Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Rencana #229


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, bahkan hingga mengulang untuk membuat panggilan suara kembali. Berlin akhirnya mendapat jawaban dari seseorang yang sedari tadi ia coba untuk hubungi.


"Prawira, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengirimkan polisi ke kericuhan yang terjadi?!" cetus Berlin setelah panggilan suaranya diterima oleh seseorang itu, yang ternyata adalah Prawira.


Sasha hanya diam, dan fokus untuk menyetir. Ia terlihat tidak berani mengganggu Berlin yang sedang sibuk dengan teleponnya. Apalagi laki-laki itu terlihat cukup marah dan geram.


"Tarik mundur anggotamu, jika kau masih ingin mereka menemui keluarga mereka di rumah dengan selamat! Karena aku tidak bisa menjamin bahwa apa yang dilakukan oleh anggota-anggotamu itu baik."


"Mereka telah masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Red Rascals, dan polisi-polisi itu menjadi target yang sangat empuk."


Setelah berbicara beberapa kali, Berlin berujung pada mengakhiri panggilan suara yang ia lakukan dengan Prawira. Sasha tidak mendengar apa-apa saja yang dikatakan oleh Prawira dalam panggilan tersebut. Yang jelas, dirinya dapat menyaksikan kalau Berlin sedikit jauh lebih tenang daripada sebelumnya.


Suasana jadi hening, hanya suara air hujan yang deras mengguyur mobil tersebut ketika melaju. Sasha memilih sebuah tempat yang memiliki posisi sangat tepat untuk melakukan pemantauan, dan tempat tersebut masih menjadi bagian dari Distrik Komersial walaupun di bagian pinggir. Lagi-lagi sebuah gedung parkir berwarna merah dan memiliki empat lantai ke atas, belum termasuk lantai paling atas atau atap yang juga dijadikan tempat parkir kendaraan.


Posisi dari gedung parkir tersebut tidak jauh dari pusat distrik, apalagi sebuah mal yang menjadi pusat perbelanjaan terbesar di distrik tersebut. Jadi Sasha merasa ini tempat yang tepat untuk dilakukan pemantauan kembali.


"Maaf, bos. Tetapi ... jujur saja aku bingung, tadi kau sempat mengatakan kalau polisi-polisi itu mengacaukan rencanamu, dan aku juga sempat mendengar kau mengatakan kalau nasib dari polisi-polisi itu akan menjadi target empuk." Sasha berbicara dengan perlahan sesaat setelah menghentikan mobilnya dan terparkir.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, dan situasinya dirasa sudah lebih tenang. Sasha memberanikan diri untuk berbicara dan bertanya demikian, dan pertanyaan tersebut langsung mendapatkan jawaban dari Berlin yang mendengarnya.


"Aku berencana untuk membuat serangan kejutan ketika mereka sedang dimabuk harta rampasan, karena itu pasti akan mempermudah kita untuk membunuh serta menghabisi per-kepala dari mereka," jawab Berlin dengan intonasi datarnya, meskipun rencana terbilang cukup kejam. Namun ekspresinya yang dingin itu seolah tidak menunjukkan bahwa rencana itu adalah rencana yang kejam.


Berlin kemudian turun dari mobilnya, dan kemudian langsung menemui dua personel dari pihak aparat yang berada satu tim dengan dirinya. Kedua aparat tanpa seragam itu sudah berdiri di samping mobil, karena motor yang mereka kendarai juga terparkir tepat di sebelah mobil tersebut.


"Apa senjata yang kalian bawa?" tanya Berlin.


"Glock 17," kedua aparat itu langsung menjawab dengan menyebutkan nama senjata api yang mereka bawa.


Mendengar pistol standar milik kepolisian yang dibawa oleh dua personel itu, membuat Berlin menghela napas berat. Ia kemudian melangkah ke bagian belakang, dan membuka bagasi mobil miliknya.


Berlin mengambil sebuah pistol yang memiliki model serta bentuk yang lebih besar. Jika dibandingkan dengan pistol yang disebutkan oleh kedua aparat itu, tentu pistol berwarna putih keperakan yang kini dipegang oleh Berlin jauh lebih besar dengan moncong yang lebih panjang. Senjata api atau pistol tersebut lebih dikenal dengan sebutan Revolver dengan peluru yang jauh lebih besar jika dibandingkan oleh peluru pistol biasanya.


"Menurut data kalian adalah personel terlatih dengan kemampuan tembak jarak menengah jauh yang tidak perlu diragukan. Maka dari itu buktikan dan tunjukkan kemampuan kalian dengan pistol ini, apakah bisa?" ucap Berlin sembari menunjukkan pistol perak yang ia bawa dengan salah satu tangannya.


Sasha terlihat cukup terkejut kalau Berlin akan memutuskan hal tersebut, apalagi dengan menunjukkan senjata api yang lebih bernilai serta memiliki kelebihan dari segi peluru serta jarak itu kepada dua aparat yang ikut dalam timnya. Namun wanita itu tidak ingin berkomentar lebih, ia hanya diam dan melihati Berlin dari belakangnya.

__ADS_1


Kedua personel itu hanya terdiam, tidak berani menjawab, terlebih ketika mereka melihat kalau Berlin memiliki senjata api seperti itu. Revolver dengan peluru tipe Magnum, atau biasa dikenal sebagai senjata koboi. Pistol seperti apa yang saat ini dipegang oleh Berlin adalah pistol yang sangat berharga, bernilai tinggi, ditambah memiliki mekanisme yang cukup ribet jika dibandingkan dengan pistol yang biasa digunakan oleh kepolisian, namun dengan beberapa kelebihan yang bisa menandingi pistol milik kepolisian.


Berlin menghela napas, kembali menyimpan pistol tersebut ke dalam bagasi sembari berkata, "kukira kalian cukup tangguh untuk menggunakannya."


"Tidak apa, aku tetap memiliki rencana yang cocok untuk kalian jalankan, tanpa harus menggunakan senjata itu." Berlin lanjut berbicara sesaat setelah menunjukkan pistol berharga itu. Ia tampaknya sedikit mengubah haluan rencana awalnya, apalagi setelah melihat adanya keraguan di mata kedua personel itu ketika diperlihatkan senjata api yang sangat berharga yang dimilikinya.


Berlin kembali berdiri di hadapan kedua personel tersebut setelah menyimpan kembali senjata api miliknya, dan kemudian memberikan sebuah arahan untuk mereka berdua. Namun sebelum arahan ia berikan, laki-laki itu membeberkan serta memberitahukan terlebih dahulu rencana yang telah ia simpan di benaknya.


"Setelah dirasa puas dengan harta rampasan, mereka kemungkinan besar akan perlahan melebarkan wilayah serangan. Tugas dan misi yang diberikan kepada kita adalah mengantisipasi adanya serangan terhadap persidangan, dan kita akan melakukan tugas tersebut."


"Dari segi jumlah memang kita tidak sebanding dengan mereka, apalagi saat ini kita harus terbagi menjadi empat regu di empat posisi berbeda. Namun keunggulan masih ada di pihak kita."


Berlin berbicara beberapa hal mengenai tugas ataupun misi yang diberikan serta dijalankan oleh Ashgard, sekaligus melihat bagaimana keteguhan mental kedua orang dari pihak aparat itu. Apakah mereka berdua gentar? Atau justru malah merasa tertantang? Jawaban dari kedua pertanyaan ini sedang Berlin pastikan.


"Masih ada beberapa gedung serta bangunan yang dapat kita manfaatkan untuk melakukan perlawanan, dan menghabisi sebagian besar dari mereka. Keunggulan kita berada pada posisi, dan aku membutuhkan kalian berdua untuk mengisi dua bangunan berbeda."


"Pada posisi yang akan kalian tempati ini, kalian dapat memaksimalkan keefektifan senjata api yang kalian bawa. Jadi jangan sia-sia kesempatan, apapun itu kesempatannya!"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2