Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Waktu untuk Sendiri #43


__ADS_3

Pukul 23:00 malam.


Pulau La Luna, di malam hari yang masih diguyur oleh hujan yang kini tidak terlalu deras. Dua orang yang ditugaskan oleh Tokyo kini telah kembali. Mereka langsung menghadap kepada Tokyo di villa utama.


Di ruang utama villa tersebut juga terdapat Nicolaus yang berdiri tepat di samping Tokyo. Mereka berdua tampak begitu penasaran dengan informasi apa yang didapatkan dan akan disampaikan oleh dua pria ini.


"Bagaimana?" tanya Tokyo berdiri dan tegas di hadapan dua anak buahnya itu.


"Akhir pekan ini mereka hanya jalan-jalan menikmati waktu, belum ada yang begitu menarik." Pria dengan jaket putih menjawab pertanyaan tersebut, lalu dilanjutkan oleh rekannya yang berjaket hitam. "Namun, ada yang menarik di esok hari."


"Apa itu?" tanya Tokyo lagi dengan tatapan tajamnya seperti biasa.


"Tadi tepatnya pada jam tujuh malam, aku mendapatkan informasi kalau besok mereka akan pergi ke rumah sakit. Informasi tersebut aku dapat dari salah satu relasiku yang bekerja di rumah sakit kota," jawab pria berjaket hitam itu.


"Rumah sakit?" gumam Nico bertanya-tanya dan penasaran.


Pria berjaket putih itu mengangguk ketika mendengar pertanyaan Nico, dan menjawab singkat, "ya."


"Bagus, lanjutkan terus sampai menemukan informasi yang menarik untuk bisa kita manfaatkan!" titah Tokyo.


"Baik!"


***


Benar saja apa yang sempat dikatakan Berlin pada sore harinya. Hujan hari ini sangat awet, bahkan bertahan hingga dini hari. Namun intensitas curah hujan tengah malam ini tidak begitu deras seperti siang dan sore tadi.


Di tengah malam ini, tampaknya Berlin masih terjaga dan belum juga tidur. Ia sulit untuk bisa tidur. Terdapat beberapa hal yang mengganggu pikirannya.


Untuk mencoba menenangkan diri sejenak. Berlin memilih keluar dari kamarnya sejenak, meninggalkan istrinya yang sudah terbaring tidur di atas ranjang. Dirinya menjadikan ruang keluarga yang ada tepat di depan kamarnya untuk menyendiri sejenak.


Berlin duduk di salah satu sofa yang menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan halaman belakang dan kolam renangnya. Jendela tersebut basah karena terus terguyur oleh air hujan.


Di salah satu genggaman tangannya terdapat ponsel miliknya yang menyala. Pada layar ponsel tersebut menampilkan sebuah kontak salah satu rekannya yang hendak ia hubungi.


Ketika Berlin hendak menekan tombol telepon berwarna hijau. Dirinya dikejutkan dengan suara pintu kamarnya yang dibuka.

__ADS_1


"Ternyata kamu di sini?" gumam Nadia sembari mengucek salah satu matanya. Ia berjalan sedikit sempoyongan, dan beberapa kali menguap ketika mendekati Berlin. Sepertinya ia dalam keadaan setengah sadar atau sangat ngantuk.


"Apa aku membangunkan mu?" tanya Berlin ketika wanita itu duduk tepat di sisinya. Ketika itu juga dirinya langsung menyimpan ponsel miliknya di kantong, serta menunda niatnya sejenak.


Nadia yang masih sangat mengantuk itu langsung menyandarkan kepalanya pada bahu milik laki-lakinya. "Aku kaget kamu tiba-tiba hilang dari kasur, aku takut," ucapnya kala bersandar, dan dengan mata cukup terpejam.


"Takut?" Berlin sedikit terkekeh mendengar hal tersebut. Nadia langsung mengangguk dan menjawab, "lagian kamu tiba-tiba ngilang pas aku tidur," ia mencoba membuka matanya untuk bisa menatap iris hitam milik suaminya. Lalu kembali menyandarkan kepalanya yang masih terasa berat itu.


Berlin tersenyum mendengar jawaban itu. Sembari membelai lembut rambut hitam indah milik istrinya yang terurai ke belakang itu. Berlin berkata, "aku nggak ke mana-mana, sayang. Aku keluar dari kamar karena memang sedang tidak bisa tidur, dan juga aku tidak ingin sampai kamu terganggu."


Namun ketika Berlin berbicara, hanya keheningan yang tercipta. Nadia terlihat malah tertidur pulas berada di sandaran bahu milik Berlin. Laki-laki itu dibuat sedikit tertawa dengan apa yang ia saksikan. Dirinya pun mencoba untuk membangunkan istrinya untuk kembali berpindah tidur di kamar agar lebih nyaman.


"Sayang, lanjut tidurnya pindah ke kamar aja, ya?" ucap Berlin.


"Hmm?" gumam Nadia mengusap matanya dan menatap Berlin. "Kamu gimana? Sendirian di sini?" tanyanya kemudian.


"Nanti aku nyusul, sementara aku lagi ingin sendiri di sini, sambil liatin hujan juga," jawab Berlin dengan intonasi yang begitu lembut.


"Oh, gitu, ya? Tetapi aku masih ingin di sini," sahut Nadia lalu menyandarkan kembali kepalanya tepat di bawah leher milik Berlin.


"Ya sudah, deh. Kamu jangan terlalu lama, ya! Jangan terlalu larut untuk tidur!" Akhirnya Nadia pun terbujuk, sekaligus mengingatkan Berlin untuk juga segera tidur. Ia beranjak dari sandaran yang selalu menjadi posisi ternyaman baginya, dan lalu menatap Berlin dengan tajam.


Berlin tersenyum dan tertawa kecil, "iya, aku tahu, kok!" jawabnya dengan tersenyum tulus.


Setelah itu, Nadia pun berjalan dengan perlahan melangkah menuju ke pintu kamar yang letaknya tidak jauh, hanya di belakang sofa tersebut. Dengan mata yang cukup terpejam dan tidak fokus, ia pun memegang gagang pintu kamar yang ada di hadapannya. Namun gagang itu justru malah terkunci.


"Sayang, kamar kita bukan yang itu!" cetus Berlin tiba-tiba ketika melihat wanita itu memegang gagang pintu kamar ke dua yang terkunci.


"Eh?" Nadia terkejut dan langsung membuka matanya lebar-lebar. Kamarnya tepat berada di samping dari kamar ke dua yang terkunci itu. "Hehe, iya," ia jadi tertawa sendiri karena malu seraya melangkah ke kamar sebelah, dan lalu masuk ke sana.


Sesaat setelah Nadia masuk ke kamar, dan tidak ada tanda-tanda ia akan keluar lagi. Berlin kembali mengambil ponsel miliknya, dan lalu langsung menghubungi seseorang dengan panggilan suara.


Berlin langsung berdiri dan melangkah lebih dekat dengan jendela ketika panggilan suaranya diterima.


"Bagaimana, bos? Apakah ada yang ingin dibicarakan?" tanya suara seorang pria pada telepon tersebut.

__ADS_1


"Kent, bagaimana aktivitas kalian tadi? Dan apa saja yang didapat dari sana?" tanya Berlin.


"Kami berkumpul di kamp perbukitan Shandy Shell untuk membicarakan beberapa, sekaligus menyatukan berbagai informasi yang kami dapat dari beberapa relasi. Dari situ, kami menemukan suatu kejanggalan yang menarik, soal tujuan Clone Nostra."


"Seperti apa yang dahulu pernah kau duga, bos. Mereka memiliki lebih dari satu tujuan, atau bisa dibilang tujuan mereka terbagi-bagi."


Berlin hanya diam ketika Kent berbicara tentang beberapa hal tersebut. Sebelumnya tadi sore ketika Berlin sedang asyik menghabiskan waktu akhir pekannya bersama Nada. Ia tetap memberikan tugas kepada rekan-rekannya untuk mencari serta membahas soal beberapa informasi penting yang mereka dapat. Tentu memang Berlin juga mengutamakan akhir pekan teman-temannya, tetapi tampaknya teman-temannya tidak menolak tugas yang ia berikan dan langsung saja dikerjakan.


"Apa yang kalian ketahui soal tujuan-tujuan mereka? Apakah kalian mendapatkan informasi yang valid soal itu?" tanya Berlin lagi.


Kent menghela napas berat dan berkata, "sayang sekali kami hanya tahu satu dari sekian tujuan mereka untuk sementara ini, bos."


"Satu tujuan ini pun kami masih belum begitu mengetahui alasan mengapa mereka memiliki satu tujuan ini," kata Kent.


"Apa satu tujuan yang kalian ketahui itu?" tanya Berlin dengan nada yang begitu datar nan dingin.


Dengan sedikit berat, Kent harus menjawab pertanyaan itu sesuai dengan apa yang ia dan teman-temannya sudah ketahui. Tentu jika dirinya berbohong, yang ada dirinya akan mati di tangan Berlin nantinya.


"Salah satu tujuan mereka adalah ... dirimu, Berlin. Jika kita kaitkan dengan mereka yang begitu mengincar dan memusuhi Ashgard, maka tujuan ini sangatlah berkaitan yaitu untuk mendapatkanmu, bos." Kent memberikan jawabannya dengan jujur.


"Namun, kami masih belum mengetahui mengapa mereka begitu menginginkan dirimu ---" belum selesai Kent berbicara. Berlin langsung memotong dengan menyebutkan satu nama, "Nicolaus."


Pandangan Berlin seketika menatap ke arah luar jendela yang tepat berada di hadapannya. Air hujan di luar sana terus berjatuhan dan membasahi halaman belakang rumahnya.


Kent hanya terdiam ketika mendengar nama yang tiba-tiba saja disebutkan oleh Berlin. Meskipun dirinya dan teman-temannya masih belum memiliki informasi pasti mengenai Nicolaus. Tetapi, perasaan Berlin merasa kalau semua itu ada hubungannya dengan Nicolaus.


"Ya sudah, mungkin cukup, terima kasih, Kent." Berlin akan segera mengakhiri panggilan suara itu.


"Oh iya, dan satu lagi. Aku ingin meminta kepada kalian untuk esok hari," lanjutnya sebelum mematikan ponsel dan teleponnya.


"Apa itu, bos? Katakan saja apa yang kau perlukan!" sahut Kent.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2