
Pada keesokan harinya tepat pada pukul dua belas siang. Ashgard tampak sedang melakukan sesuatu. Mereka menyebarkan beberapa orangnya di setiap titik kota. Entah apa yang sedang mereka lakukan, tetapi permintaan dan perintah Berlin-lah yang membuat mereka untuk bergerak.
Berlin memberikan perintah kepada beberapa rekan yang ia pilih untuk menyebar di kota. Tampaknya ia sedang menginginkan sesuatu di balik apa yang ia perintahkan.
Selain memberikan perintah kepada rekan-rekan yang ia pilih untuk menyebar. Berlin juga meminta kepada rekan-rekan yang tidak ia pilih itu untuk terus mengikutinya, sekaligus mengawasinya. Tentu juga terdapat jarak yang cukup jauh, karena tentu saja dirinya tidak ingin membuat Nadia tidak nyaman dengan kehadiran rekan-rekannya yang terus mengawasi.
"Yakin tidak apa, nih?" Nadia bertanya ketika berada di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit kota. Dirinya merasa tidak enak jika harus menganggu waktu Berlin yang seharusnya hari ini adalah waktu untuk Ashgard.
Berlin tertawa kecil, dan tersenyum. "Tentu saja tidak apa-apa! Aku justru sangat ingin bisa selalu menemanimu periksa, apalagi ini periksa kandungan untuk yang pertama kalinya, 'kan?" sahutnya dengan wajah yang begitu gembira.
Nadia tersenyum senang mendengar hal tersebut. Hatinya merasa begitu bahagia. Satu tangan milik Berlin tiba-tiba saja menyentuh perut miliknya yang masih datar itu dan tertutup oleh sabuk pengaman. "Kira-kira nanti kelihatan nggak, ya?" celetuk Berlin sembari menyetir juga mengelus perut yang masih datar milik wanitanya.
Nadia tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Namun apa yang dikatakannya memang benar. Ia dapat merasakan kehangatan yang begitu nyaman dari telapak tangan seorang pria yang menyentuh perutnya. Hatinya juga ikut merasa tenang.
"Ya belum kelihatan dong, sayang. Usianya saja baru satu minggu," jawab Nadia melirik dan tersenyum kepada laki-laki itu.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar lima belas menit itu, akhirnya berakhir. Mereka berdua sampai di rumah sakit kota. Pada waktu pertama kali Nadia memeriksakan keadaan dirinya di satu pekan yang lalu, ia mendapatkan rujukan dari dokter kandungannya yang menyuruhnya untuk datang kembali setelah satu pekan kemudian. Dan di hari inilah Nadia akan datang dan kembali diperiksa.
"Panas banget, kamu mau pakai payung, nggak?" tanya Berlin sesaat mobilnya terparkir dan lalu turun dari mobil. Kebetulan setelah hujan seharian kemarin, cuaca di hari ini begitu cerah.
"Nggak usah, pintu masuk rumah sakit juga tidak jauh, jadi nggak perlu, lah," jawab Nadia.
Pasutri yang terbilang belum genap satu tahun usianya itu pun berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Ketika mereka berjalan, Berlin tampak mematikan radio komunikasi yang ternyata sedari tadi ia kantongi di saku celana secara sembunyi-sembunyi.
***
Sepuluh menit berlalu, dan keadaan halaman rumah sakit semakin panas akibat teriknya matahari. Aryo tampak mendekati kantin luar rumah sakit, dan membeli beberapa minuman segar di sana.
"Belum ada tanda-tanda, ya?" gumam Bobi kepada Kina yang duduk di sebuah bangku tepat di bawah sebuah pohon besar.
"Belum," jawab singkat Kina kepada laki-laki yang berdiri tepat di sampingnya.
"Oi, kalian mau lemon tea atau milk tea?" cetus Aryo sedikit berteriak. Ia tampak berdiri tepat di depan kasir dari kantin itu.
Bobi menoleh dan menjawab, "terserah kau saja, kami ikuti rekomendasi mu."
__ADS_1
"Dia malah sibuk jajan," guman Kina seraya menggelengkan kepalanya.
Bobi tertawa kecil dan berkata, "biarkan saja, lagipula masih ada beberapa dari kita yang bersiap di sisi lain."
"Dan ku yakin dua penguntit yang disebutkan Berlin itu tidak akan muncul dalam waktu dekat," lanjutnya.
Di tengah ia berbicara, Aryo berjalan mendekati kedua rekannya. Ia tampak sedikit kerepotan dengan membawa dua plastik cup minuman yang ia pesan. Bobi dan Kina pun segera menerima minuman tersebut.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di sebuah mini market yang terletak di samping rumah sakit. Adam, Sasha, dan Faris tengah duduk bersantai di sebuah tempat duduk yang ada tepat di depan mini market itu. Dengan minuman-minuman dan jajanan yang mereka beli di mini market itu. Mereka tampak begitu santai. Meski begitu, tatapan dan lirikan mata mereka tetaplah waspada.
Setiap orang yang berlalu-lalang, baik berjalan kaki hingga menggunakan kendaraan bermotor. Mereka selalu mengamati setiap masyarakat yang lewat, dicampur dengan canda gurau dan perbincangan singkat.
"Dam, bukankah ... pakaian orang itu tidak asing bagi kita?" Faris tiba-tiba saja bertanya dengan sedikit menyikut Adam dan menatap tajam ke arah orang yang ia maksud.
Seorang pria dengan jaket berwarna hitam tampak berjalan santai melalui depan mini market. Gerak-gerik pria itu memang tidak terlihat begitu mencurigakan di mata orang awam. Namun tidak di mata rekan-rekan Berlin.
"Sosok fisiknya saja tidak asing di mataku, seolah aku pernah melihatnya di pasar gelap," celetuk Sasha lalu meminum minuman cup miliknya agar tidak begitu mencurigakan karena terus mengawasi pria itu.
Pria berjaket hitam itu terus berjalan perlahan dan menuju ke rumah sakit. Tentu hal ini tidak membuat satpam atau petugas keamanan rumah sakit merasa curiga terhadap pria itu. Namun tidak bagi Adam dan teman-temannya yang sudah bersiap di sekitar rumah sakit.
Adam langsung memberikan ciri-ciri fisik pria itu kepada Bobi melalui radio komunikasi miliknya. Tidak menunggu lama. Bobi langsung menjawab, "ya, dia baru saja memasuki halaman rumah sakit, dan barusan berjalan melewati kantin luar."
"Postur tubuh dan gerak-geriknya begitu tidak asing. Kurasa dia orang yang dimaksud penguntit itu?" gumam Kina melalui radio komunikasi.
"Kalian awasi terus orang itu! Aku mencurigainya." Adam memberikan perintah tersebut kepada rekan-rekannya yang berada di halaman rumah sakit.
"Diterima," jawab Aryo melalui radio.
***
Pemeriksaan itu berlangsung selama satu jam, dan selama pemeriksaan Nadia ditanyai beberapa hal mengenai kondisinya sejak apa yang ia adukan satu pekan yang lalu. Bahkan hingga sekarang dirinya masih mengeluhkan pusing dan mual yang sama, bahkan juga terasa nyeri.
Seorang dokter wanita yang menangani Nadia pun memberikan penjelasannya soal semua yang gejala itu. Apalagi memang semua ini adalah untuk pertama kalinya bagi Nadia, juga bagi Berlin sebagai suami.
"Jadi tidak apa-apa, ya, dok?" tanya Berlin yang duduk tepat di sisi Nadia.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum ramah dan menjawab, "tidak apa, pak. Memang seperti itulah gejala-gejala yang dialami oleh ibu hamil."
Berlin menghela napas lega mendengar jawaban dari ibu dokter itu. Ia tampak begitu polos dan tidak tahu apa-apa jika membahas soal ini.
"Baik, saya akan memberikan beberapa petunjuk yang sangat penting untuk kehamilan ibu, mengingat juga ini semua sesuai dengan kondisi ibu sendiri." Dokter kandungan itu kemudian menjelaskan banyak hal tentang apa saja yang tidak boleh dan yang harus dihindari oleh Nadia.
Semua penjelasan dan petunjuk yang diberikan oleh dokter itu sangat membantu bagi pasutri ini. Karena memang mereka berdua belum pernah memiliki pengalaman dalam hal ini sebelumnya, dan juga masih sangat awam.
***
Tanpa disadari oleh Berlin. Seorang pria yang bekerja sebagai petugas kebersihan rumah sakit, dengan sengaja mendengar dan menguping semua percakapan yang berasal dari ruang periksa kandungan. Melalui balik pintu. Ia mendengar dan menyimak setiap detik percakapan dengan saksama. Dengan gimik sedang membersihkan kaca dan pintu tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan dari semua percakapan dari dalam ruangan tersebut. Petugas kebersihan itu pergi begitu saja dengan membawa alat-alat kerjanya yang biasa digunakan untuk bersih-bersih.
Dengan pelan dan senyap tidak diketahui oleh orang lain, dan tidak ada yang menaruh rasa curiga padanya. Pria berprofesi petugas kebersihan itu berjalan menuju pintu belakang rumah sakit, dan lalu menemui seseorang di sana.
Seorang pria dengan jaket hitam tampak sudah berdiri menunggunya, dan seolah meminta setoran dari petugas kebersihan itu.
"Apa yang kau dapat?" tanya pria berjaket hitam itu.
"Informasi yang mungkin kau inginkan, dan mungkin juga ini sangat penting. Aku memilikinya," jawab pria petugas kebersihan itu.
Di antara mereka berdua. Tidak ada orang lain lagi di pintu belakang rumah sakit ini. Keadaannya siang ini memang kebetulan sangatlah sepi.
"Tetapi sebelumnya, ada jasa juga ada bayarannya. Aku meminta terlebih dahulu hak bayaran untukku, maka akan ku sampaikan informasi menarik yang ku punya," lanjut si petugas kebersihan itu.
Pria berjaket hitam itu langsung mengeluarkan sebuah amplop coklat berisikan uang tunai dari saku jaketnya. Ia langsung memberikan amplop itu kepada petugas kebersihan yang akan memberikan informasi untuknya.
"Hmm, cukup, sesuai dengan ekspektasi ku," gumam petugas kebersihan itu sembari mengintip isi amplop dan sedikit menghitung lembaran-lembaran tunai di dalamnya.
"Baiklah, aku akan memberikan informasi tersebut." Petugas kebersihan itu mulai memberitahu pria berjaket hitam mengenai apa saja yang ia dengar tadi. Semua percakapan yang ia dengar disampaikan begitu saja kepada pria berjaket hitam itu.
"Menarik," pria berjaket hitam itu langsung menyeringai senang, karena apa yang ia inginkan kini telah ia dapat.
.
__ADS_1
Bersambung.