
Rintik hujan perlahan turun dan membuat apa yang ada di bawahnya basah semua. Cuaca di pagi ini dapat dilihat sedang tidak cerah, bahkan intensitas hujan perlahan-lahan terus menambah dan semakin deras. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, dan di pagi ini Berlin sudah bersiap-siap hendak berangkat, tidak lupa juga untuk sarapan.
"Akira mana? Belum bangun?" tanya Berlin sembari menyantap roti lapis berisi daging dan sayuran buatan istrinya yang paling enak.
Nadia tersenyum hangat menjawab, "aku sudah membangunkannya, tetapi dia belum beranjak dari kasur. Sepertinya masih tidur."
Tak berselang lama dan pas sekali Berlin telah menghabiskan roti lapis miliknya. Terdengar suara mobil yang sepertinya berhenti di luar halaman. Berlin sempat memeriksanya melalui jendela, dan memang benar ia melihat sebuah SUV berwarna hitam yang berhenti di luar pagar.
"Tepat waktu sekali dia," gumam Berlin, kemudian beranjak ke sofa dan mengambil beberapa barang bawaannya yang telah disiapkan di atas sofa tersebut.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Nadia, berdiri di ambang pintu masuk.
"Iya, karena harus ada beberapa hal yang dipersiapkan, dan ditambah akan ada arahan dengan pihak kepolisian," jawab Berlin, namun tanpa menoleh ke belakang karena sibuk memasukkan beberapa barang pentingnya ke dalam tas selempang kecil.
Bumil itu beranjak kembali ke meja makan yang berada di dapur, mengambil segelas susu yang belum disentuh oleh Berlin, dan kembali ke ruang tengah sembari berkata, "minumlah dahulu ...! Kamu selesai makan, dan belum minum sama sekali," ucapnya sambil memberikan gelas hangat itu kepada suaminya.
"Oh, iya! Aku hampir lupa, terima kasih ...!" sahut Berlin, menghentikan aktivitasnya sejenak, menerima segelas susu hangat itu dan kemudian menenggaknya.
"Kamu dijemput siapa?" tanya Nadia. Pada wajahnya terlihat jelas bahwa dirinya sedang menyimpan rasa takut bercampur khawatir.
Berlin menatap istrinya dan menjawab, "Adam. Dia yang mengemudi mobil di depan," jawabnya, sembari memakai jaket berwarna biru kesayangannya.
Nadia melangkah lebih dekat tepat di hadapan lelakinya, dan kemudian membantu laki-laki tersebut memakai jaketnya. Tatapan Berlin terlihat sangat lekat memandangi paras cantik milik istrinya, apalagi dengan jarak yang cukup dekat. Salah satu tangan milik Nadia perlahan turun setelah selesai membenahi kerah jaket milik suaminya. Pandangan kedua mata milik wanita itu seketika kosong, dan terlihat sekali kalau dirinya seolah sedang dilanda kegelisahan.
__ADS_1
"Tenang saja, jangan terlalu khawatir!" cetus Berlin, berbicara dengan intonasi yang terdengar lembut menenangkan, apalagi dengan tatapan serta sikapnya yang dapat membuat siapapun di dekatnya merasakan ketenangan seperti dengan sifatnya.
Nadia memasang senyuman yang terkesan cukup dipaksakan, dan kemudian berkata, "kamu hati-hati, ya ...! Jangan terlalu memaksakan diri, jangan gegabah, dan jagalah dirimu!" ucapnya dengan intonasi yang terdengar rendah, ditambah dengan tatapan lembutnya yang langsung menatap kedua iris mata milik lelakinya.
Berlin tersenyum senang ketika mendengar kata-kata yang selalu mengingatkan dirinya setiap hendak berangkat untuk melakukan atau menjalani hal-hal yang berbahaya. Ia kemudian membelai salah satu sisi rambut milik istrinya dengan tangan kanannya sembari berkata, "iya, aku enggak lupa semua itu, kok."
Bumil itu hanya tersenyum hangat setelah mendengar tanggapan dari suaminya, sebelum kemudian ia beranjak mengambil sebuah payung yang disandarkan di dinding tepat di sebelah pintu. Berlin mengambil barang bawaannya, dan kemudian melangkah ke teras bersama dengan istrinya.
"Kamu jangan pakai pakaian yang tipis, ya ...! Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang dingin," ucap Berlin sedikit menyindir dress putih berkain cukup tipis yang dikenakan oleh istrinya.
"Iya, habis ini aku ganti baju," jawab Nadia tersenyum.
"Oh iya hampir lupa juga, bola milik Akira ada di gudang, nanti jangan lupa berikan padanya, ya ...!" lanjut Berlin.
Lagi-lagi Nadia hanya menjawab dengan mengangguk pelan sembari memasang senyuman di wajahnya dan berkata, "iya, nanti aku berikan kepadanya."
Wanita itu kemudian menatap dalam-dalam dirinya, menyunggingkan senyuman yang terkesan sungguh lembut dan kemudian berkata, "semangat! Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu!" ucap Nadia dengan intonasi dan ekspresi semangat yang ia tunjukkan untuk Berlin.
Berlin tersenyum, mengangguk dan kemudian berkata, "terima kasih," sebelum akhirnya mendaratkan kecupan mesra pada kening milik istrinya, begitu pula pada perut besar bumil itu.
***
Pagi hari dengan cuaca yang tidak cerah. Curah hujan di pagi ini perlahan meningkat, dan semakin deras mengguyur rata ke seluruh wilayah di setiap penjuru kota. Pada pagi ini, kantor polisi pusat terlihat sangat dipenuhi oleh anggota polisi dari berbagai divisi. Lebih tepatnya mereka memenuhi dan berbaris halaman belakang kantor polisi.
__ADS_1
Para personel atau anggota itu terlihat seolah tidak peduli dengan cuaca yang menerpa. Mereka tetap berdiri tegak dan berada di dalam barisannya, meskipun hujan semakin deras mengguyur, ditambah di pagi ini semakin terasa dingin. Tidak hanya personel pria, namun terpantau juga banyak personel wanita yang ada di dalam barisan di setiap divisi.
"Apakah mereka telah diberikan arahan sesuai dengan rencana?" tanya Prawira menemui sekretarisnya yakni Netty di teras kantor bagian belakang.
"Sudah, mereka telah mendapat arahan dari James dan Prime. Sisanya mereka hanya tinggal menunggu arahan untuk berangkat," jawab Netty, tidak lepas dari buku catatan yang selalu melekat di tangannya.
"Lalu bagaimana anggota yang sudah di lapangan?" tanya Prawira.
"Setiap anggota di lokasi sudah siap, cincin perimeter juga sudah dijaga ketat, dan arus lalu lintas telah berhasil dialihkan. Semuanya sudah siap," jawab Netty kembali.
Prawira mengenakan mantel panjang berwarna hitam miliknya sembari kembali bertanya, "bagaimana dengan Ashgard? Apakah sudah ada kabar dari mereka?"
"Aku hanya menerima kabar--lebih tepatnya menerima satu pesan singkat dari mereka," jawab Netty, mengambil ponsel miliknya dari dalam saku.
"Pesan singkat?" tanya Prawira, selesai mengenakan mantelnya.
Netty mengangguk, memperlihatkan pesan singkat yang berisikan kode angka yang tertulis, "10-8 kantor pusat".
Prawira terkekeh kecil dan tersenyum setelah mengetahui kode kepolisian yang ternyata digunakan oleh Ashgard, "sepertinya perlahan mereka telah menyesuaikan," ucapnya.
"Baik, kalau begitu aku ingin kamu persiapkan personel khusus seperti apa yang diminta oleh Garwig kemarin! Anggota personelnya sudah ditunjuk, tinggal bantu untuk menyuplai perlengkapan mereka saja," lanjut Prawira, kemudian beranjak menembus derasnya air hujan menuju ke depan seluruh anggotanya yang berbaris di halaman belakang.
Netty tersenyum melihat betapa tegasnya pria yang sedang berbicara di depan para personel miliknya. Meskipun suara hujan yang deras terdengar cukup membisingkan telinga, namun tetap tidak meredupkan suara lantang dan tegas milik Prawira ketika berbicara.
__ADS_1
.
Bersambung.