Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Di Balik Bayangan #58


__ADS_3

Berita soal peningkatan keamanan yang dilakukan oleh pihak berwajib, terutama di area pelabuhan pada sore hari ini sampai ke telinga Berlin dan Ashgard. Berita itu cepat terdengar karena memang membuat heboh banyak masyarakat.


"Kau sudah tahu beritanya 'kan, bos?" tanya Adam berbicara kepada Berlin saat berkumpul bersama teman-temannya di ruang utama.


"Ya," jawaban singkat Berlin saat duduk di sebuah sofa single.


"Apakah benar itu semua karena ulah Clone Nostra?" cetus Kina bertanya-tanya. Sepertinya tak hanya Kina saja yang menanyakan hal itu, tetapi juga beberapa temannya memiliki pertanyaan yang sama.


Faris pun menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah pendapat, "jika memang benar, maka ... mereka sudah mulai bergerak dalam jumlah besar."


"Jumlah besar?" sahut Aryo mengerutkan keningnya.


"Ya, karena pergerakan mereka sampai membuat hampir seluruh divisi aparat turun tangan, bahkan ku dengar perbatasan laut mulai diperketat oleh beberapa kapal militer. Namun ini hanya pendapatku saja, sih." Faris langsung menjawab pertanyaan Aryo.


Pembicaraan tentang hal itu terus berlanjut, dan menimbulkan beberapa spekulasi yang masih belum tentu benar. Namun di antara pembicaraan rekan-rekannya. Berlin lebih banyak diam daripada angkat suara. Karena isi pikirannya masih terbayang-bayang soal rekaman tragedi pembunuhan yang menewaskan orang tuanya.


"Berlin? Berlin!" Kimmy memanggil nama itu berkali-kali ketika melihat Berlin lebih banyak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu di kala rekan-rekannya berbincang.


Dengan santainya Berlin menoleh dan melihat Kimmy yang duduk di sofa sebelahnya dengan berkata, "ya?"


"Bos, kau nggak tertarik dengan persoalan ini?" celetuk seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Vhalen yang berdiri tepat di sampingnya.


Berlin sedikit tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Bukannya aku tidak tertarik, aku tetap menghiraukan persoalan ini."


"Aku hanya ... memikirkan beberapa hal saja," lanjutnya berbicara.


Asep hanya diam dan merasa kalau dirinya tahu apa yang membuat Berlin sedikit melamun. Di lain sisi, rekan-rekannya masih tidak tahu tentang tugas yang Berlin berikan padanya sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimana tanggapanmu mengenai mereka, Clone Nostra itu?" tanya Kimmy kemudian kepada Berlin. Ia mendekati Berlin dan bersandar tepat di samping sofa yang digunakan oleh Berlin.


"Apa yang akan kita lakukan?" timpal Adam yang berdiri bersebelahan dengan Sasha.


Berlin diam sejenak setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Dirinya sangat tahu bahwa keputusan dan jawabannya sangat berpengaruh dengan langkah kedepannya yang akan dilalui oleh Ashgard. Apalagi dirinya juga tahu seperti apa dan siapa lawan yang kemungkinan akan ia hadapi.


"Sebenarnya ... aku tidak begitu peduli dengan mereka jika mereka ingin bertindak kriminal di kota ini. Aku juga sebenarnya tidak peduli kepada setiap tindakan yang Clone Nostra lakukan di kota ini. Walaupun tindakan mereka sangat tidak berperikemanusiaan sekalipun."


Berlin berdiri dari sofanya dan berbicara demikian di depan teman-temannya dengan sikap dinginnya yang seperti biasa. Sontak apa yang dikatakan oleh Berlin cukup untuk membuat rekan-rekannya bingung dan terkejut. Karena apa yang dikatakan oleh Berlin barusan sangat kontradiksi dengan semua usaha serta rencana yang sempat dibuat untuk menghadapi Clone Nostra. Apalagi di awal, Clone Nostra-lah yang terlebih dahulu menyulut api peperangannya kepada Ashgard atas beberapa tindakannya yang membahayakan Ashgard beberapa bulan sebelumnya.


Namun, Berlin belum selesai berbicara. Ia menghentikan langkahnya setelah beberapa langkah di depan semua rekannya dengan posisi yang masih membelakangi rekan-rekannya. Sebelum kemudian akhirnya ia berkata, "akan tetapi ... jika semua atau beberapa tindakan yang mereka lakukan itu berdampak kepada orang-orang yang ku anggap berharga, ataupun orang itu adalah diriku sendiri. Tentu aku tidak akan tinggal diam."


Berlin membalikkan badannya untuk menghadap dan melihat rekan-rekannya, dan kemudian menambahkan, "um ... mungkin, lebih tepatnya adalah ... 'kita' tidak akan tinggal diam, 'kan?" ucapnya menatap wajah rekan-rekannya dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.


***


Masyarakat benar-benar dibuat bingung dan memikirkan tindakan yang diambil oleh pihak berwajib. Selama seharian ini media meliput dan membahas soal tujuan dari para aparat yang tiba-tiba meningkatkan kesiagaan mereka. Dengan adanya ketidakjelasan di pihak masyarakat yang memang benar-benar tidak tahu apa-apa. Justru malah menimbulkan beberapa spekulasi dari sebagian gelombang masyarakat.


Di malam ini, tepatnya di Kantor Polisi Pusat. Prawira diserbu oleh banyak wartawan yang ingin mewawancarainya. Namun dirinya mendapat pesan dari Garwig untuk tetap menahan dan tidak memberitahukan apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh para aparat. Garwig tidak mau menimbulkan kepanikan berlebih di antara warga kota yang tak bersalah.


Prawira pun menjawab beberapa pertanyaan mengenai kebingungan masyarakat melalui para wartawan itu. Dirinya menjawab dan beralibi dengan berkata, "tidak ada yang perlu dikhawatirkan, penjagaan yang diperketat memang sudah sewajarnya dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kriminalitas."


Setelah memberi jawaban itu dan menyambut baik para wartawan di depan kantor polisinya. Prawira pun segera beranjak kembali masuk ke dalam kantor, dan menuju ke ruang kerja pribadinya. Tampaknya ia benar-benar dibuat pusing dengan banyak sekali pertanyaan yang tadi sempat ia dengar.


"Permisi, Pak. Ada sebuah laporan untuk anda dari Garwig." Tiba-tiba saja Netty mengetuk dan kemudian membuka pintu ruangan itu secara perlahan. Ia membawa sebuah lampiran yang berisikan kertas-kertas laporan yang ia maksud.


"Baik, terima kasih, Netty." Kemudian Prawira menerima laporan tersebut sembari tersenyum lembut kepada wanita itu, atau lebih tepatnya adalah istrinya meskipun memiliki profesi yang sama sepertinya sebagai anggota polisi.

__ADS_1


Setelah menyerahkan laporan itu. Netty kemudian beranjak pergi dari ruangan itu, dan membiarkan Prawira untuk sendiri dengan waktunya.


"Laporan dari pulau, ya?"


Prawira mulai membaca laporan itu, dan dirinya menyadari kalau si pengirim laporan ini adalah regu yang dikirimkan Garwig untuk investigasi ke Pulau La Luna.


Semua kalimat dan isi dari laporan itu dibaca oleh Prawira, benar-benar dibaca dengan teliti dari awal sampai akhir. Dirinya dibuat tak habis pikir dengan isi laporan yang berisikan tentang persiapan dan persenjataan yang digunakan oleh Clone Nostra. Laporan itu juga mencantumkan pergerakan dari sebagian orang dalam jumlah yang sangat banyak dari pihak Clone Nostra yang pergi menggunakan kapal besar untuk menuju ke kota. Selain dari itu, isi dari laporan itu juga menuliskan kalau Clone Nostra tidak pergi menggunakan kapal itu secara keseluruhan. Melainkan masih meninggalkan banyak sekali anggotanya di pulau.


"Pertanyaan ku masih sama, bagaimana bisa mereka menerobos perbatasan yang sudah diperketat itu, ya?"


Prawira melepas kertas-kertas berisikan laporan itu di atas mejanya, dan kemudian bersandar pada kursinya sembari menghela napas dan bergumam bertanya-tanya. Kecurigaannya mengenai Clone Nostra memiliki koneksi untuk bisa menerobos semua perbatasan itu mulai timbul di kepalanya.


***


"Kami mulai melakukan pergerakan sesuai dengan rencana awal kita. Beberapa kelompok aliansi kita juga sudah mulai bergabung. Mereka juga sudah ku sebarkan ke segala penjuru wilayah kota. Untuk sementara waktu, pergerakan kami sangat rawan untuk diketahui, karena pihak berwajib sepertinya mengetahui kalau kami sudah berada di dalam wilayah yurisdiksi mereka."


"Malam ini, tampaknya kita berhasil membuat sebagian gelombang masyarakat cemas dan resah. Sepertinya mereka dan para media mulai berspekulasi dan menerka-nerka. Meskipun kita belum menunjukkan diri ke permukaan dan memulai pergerakan tanpa harus di balik bayang-bayang ini. Tetapi kita berhasil membuat mereka semua cemas, Bos."


Seorang pria dengan tuksedo putih yang tidak lain dan tidak bukan adalah Doma. Saat ini dirinya sedang berkomunikasi dengan Tokyo secara daring melalui ponselnya. Sesuai dengan permintaan dan perintah Tokyo. Ia melaporkan semua tentang pergerakan kelompok pertama Clone Nostra yang saat ini sudah berada di dalam wilayah pemerintahan Kota Metro.


Masih bersembunyi dan melakukan beberapa pergerakan secara diam-diam. Sepertinya mereka berhasil membayang-bayangi pihak aparat berwajib, dan juga terutama para masyarakat yang dibuat bingung.


"Bagus, untuk sementara begitu terlebih dahulu. Kita santai saja, dan secara perlahan menikmati sambil menjalankan permainan ini." Meskipun melalui telepon. Tetapi nada bicara dari Tokyo benar-benar terdengar sangat berat, dan seolah dapat menggambarkan betapa kejamnya dirinya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2