turun ke lantai dasar.
"Apa kalian bisa mengurus semua transaksinya?" tanya Berlin kepada dua orang rekannya, yakni Adam dan Asep. Tampaknya ia berbicara mengenai mobil-mobil keren dan mewah miliknya.
"Bisa, Bos. Tenang saja, kami akan mengerjakannya dengan baik!" sahut Adam, sedikit menundukkan kepalanya.
"Namun apakah kau yakin dengan keputusanmu, Berlin? Sayang sekali jika kau harus menjual dan melepas semua kepemilikan atas benda-benda keren ini, bukan?" cetus Asep.
Sebelum Berlin menjawab pertanyaan itu, sang istri yakni Nadia sudah lebih dahulu menghampirinya dari belakang. Ekspresi Nadia terlihat cukup bingung dengan apa yang terjadi di halaman ini. Banyak koleksi mobil milik Berlin yang hampir selalu disimpan di garasi, kini dikeluarkan.
"Berlin, tumben sekali kamu mengeluarkan semua mobil ini, ada apa?" tanya Nadia, dengan intonasi yang masih terdengar lemah karena baru bangun tidur.
Menyadari kehadiran sang istri. Berlin langsung melepas jaket berwarna putih yang dipakainya, dan langsung membungkus tubuh bagian atas Nadia yang cukup terlihat karena piayamanya yang sedikit longgar. Di saat itu juga, Adam dan Asep langsung membuang tatapan mereka ke arah lain, dibarengi oleh tatapan tajam dari Kimmy.
Berlin sedikit merangkul pasangannya setelah memakaikan jaket miliknya, dan kemudian menjawab pertanyaan itu. Tatapan tajam dan seriusnya mengarah kepada ketiga rekan kepercayaannya yang sampai saat ini ada berdiri di depannya.
"Ya sudah itu saja, dan ku harap kalian mengerti ...! Jadi aku minta tolong, segera kerjakan ...!" ucap Berlin, intonasi bicaranya tidak terdengar tinggi, namun aura kepemimpinannya begitu terasa bahwa dirinya memberikan permohonan sekaligus perintah itu dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, Bos ...!" ketiga temannya menunduk patuh, sebelum kemudian beranjak pergi dari hadapannya. Mereka kembali mendata dan mencatat setiap mobil yang kini telah tersusun rapi berbaris di halaman.
Berlin berbalik, berjalan kembali masuk ke dalam vila, dengan merangkul istrinya. "Aku berencana untuk menjualnya, daripada hanya jadi pajangan dan tidak terpakai." Berlin menjawab pertanyaan istrinya, sembari dirinya melangkah bersama dengan wanita itu masuk ke dalam ruang tamu vila.
"Apa kamu serius?" sahut Nadia, perlahan duduk di sebuah sofa ruang tengah.
Berlin mengangguk yakin, "ya, aku serius." Kemudian melangkah sedikit ke dapur untuk mengambil secangkir minuman hangat.
"Tetapi bukankah kamu menyayangi semua mobil itu?" cetus Nadia, duduk manis di sofa sembari menunggu suaminya.
Berlin membawa dua cangkir teh hangat, dan meletakkan teh tersebut di atas meja depan Nadia. "Biaya yang diperlukan untuk renovasi rumah sangatlah banyak, Sayang." Berlin duduk tepat di samping sang istri sembari berbicara.
"Kerugian yang dialami sangatlah parah, bahkan biaya beli atau bangun rumah lebih mending daripada merenovasi semuanya," lanjut Berlin.
Dampak atas penyerangan berskala besar yang dilakukan oleh Clone Nostra beberapa hari kemarin, tampaknya juga merugikan Berlin secara material. Rumah utama miliknya yang menjadi salah satu korbannya. Maka dari itu, setelah pulang dari rumah sakit, Berlin membawa istrinya dan calon putri angkatnya menuju ke vila.
Berlin menggeleng menjawab, "tidak, lebih baik kita pindah saja, dan bangun dari awal. Bagaimana? Apa kamu setuju? Kalau enggak, kita bisa memilih pilihan pertama, yaitu renovasi."
Nadia tersenyum, menjawab, "aku ikut keputusanmu saja, jika memang itu baik, Berlin. Namun pertanyaan, kita mau pindah ke mana?" ucapnya, melempar kembali sebuah pertanyaan dengan tatapan penasaran.
Berlin tersenyum, seolah telah menyimpan sesuatu, dan merahasiakannya dari sang istri. "Tenang saja, aku sudah menentukan tempatnya, dan aku yakin kamu sama Akira pasti suka sama lokasinya!" jawab Berlin.
Kedua mata Nadia menyelidik, menatap tajam raut wajah suaminya, "ih, kamu mah mainnya rahasia-rahasiaan!" dengusnya kesal, bibir merah muda miliknya mengerucut sebal.
Melihat ekspresi tersebut, Berlin terkekeh dan kemudian berkata, "iya, iya. Nanti kita ke lokasinya, ya?" ucapnya dengan intonasi lembut, sembari merangkul dan menyandarkan kepala Nadia pada bahu miliknya.
__ADS_1
Langkah kecil terdengar menuruni tangga hingga ke lantai dasar. Rambutnya masih acak-acakan, muka bantalnya yang imut itu masih terlihat, dan salah satu tangannya masih sibuk mengucek-ucek mata yang sepertinya masih lengket. Nadia yang menyadari kehadiran Akira langsung menyambut anak itu, yang berdiri di anak tangga terakhir sembari menguap beberapa kali.
"Pagi, Akira! Kamu mau sarapan apa?" tanya Nadia, tersenyum melihat kedatangan anak itu, sembari menggandeng gadis kecil itu menuju ke ruang makan bersama Berlin.
"Senwih pakai telur, Ma ...! Akira kepingin makan itu, hoaamm ...!!" Akira menguap sesaat setelah menjawabnya, duduk di atas kursi tepat di samping Berlin.
Berlin tersenyum melihat muka bantal putrinya, sebelum kemudian ia beranjak berdiri, dan hendak membantu Nadia untuk menyajikan sarapan.
"Papa, Mama, di luar kayaknya ada balapan, ya?" celetuk Akira, intonasinya masih terdengar sangat pelan, sepertinya dirinya masih berusaha untuk tersadar sepenuhnya. Gadis kecil itu sepertinya mendengar lamat-lamat beberapa kali deru mesin mobil dari halaman depan.
"Lagi ada pameran mobil, Sayang. Biarin saja, atau jangan-jangan Akira mau lihat?" sahut Berlin dengan intonasi bergurau, sempat menoleh ke arah Akira, sebelum akhirnya kembali fokus mengambil beberapa piring dari rak piring dengan satu tangannya, sedang satu tangannya lagi terus menjaga keseimbangan tubuhnya dengan memegang terus sebuah tongkat alat bantu berjalan.
"Pameran mobil? Hoaamm ...!!!" sahut Akira, sebelum kemudian kembali menguap, bahkan beberapa kali kepalanya hampir kehilangan keseimbangan untuk terus terangkat.
Nadia menyikut sedikit suaminya yang berdiri di sebelahnya, menatapnya dengan ekspresi seolah sedang berkata "jangan menggodanya, ini masih pagi!" kepada Berlin. Namun Berlin hanya terkekeh melihat betapa lucunya Akira yang sepertinya masih mengantuk.
***
BraakK ...!!!
"Carlos Gates Matrix, silakan ikut saya menuju ke ruang pertemuan!" seorang aparat taktis dengan penutup wajah membuka kasar pintu ruangan milik Carlos.
"Tidak perlu menyebutkan nama ku dengan lengkap juga, kali!" dengus Carlos berdesis kesal.
.
__ADS_1
Bersambung.