
Tidak ada yang bisa dilakukan, atau lebih tepatnya tidak ada tuntutan pekerjaan yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Di hari berikutnya, dan bertepatan pada momen akhir pekan. Berlin lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bersama dengan keluarga kecilnya. Di sisi lain, Ashgard memang sedang libur dari segala tugas. Terlebih Berlin sendiri sempat membuat janji kepada Akira, untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersamanya.
Seperti biasanya, dan berbeda dengan kemarin. Di pagi hari yang cerah pada hari Sabtu ini, Berlin ikut menikmati menu sarapan bersama di meja makan. Akira terlihat sangat riang sekali seperti biasanya, apalagi menu sarapan di pagi ini adalah menu kesukaannya, roti lapis berisikan daging sapi serta beberapa helai selada, potongan tomat, mentimun, dan keju sebelum kemudian dimasak di atas teflon dengan menggunakan minyak sayur.
Ketika roti lapis itu dihidangkan oleh Nadia yang membuat hingga empat buah. Aroma yang dihasilkan sangat menggoda, seolah memanggil-manggil untuk segera disantap. Tidak sabar, Akira mengambil bagiannya, memindahkan serta meletakkannya di atas piring miliknya, "Mama, tolong potong-potong agar mudah dimakan ...!" ucapnya kemudian kepada Nadia.
Nadia tersenyum hangat, mengambil pisau roti dan kemudian memotong-motong roti lapis milik putrinya. Selesai memotong, Akira segera mengambil garpu dan sendok, sebelum kemudian menyantap sarapan tersebut.
"Kamu bikin empat roti lapis? Tumben," cetus Berlin kepada istrinya yang kemudian duduk tepat di sebelahnya.
Nadia mengangguk dan menjawab, "siapa tahu kamu atau Akira mau tambah, jika tidak aku juga tidak menolak untuk menambah, hehe." Bumil itu menjawab dan kemudian tertawa kecil dengan sendirinya. Berlin hanya tersenyum mendengar hal tersebut. Sepertinya nafsu makan calon ibu muda itu cukup meningkat akhir-akhir ini.
"Oh iya, hari ini aku ada jadwal periksa, sekaligus lepas perban. Sepertinya aku segera diperbolehkan untuk berjalan dengan normal lagi." Berlin berbicara di antara makannya, mengambil topik pembicaraan, dan membahas hal tersebut.
"Kaki Papa beneran sudah sembuh?!" sahut Akira, mendengar topik pembicaraan tersebut, dan bertanya dengan tatapan berseri-seri.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, tetapi setelah ini harus diperiksakan kembali ke dokter, dan menunggu keputusannya." Berlin menjawab pertanyaan putrinya dengan ramah, tak lupa dengan senyumannya yang hampir selalu terpampang ketika melihat wajah menggemaskan putrinya.
"Hari ini jam berapa?" tanya Nadia, selesai mengunyah suapan keduanya.
"Habis ini, jam sepuluh pagi," jawab Berlin, lalu kembali melanjutkan suapannya yang ke sekian kalinya.
Tentu kabar tersebut adalah kabar yang sangat baik didengar oleh Nadia, juga oleh Akira yang terlihat mengerti dengan topik pembicaraan yang dibahas oleh kedua orang tuanya. Hal itu juga menjadi sebuah angin segar bagi Berlin yang sudah sangat ingin segera kembali normal, tanpa harus membawa tongkat miliknya ke mana-mana.
Nadia selesai dengan roti lapis pertamanya, dan langsung lanjut ke roti lapis keduanya. Memang, nafsu makan bumil itu sepertinya cukup besar pagi ini. Akira yang melihat pun juga ikut tertarik, "Mama, aku juga mau, dong ...!"
"Oke, kita bagi dua, ya ...!" sahut Nadia, tersenyum hangat, dan kemudian memotong roti lapis tersebut menjadi dua bagian secara adil.
Setelah selesai dengan kegiatan sarapan bersama. Pada pukul sepuluh kurang lima belas menit, Berlin bersama dengan Nadia dan putrinya kini dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Akira terlihat sangat senang sekali, karena di akhir pekan ini Berlin menepati janji yang pernah dibuat. Sepanjang perjalanan anak perempuan itu tidak tidur, juga tidak terlihat bosan. Wajah riang gembira terlihat sulit untuk pudar, dan pandangannya terus memandangi pemandangan kota melalui jendela kaca mobil.
"Papa, setelah dari rumah sakit, kita mau ke mana?" tanya Akira, menatap kepada Berlin yang duduk di kursi sebelah pengemudi.
__ADS_1
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" sahut Berlin, menoleh dan menatap putrinya yang duduk di kursi tengah.
Akira yang terlihat bingung dan hanya menjawab, "aku ikut aja Papa sama Mama mau ke mana! Hehe~" ucapnya kemudian tertawa kecil dan membuatnya terlihat menggemaskan.
Berlin hanya tertawa kecil, kemudian sempat saling menatap dengan istrinya yang tengah mengemudikan mobil tersebut. Dirinya belum begitu bisa leluasa berkemudi, karena masih ada perban yang membalut pergelangan kaki kanannya.
Suasana kota yang seperti biasa, ramai serta kemacetan di mana-mana. Sudah tidak heran, karena kehidupan di kota sudah seperti itu, apalagi di waktu pagi, siang, dan sore hari. Setelah melalui perjalanan yang cukup memakan waktu lebih dari lima belas menit. Berlin akhirnya sampai di rumah sakit, bersama dengan istrinya dan juga putrinya. Ia segera masuk untuk menemui dokter spesialis yang menangani cederanya.
***
Di hari setelah persidangan digelar serta selesai dengan hasil tuntunan yang sudah diumumkan serta dipublikasikan kemarin. Prawira disibukkan dengan persiapan untuk pelaksanaan hukuman yang nanti akan diterima oleh tersangka Tokyo El Claunius. Di sebuah tempat bernama Federal, ia bertemu dengan sosok Garwig dan pimpinan dari divisi taktis milik kepolisian yakni Prime.
Persiapan tersebut berlangsung sangat tertutup dari publikasi, tidak ada yang mengetahui, dan tidak ada yang bisa mengetahui selain orang-orang tertentu atau terpilih saja. Lokasi eksekusi hukuman mati akan dilakukan di tempat itu juga, Penjara Federal. Wilayah atau area dari Federal sangatlah luas, terbagi menjadi beberapa sektor dan bagian, salah satunya adalah sektor atau bagian eksekusi.
Sesuai dengan jadwal yang telah diumumkan, eksekusi mati tersangka Tokyo El Claunius akan dilaksanakan beberapa waktu kemudian. Tidak ingin menunggu atau menunda terlalu lama lagi, itu sudah menjadi perintah dari Garwig secara langsung, sekaligus mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak dinginkan dari pihak luar.
__ADS_1
.
Bersambung.