Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Apakah Aku Orang yang Sepenting itu?! #132


__ADS_3

Pukul 11:00 siang.


"Serangan dari arah Utara!!"


Gedung putih yang megah namun terlihat kacau itu kembali mendapatkan serangan hebat oleh komplotan yang berdatangan dari atas perbukitan kota. Dapat terlihat dengan jelas, bahwa para penyerang mengenakan dua jaket dengan dua warna yang berbeda yakni merah dan ungu. Dua kelompok tersebut tampak berkerjasama untuk melakukan penyerangan terhadap Gedung Balaikota.


Jumlah mereka sangatlah banyak, bahkan mungkin hampir dua kali lipat dari Clone Nostra karena terdiri dari dua kelompok yang digabungkan. Mereka berlarian menuruni lereng bukit bagaikan semut-semut karena saking banyaknya. Tembakan serta peluncurkan roket peledak dilakukan oleh mereka ke arah gedung tersebut.


"Apakah mereka bertujuan untuk meruntuhkan gedung ini?!" cetus Kina berlindung di balik sebuah pagar batu pembatas yang berada di tepi atap gedung itu.


"Entahlah ...!!" sahut Sasha.


"AWAS!!!" teriak Aryo.


BOOMMM ...!!!!


Sebuah roket peledak meluncur dan mengenai dinding pembatas itu sebelum kemudian meledak di waktu itu juga. Beruntung ketiga orang dari Ashgard itu sempat melompat untuk menjauh dan menghindar. Namun tampaknya tidak bagi tiga orang aparat berseragam militer yang tampaknya tidak sempat untuk menghindar dan menjadi korban dari ledakan yang terjadi.


"Kalian tidak terluka, 'kan?"


Aryo langsung menghampiri dua rekan wanitanya sesaat setelah ledakan itu terjadi. Sasha dan Kina terlihat baik-baik saja, hanya saja mereka berdua menerima sedikit luka-luka ringan di bagian lengan dan kaki.


"Kurasa kita kembali saja dahulu?" cetus Sasha.


"Ya, aku setuju," timpal Kina.


Aryo pun juga setuju dengan pendapat itu, dan langsung segera kembali ke dalam gedung. Mereka bertiga meninggalkan cukup banyak aparat militer dan kepolisian di atas situ. Para aparat yang ada di atas sana terus melakukan perlawanan terhadap orang-orang berjaket ungu dan merah yang semakin mendekati area gedung.


Di aula utama, Berlin terlihat masih duduk di salah satu sudut aula bersama dengan dua rekannya yakni Adam dan Kimmy. Dengan salah satu kakinya cedera dan membuatnya sangat sulit untuk berdiri dan berlari. Itu cukup membuat dirinya sedikit kesal, karena dengan begitu dirinya sulit untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


Ketika ketiga rekannya yang sebelumnya berada di atap menemui Berlin di sana. Di saat yang bersamaan datanglah sosok Prawira bersama dengan dua aparat berpakaian taktis hitam menutupi seluruh tubuh dan bersenjata lengkap.


"Kami sudah tahu dan mendengarnya," ucap Prawira mengenai menghilangnya Tokyo dan Farres.


Kimmy memapah Berlin untuk berdiri, sebelum kemudian Berlin berkata, "temukan dan amankan Tokyo serta Farres, maka itu akan menghentikan semuanya."


"Sepertinya kau begitu yakin dengan pendapat mu itu," sahut Prawira menatap serius Berlin di hadapannya.


"Ya, karena dua kelompok yang datang adalah suruhan Tokyo, dan mereka dikendalikan oleh segala perintah serta arahannya."


"Jika kepala komando mereka dibungkam, maka mereka akan kehilangan arah dan kebingungan. Sama halnya dengan apa yang terjadi dengan Clone Nostra."


Berlin berbicara dengan sangat serius kepada Prawira mengenai pendapat serta asumsinya. Namun dirinya juga memberikan peringatan dengan mengatakan, "namun tetap saja kita harus waspada, karena mereka semua adalah penjahat kelas atas," ucapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan beri ampun ketika sedang berhadapan dengan mereka, apalagi mereka semua bersenjata."


"Ini adalah soal membunuh atau dibunuh, tinggal siapa yang lebih cepat untuk melakukannya," lanjut Berlin mengakhiri bicaranya.


"Ya, aku tahu, Berlin. Kau tenang saja, Garwig dan aku telah mempersiapkan rencana," ucap Prawira.


Prawira melangkah untuk dapat lebih dekat dengan Berlin di hadapannya, sebelum akhirnya berbicara, "Garwig menugaskanku untuk menjaga dan melindungi dirimu, Berlin. Maka dari itu aku ke sini dengan dua aparat pilihanku."


Di saat itu juga, salah satu dari kedua aparat taktis yang tidak dapat terlihat identitas wajahnya tiba-tiba saja mengacungkan jempol ke arah Berlin. Dari gerak-gerik yang ditunjukkan, Berlin sudah tahu siapa aparat di balik penutup muka berwarna hitam itu.


"Mengapa kau harus sampai begitunya kepadaku? Apakah aku orang yang sepenting itu?" tanya Berlin.


Prawira pun hanya menjawab, "Garwig yang memberikan perintah itu kepadaku, dan kau tahu kalau posisinya berada di atasku, bukan? Jadi tidak dapat menolak perintahnya."


"Baiklah," gumam Berlin menghela napas cukup berat. Dirinya tidak cukup suka dengan adanya penjagaan seperti itu, karena itu hanya akan membuatnya merasa cukup sulit untuk bebas melakukan sesuatu. Namun untuk saat ini dirinya lebih memilih untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Prawira saja.

__ADS_1


Prawira sedikit tersenyum melihat Berlin yang kali ini patuh, "kalau begitu aku tinggal sebentar, aku harus mengurus beberapa regu."


Ketika Prawira sudah beranjak pergi dari tempatnya berada. Berlin yang masih dipapah oleh Kimmy untuk berdiri pun menatap tajam ke arah dua aparat taktis yang kini akan terus bersamanya hingga semua kekacauan selesai.


Tatapan Berlin tampaknya penuh arti. Kedua matanya merasa sangat tidak asing dengan dua aparat taktis tersebut.


"Buka saja penutup wajah kalian ...! Aku sudah tahu kalau kalian adalah Prime dan Flix," ucap Berlin menghela napas panjang dengan tatapan tajamnya ke arah dua aparat yang wajahnya masih tertutup penutup wajah berwarna hitam.


"Sepertinya kami tidak dapat mengelabui dirimu, ya ...?" sahut salah satu dari mereka berdua, sebelum salah satu dari mereka melepaskan penutup wajah dan benar saja itu adalah Flix.


"Prime? Kau tidak ikut melepaskannya?" tanya Berlin.


Sosok yang berdiri di samping Flix pun juga turut membuka sedikit penutup wajahnya hanya beberapa saat, dan benar saja kalau itu adalah Prime. Namun setelah itu, Prime kembali mengenakan penutup wajah itu.


"Tunggu! Bagaimana kau mengetahuinya?" cetus Kimmy yang tampaknya cukup terkejut.


Berlin hanya menjawab, "perasaan."


***


"Bos, bagaimana sekarang? Kita hanya bisa berdiam diri di ruangan ini?!" ucap sosok bernama Farres kepada Tokyo ketika berada di dalam dari sebuah ruangan yang berlapiskan baja.


Seluruh bagian dari ruangan itu dipenuhi oleh teknologi, dan juga keamanan tingkat tinggi. Tak hanya itu, sepertinya ruangan itu juga tahan terhadap segala gempuran baik gempuran timah panas dan berbagai ledakan.


"Daripada diam saja, bagaimana kalau kau membantuku?" sahut Tokyo.


Farres kembali dihadapkan dengan sebuah laptop miliknya, dan menjalankan suatu tugas yang diberikan oleh Tokyo padanya. Sedangkan Tokyo, dirinya tampak berbicara beberapa kali dengan sebuah radio di dalam genggaman tangannya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2